Makam, Dupa, dan Raja

Standard

Entah kenapa saya tidak pernah suka berbicara mengenai kematian. Ya, saya sering juga bilang karena saya terlalu mencintai hidup. Jadi kematian sepertinya tidak menarik.

Maka ketika saya dan Nida merencanakan tempat-tempat yang akan dikunjungi saat liburan di Jogjakarta, Nida menyebut satu daerah. “Kita ke Imogiri Pris.” “Ada apa di sana?” tanya saya penasaran. “Ada makam raja-raja,” Nida menjawab dengan antusias. “Mmm…emang di makamnya ada apa?” rasa penasaran saya berkurang. “Kaga ada apa-apa, cuman makam biasa,” Nida tetap antusias. “Tapi, tempatnya seru buat merenung,” Nida coba menyakinkan saya. Oke karena temanya liburan sambil merenung, akhirnya saya menyetujui pilihan Nida.

Maka Senin (28/3) kemarin saya dan Nida membulatkan tekad untuk mengunjungi makam keluarga raja Jogjakarta. Perjalanannya ngga ribet, cukup naik bus transjogja yang dilanjut dengan mini bus, maka sampailah kami di Imogiri.

Dari luar bentuknya seperti perkampungan pesantren. Sepi dan tak banyak orang beraktivitas di luar rumah. Kami sempat bingung di mana sebenarnya makam raja-raja itu berada. Sampai kemudian kami bertemu sebuah gapura yang menunjukkan makam raja-raja. Tapi di balik gapura itu, tersusun secara rapih anak-anak tangga, ratusan banyaknya. Saya hanya liat-liatan dengan Nida dan tiba-tiba terbanyang rasa nyut-nyutan dari sisa semalam berjalan sejauh 7 Km. “Ayolah kita naikin,” ucap saya yakin ke Nida.

Satu per satu anak tangga berhasil dilalui. Saat ngos-ngosan kami berhenti untuk mencuri oksigen yang bebas berseliweran di udara. Kami sesekali membalikkan badan untuk melihat bentangan gunung yang ada di hadapan anak tangga itu. Makin lama, cucuran keringat makin terasa. Napas makin pendek dan rasa nyut-nyutan kaki pun kembali terasa. “Lu bayangin, orang jaman dulu angkat mayat rajanya dengan melalui anak tangga-anak tangga ini,” saya ajak bicara Nida sambil tersengal-sengal. “Iya gila, ini mah berasa banget,” jawab Nida lengkap dengan aluran napasnya yang pendek-pendek.

Sesampainya di atas kami seperti diajak untuk menebak pintu makam mana yang dibuka, karena di situ ada beberapa bagian makam. Setelah meminta petunjuk dari seorang ibu-ibu tua yang berjualan air minum, masuklah kami ke komplek makam Sultan Hamengkubuwono (HB) 7,8, dan 9.

Sebelum melihat wujud makamnya, kami berdua harus berganti pakaian. Membiarkan badan dililit kain panjang membentuk kemben. Biaya sewanya Rp 5.000 untuk kain atas dan bawah. Kami ditawari sekotak kembang dan dua dadu getah untuk menyalakan dupa.

Di dalam makam kami dilarang foto, hanya boleh mengabadikan momen di depan pintu makam. Lalu masuklah saya dan Nida ke dalam. Sampai di dalam sudah menunggu sekitar 5 bapak-bapak, satu diantaranya adalah perapal doa. Bapa ini memberi tahu aturannya.

Dia bertanya nama salah satu diantara kami, katanya biar doanya jelas menuju ke siapa. Yang saya dengar bapa itu bilang begini, “Swa..swa..swa..beri kesehatan bagi Mbak Nida dan temannya….swa..swa..swa…beri juga keselamatan bagi Mbak Nida dan temannya….” Saat doa diucapkan sesekali bapa perapal doa mengarahkan asap dupa ke makam para Sultan. Saya dan Nida hanya saling bertatapan.

