Perayaan Perempuan dalam Monarki

Standard

Tahu apa yang menarik dari sebuah kerajaan? Buat saya, cerita tentang perempuan yang mengelilingi kehidupan kerajaan, bisa mengundang beragam reaksi dan emosi.

Dan ini akan sangat terasa kalau kita berkunjung ke museum Ullen Sentalu, Kaliurang Yogyakarta. Museum murah dengan pelayanan profesional ini akan bercerita banyak tentang perempuan-perempuan di kerajaan.

Sebenarnya ini kunjungan saya yang kedua. Di kunjungan yang pertama, saya berjanji untuk kembali datang ke museum swasta itu. Entahlah, saya merasa museum itu punya sejuta cerita yang akan menarik untuk selalu didengarkan. Saya bilang sama Nida, “Lu pasti suka tempat ini, trust me!”

Akhirnya, sampailah kami di museum itu. Kami datang sekitar jam 4 sore dengan rintik hujan yang lumayan deras. Oiya, sebaiknya pergi ke museum ini siang-siang supaya mudah mengaksesnya dengan angkutan umum. Kalau datang terlalu sore, kita harus naik ojek dari Pakem-Kaliurang Km.15, dan itu lumayan merogoh kocek. Ya walaupun kalau dibanding ojek Jakarta, masih lebih murah. Tapi ya angkutan umum lebih bersahabat untuk kita petualang disaat kere πŸ˜€

Tiket masuk ke museum ini Rp 25.000, untuk hari Minggu dan kita akan diberi satu orang guide. Saya dan Nida beruntung, karena kami datang berdua tanpa ada rombongan yang lain, jadi guide-nya spesial buat kami berdua. Dan kami dipandu oleh Iccha Pratita, dia guide baru di Ullen Sentalu tapi gaya ceritanya tidak akan membuat kita bosan. Bahkan saya merasa seolah sedang berbagi cerita sejarah bersama seorang teman. Menyenangkan.

Pemilik museum, Haryono adalah seorang pengusaha batik. Sebagai pengusaha batik, Haryono cukup erat dengan filosofi batik dan cerita yang menyelubunginya. Dan kecintaanya pada kebudayaan Jawa-lah yang membuat Haryono mendirikan museum ini. Plus, dengan dukungan anak-anak Haryono yang memiliki latar belakang pendidikan yang beragam, membuat niatnya mendirikan sebuah museum diwujudkan dengan sempura. Salah satu anaknya ada yang lulusan museumologi yang menjadi bekal untuk membuat museum dijalankan dengan profesional, tidak menjemukan seperti museum yang dikelola pemerintah.

Para guide dibekali pengetahun yang sangat luas, sehingga segala pertanyaan dijawab dengan memuaskan. Seperti ketika saya bertanya kenapa museumnya lebih banyak bercerita mengenai perempuan-perempuan di kerajaan Jogjakarta dan Solo, Iccha menjawab, “Karena memang belum banyak museum yang bercerita mengenai perempuan-perempuan di kerajaan. Plus, kerajaan Jogjakarta dan Solo, punya banyak cerita mengenai permaisuri dan selir.”

Bahkan ada salah satu raja yang punya 79 selir. Bayangin bagaimana dia membagi waktu untuk selir-selirnya. Selir, hanya identik dengan kasur, sumur, dan dapur. Dia tidak punya fungsi lebih dari ketiga itu. Beda dengan permaisuri yang mendapat pengakuan dan anaknya bisa jadi penerus tahta.

Plus baik selir maupun permaisuri, hanya boleh ngomong sama raja kalau rajanya yang ngajak ngomong duluan. Oh betapa sepinya pernikahan kerajaan πŸ˜€ “Lu pasti kaga cocok jadi pendamping raja, karena lu cerewet plus agresif,” ucap Nida nakal yang membuat kita tertawa geli.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya ketika mendengar pemaparan Iccha mengenai dua kerajaan besar di Jawa Tengah ini.

Pertama adalah mengenai kecenderungan para putri kerajaan Solo yang lebih fashionable dibanding putri kerajaan Jogjakarta. “Solo itu lebih dekat dengan Belanda, makanya dia lebih kebelanda-belandaan, lebih gaya,” begitu Iccha bercerita.

Kedekatan dengan Belanda, membuat putri-putri kerajaan itu sudah kenal dengan majalah-majalah atau trend mode Eropa. Maka ada beberapa dari mereka yang jadi ‘fashion stylist’ di lingkungan kerajaan. Salah satunya adalah Retno Puwoso. Dia adalah istri Pakubuwono X yang katanya gemar sekali mengoleksi topi. Dia bahkan mendesain topinya sendiri dan dibuat di Paris. Saya dan Nida kembali berseloroh, “Bayangin desain topinya kemudian dipake desainer sana dan ama kita dibeli lagi dengan label Paris, padahal yang desain pertama kali orang Jawa.”

