Menangkap Cinta dalam Frame

Standard

Di Jumat (18/3) kemarin saya diberi link film pendek independen dari dua teman saya di kantor. Dua film dari dua teman dengan tema dua sisi cinta. Kenapa ini intro-nya jadi kaya tagline, dua anak saja cukup ya πŸ˜€ Oke cukup dengan serba duanya. Sebelum banyak ngoceh soal cinta, saya ajak kalian semua untuk menonton film-filmnya.

Film 1 : Yours Truly

dan ini adalah film berikutnya

Film 2 : Struck

Dua film ini cerita tentang cinta. Yang satu awalnya manis (dengan cowo yang ganteng :D), hampir sama dengan impian banyak cewe-cewe yang suka nonton film drama romantis atau film Korea. Sebelum bicara mengenai isi cerita filmnya, saya ingin memberi apresiasi pada editor filmnya karena editan filmnya sangat smooth sekali. Plus sinematografinya juga manis, jadi keutuhan ceritanya dikemas dengan begitu lembut dan manis.

Penulis naskahnya juga sangat luar biasa ‘mempermainkan’ emosi penonton. Emosi saya misalnya, di awal-awal saya menyaksikan dengan tebaran bunga-bunga karena ikut merasakan ketika Todi akhirnya jatuh cinta dan berani mengekspresikannya. Sampai tiba-tiba dia nyaris membunuh Kayla yang ternyata situasinya terbalik 360 derajat.

Bahwa Kayla-lah yang psikopat dan telah mendisain semuanya untuk menangkap Todi ke dalam jaringnya. Berhasil, perempuan yang terlihat periang dan banyak cerita itu berhasil menjerat Todi yang cuman nyaman ngomong sama recorder. Dan untuk melengkapi ending yang tak terduga itu, penulis cerita memvisualkan Kayla yang psikopat dengan pakaian hitam dan makeup smokey eyes.

Yang bikin ngeri sebenarnya ketika melihat jarum dan darah, ternyata Todinya diikat dan dijarum. Ah cinta emang gila. Tapi akhir cerita itu menurut saya sangat memukau. Bahwa dalam bercinta, selain kadang butuh merekayasa situasi, dia juga bisa meleyapkan jati diri orang lain. Ini cerita dari bentuk cinta harus saling memiliki yang ekstrim.

Dan untuk film yang kedua, terpaksa saya harus mengambil link dari youtube yang kurang enak untuk ditonton sebenarnya karena tanpa dialog. Kalau kalian menonton di sini paket ceritanya lebih hidup.

Untuk film yang kedua, menurut saya dia bermain pada dialog simbol. Dan simbol yang dipilih adalah anak panah. Dan coba perhatiin deh, panahnya menancap di dada sebelah kiri. Di awal film, kita diajak berdialog. Ini dia kena panah beneran atau kenapa sih? Penulis naskahnya bermain pada ranah perspektif penonton. Apakah panah itu ada sebagai panah pada dunia nyata, atau dia adalah panah yang menyimbolkan sesuatu. Dengan segala ‘beban’ panah yang menancap Joel pun mengartikan panah sebagai arti yang sesungguhnya.

Nah kalau di film ini, cinta itu harus ditemukan supaya kita terbebas dari ‘beban’ panah yang menancap. Karena si Cupid yang ternyata tidak bersayap dan berkaca mata hitam itu, butuh panahnya untuk ditembak ke orang-orang yang ada di dalam list-nya. Dan pada saat inilah kita akan teringat pepatah, “Emang kalau udah jodoh kaga bakal kemane.” Itu kalau pepatah Betawi, tapi di film ini pepatahnya adalah somewhere over the rainbow πŸ˜€ Oiya kalau diperhatin dari cara kerjanya cupid, dia suka melepaskan anak panahnya disituasi-situasi yang tak terduga. Jadi bersiap-siaplah, bisa jadi pas baca postingan ini kalian akan merasakan tancapan panah dari Cupid πŸ˜€

Oke kembali ke masalah cinta-cintaan dalam frame. Ada satu benang merah yang saya lihat dari dua film ini. Yaitu, pada akhirnya cinta adalah kepemilikan. Karena kepemilikanlah yang membuat Kayla mengikat dan menjahit mulut Todi agar tetap menjadi cinta yang selama ini dimengerti Kayla sebagai cinta. Dan karena kepemilikanlah Joel rela menunggu perempuan yang berbaju merah itu untuk muncul lagi dalam kehidupannya.

