Are You Homophobic ?

Standard

Di film Sex and The City, Carrie Bradshaw pernah bilang, “Diamond and gay guy is a woman best friend.” Dan saya mengamininya. Kenapa? Karena temenan sama gay membuat saya nyaman untuk pelukan atau gandengan tangan sama dia tanpa ngerasa was-was akan diartikan sebagai sinyal-sinyal cinta. alah bahasanya. Plus saya juga merasakan sendiri kalau temanan sama gay juga tetap mendapatkan perhatian dari seorang laki-laki, tapi lagi-lagi tanpa perlu merasa takut perhatian yang dia berikan kelewat berlebihan dan merujuk pada satu pernyataan ketertarikan lawan jenis.

Jadi belakangan saya punya satu teman gay. His name is Nate, me with my friends call him Natey. Panggilan itu harus diucapkan dengan nada manja, karena Natey adalah pria lembut dengan sejuta keriaan. Setiap hari, dia akan datang ke cubical saya hanya sekadar duduk di samping saya dan tertawa bersama candaan ringan yang kita bagi bersama. Seringnya sih dia ke cubical saya sambil pose ala catwalk, maklum dia fashion stylist di salah satu majalah lifestyle yang ada di kantor saya. Dan tentu aja pose dia itu keren-keren, saya belajar banyak dari dia. Iya saya jadi suka banget difoto karena dia. Bahkan belakangan kita nyadar, kalau kita pose berdua chemistry-nya dapat banget. Jadi gayanya selalu keren, muji diri sendiri ceritanya πŸ˜€

Atau kalau dia merasa harinya tengah berat luar biasa, dia akan datang dan dengan suara manja akan bilang, “Mbak Pris, please hug me.” Dan saya akan dengan sigap berdiri dan memberikan dia pelukan hangat. “What’s wrong Natey?” Lalu dia akan jawab, “Ngga papa Mbak, aku cuman mau dipeluk.” Setelah itu dia akan pergi dan kembali beraktivitas.

Natey juga sangat perhatian ke saya dan teman-teman perempuannya yang lain. Jadi kalau saya pakai celana yang terlalu pendek atau baju yang sedikit terbuka dan dia tahu saya pulang naik busway, ngga pake taksi, dia akan teriak dengan histeris. “Ngga bisa Mbak, gua harus naik busway bareng elo.” Alasannya, banyak mata laki-laki ngga bertanggung jawab di luar sana. Di dalam busway dia akan berperan sebagai laki-laki tulen. Berdiri di samping saya sambil memegang tangan saya, atau sekadar menyuruh saya duduk lebih dulu sehingga saya bisa lebih nyaman.

Ya kenyamanan ini yang saya ngga dapatkan dari sahabat saya yang laki-laki. Ada sih satu sahabat saya laki-laki (melirik ke Edi). Saya baru merasa nyaman untuk cipika-cipiki sama Edi setelah beberapa tahun kita temenan. Alasan saya, karena sekarang dia ada di Menado dan kunjungannya ke Jakarta adalah hal yang luar biasa buat saya. Jadi untuk melepas kerinduan saya saat dia mengunjungi saya di Jakarta, saya akan cipika-cipiki dengan Edi. Butuh proses lama untuk sampai nyaman cipika-cipiki atau sekadar duduk berdua di food court mall gede di pusat kota. Malah dulu mantan pacar saya sempat cemburu setiap kali saya bilang akan bertemu dengan Edi, padahal ketemuannya rame-rame.

Dengan Natey, proses kenyamanan itu berlangsung dengan cepat. Pertama karena saya sadar dia ngga tertarik sama sekali dengan perempuan, jadi pake baju semenggundang apapun, tak akan membuat saya atau Natey tidak nyaman. Kedua, saya masih bisa merasakan perhatiannya sebagai laki-laki tanpa ada chemistry antar lawan jenis. Ini kenapa buat saya, gay guy is my bestfriend, well Natey is πŸ˜€

Dan apakah semua kenyamanan ini membuat saya not a homophobic? Dengan yakin saya jawab, IYA. Tapi sebenarnya apa sih yang kita takutkan dari seorang homoseksual. Kalau untuk kasus Natey, mungkin karena dia laki-laki yang tak suka perempuan, saya bisa menerima dia dengan baik. Bagaimana dengan lesbian?

