Kontemplasi Kereta

Standard

Surat cinta dari Yasha dan Shira

Dalam kereta bisnis yang rasa ekonomi Senja Utama Solo, saya menerima surat cinta. Dua sekaligus!

Kata-katanya sederhana. Lebih sederhana dari puisi atau lagu cinta mana pun 😀 Karena yang menulis surat adalah 2 anak perempuan lucu bernama Yasha dan Chira. Keduanya adalah keponakan sahabat saya, Nida, yang saat ini lagi tertidur lelap dengan iringan suara penjual kopi dan pop mie asongan.

Buat Nida, dua keponakannya, adalah anak-anaknya. “Mereka itu anak-anak gua. Gua manggilnya anak-anak tikus,abis lucu-lucu.”

Kedua anak itu adalah anak dari kakak Nida. Dan mereka memanggil Nida, Bunda. Buat Nida, mereka adalah nafas dan energi yang bikin Nida bisa lebih fokus menjalani hidup. Baru berapa jam di kereta, Nida udah rindu Yasha dan Chira. “Aduh gua kangen anak-anak gua,” ucapnya sambil melihat foto-foto Yasha dan Chira di kamera yang berwarna shocking pink.

Yasha adalah anak pertama, dengan ciri-ciri bermata sipit dan berambut ikal seleher,umurnya kira-kira 6 tahun. Sedangkan Chira, umurnya kira-kira 4 tahun, rambutnya lurus dan hitam manis, tampilannya lebih tomboi.

Nida sering sekali cerita tentang keduanya. Saya yang adalah pecinta anak-anak, ngga pernah bosan mendengar tingkah lucu mereka.

Yasha pernah mengeluh harus bangun pagi untuk pergi sekolah. Kita semua pasti pernah mengalami hal yang sama. Dan Yasha yang cerdas itu pun protes, “Bunda Nida,kenapa sih aku harus bangun pagi buat sekolah?” Nida yang suka menjawab dengan apa adanya ini dengan diselipi rasa kesal kepada pemerintah, menjawab Yasha dengan mantap. “Itu kak karena pemerintah kamu ngga punya otak, bikin jam sekolah pagi-pagi.”

Sebenarnya jawaban Nida itu bukan cuman dipengaruhi pengalaman pribadi, tapi juga hasil analisa dokter spesialis kesehatan tidur yang jadi narasumber favorit kita berdua. Dr. Andreas Prasadja, sang spesialis kesehatan tidur, pernah habis-habisan protes begitu mendengar Pemda Jakarta mau majuin jam masuk sekolah. Karena banyak penelitian membuktikan, anak-anak usia sekolah, otaknya baru tune in pas jam 10. Jadi harusnya masuk jam 8 atau 9, bukan jam 6 pagi. Ini penelitian yang mengamati jam biologis atau sirkardian anak-anak. Itu kenapa di luar negeri, mereka malah memundurkan jam masuk sekolah atas nama mencerdaskan bangsa. Kami berdua pernah menulis hal ini sebagai protes terhadap kebijakan bos Jakarta yang berkumis itu.

Mau tahu apa yang dilakukan Yasha begitu mendengar Bunda Nida-nya memberi penjelasan itu? Yasha berdoa, begini isi doanya, “Ya Allah, tolong kasih otak buat pemerintah saya biar jam sekolahnya jangan dibikin pagi.” Hahahahaha anak sekarang emang lebih berani berkata-kata 😀

Sedangkan Chira, dia adalah anak yang ngga kenal proses. Karena dia serba tiba-tiba. Jika sebagian besar anak untuk jalan harus belajar merangkak, berdiri dan berjalan, tidak demikian dengan Chira. Dia, merangkak, merambat, dan tiba-tiba bisa jalan. Atau belum ikut pengajian, tapi tiba-tiba bisa iqra alibata sa. Pasti seluruh keluarga Nida kaget, tapi sekaligus kagum karena Yasha memang paling jago kasih kejutan 😀

Satu malam saya dapat SMS dari Nida bercerita kalau mereka berdua sakit. Nada SMS-nya sedih sekali. Saya langsung telepon Nida dan sakitnya lumayan butuh perhatian. Entah angin apa yang menelusup di kepala saya, mendengar mereka sakit, saya ajak Nida patungan untuk membelikan mereka boneka. Ya saya ngga mau jadi orang asing yang sok akrab, lagian saya ingin membuat Nida sedikit bersemangat lagi. Dan mengingatkan dia aja kalau saya bakalan bersedia untuk dimintain tolong, that I’ll be arround.

Sebenarnya Yasha dan Chira sudah sering mendengar nama saya dari Nida. Maklum, saya sering “culik” bunda Nida-nya untuk sekadar makan nasi goreng di taman Suropati. Atau nongkrong di Anomali maupun Melly’s.

Belum lagi saya sering telepon Nida saat sedang bermain dengan Yasha dan Chira. Dan ada satu kali saya minta untuk ngobrol via telepon dengan mereka. Perbincangannya seperti ini :

Yasha : Hallo tante Priska, lagi di mana?
Saya : Di taksi sayang. Yasha lagi apa?
Yasha : Lagi minta Bunda Nida, baca dongeng. Tante pulang kerja ya? Kok naik taksi?
Saya : Iya, rumah sama kantor tante rada jauh. Dan udah malam juga, biar aman jadinya naik taksi.
Yasha : Oooo…Oiya, tante Priska itu tingginya semana sih? Tinggian mana sama Bunda Nida?
Saya : Tinggian tante sih.
Yasha : Ih kok Bunda Nida pendek ya? Tau ngga kenapa?