Tapi kalau cinta karena kepemilikan, kenapa terdengar egois ya? Kalau kata salah satu teman saya, cinta itu transaksi. Iya transaksi. Dua manusia saling mencintai karena dia merasa ada kebutuhan dia yang dapat dipenuhi oleh orang lain. Kebutuhannya macam-macam, mulai dari rasa nyaman, keberanian, kematangan, satu visi, sampai keinginan untuk hidup bersama. “Ibaratnya, lu jual gua beli deh,” begitu teman saya menggambarkannya.

Dan ketika kebutuhan bertransaksi itu menurun dari salah satu orang, teman saya menambahkan, maka terjadi ketidakseimbangan posisi jual beli. Akhirnya terjadilah wanprestasi atau kerugian. Yang satu merasa sudah tidak ada kebutuhan, sedangkan yang lain masih atau bisa jadi meningkatkan kebutuhannya. “Namanya juga transaksi harus sama-sama untung, kalau ada rugi ngapain dipertahanin. Ya udah berhenti bertransaksi dan cari mitra bisnis yang baru,” teman saya kembali berkata. Ini contoh ekstrim emang. Karena buat dia, semua interaksi manusia, sebenarnya tanpa disadari adalah berkutat pada transaksi.

Itu pendapat teman saya. Pendapat saya, karena cinta adalah kepemilikan maka sebelum membiarkan orang lain memiliki diri (baca: cinta) kita, seharusnya kita mencintai diri sendiri dulu. Sehingga dengan demikian, kita tidak akan mendefinisikan kebahagiaan semata-mata hanya pada orang asing yang tiba-tiba kita cintai itu. Karena kalau kita belum merasakan bagaimana menikmati mencintai bersama diri sendiri, maka segala euforia cinta bisa menjauhkan kita dari jati diri. Tanpa disadari, kita meletakkan kebahagiaan pada orang lain.

Kalau kita berhasil mencintai dan menemukan kebahagiaan di diri sendiri dulu, maka kita akan mengerti apa kebahagiaan itu sebenarnya. Jadi ketika transaksi dari sebuah interaksi dua orang manusia tiba-tiba menghilang, kita tidak akan merasaΒ  seperti kehilangan kebahagiaan. Dan lagi, ketika kita tidak sadar untuk mencintai dan menemukan kebahagiaan dalam diri sendiri terlebih dahulu, maka semua yang jalani dalam hidup ini akan ditentukan oleh standar kebahagiaan orang lain. Karena kita tidak tahu apa yang kita mau. Kita ngga ngerti gimana menemukan kebahagiaan, wong kebahagiaan dalam diri aja ngga berhasil didefinisikan.

Alhasil kita seakan bahagia, padahal sebenarnya ngga. Saya punya contoh nyata dari orang yang bisa secara utuh sadar kalau dia sangat mencintai dirinya dan merasa telah menemukan kebahagiaan dalam dirinya. Salah satu sahabat saya ini sangat menikmati apa yang dia lakukan, dan dia pada akhirnya bisa menempatkan tawaran cinta serta kebahagiaan dari orang lain yang tertarik sama dia, sesuai tempat dan fungsinya.

Belakangan teori ini saya terapkan. Jatuh cinta saya pada hidup, sama besarnya dengan jatuh cinta saya pada diri saya sendiri. Dan saat ini, saya sedang menghujani diri saya dengan semua itu. Tujuannya hanya satu, agar saya merasakan dulu bahagia yang sesungguhnya. Jadi ketika nanti saya jatuh cinta dengan orang lain, saya bisa tahu seberapa dalam cinta dan kebahagiaan yang akan saya cari di dalam dia. Kalau memang senyawanya beda, saya tak akan merasa kehilangan apa-apa. Sebab cinta dan kebahagiaan ada di dalam diri saya, tidak saya titipkan pada orang asing yang coba pelajari untuk saya cintai. Dan lagi akan lebih adil kalau kita memberi kebahagiaan ke diri sendiri dulu baru membahagiakan orang lain.

Ah masalah cinta dan kebahagiaan emang jadi panjang kalau diomongin. Ngga seperti film pendek yang luar biasa bisa mengemasnya dengan apik. Bayangin dalam 10 menit mereka bisa merangkum segala problematika cinta yang kalau dipanjangin ini bisa melewatkan durasi supermoon yang sekarang sedang terjadi πŸ˜€

Dan sebagai penutup, saya kasih bonus satu film bagus lagi tentang jatuh cinta. Iya saya lagi baik emang, menebar (film) cinta di mana-mana πŸ˜€

Bonus : Signs

PS : Selain mencintai hidup dan diri sendiri, saya juga suka bilang…”Aku sayang kamu atau I love you.” Saya akan mengajarkan ini ke anak-anak saya pertama kali. Karena kata-kata ini sama pentingnya dengan ‘Terima kasih’ dan ‘Tolong ya’.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s