Saya pernah bertanya pada seorang teman laki-laki saya, “Apa sih yang lu takutin dari cowo gay?” Jawabannya, “Mereka itu ibarat vampir. Menyeramkan. Kalau dia macem-macem sama gua, gua bikin bonyok aja.” Lalu saya tanya lagi,” Kenapa sampai gitu?” Menurut teman saya, sebagai laki-laki yang mencintai lawan jenis, dia takut cowo homo akan menaksir dia kalau dia tak bersikap tegas. Yang dimaksud dengan bersikap tegas adalah, berbicara seperlunya atau kalau bisa jangan ngobrol atau berinteraksi sama sekali dengan mereka, meskipun satu kantor atau proyek kerjaan. “Pokoknya gua ngga mau bikin dia nyaman, karena gua emang kaga nyaman,” ucap temen saya dengan tampang serius.

Trus saya bertanya ke diri saya sendiri, kalau saya tahu ada kenalan baru saya yang lesbi, apakah saya akan bereaksi sama? Sebelum berhasil menjawab pertanyaan ini, karena saya belum benar-benar punya pengalaman langsung, kebetulan malam kemarin saya bertemu situasi yang awalnya membuat saya senang tapi belakangan saya sempat ketakutan. Jadi ceritanya, malam kemarin saya nongkrong dengan dua orang teman perempuan saya. Namanya rejeki, tempat nongkrong yang saya pilih secara ajak itu ternyata punya agenda baru, yaitu menyajikan live performance yang bisa kita nikmati secara gratis. Malah disediain snack πŸ˜€

Ngga tanggung-tanggung, musik yang disajikan secara live itu adalah musik jazz dengan penyanyi jazz terkenal. Malah di edisi pertama acara itu ada Ireng Maulana tampil secara sukarela. Ah malam penuh rejeki saya rasa.

Dan ketika malam semakin larut, sang penyanyi tiba-tiba menunjuk saya. “This song is for you.” Penyanyinya perempuan dan berusia paruh baya dengan suara yang seksi. Saya yang memang menyimak khusyuk tampilan sang penyanyi tentu merasa kaget, hah lagunya buat saya? Kenapa saya? Ah peduli setan yang pasti lagunya buat saya, plus pemain gitarnya melirik-lirik saya dari awal jadi ya itung-itung bisa melempar senyum ke pemain gitarnya.

Saya kegirangan dan menikmati lagunya dengan baik. Suaranya bagus dan lirik lagunya bagus, karena dia menyanyikan lagu dari tahun keemasannya, jadi saya tak tahu judulnya apa. Yang pasti lagunya bicara tentang kehangatan cinta dan emosi. Saat lagunya habis, penyanyinya liat ke saya lagi, hope you like it sambil senyum. Ya saya jawab dengan mata berbinar-binar, “I love it,” lagi-lagi sambil senyum ke arah pemain gitarnya.

Sampai di lagu terakhir saya merasa sangat senang. Karena ada pemain gitar yang sibuk lirak-lirik ke saya dan dapat lagu khusus dari penyanyi jazz, dari antara sekian banyak penonton, dia nyanyi satu lagu buat saya. Biasalah euforia penonton gigs, penyanyinya nyanyi untuk semua orang sambil asal nunjuk aja pasti senangnya setengah mati. Apalagi ini yang secara spesifik menunjuk ke saya, rasanya kaya dapat doorprize.

Dan emang doorprize yang saya dapat. Karena saat di taksi menuju rumah, salah seorang teman saya bilang. “Pris, sebenarnya pas dia nunjuk lu, gua curiga dia L deh.” Saya mendengar dengan kelagapan, karena ngga ngerti yang dimaksud dengan L. “Dia siapa ya? L apa ya? Loser?” Merasa saya tak menangkap apa yang dikatakan, teman saya memperjelas. “Penyanyinya. L refer to Lesbian…” Tiba-tiba saya menelan ludah dan diam beberapa detik….”What…Why you saying that?!?” sambil coba mengingat dibagian mana dia bisa bilang penyanyinya lesbian.