Hahaha saya ketawa dengernya dan setelah itu, saya dengar Nida ngedumel. “Heh kamu anak kecil, gosipin aku aja. Awas kamu ya.”

Saya hanya jawab, “Kali Bunda Nida, kurang makan tangga. Dan Yasha pun menimpali, “Tangga ngga bisa dimakan kaleeee.”

Ah anak kecil, saya mengagumi kesederhanaan mereka untuk menikmati hidup. Saya mencuri semangat dan energi positif dari mereka. Itu kenapa saya selalu suka anak kecil. Mereka bebas…bebas nilai dan berani. Mereka tulus dan pasti selalu bisa bikin saya ketawa. Ini bikin saya gemes.

Saking gemesnya, saya sampai kadang pengen gigit. Well sometimes I do bites them wakakaka. Tapi ini levelnya sepupu atau keponakan kandung. Ya sama ada satu anak tetangga depan rumah yang pernah bikin saya kecele. Karena reaksinya nantangin setelah saya gigit lengannya. Kalau anak kecil lain bakal sewot sambil bilang, “Ka Priska, sakit tauuuuu,…!!” Kadang tangannya mukul saya. Sebenarnya saya gigitnya ngga sampe gimana sih, tapi ya tetep aja namanya gigit kan 😀 Nah anak tetangga saya itu malah berekspresi, “Ih ngga sakit…Aku ngga papa,” sambil melipat tangannya di dada. Hahahaha saya langsung jiper dengan reaksi dia.

Dan ketika tiba waktunya untuk cari boneka untuk Yasha dan Chira, saya sangat semangat. Setelah mereka liat,mereka pun telepon saya. Ini yang saya tunggu. “Tante Priska makasih ya bonekanya. Cantik banget. Tau aja aku suka berbie,” ucap Yasha centil. Sedangkan Chira, “Tante, doraemonnya udah aku ajak sekolah,” ah Tuhan, they are angles. Deket udah aku gigit *loh*

Dan saat ini, saya menerima surat dari mereka. Sebenarnya ini karena Nida juga cerita kalau mereka lagi semangat surat-suratan. Nida menyarankan mereka untuk kirim surat ke Bunda mereka, saat mereka ditinggal ke luar kota. Malaikat-malaikat kecil ini, dibesarkan oleh Bunda yang single parent. Jadi ketika Bundanya harus keluar kota karena tuntutan kerja, pastilah mereka rindu luar biasa. Wong Nida yang bukan Bunda kandungnya aja, kalau pergi keluar kota dikangenin setengah mati.

Ada satu momen di mana Nida harus tegas dengan Yasha karena dia terus nonton televisi, padahal sedang minggu ulangan. Sambil berkaca-kaca, Yasha pun belajar. Dan esok paginya, di sekolah, Yasha menemukan surat dari Bunda Nida. “Ka, maaf ya aku marahin kamu. Soalnya kamu kan lagi ujian, jadi harus belajar. Nanti kalau udah selesai ujian, kamu boleh nonton lagi kok.” Tahu apa yang dilakukan Yasha, dia membalas surat Nida. “Ih Bunda,kok taro suratnya di tas. Aku kira apaan…” Ah saya berkaca-kaca dengar Nida cerita. Dan spontan saya bilang, “Ah mau dapat surat dari mereka.” Nida pun mengangguk sambil menepuk-nepuk pundak saya karena berkaca-kaca.

Dan inilah dia surat itu. Saya deg-degan saat ingin membukanya. Amplop putih kecil yang di dalamnya ada kertas putih bergaris yang dirobek setengah. Yasha menulis seperti ini, “Tante Priska makasih ya Barbienya. Tante priska,umurnya berapa? Punya keponakan ngga? Bales ya.”

Sedangkan si ajaib Chira, yang sebenarnya masih belajar baca dan nulis ini, menulis: Tante Priska aku mau nginep di rumah tante *erik.Shira = uoibnte=rkirkribia=ufraofer=kirk=*

Di bawahnya, Nida menulis: *artinya, hanya Shira dan Tuhan yang tahu, kikikik. Oiya, Shira selalu menulis namanya dengan Shira meski sudah dibilang Chira. Well she know how to sounds sexy 😀 Dan Chira pun menutup rapat amplopnya, mungkin dia takut suratnya berceceran.

Saya terharu. Ini surat paling romantis yang pernah saya terima. Surat cinta yang bisa buat saya tersenyum, tertawa, dan terharu secara bersamaan. Tidak terasa gombal apalagi bertele-tele. Hanya beberapa baris, tapi kata-kata sederhana itu punya makna yang dalam.

Dan saya pun grogi untuk menulis kata-kata sebagai balasan surat cinta mereka. Anak-anak memang selalu bisa membuat saya ceria, sekaligus merasa jadi orang yang paling beruntung karena bisa merasakan energi mereka. Terserah saya mau dibilang lebay atau drama queen, tapi buat saya, tidak ada yang bisa mengalahkan energi kegembiraan, keberanian, dan ketulusan anak-anak untuk menikmati hidup. Yang pasti, dua pucuk surat dari Yasha dan Chira, berhasil menghilangkan migrain yang hinggap di kepala semenjak di stasiun Jatinegara dan kini sudah di stasiun Songgom, jangan tanya Songgom di mana, karena saya ngga tahu wakaka.

Ah ini pertanda, petualangan saya dengan Nida kali ini akan penuh kejutan yang menyenangkan. Hei Jogja, siap-siap terima kehadiran kami ya 😀

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s