7 Km Menuju Malioboro

Standard

Jalan kaki sama pedestrian seperti Nida memang menyenangkan. Ini saya alami sendiri. Karena terlalu sore mengunjungi museum Ullen Sentalu yang ada di Kaliurang, saya dan Nida terpaksa pulang dengan berjalan kaki.

Jadi petugas museum memberi tahu kalau angkutan umum yang berupa mobil colt super tua, hanya beroperasi sampai jam 4 sore. Dan kita, baru keluar museum sekitar jam setengah 6. Petugas keamanan museum itu malu-malu untuk menawarkan kami naik ojek yang sebenarnya adalah tukang bangunan dari museum itu. Dengan segala bahasa halus untuk memanfaatkan jasa dadakan mereka, akhirnya kami naik ojek hanya sampai Pakem. Pakem ada di Km. 15 Kaliurang.

Saya dan Nida berpikir, mungkin nanti dari Pakem akan ada angkutan umum yang bisa mengantar kami ke pusat kehidupan (Baca : Maliboro). Tapi sayang beribu sayang, tak ada angkot yang beroperasi sampai jam 6 sore. Dan kami pun memilih untuk jalan kaki sampai ada tanda-tanda kehidupan angkot.

Jadi dari Km.15 kami masih bersemangat meminta kaki untuk melangkah. Sambil bercanda, menggoda satu sama lain, bernyanyi, membahas mengenai Ullen Sentalu, sampai curhat kami lakukan untuk melupakan diri bahwa kami sedang jalan kaki di jalan besar yang gelap dan sepi itu.

Kami malah sempat berteduh tiga kali karena nampaknya hujan ngga mau kalah happy. Saat berteduh banyak hal yang kami lakukan, mulai dari meniru ucapan petugas museum yang malu-malu menawarkan jasa, bercerita mengenai Yasha dan Shira, membicarakan isu kesehatan, sambil merencanakan perjalanan berikutnya. Aksi menunggu hujan berhenti ini, kami lakukan 3 kali.

Oiya ada satu kejadian lucu saat berteduh. Jadi karena jarak yang ditempuh makin jauh, kami hanya diam saat berteduh. Sampai tiba-tiba di depan mata melintas motor yang membawa kerangka tempat tidur. Jadi motor itu ada di dalam rangka tempat tidur yang berbentuk empat persegi panjang. Sang pengendara motor harus menjaga keseimbangan dengan baik agar tidak oleng dan merusak tatan rangka tempat tidur. Plus kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia makan tempat juga. Jadi dia seperti bawa mobil tapi dengan dua roda hahaha. Ini membuat saya dan Nida tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.

Kita juga sempat mampir di satu rumah makan modern karena Nida mau sholat, ya lagi-lagi sekalian berteduh. Karena musholla berada di dalam rumah makan itu, jadi kami bisa menikmati pemandangan asri yang mereka jual selain makanan. Uniknya lagi, mereka meletakkan patung Budha persis di depan musholla.

Sebenarnya saya dan Nida mau makan di rumah makan itu, setelah melihat harga nasi kucingnya cuman Rp 1.500 padahal tempatnya enak banget. Tapi karena melihat jam semakin malam, kami terpaksa melanjutkan perjalanan kaki.

Sampai di Km.10 kami mulai mendengar tawaran jasa dari para tukang ojek. Tapi karena merasa bisa menempuh 5 Km, kami pun menolak mentah-mentah tawaran itu sambil berjalan dengan gagah berani. Sampai akhirnya kami melihat sesuatu berkedip-kedip berwarna merah. “Lampu merah Nid di depan,” ucap saya kegirangan. “Iya bener, ayo semangat ada lampu merah,” Nida ngga kalah semangat. Jadi berasa seperti pelaut yang udah lama kaga liat daratan. Dan kami pun menambah kecepatan untuk mendekati jarak. Seperti rumus fisika, jarak adalah perkalian kecepatan dengan waktu ๐Ÿ˜€

Cahaya merah berkedip itu pun semakin jelas terlihat dan kami semakin sumringah. Dan tibalah kami pada cahaya merah berkedip itu, “What the fu*k ternyata bukan lampu merah. Cuman lampu hias kepiting,” pekik saya. “Ah kepiting ngga guna emang,” Nida menimpali.

Akhirnya sambil menenggak air putih yang ada di dalam botol merah yang menyantol di tas, saya dan Nida pun kembali berjalan. Saat mulai terasa kelelahan, kami coba menyemarakkan suasana. Setidaknya itu akan membuang rasa nyut-nyut pada kaki. Kami membahas mengenai baju yang kami pakai ketika itu.