Teman saya pun menjelaskan, setelah beberapa lagu dinyanyikan pasca momen this song for you, penyanyinya memang bertanya siapa yang sedang ulang tahun. Kebetulan yang ulang tahun adalah teman si penyanyi dan teman saya itu melihat interaksi teman yang sedang ulang tahun dengan penyanyi, katanya ada bahasa-bahasa tubuh yang mengindikasikan mereka lesbian. “Tapi penyanyi itu punya anak loh. Yang tadi benerin sound system-nya itu anaknya,” saya coba menyakinkan teman saya. “Well lesbian bukan berarti ngga bisa punya anak kan atau ngga semua yang menikah berarti seratus persen straight.” Saya tambah manyun, panik lebih tepatnya. Karena saya jadi mikir, apa ada dari bahasa tubuh saya yang menunjukkan saya lesbian dan membuat dia (kalau emang bener lesbian) berani flirtingan sama saya.

“Kira-kira menurut lu, apa yang membuat dia tertarik ama gua. Kalau emang dia lesbi (ini untuk nunjukin kalau saya ngga yakin 100 persen dia lesbi) ?” Teman saya menjawab, “Lu pake anting sebelah di sebelah kiri!” Hah saya mau loncat dengernya. Alasan saya pake anting sebelah di kiri, pertama karena sahabat saya Nida, pakai anting sebelah terlihat seksi. Kenapa kiri, karena kalau di kanan rada ribet. Berasa sering nyangkut ke tas ketika saya mencangklok tas. Lebih ke alasan kenyamanan aja. Dan dengan reflek saya memindahkan anting ke kanan, tapi nyadar ngga ada gunanya juga mindahin anting di dalam taksi, lalu kembali membiarkan anting saya yang panjang itu di telinga sebelah kiri.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ketakutan ini yang dirasakan teman saya yang laki-laki yang tak mau berinteraksi banyak dengan cowo gay. Mereka takut ditaksir. Saya…sempat sih merasa seperti itu. Takut ditaksir lesbi. Tapi entah kenapa saya langsung menepis pikiran itu dengan bilang ke teman saya, “Sebenarnya gua cuman takut kalau si pemain gitar itu ngira gua lesbi. Gua pengen dia tahu kalau gua suka laki-laki!”

Iya situasinya jadi sedikit rumit kalau emang penyanyinya beneran lesbi. Secara mereka hanya tampil berdua. Penyanyi dan pemain gitar. Pemain gitar flirtingan ke saya dari awal dan tiba-tiba penyanyi kasih lagu spesial buat saya. Dan saya pun menyakini dalam hati, kalau penyanyi itu ngga lesbi. Lagu itu benar dia tunjukkan ke saya karena dia lihat saya fokus memperhatikan dia dan gitarisnya. Bisa jadi kan dia menangkap kami berdua melempar pandangan satu sama lain dan ingin menghangatkan situasi itu dengan menunjuk serta memberikan saya sebuah lagu. Karena setelah lagunya selesai, pemain gitarnya senyum ke saya….Duh pas itu kejadian, rasanya kaya baru ditembak Jhonny Deep…nida pasti iri nih hahahaha

Tapi saya tak bisa pungkiri, sempat kepikiran atas semua yang terjadi di coffee shop itu. Saya sampai SMS nida dan bertanya, apa benar yang dipersepsikan teman kita. Nida bilang, ada memang bahasa tubuh penyanyi yang sekilas mengindikasikan dia lesbian. Tapi Nida segera menepis pikiran itu karena dia takut itu jadi semacam menghakimi dari luar.

Iya saya pun sebenarnya tak begitu percaya kalau homoseksual bisa diliat dari bahasa tubuh tertentu. Walaupu kata Natey, homoseksual itu punya gimmick-gimmick yang secara alamiah muncul untuk menunjukkan kalau mereka homoseksual. “Meskipun tampilannya laki banget, pasti ada deh bahasa tubuhnya yang secara ngga sadar dia keluarkan walaupun dia sudah berusaha mengendalikan diri untuk tidak terlihat seperti homoseksual.” Natey pernah memberi tahu saya untuk gimmick-gimmick gay, tapi saya tetap tidak berhasil mendeteksi mereka. Dan ya itu, rasanya terlalu kasar menilai dari tampilan luar. Tapi di lain sisi, saya jadi merasa butuh tahu gimmick-gimmick itu agar mengerti memberikan respon yang pas ketika dapat pancingan dari yang lesbian.

