(Tolong) Jangan Taruh Otak di Selangkangan

Standard

Iya saya (harus) marah karena saya termasuk yang bayar pajak dengan setia. Iya ini berkaitan dengan anggota dewan terhormat yang menonton video porno pada layar tabletnya saat sedang sidang di gedung terhormat berlabel Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dan mereka dibayar dari pajak-pajak yang dipotong atas jam kerja panjang dengan perlindungan ketenagakerjaan yang minim. Jadi, saya berhak menuntut karena bisa jadi itu tablet yang dia pake menonton video porno adalah hasil dari setoran pajak saya yang kemudian disebut sebagai tunjangan non teknis.

Saya tidak mempermasalahkan dari fraksi mana anggota dewan itu berasal, bukan…bukan itu. Tapi lebih kepada bagaimana sebenarnya kita masih gagap menanggapi hal-hal yang berbau seksual.Β  Saya ingat, tahun kemarin, saya pernah menulis di blog saya yang lain (yang sekarang sudah jarang sekali di-up date) bahwa negara yang katanya religius ini adalah memiliki netter yang sering kali mengetik kata ‘BUGIL’ pada mesin pencari. Dan ini di-klik sepanjang tahun, tidak seperti kata ‘ISLAM’ atau ‘KRISTEN’ yang muncul hanya ketika Idul Fitri dan Natalan saja.

Dan sebagai wartawan kesehatan, kepedulian saya atas video porno dan kata BUGIL pada mesin pencari itu adalah, kita memang butuh pendidikan seks. Yes, sex education itu harus masuk dalam kurikulum. Pendidikan seks adalah penyadaran bagi semua orang, mulai dari anak kecil sampai orang tua, bahwa kelamin kita bukanlah alat komoditas kepuasaan orang lain. Percaya atau tidak, label tabu pada kata seks telah membuat anak, remaja, dan orang tua tidak pernah mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Karena sebenarnya, pendidikan seks juga adalah medium untuk mengenali tubuh.

Coba sekarang saya tanya, seberapa dekat kita dengan tubuh kita masing-masing. Untuk perempuan, tahu ada berapa banyak lubang yang ada di area genital kita? Untuk laki-laki, tahukah kalau sudah mimpi basah sudah bisa membuahi sel telur?Β  Atau tahu kah kita, bahwa sebenarnya menstruasi atau mimpi basah, bukan awal dari pubertas, melainkan akhir dari pubertas. Iya itu tanda bahwa kita sudah bisa merasakan orgasme atau mendapat dorongan seksual, bukan sekadar masa ababil yang penuh drama.

Pertanyaan sederhana, tapi kita hanya menganggap itu bagian dari proses hidup yang jamak dialami siapa saja, jadi abaikan. Padahal pengenalan tubuh inilah yang akan membuat kita lebih bisa mengendalikan sensasi kenikmatan alamiah. Pengenalan tubuh juga akan membuat kita bisa mengerti bagaimana siklus kenikmatan muncul dan bagaimana menciptakan dorongan kenikmatan atas kesadaran diri sendiri, bukan karena digesek-gesek pervert di bis, apalagi dikelabui oleh ucapan cinta bau terasi…amis.

Pendidikan seks juga akan berbicara mengenai kesehatan reproduksi. Ini akan membuat perempuan tak sekadar bercinta, beranak, dan menyusui. Mereka akan mengerti bahwa semakin sering mereka hamil, risiko terkena kanker serviks akan lebih tinggi. Mereka juga akan tahu bahwa meminta suami menggunakan kondom, bukan berarti tidak melayani suami dengan baik. Sedangkan bagi laki-laki pendidikan seks juga akan membuat mereka tidak menjajakan belalainya sembarangan. Dan bahwa kepuasan hubungan seksual tidak tergantung pada panjangnya ‘senjata’ tak bertulang itu.

Pendidikan seks juga (mungkin) akan membuat anggota dewan terhormat lebih mengerti bagaimana meng-klik link video orang dewasa dengan bijak. Seperti pepatah yang bilang, orang bijak taat pajak dan yang gajinya dibayar pakai pajak jangan berlaku seperti pembajak…beli yang original aja Pak, karena ada label PPN kalau yang original πŸ˜€

Jadi jangan takut sama pendidikan seks, apalagi jijik dengan pembelajaran pengenalan tubuh ini. Dan jangan pede juga untuk bilang bahwa kita yang sudah dewasa serta berpendidikan ini, cukup sadar untuk berseks dengan aman. Karena percaya deh, seks bukan masalah umur dan pendidikan, tapi lebih kepada kesadaran mengendalikan syahwat. Saya pernah mendapat cerita ada anak sekolah dasar yang dilecehkan guru privatnya yang lulusan luar negeri dan bergelar S2.