Setelah itu kami diarahkan untuk mendatangi makam HB 7, 8, dan 9 secara berurutan. “Boleh kasih sumbangan serelanya di sini atau di masing-masing makam. Kalau mau dikasih di sini harus dikasih langsung ke saya, biar saya bisa bagi-bagi langsung.” Kami datangi satu-satu, meletakkan bunga. Jujur saya sedikit kegok, karena saya ngga pernah ngerti doa apa yang harus dipanjatkan depan makam. Saya hanya menunggu Nida, jika dia sudah siap melangkah saya pun ikut bergeser.

Beberapa makam disertai dengan foto almarhum atau almarhumah. Dan foto Sultan HB 9 ternyata ganteng loh. Mirip Sultan yang sekarang tapi lebih berkarismatik. Selesai menebar bunga dan berdoa singkat, saya dan Nida pamitan. Tiba-tiba Bapa perapal doa bertanya, “Berdua aja ke sini Mba?” “Iya pak,” jawab saya sopan. “Loh ngga sama pacarnya?” bapa itu kembali bertanya. “Ngga pa, berdua aja,” saya masih sopan menjawab. “Loh pacarnya mana?” bapanya semakin mau tahu. “Ngga punya Pak,” jawab saya sambil senyum mencoba ramah. “Wah besok-besok ke sini ama pacarnya Mba, biar didoain awet.” Saya pun menimpali seperti ini,”saya cari dulu aja gimana Pak, biar ada yang bisa dibawa ke sini.” Eh sontak semua penjaga makam ikut ketawa. Apalagi si bapa perapal doa menimpali dengan bilang, “Lah itu sama yang itu aja,” sambil nunjuk penjaga makam yang paling muda. Trus kita ketawa garing aja.

Selesai ritual kirim doa dengan dupa itu, saya dan Nida hanya duduk-duduk di luar makam para HB itu. Kita memandangi makam dan berdiskusi. Iya jauh-jauh ke Imogiri cuman buat berdiskusi dan yang dibahas cuman kematian hahahaha.

“Gua tuh sama Aji suka loh pergi ke makam, trus moto-motoin kuburan,” Nida membuka pembicaraan sambil senyum bahagia. Saya spontan menengok ke Nida sambil bertanya,”Heh…ngapain? Cuman moto-moto doang?” “Enak tahu, tempatnya sepi,” Nida menjelaskan.

“Lu gambarin life after death itu gimana sih Nid,” saya memancing Nida. “Ngebosenin,” jawabnya serius. “Hahahaha sama…persis, gw juga begitu. Makanya gua ngga suka membicarakan kematian.”

Saya ingat, gereja jarang sekali bicara soal kematian. Paling banter soal tanda-tanda akhir jaman. Kalau kematian saja saya tidak suka mendengarnya apalagi soal tanda-tanda akhir jaman.

Sebagai anak yang dibesarkan dengan ajaran Kristen, saya sering kali diberi tahu kalau setelah meninggal, kita akan dibangkitkan dan hidup bersama Tuhan di surga. Nyanyi bersama malaikat dan hidup bahagia selamanya. Hal serupa juga ada dalam gambaran Nida sebagai muslim. “Kita di surga bakal memberikan puji-pujian, tapi apa kaga bosen ya?” dia bertanya dan saya menjawab dengan antusias atas kesepahaman kami.

Ada satu cerita guru sekolah minggu yang memberikan perbedaan neraka dan surga. Di neraka dan surga, kata kakak gereja saya, kita akan mendapat fasilitas yang sama. Diberi makan dan minum yang sama. Mereka sama-sama kaki dan tangannya dirantai. Bedanya, di neraka setiap orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Jadi mereka hanya akan berusaha demi dirinya sendiri, yang pada akhirnya tak bisa membuat mereka menikmati makanan serta minuman yang dihidangkan. Sedangkan di surga, mereka saling menyuapi. Tangan memegang makanan atau minuman, lalu di arahkan ke orang di sampingnya. Begitu seterusnya, hingga semua bisa menikmati makana dan minuman yang dihidangkan. Ya, di surga ngga ada keegoisan. Mengasihi satu dengan lainnya adalah inti dari kehidupan di surga.