Lalu saya mikir, bahwa meskipun kita tidak menolak keberadaan mereka, rasanya tetap dag-dig-dug ketika tahu salah satu mereka suka dengan kita. Takutnya lebih kepada, bagaimana cara mengatakan tidak dengan porsi yang tepat tanpa ada yang merasa dikucilkan karena orientasi seksualnya. Lalu bagaimana menetralisir bahasa tubuh yang sebenarnya tanpa kita tahu atau sadar kita lakukan untuk tidak dipersepsikan sebagai gimmick homoseksual? Ah sepertinya ini hanya bisa dijelaskan kalau si penyanyi itu benar-benar lesbi dan naksir saya. Karena kadang, kita bisa belajar dari menghadapi situasi peliknya dengan berani dan itu yang saya sering pilih atas segala situasi yang bikin saya menjadi lebih matang.

Dan dengan yakin saya deklarasikan, I am not homophobic…cause my guy gay friend is one of my best friend now πŸ˜€

 

PS : Tapi lucu tuh kalau penyanyinya lesbi, karena itu artinya aura saya berhasil memikat penyanyi (perempuan) dan gitaris (laki-laki) hahahaha dan hidup tetaplah sebuah perayaan kan πŸ˜€

Advertisements

11 responses »

  1. Saya kira tidak ada yg salah dengan menyukai sesama jenis. Tapi kesukaan itu menjadi salah ketika melakukan seks. Pertanyaannya, adakah gay yang tidak melakukan seks dengan pasangannya? Tidak ada bukan. Orang disebut gay karena ia melakukan seks dengan sesama pria, bukan karena ia menyukai seorang pria. Semuanya melakukan seks, yang dari sudut pandang tradisi dan agama, bahkan hubungan seks pra-nikah pun dipandang tabu. Jadi setidaknya ada dua tabu yg dilanggar kalangan gay, seks diluar nikah, dan seks yang tidak wajar. Hal inilah yang membuat banyak laki2 heteroseksual merasa takut berhubungan dengan kalangan homoseksual. Seperti yang dikatakan teman anda, “seperti vampire” atau tepatnya, menular. Ya, menular secara harfiah. Seperti perilaku kekerasan yg juga menulari korbannya dan membentuk sebuah mata rantai kekerasan tanpa putus.

    Soal “homophobic”, saya kira ungkapan itu terlalu tendesius, karena seakan melegalkan tindak seksual mereka. Kenapa juga tidak gunakan istilah “heterophobic” bagi mereka? Saya percaya, meski orientasi seksual juga dipengaruhi oleh gen (Xq28) dan ketidakseimbangan hormonal, tapi seseorang masih tetap dapat merubahnya. Karena bagaimanapun juga, gen dan hormon itu masih tetap dapat dipengaruhi oleh kesadaran dan bersifat interaktif. BTW salam kenal.

    • Pertanyaannya, adakah gay yang tidak melakukan seks dengan pasangannya? Tidak ada bukan. Orang disebut gay karena ia melakukan seks dengan sesama pria, bukan karena ia menyukai seorang pria. Semuanya melakukan seks, yang dari sudut pandang tradisi dan agama, bahkan hubungan seks pra-nikah pun dipandang tabu.

      Mmmm….bukankah heteroseksual juga sama banyaknya melakukan hubungan seksual di luar nikah. Artinya, heteroseksual juga bisa melakukan ketidakwajaran kan ya? Kalau homoseksualnya ngga melakukan hubungan seks di luar nikah, apa mereka lebih diterima?

      Ah saya kok merasa tidak ingin menentukan siapa yang harusnya diterima dan siapa yang tidak ya? Karena dikeluarkan dari lingkaran sosial hanya karena tidak seperti orang kebanyakan rasanya juga ngga adil ya? Toh tak selamanya suara terbanyak itu benar kan?

      Soal β€œhomophobic”, saya kira ungkapan itu terlalu tendesius, karena seakan melegalkan tindak seksual mereka. Kenapa juga tidak gunakan istilah β€œheterophobic” bagi mereka?

      Menurut saya, banyak istilah dalam sistem sosial kita yang dibuat memang untuk tendensius. Apalagi istilah yang berarsiran dengan hal-hal yang tidak mudah diterima kebiasaan atau suara sosial. Kenapa bukan heterophobic, karena heteroseksual kan diterima dengan tangan terbuka mas sama masyarakat kita. Jadi rasanya ngga perlu ada penambahan phobic dibelakangannya, karena ngga ada yang anti sama yang heteroseksual πŸ˜€

      Saya percaya, meski orientasi seksual juga dipengaruhi oleh gen (Xq28) dan ketidakseimbangan hormonal, tapi seseorang masih tetap dapat merubahnya. Karena bagaimanapun juga, gen dan hormon itu masih tetap dapat dipengaruhi oleh kesadaran dan bersifat interaktif.

