Ironi Hidup Hanya Untuk Pencundang

Standard

Alkisah pada dunia nyata, hidup seorang pria yang selalu memanfaatkan gangguan psikologisnya sebagai sebuah pemakluman. Sebut saja pria itu bernama, Gemuruh.

Pria yang dikenal pintar karena jago berfilsafat dan memainkan berbagai alat musik ini, juga dikenal pemalu dan terlihat alim. Tapi apakah demikian? Ah biar Tuhan yang tahu.

Jadi si Gemuruh ini dengan keterbuaiannya pada impulsifitas, berkhianat pada kekasihnya yang dulu katanya adalah energinya. Kekasihnya yang katanya dulu adalah pusat dari aura positif yang lama hilang dari hidupnya. Well itu semua kan katanya ๐Ÿ˜€

Oiya saya belum sebut ya nama mantan kekasihnya itu, namanya Tangerine. Iya seperti jeruk yang berwarna cerah dan memberikan kesegaran. Itu namanya.

Ya si Gemuruh yang suka bikin ribut dengan kelemahannya dalam mengendalikan manic dan depresi itu, bertemu seorang gadis yang suka bermain di ranjang berderit. Dan atas nama ranjanglah dia meninggalkan Tangerine.

Kenyataan yang pahit memang buat Tangerine, tapi hey warna jeruk akan selalu oranye kan. Konon warna oranye itu selalu diidentikan dengan keceriaan dan kedewasaan. Jadi Tangerine yang sangat mencintai dirinya itu dengan cepat memilih sadar untuk kembali menjadi jeruk yang cerah ceria. Well jeruk juga banyak vitamin C-nya kan. Vitamin yang bisa bikin pasukan imunitas tubuhnya selalu terjaga baik, jadi dia lahir dengan kemampuan terbaik untuk menguatkan diri.ย  Plus vitamin C juga bikin kulit indah, jadi dia juga dilahirkan untuk selalu terlihat menarik. Dengan semua ini, mengapa harus cari alasan untuk tidak menikmati hidup.

Atas segala kesadarannya ini, Tangerine berhenti meratapi Gemuruh yang ternyata ngga pinter-pinter amat.
Berhenti mengutuki Gemuruh yang memang tidak pernah punya keberanian untuk menikmati hidup. “Jadi ya, hidup gw cuman sekali. Kalau kerjanya cuman depresi dan menghindar dari masalah kaya dia, maka gw akan merasa sia-sia menlalui hari-hari yang sudah diberi Tuhan,” begitu Tangerine bercerita kepada saya.

Maka dengan cepat, Tangerine menerobos kegelapan patah hati. Dia menghadirkan kembali energi positif yang memang betah bercengkrama dengannya. Aura positif inilah yang membuat dia bertemu dengan banyak perayaan hidup. “Dan emang bener, hidup gw tetap indah ada maupun tak ada dia. Karena kebahagiaan itu yang nentuin kita bukan orang lain!” Ucapnya lagi dengan tersenyum lebar.

Lalu apa yang terjadi dengan Gemuruh? Coba kalian tebak? Dia menikmati kesenangan barunya? Dia memiliki semangat yang lebih baru? Apa benar demikian?

Nyatanya Gemuruh terjebak dalam rasa bersalah. Terjebak dalam penyesalan yang dalam. Rasa penyesalan membuat dia ingin memberikan penjelasan kepada Tangerine. Penjelasan pasca terbongkarnya semua strategi penghianatan, kira-kira setengah tahun lalu. Apakah ada gunanya semua penjelasan? Dan baru berani memberi penjelasan setelah lewat setengah tahun? Ah gemuruh terlalu pengecut untuk disebut laki-laki. Lagi sebenarnya, penjelasan tak akan merubah keadaan kan? Itu hanya akan membuat Gemuruh merasa lebih nyaman menjalani asmarannya dengan gadis berderit.

Ironisnya, Gemuruh malah mendeklarasikan bahwa sebenarnya dia belum move on, meski dia sumpah mati sudah cinta berat dengan kekasih berderitnya itu. Malah konyolnya, dia menyampaikan dia rindu Tangerine setengah mati. Ini dia sampaikan kepada salah seorang teman Tangerine.

“Dia baik-baik aja kan? Gua nyesel, nyesel banget makanya gua mau kasih penjelasan,” Gemuruh mengucapkannya dengan iba. Dia bahkan memilih teman Tangerine yang dia tahu tidak memiliki emosi yang meletup-letup, sehingga dia bisa sedikit mendramatisir keadaan tanpa dibombardir ucapan sinis.