Hanya sampai di situ saya suka membayangkan hidup setelah kematian. Soal bernyanyi dengan malaikat atau semua yang serba berkecukupan, buat saya itu terlalu monoton.

Setelah bicara soal surga dan neraka, saya dan Nida ganti topik soal makam raja-raja itu. Tempatnya yang tinggi, sejuk, dan luas sepertinya peristirahatan yang nyaman. Mana kebetulan hari itu langit begitu cerah, awannya bersih dan kalau kita mendongak, rasanya dekat sekali dengan lagit. Ya kita merasa dikuburkan di lahan seperti itu seolah berada di pekarangan Tuhan (baca: surga).

Ya situasi yang nyaman juga bisa menjadi jualan untuk bisnis pemakaman. Bahkan, belakangan bisnis makam bisa untung jutaan rupiah, wong satu makam aja bisa di atas Rp 15 juta. Masih inget San Diego Memorial Park kan yang didesain selengkap mungkin, persis kaya desain perumahan. Ada restoran, ada rumah ibadah, dan rumah peristiraatan buat yang ziarah.

Tapi sebenarnya ada yang menggelitik dari lokasi pemakaman para raja-raja itu. Sebagai raja, lokasi pemakaman yang dekat dengan langit seolah menggambarkan kedudukan mereka dalam strata sosial. Sedangkan rakyat jelata atau para abdi dalam, ya jatahnya di pemakaman bawah yang letaknya jauh dari kemegahan langit.

Hal serupa juga terjadi di penyewaan tanah makam umum. Siapa yang bisa bayar lebih akan dapat tempat yang lebih enak. Malah salah satu keluarga saya cerita, makam itu ada kelasnya, VIP atau umum. VIP merujuk pada lokasi yang lebih tinggi dan nyaman untuk diziarahi. Sedangkan yang umum ya tergantung dapatnya lokasi mana. Dan pasti lebih masuk ke dalam areal pemakaman, jadi yang mau ziarah harus rela jalan lebih jauh.

Kematian, surga, dan neraka ah sama absurdnya dengan kehidupan serta hari penghakiman. Tiba-tiba saya teringat kutipan Muhammad Iqbal, “Bahwasanya dosa adalah bukanlah sebuah hukuman, melainkan satu cara untuk membuat kita belajar dan memperbaiki diri. Jadi, bodohlah orang yang menyebut dosa sebagai hukuman.” Jika ingat kutipan ini saya selalu menganalogikannya dengan, karena tak ada dosa dan hukuman, maka tak ada neraka. Karena setiap kita diberi peluang untuk memperbaiki diri dan karena itulah, hidup adalah cara untuk belajar menjadi lebih baik.

Tapi kutipan itu tak cukup ampuh menghapus aura kebosanan ketika bicara life after death.  Atau ada yang punya konsep life after death yang menyenangkan? Karena kalau ada, saya ingin mendengarnya. Saya pikir, saya harus adil terhadap kecintaan saya pada hidup dan kematian. Bukankah keduanya bersandingan? Tapi saya yakin, satu hari ketika saya siap untuk mengucapkan selamat tinggal, hari itu saya pasti mencintai akhir hidup saya seperti saya mencintai awal hidup saya. Saya jadi terpikir untuk menambahkan kata-kata, “Hidup dan kematian adalah sebuah perayaan.” Ya, mari kita tambahkan demikian tapi saya masih harus melengkapinya dengan spirit yang jelas atas kematian sebagai sebuah perayaan layaknya hidup adalah sebuah perayaan.

Ya, ingatkan saya untuk buat tulisan soal itu ya 😀

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s