Jangan juga buru-buru bilang guru privat itu tidak bermoral, karena moral adalah justifikasi kelompok yang didalamnya menuntut proses sosialisasi. Guru privat itu hanya meletakkan otaknya di selangkangan, sehingga pengendalian atas tubuhnya tergantung pada dorongan yang diminta selangkangan.

Atau saya juga pernah mendengar cerita ada seorang ibu rumah tangga yang sudah punya anak dua, tiba-tiba makan buah nanas dalam jumlah banyak, karena dia tersadar sudah sebulan tidak menstruasi. Dia makan nanas agar tidak terjadi konsepsi atau pembuahan yang kemudian membentuk janin. Ibu itu datang dari keluarga berpendidikan dari kelas ekonomi menengah. Jangan langsung bilang Ibu itu patuh terhadap program keluarga berencana yang kembali disemarakkan pemerintah. Dia hanya terlalu percaya pada nanas sebagai alat kontrasepsi yang alami.

Jadi dengan sadar, saya coba menjadi kompor untuk pendidikan seks dalam kurikulum pendidikan. Sehingga pendidikan seks tak hanya diberikan di sekolah-sekolah mahal yang identik dengan sekolah modern. Karena pendidikan seks bukan masalah modern atau tidak. Alhasil sekolah-sekolah yang berafliasi pada ajaran agama juga bisa memasukkan pendidikan seks ke dalam wilayah pendidikan mereka.

Dan lagi-lagi, pendidikan seks bukan juga untuk ajang kampanye politik demi sebutan partai berpikiran jauh ke depan. Karena pendidikan seks berbicara mengenai saat ini, urgensitasnya adalah selangkangan saya dan Anda yang perlu menghargai keberadaan tubuh diri sendiri dan orang lain. Jadi, mari jangan taruh otak di selangkangan. Sehingga kita sudah memulai pendidikan seks untuk diri kita sendiri.

Advertisements

10 responses »

  1. Okay, ini ada macam2 pembahasan disini. Coba lihat satu2.. 😯
    1] Soal judul:

    (Tolong) Jangan Taruh Otak di Selangkangan

    Yang ini rada mustahil. Selama bangsa ini masih lebih menabukan seks daripada korupsi, dan masih ada pejabat yang berpendapat kalo kemaksiatan adalah sumber bencana. πŸ‘Ώ

    2] soal si anggota dewan: bolanya bergulir makin panas. Sepertinya masyarakat sudah menjatuhkan vonis duluan dan berharap ada hukuman terhadapnya. Buat saya sih, dia tak lebih dari politisi busuk dari partai yang tak saya sukai, jadi…. mati saja! 😈

    3]

    Yes, sex education itu harus masuk dalam kurikulum

    Nah, ini bagian yang paling susah. Kurikulum kita sudah cukup berat, tapi sungguh2 kekurangan pengetahuan praktis. Kalo boleh pilih saya malah lebih suka penagulangan bencana masuk kurikulum, soalnya ini lebih menyelamatkan nyawa.
    Balik ke sex edu, saya pesimis ini bisa terjadi di Indonesia lebih daripada level pelajaran anatomi di kelas biologi. Terlalu rumit. Sex masih dilihat sebagai urusan orang yang akan & sudah menikah. Jadi satu2nya pelajaran seks yang bisa diberikan di sekolah adalah: jangan berzinah! Wis, mentok. Melanggar maka masuk neraka! :mrgreen: Tujuan utama sex edu. supaya kemungkinan negatif dari perilaku seksual bisa berkurang tidak akan pernah tercapai. Informasinya selalu dianggap berbahaya. 😐
    Tapi poin2 soal melindungi anak dibawah umur supaya kelaminnya tidak diakses sembarang orang jelas krusial. Perlu keterlibatan orang tua sih. Sementara soal kesehatan reproduksi, menyusui dsb, sudah urusan BKKBN walo hasil kerjanya gak jelas juga. πŸ˜›

    Aih, saya jadi posting di komen ini πŸ˜†

    • *Tarik napas panjang sebelum bales…panjang bener dah ini komennya…bener-bener blogger sejati andah.. πŸ˜€ *

      Okay, ini ada macam2 pembahasan disini. Coba lihat satu2.. 😯

      Wihhhh…analisa blogger aktif hihihihihi

      Yang ini rada mustahil. Selama bangsa ini masih lebih menabukan seks daripada korupsi, dan masih ada pejabat yang berpendapat kalo kemaksiatan adalah sumber bencana. πŸ‘Ώ

