Di Balik Tembok Taman Sari

Standard

Sabtu, 26 Maret 2011, saya dan Nida akhirnya sampai di Jogjakarta. Setelah berhasil menemukan penginapan murah, kami pun memilih tempat eksplorasi pertama, tempat permandian Taman Sari.

Karena gerbang resminya sudah tutup, akhirnya kami masuk dari jalur samping dengan guide yang adalah penduduk setempat. Bapa guidenya telah melengkapi diri dengan pemilihan spot untuk foto. “Foto sini Mbak, bagus. Sini saya yang foto berdua,” ucap Bapa itu dengan logat Jawa yang kental. Percaya atau tidak, hasil jepretannya bagus loh. Dia sangat berpengalaman.

Disinilah para selir menanti lemparan bunga raja

Berhubung kita pake jalur tanpa karcis, tempat pemandian hanya dapat dilihat dari balik tembok. Bangunan yang hampir kaya benteng itu terdiri dari dua kolam besar. Dua kolam besar ini adalah tempat para selir berkumpul. Dan tepat di dua kolam besar ini ada semacam menara yang akan ditempati raja. Dari menara inilah raja akan melemparkan bunga. Jika bunga jatuh pada salah satu selir, itu artinya selir ikut raja di kolam yang lebih private. Yes they making love there.

Saat bapa guide-nya bercerita, saya melontarkan pertanyaan iseng. “Kalau bunganya jatuh di selir yang raja lagi ngga pengen gimana?” Bapa guide-nya hanya tertawa dengar pertanyaan saya. Mungkin baru pertama kali dia dengar pertanyaan asal seperti itu. “Sebenarnya dia lempar bunga biar dia tidak nunjuk, jadi tidak ada yang cemburu.”

Tapi bapa guide itu buru-buru memberikan penjelasan tambahan, “Itu kan dulu. Sekarang mah tidak, semenjak keluarga kerajaan menjadi muslim, poligami tidak diperbolehkan.”

Dan kami pun dibiarkan duduk beberapa saat di atas tembok pembatas. Berfoto sambil melihat sekeliling kolam. Saya sama Nida lebih sering berucap, “Anjrit enak bener jadi raja, mandi aja rame-rame,” sambil tertawa bersama-sama.

Selain tempat permandian itu, saya dan Nida pun diajak ke persembunyian bawah tanah yang konon katanya bisa nembus ke pantai Selatan. Di dalam tempat persembunyian itu ada mesjidnya loh. Bahkan langit-langit di lorong-lorongnya ada yang berbentuk seperti kubah mesjid.

Bapa guide dadakan itu juga cerita, kalau penduduk di sekitar itu adalah abdi dalam keraton. Rumah mereka tidak boleh dijual katanya, tapi boleh disewakan. Dan kebanyakan orang yang tinggal di sana sekarang adalah penyewa.

Si bapa guide – saya sebenarnya bertanya namanya siapa, tapi lupa – juga bilang kalau rumah-rumah di sekitar situ tidak boleh ada yang bertingkat agar tidak mengalahi kemewahan keraton. “Orang tua saya dulu juga abdi dalam Mbak. Cuma dibayar seribu, tapi sekarang sudah naik jadi tiga ribu,” ucapnya bangga.

Saya dan Nida udah pasti kaget dengernya. “Hah tiga ribu, bisa buat makan Pak?” Lalu bapa guide itu menjawab, “Para abdi dalam percaya uang dari kraton itu akan membawa rejeki. Jadi uangnya tidak dipakai, disimpan aja, dan nanti akan nambah sendiri.”

Saya semakin penasaran dengar penjelasannya, “Maksudnya gimana Pak, nambah sendiri?” “Iya pasti akan ada rejeki dari mana-mana,” ucapnya dengan wajah yakin.

Di sinilah raja main lempar bunga

Saat Nida asik foto-foto dari atas tembok permandian Taman Sari, saya yang takut ketinggian hanya ngobrol dengan bapa guide sambil duduk bersila. “Tapi tiga ribu kan ngga cukup ya Pak?” saya coba menelisik. “Alhamdulilah cukup sih Mbak. Karena dikasih sembako dan sepeda juga. Jadi cukup-cukup aja.” Ya sepertinya bekerja di keraton punya arti tersendiri bagi para abdi dalam yang setia. Saat saya tanya apa saja yang biasa dilakukan para abdi dalam di kraton, bapa guide cerita biasanya mereka hanya duduk-duduk di pelataran kraton. Baru saat ada tamu atau diperlukan, mereka akan bekerja.

Setelah puas mendengar cerita di balik pemandian Taman Sari itu, saya dan Nida memberikan ‘ucapan terima kasih’. Mungkin ini yang dimaksud, rejeki akan datang dari mana saja jika mereka bekerja untuk kraton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s