Ada cerita unik juga soal Pakubuwono X, dia rela menggemukkan badannya agar lencana-lencana yang menempel di dadanya terlihat lebih jelas. Dan karena lencananya makin banyak, tubuh ramping tak akan mengakomodir dengan baik. Jadi ya menggemukkan badan adalah pilihan logis buat sang raja.

Cerita yang menarik perhatian saya berikutnya adalah mengenai Siti Nurul Kamari Nasarati Kusumawardani. Ini adalah perempuan kerajaan yang menolak poligami, dia adalah anak dari Mangkunegaraan VII dan cucu dari Hamengkubuwono VII.

Nurul adalah putri raja yang punya banyak talenta, mulai dari jago bermain piano, menari, berkuda, sampai bermain tenis. Nurul juga terkenal sangat cerdas dan berkarakter, itu kenapa ayahnya sudah sejak dini melibatkan Nurul pada acara-acara formal seperti peresmian radio atau sejenisnya.

Tapi bukan cuman itu, kecantikan Nurul berhasil membuat Soekarno, Hamengkubuwono IX, dan Sutan Sahrir terbuai sampai menyatakan cinta. Mana yang Nurul pilih? Tidak ada, dia tidak memilih satu pun diantara mereka. Alasannya, dua orang yang pertama adalah pelaku poligami dan Nurul anti poligami. Sedangkan Sahrir ditolak karena Nurul tak mau suaminya berkecimpun di politik.

Jadi siapa yang berhasil memikat Nurul? Dia adalah seorang tentara bernama Suyarso Suryo Sularso. Nurul menikah dengannya ketika berusia 30 tahun, usia yang dilabeli perawan amat tua ketika itu.

Nurul sampai sekarang masih hidup dan tetap terlihat cantik serta berkharisma. Dia bahkan meresmikan salah satu ruangan yang memang dikhususkan untuk dirinya di Museum Ullen Sentalu.

Cerita menarik berikutnya adalah cerita cinta terlarang Koes Sapariyam alias Tineke. Karena alasan bibit, bebet, dan bobot, Tineke tidak diperbolehkan menikahi lelaki pujaan hatinya. Cinta yang tak boleh bersemi ini membuat Tineke sedih luar biasa sehingga mendapat puluhan surat dari teman-teman dan saudara-saudaranya yang ada di dalam hingga luar negeri. Suratnya disimpan dan bahkan di translate ke dalam beberapa bahasa.

Saya sempat bertanya, “Bagaimana perasaan orang tuanya mengetahui anaknya begitu berduka hingga dikirimi surat agar kembali semangat?” Pertanyaan ini mengantarkan saya pada jawaban off the record. Iya saya ngga boleh cerita karena intinya ini adalah cinta terlarang πŸ˜€ *semoga ini akan bikin kalian penasaran*

Cerita selanjutnya adalah mengenai patung Durga. Durga adalah sosok perempuan yang punya 8 tangan. Di kalangan feminis, patung dengan 8 tangan ini diartikan sebagai tuntutan perempuan yang harus multitasking dalam mengurus kehidupan.

Sebenarnya ini bukan salah satu bahan pembicaraan, tapi karena saya berkomentar soal multitasking itu, Iccha pun menjelaskan. Durga adalah hasil penyatuan dari 8 nafas dewa. Para dewa merasa butuh membentuk satu penjelmaan untuk menghadapi kekacauan yang menjelma dalam wujud lembu alias sapi jantan.

Akhirnya masing-masing dewa menghembuskan nafas dan menitipkan satu kekuatan bagi Durga untuk menghadapi si sapi jantan itu. Alhasil ada 8 senjata yang diwujudkan dengan 8 tangan yang dimiliki Durga.

Ada satu analisa nakal yang saya punya. Karena kekacauannya menjelma dalam wujud sapi jantan dan dewa-dewa yang berkuasa itu laki-laki semua, lagi-lagi perempuan hadir untuk menaklukkan kegilaan antar laki-laki. Dan menariknya lagi, ternyata dalam mitologi Jawa, Durga punya dua perwujudan atau avatar yaitu sebagai Durga dan Parwati.

Sosok Parwati, adalah perempuan kebanyakan yaitu lembut dan berparas cantik. Parwatilah yang ditaksir sapi jantan dalam avatar Bandung Bandawasa. Tapi karena Parwati tahu Bandung Bandawasa itu adalah perwujudan sapi jantan yang mengobrak-abrik khayangan, ya dia tak sudi menerima cinta Bandung Bandawasa. Maka Bandung Bandawasa dikerjain Parwati dengan disuruh buat seribu candi. Iya ini mitologi.

Tapi dalam mitologi ini ada pembagian peran dengan balutan pencitraan. Perempuan yang lembut akan menarik perhatian banyak laki-laki, termasuk bad boy kaya Bandung Bandawasa yang adalah avatar dari sapi jantan itu. Ya perempuan yang kuat dan galak seperti Durga (Durga digambarkan berwajah garang dan melotot) juga mampu menjinakan keliaran sapi jantan sih. Lalu pertanyaan iseng muncul, trus yang menaklukkan atau menjinakkan cowo baik-baik atau sapi jantan yang bukan perusak siapa dong πŸ˜€

Ya cukup dengan penaklukkan keliaran laki-laki. Sekarang kembali ke cerita lain yang menarik perhatian saya di Museum Ullen Sentalu. Ini adalah cerita peringatan pengangkatan Sultan Hamengkubuwono sebagai raja. Pada peringatan ini konon katanya sang raja akan bercinta dengan Kanjeng Ratu Pantai Selatan.