Tak hanya satu, beberapa teman dia yang juga teman Tangerine dihujani pembicaraan yang sama. Penyesalan, rasa bersalah, rindu, dengan sisa rasa peduli. Sebenarnya semua itu dilakukan untuk kemudian mendapatkan persetujuan bahwa dia sudah bisa bernapas lega atas pengkhianatan yang dilakukan.

Jadi kalau dia mengetahui Tangerine sudah bisa menerima penyesalannya, dia berpikir penyesalan dan rasa bersalah itu akan hilang dalam hitungan detik. Dia lupa kalau pengkhianatan tak akan berganti nama meski sudah ada penerimaan kenyataan.

Tangerine tentu kesal mendapat berita rindu dan penyesalan yang tak penting itu dari teman-temannya. “Pake alasan belum move on dan masih rindu lagi. Urus aja cewe berderitnya dengan benar, baru mikirin orang lain,” ucap Tanggerine dengan kesal. Awalnya dia hanya sekali mendengar cerita tentang Gemuruh yang sedang labil kaya ABG, tapi hampir setiap hari dalam seminggu cerita-cerita sejenis muncul dan menyulut emosi. “Tuh orang kaga pernah berhenti jadi pengecut ya, tetap aja menghindar dan berlindung pada fluktuasi emosi yang punya definisi dalam ilmu kesehatan jiwa. Kampretlah emang dia pikir kalau dia ngomong gitu ke temen-temen gua trus gua akan mengiba gitu? Karena sebenarnya penyesalan harus dihadapi seorang diri, bukan dengan sekadar kata, iye gua maapin elu dah.”

Tangerine terus mengungkapkan kekesalannya kepada saya. “Kalau emang dia mau jadi orang yang lebih baik, berobat!ย  Berhenti menyakiti orang lain dan bilang ke semua orang, gua kan gampang depresi dan manic. Jadi gua impulsif dan punya keterbatasan untuk berpikir jangka panjang. Lalu semua orang akan bilang, oiya ya lu kan begitu ya udah gua ngerti deh. Dan pelan-pelan dia bisa menyakini dirinya kalau kelabilannya adalah hal yang pada akhirnya akan dimengerti orang. Ya kok betah sih jadi orang lemah dan pengecut,” ucap Tangerine tanpa henti.

Dan kini Gemuruh coba menenggelamkan diri pada kekelaman rasa yang memang selalu dia yang buat. Mengasingkan diri dari kenyataan sambil membangun mimpi semu. “Gua tahu yang gua lakukan salah dan gua menyesal akan itu. Gua hanya butuh memberikan penjelasan ke dia, biar dengan kemudian gua bisa lebih tenang menjalani semuanya,” curhat Gemuruh. “Tapi rasanya gua belum siap, karena itu gua harus menenangkan diri. Memperkecil kemungkinan adanya interaksi dengan lingkaran Tangerine.”

“Lingkaran Tangerine?” Saya pun bertanya. “Iya terlalu banyak orang yang menghubungkan gua dengan dia, gua semakin sulit melupakan dia.” Saya pun heran mendengar alasannya. “Iya what happen with us, is real. Semua rasa itu nyata dan ngga mungkin mudah melupakan semuanya dengan cepat.”

“Bukannya elo yang berkhianat? Seharusnya lebih mudah buat elo untuk melupakan semua bukan? Toh sekarang sudah ada yang nemenin juga. Udah deh jangan pake bilang rasa bersalah bikin lu ngga move on. Emang lu aja ngga pernah mau move on saat semuanya bisa dibongkar sama Tangerine.” Ya kadang, teman baik juga harus galak kan. Menjadi alter ego bagi teman sendiri adalah hal yang paling menyenangkan sebenarnya. Dan seperti biasa, Gemuruh hanya bisa menarik napas panjang sambil menekuk wajahnya untuk menyempurnakan kedepresian.

Ah mendengar cerita keduanya, hidup begitu ironi buat Gemuruh. Bukankah seharusnya dia sudah lebih bebas menjalani apa yang telah ia pilih? Karena dia merasa tak bisa bahagia dengan Tangerine, maka dia memilih gadis berderit. Lalu mengapa harus merasa bersalah? Apa memang pilihannya masuk kategori salah? Bukankah Gemuruh tahu dia punya masalah dalam impulsifitas, lalu mengapa tak menyembuhkan diri baru mendefinisikan apa itu sebenarnya cinta, rasa rindu, dan rasa bersalah? Karena jika tidak, dia hanya membentuk lingkaran setan dalam hidupnya.