Karena kalau dipikir-pikir, saya dan Nida punya style yang berbeda. Cuman untuk urusan warna, aksesoris, atau tank top, kadang-kadang kita memiliki kesamaan selera. Tapi hari itu, style kami sedikit beda. Saya pakai dress selutut dengan model kemben yang ditutup bolero merah. Sengaja, karena di luar Ullen Sentalu banyak tempat bagus buat foto. Dan hari itu saya ndak tahu kalau bakal membelah Kaliurang dengan berjalan kaki. Saya versi feminimnya lah. Sedangkan Nida versi santainya. Pakai kaos coconut island dengan celana jeans panjang dan sepatu convers. Dia memang versi cueknya.

Setelah selesai membahas mengenai baju, kami kembali melihat cahaya merah berkedip-kedip. Mungkinkah itu lampu merah? Yup kali ini kami menemukan lampu merah. “Gila gua ngga pernah sesenang ini ketemu lampu merah,” Nida bersuara kegirangan. Tapi ternyata, lampu merah tak banyak membantu. Karena posisi lampu merahnya di pertigaan dan tak ada petunjuk arah. “Ah ternyata ngga ada gunanya juga ketemu lampu merah, ngga membantu,” Nida kembali bersuara dan saya hanya tertawa. “Hey lampu merah, apa fungsimu di jalan Kaliurang ini hah,” saya sok berdeklamasi. Dan kami pun kembali tertawa puas demi mengundang oksigen ke dalam kepala yang mulai letih. “Ternyata halusinasi bukan hanya dialami para pendaki gunung, tapi juga pejalan kaki,” ucap saya seasalnya. “Iye apalagi kalau lu udah jalan sejauh 5 Km!!”

Sadar udah jalan sejauh jarak perlombaan lari marathon, saya dan Nida kembali berharap bertemu tukang ojek. Tapi tak ada, sampai tiba-tiba ada taksi melintas dan Nida berteriak sekuat tenaga. “Takkssssssiiiiiiii…..woi taksi….” Dan taksi pun melaju semakin kencang karena dia datang searah dengan kami, sehingga kami telat menyadari kehadirannya.

Saya hanya ketawa geli melihat Nida teriak-teriak berharap. Soalnya kalau di Jakarta, saya yang dikenal banci taksi. Kemana-mana doyannya naik taksi, well belakangan saya mulai cinta bus trans Jakarta sih ๐Ÿ˜€ Tapi Nida, sebagai pejalan kaki sejati, taksi bukan armada pilihannya. Tahu saya cuman ketawa-tawa melihat dia teriak, Nida hanya berkomentar, “Kaget lu ya liat gua menginginkan taksi.” Dan saya pun menjawab dengan tawa plus anggukan. “Eh lu mau tahu gimana gaya lu pas manggil taksi?” saya coba menggoda Nida. Setelah saya peragakan, kami pun berhasil mengundang datangnya oksigen dalam otak yang bikin kita segar kembali.

Tapi taksi yang berlalu itu menjadi pertanda kalau kami sudah mendekati kehidupan. Saya mulai mencari plang alamat pada toko-toko yang berjejer. My God kita udah di Km. 8 dan sekarang sudah jam setengah sembilan. Oke ngga mungkin jalan terus sampai hotel karena sudah semakin larut. Kami pun semakin awas menatapi kendaraan yang berlalu, hingga akhirnya sebuah taksi pun menghampiri. Buka pintu, luruskan kaki, dan radio taksi memutar lagu I Remember dari Mocca. “Ke Dagen ya Pak,” ucap saya pelan. Saya menoleh ke Nida, dia mulai menyanyikan lagu Mocca itu. “Pak, tolong gedein dong volumenya,” Nida meminta sambil siap-siap ikut bernyanyi. Dan saya hanya bilang, “Thank you for being such a great walking partner. Senang berjalan dengan Anda.” Lalu kami berjabat erat sambil tersenyum lega.

Advertisements

3 responses »

  1. @Alia & Ika : Awalnya kita kira cuman jalan 5 Km. Maklum oksigen berkurang, kemampuan berhitung pun berkurang *alesan* Tapi pas kilas balik lagi, ternyata 7 Km…sampe di penginapan,angkat kaki ke atas sambil tiduran di tempat tidur…sorga dunia dah ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s