Oiya, ternyata sebutan Kanjeng Ratu dengan Nyi Roro Kidul itu beda. Kanjeng Ratu itu adalah Ratunya pantai selatan, sedangkan Nyi Roro Kidul adalah abdi dalam si Kanjeng Ratu. Jika selama ini kita, well saya sih, sering mengaitkan Kanjeng Ratu dengan Roro Kidul, kata Iccha, itu adalah efek film Susana. Jadi, jangan sering-sering nonton film Susana ya. Selain emang filmnya aneh, ada penyimpangan pencitraan ternyata hihihihi.

Kembali ke cerita peringatan pengangkatan Sultan Hamengkubuwono dan Kanjeng Ratu Pantai Selatan, ada ritual tarian Bedoyo Ketawang yang akan dibawakan 9 penari perempuan perawan. Kenapa 9? Itu adalah lambang 9 lubang kenikmatan yang ada di tubuh kita. Itung sendirilah, saya tak perlu membantu sepertinya.

Untuk mengendalikan 9 kenikmatan tersebut, dibutuhkan keseimbangan otak kiri dan kanan. Otak kiri dan kanan ini kemudian dilambangkan dengan 2 penari yang berdiri sendiri. Dan jika ini tercapai maka akan hadirlah kesempurnaa itu yang diwujudkan dengan kehadiran Kanjeng Ratu Pantai Selatan.

Kembali, perempuan direperentasikan sebagai pengendali kenikmatan. Pengendalian dianalogikan sebagai keseimbangan kerja otak yang lembut tapi tegas. Dan perempuan yang berhasil mengendalikan akan disebut perempuan yang sempurna, Kanjeng Ratu. Lalu pertanyaan iseng muncul, “Trus kerja laki-laki apa dong? Mengeluarkan nafsu untuk dikendalikan?” *siul-siul di pojokan*

Dan cerita terakhir yang menarik saya adalah mengenai makna dari atribut pakaian pengantin perempuan dari kerajaan Jogjakarta. Namanya Paes Ageng, semuanya penuh simbol. Dari kepala sampai ujung kaki. 5 kembang goyang yang ada di kepala melambangkan kewajiban sholat 5 waktu.

Sedangkan 2 gelang naga yang ada di lengan, melambangkan istri harus kuat. Dan dua sumping yang ada di telinga, adalah simbol dari daun ketela yang pahit. Mau tau ini melambangkan apa? Istri harus merasakan pahitnya hidup berumah tangga, karena membangun rumah tangga tak semanis pacaran. Lalu alis yang kebelah adalah simbol dari tanduk rusa. Ini adalah lambang untuk istri harus cekatan dan lincah seperti rusa. Dan dua gelang melingkar di tangan, adalah gelang tanpa ujung untuk melambangkan cinta yang tak pernah putus.

Oh ada satu lagi fakta menarik soal atribut baju pengantin ini. Kain yang dibebatkan ke tubuh pengantin perempuan, panjangnya adalah 5 meter. Ada teknik khusus untuk melilitnya sedemikian rupa agar tidak mudah melorot, tapi cukup satu tarikan untuk membuat pengantin perempuan polos tanpa sehelai benang. Dan ini ditujukan untuk memudahkan pengantin laki-laki mengekspresikan nafsunya di malam pertama. And once again, perempuan hadir untuk mengendalikannya dengan otak yang lembut dan tegas demi sebuah sebutan, perempuan sempurna.

Ya ini cerita tentang perayaan perempuan dalam sistem monarki dan religi. Dua hal ini membebat kebudayaan di Indonesia, bisa jadi bahasanya beda tapi simbolnya (mungkin) saja sama. Bahwa perempuan sebagai pengendali kesuksesan laki-laki harus ada di belakang layar. Jika ada perempuan yang berani tampil di depan layar seperti Nurul, minimal dia harus rela disebut perawan tua demi sebuah konsistensi ideologi.

Yah perawan tua kan cuman sebutan, dan ideologi adalah pencapaian jati diri yang paling sederhana. Karena kata Pramoedya, tak pernah ada waktu yang cukup untuk membuat kita mengenal diri kita sendiri. Minimal ketika kita mengenal satu hal sederhana dari jati diri, sangatlah penting untuk bersikap seperti Nurul. Konsisten menyebut dirinya sebagai anti poligami dan politik, serta persetan dengan segala kelembutan mengendalikan keliaran sapi jantan. Well at least ini menurut saya sih πŸ˜€

Ayo jangan cuman duduk dan terpesona baca tulisan panjang ini. Mulai pilih tanggal mana yang bisa kabur sejenak dan mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Jangan ke mall mulu ah, bosen πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s