      Iya betul, seks lebih ditabukan daripada korupsi. Suka kata-katanya. Tapi saya orang yang optimis…jadi tak ada yang mustahil…hahahaha optimis dan naif, bedanya tipis emang wakakakak. Tapi ya harus optimis lah agar hidup menjadi sebuah perayaan, seperti moto saya *semakin melebar* Pada intinya saya sepakat dengan Anda bung, bungkusan maksudnya…piss…

      Buat saya sih, dia tak lebih dari politisi busuk dari partai yang tak saya sukai, jadi…. mati saja! 😈

      Widih terdengar seperti polisi syariah inih…Sampeyan itu di Papua apa di Aceh ya…serem mainannya mati-matian πŸ˜€

      Nah, ini bagian yang paling susah. Kurikulum kita sudah cukup berat, tapi sungguh2 kekurangan pengetahuan praktis.

      Iya benar, keberatan di hal-hal yang ngga penting. Sepakat.

      Kalo boleh pilih saya malah lebih suka penagulangan bencana masuk kurikulum, soalnya ini lebih menyelamatkan nyawa.

      Wah siapa bilang pendidikan seks tidak menyelamatkan jiwa. Pendidikan seks juga bicara mengenai penyakit menular seksual, dan salah satu diantara penyakit menular seksual adalah HIV/AIDS. Jadi ini juga soal nyawa bung *kali ini tanpa bungkusan biar serius*

      Dan lagi, sebenarnya pendidikan seks dan penanggulangan bencana sifatnya sama kok Jensen…gua melihat keduanya akan memiliki urgensitas yang sama dan bisa diajarkan dengan metode yang sama yaitu menyadarkan anak didik akan pentingnya tubuh sendiri dan alam sekitar. Ini, mengutip Conny Setiawan yang 4 tahun lalu pernah diwawancara, adalah metode mengajar humanis. Membuat mereka sadar bukan sekadar hapal-hapalan, dan pendidikan seks serta penanggulangan bencana bermainnya dikesadaran mereka…Jadi dua-duanya bisa dimasukkan kurikulum lah πŸ˜€

      Tapi poin2 soal melindungi anak dibawah umur supaya kelaminnya tidak diakses sembarang orang jelas krusial.

      Pendidikan seks sebenarnya bukan hanya untuk anak-anak. Siapa bilang orang dewasa atau yang sudah menikah lebih paham. Seksualitas tidak berhubungan dengan umur dan status. Jadi, pendidikan seks untuk semua.

      Dan pendidikan seks, akan dibuat sesuai kebutuhan yang menjadi target pendidikan. Akan berbeda caranya mengenalkan alat kelamin kepada balita dengan anak SD, SMP, SMA, bahkan orang tua.

      Ya, keterlibatan orang tua harus, wajib hukumnya. Tapi kalau orang tuanya tidak mengerti, lagi-lagi misteri tentang seks akhirnya berputar pada peer group. Maka masuklah rasa penasaran pada definisi, katanya…bukan sesuatu yang jelas dan ilmiah. Akhirnya tumbuhlah mereka dengan pengetahuan seks yang katanya…jadilah lingkaran setan yang susah dipotong.

      Akhir kata, wabilah hitaufik walhidayah wassalamualikum warahmatullah hi wabarakatu…*mari kita lihat apa reaksi agen mosad untuk salam yang ini* hahahaha

  2. @ BMD

    Pendidikan seks sebenarnya bukan hanya untuk anak-anak. Siapa bilang orang dewasa atau yang sudah menikah lebih paham.

    Lha, saya juga gak pernah bilang kalo sex edu cuma untuk anak2 kok. :mrgreen:

    Akan berbeda caranya mengenalkan alat kelamin kepada balita dengan anak SD, SMP, SMA, bahkan orang tua.

    Iya, saya tahu. Di dunia maya juga banyak bahan kok. Misalnya ini. :mrgreen:

    Akhir kata, wabilah hitaufik walhidayah wassalamualikum warahmatullah hi wabarakatu…

    Aleichem Shalom… πŸ˜‰

  3. Seperti pepatah yang bilang, orang bijak taat pajak dan yang gajinya dibayar pakai pajak jangan berlaku seperti pembajak…beli yang original aja Pak

    alkhamdulillah, pendapatan bulanan saya berasal dari judi bola. jadi saya masih boleh berburu barang bajakan πŸ˜€

    • alkhamdulillah, pendapatan bulanan saya berasal dari judi bola. jadi saya masih boleh berburu barang bajakan πŸ˜€

      Hahahahaha halal kok Pak/Mas/Om/Bung πŸ˜€

      Btw, Pak/Mas/Om/Bung…sekawanan Jensen ya…hmmm…blog saya didatengin blogger-blogger mumpuni ini…apa ini perlu diantisipasi ya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s