Saya coba mendiskusikan itu pada Tangerine, tapi rasanya Tangerine punya pemikirannya sendiri. “Hidup gua sempurna sebelum dan setelah tanpa dia. Something that almost kill you, somehow its make you strong. Iya, gua lebih kuat dari sebelumnya. And I love myself so much as much I love life. So I’ll be perfectly fine without him. Lagian dia udah di luar radar gua. Gua udah lupa gimana rasanya dengerin lagu-lagu yang katanya untuk gua, karena pas gua dengerin lagi ah sama seperti lagu lainnya. Ngga ada memori penting menggelayut di notasi lagunya. Jadi, dia ngga usah sok peduli dengan nanya keadaan gua gimana. Dan berhenti jadi laki-laki yang hanya ngandelin selangkangan atas nama rindu. F*ck with all that.”

Lalu saya bertanya, “Bukannya lu udah maafin dia?” “Udah dan proses memaafkan itu butuh energi yang luar biasa. Karena lu ngga mungkin minta maaf sama Tuhan kalau lu sendiri belum bisa maafin orang lain kan? Tapi gua berhasil melalui itu dengan sempurna. Gua menghapus segala benci dan dendam untuk dia bahkan untuk gadis berderit itu.” Saya kemudian memancing Tangerine dengan sebuah pertanyaan, “Trus kenapa lu ngerasa sebel kalau dia menghubungi teman-teman lu dan menceritakan perasaannya?”

“Mau tahu kenapa?” dia balik memancing. “Iya kenapa?” balas saya dengan sedikit menantang. “Karena, dia hanya minta dikasihani. Dia tahu, temen-temen gua itu bakal ngomong sama gua. Karena dia memilih temen-temen yang spesifik. Temen-temen yang ngga bakal ngasarin dia ketika dia punya keberanian untuk telepon. Jadi, dia melakukan semua itu hanya untuk kenyamanan dia doang. Bahkan untuk itu aja dia berlindung pada temen-temen gua. Dia berharap, temen-temen gua akan bilang, ‘Dia udah kaga papa kok. Gih sana temenan lagi.’ Dan kadang dia harus disadarin bahwa ironi hidup hanya untuk pengecutย  kaya dia. Mau sampe kapan juga, kalau dia ngga mau menyadarkan diri, dia akan selalu jadi pengecut.”

Dan Tangerine pun menuliskan ini untuk Gemuruh:

Stop acting like you care about me, because I don’t put my happiness on you.
Stop saying you miss me, because I decide to erase you from my subject of happiness.

And stop trying to give me an explanation, because the explanations only work for you.

Me, I am perfectly happy for what I have right now.ย  I have freedom to say hello to this beautiful life and no one could take that away from me. Not even your late explanation.

You just have to ask yourself what you want in this life. And I am suggesting you to choose embracing life rather than be a good loser like now.

 

Yah demikianlah cerita nyata ini kembali dikisahkan. Segala cerita adalah nyata, hanya namanya yang fiksi. Kalau ada kesamaan cerita dan nama, ya intropeksilah. Sisanya, mari kita merayakan hidup kembali. Karena hidup terlalu sempurna untuk diisi dengan rengekkan ngga penting dari orang yang udah di luar radar. Dan sebagai akhir dari postingan ini, “Terima kasih untuk melepaskan saya dari lingkaran setan kepengecutan Anda. Karena saya, terlalu berani untuk menjadi orang seperti Anda!”

 

Advertisements

3 responses »

    • tangerine sounds very Alanis to me ๐Ÿ™‚

      Ntar aku bilangin tangerine ya ๐Ÿ˜€

      have you heard her song in praise of vulnerable man. somehow i see her in the lyrics

      I am downloading the song right now ๐Ÿ˜€ Owwww vulnerable man…well we all vulnerable actually, if we have gut to be so ๐Ÿ˜€

  1. i love the name “tangerine”. always brings me into a memory of beatles’ song, lucy in the sky with diamonds: picture yourself on a river, with tangerine trees and marmalade sky..” such an imaginable place..
    one thing is obvious: life is too precious for tangerine girls to be spent only with gemuruh guys.hey gemuruh guys,i think u better look for your guts elsewhere (if they exist) first,then open up your heart&mind to let the marmalade sky in.aren’t you grateful just to be alive?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s