      Ini semakin menarik. Justru keinginan saya untuk tidak menjadi homophobic, selain saya percaya bahwa orientasi seksual mereka tak akan menghapuskan kemampuan mereka untuk menghargai kemanusiaan, saya juga percaya kalau ada pengaruh gen. Dan setahu saya, ngga mudah melakukan perubahan gen. Bahkan rekayasa genetika pada tumbuhan dan hewan aja itu butuh proses penelitian yang panjang.

      Btw, rekayasa genetika juga pro dan kontra dalam ranah agama kan? Jadi,apakah ketika kita berhasil merekayasa genetika mereka dan kembali menjadi gen sesungguhnya, maka sistem sosial kita yang (katanya) lebih religius akan menerima mereka dengan lapang dada? Rasanya kok kita jadi mengatur keidealan seseorang dari kebutuhan sosial ya, bukan dari bagaimana kemanusiaan seharusnya dihargai….

      BTW salam kenal.

      Ini lebih menarik πŸ˜€ Salam kenal juga mas…kita diskusi ya….mudah-mudahan komen saya tidak membuat mas kapok membaca blog saya πŸ˜€

  2. yang dari sudut pandang tradisi dan agama, bahkan hubungan seks pra-nikah pun dipandang tabu. Jadi setidaknya ada dua tabu yg dilanggar kalangan gay, seks diluar nikah, dan seks yang tidak wajar.

    Kalau kata Dewa 19 di lagunya Shine On sih, “apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran, mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat yang lainnya.” Tabu atau tidak tabu itu, seperti mas HP tulis, sepertinya tergantung tradisi atau agama orang sekitarnya saja to. Beda tempat udah beda lagi pandangannya.

    tapi seseorang masih tetap dapat merubahnya.

    Pertanyaannya adalah, buat apa mengubahnya?
    Saya yakin ada sesuatu yang memang sebaiknya tidak dilakukan, misalnya membunuh, karena itu akan merugikan orang yang dibunuh dan keluarganya. Begitu juga dengan mencuri. Jadi orang-orang dengan kecenderungan seperti itu sebaiknya mengubah dirinya. Nah, kalau orang homoseksual, buat apa? Asalkan orang-orang dalam hubungan itu sadar akan tindakannya, dalam artian tidak ada paksaan, buat saya sih OK OK aja.

    Salam kenal juga Mas.

    Saya rasa pemikiran saya ndak akan menarik buat empunya blog, wong masih ada di sayap yang sama.

    • *Clingak-clinguk* Ini orang ya kok kaya mahluk lewat tengah malem ya…bales komen jam segini….Nampak menyeramkan Anda *siul-siul*

      Saya rasa pemikiran saya ndak akan menarik buat empunya blog, wong masih ada di sayap yang sama.

      Kamu akan lebih tertarik dengan postingan yang sedang aku buat sekarang…hah…

  3. gw punya bbrp tmen deket gay sejak kuliah. ada pula tmn lama yg ud lama bgt ga ktemu,dan pas ktmu lag dia ngaku klo dia gay dari dulu. dan spt orang2 bilang: gay is girl’s best friend! (persetan dgn berlian krn gw ga tertarik dgn benda2 bling2 :p)
    tepat bgt yg lo rasain.punya tmn gay itu berarti punya shoulder to cry on, free hugs&kisses,merasa aman krn dikawal lawan jenis, dll dll tanpa ngerasa takut dia bakal tertarik sama kita. ga kalah pnting, dia bisa ngasi persepsi dia sbg laki2,sekaligus empati layaknya seorang hawa.bhkan bs curhat tengah malem sambil pelukan di kasur dgn pakaian yg amat minim,dgn nyamannya! πŸ˜€
    and i always said, “homophobic,just go lick dirt!” tp trus gw mikir,wajar bgt klo cowo2 ga nyaman deket2 pria gay.iyalah..mreka pasti takut ditaksir.dan pastinya sebel jg ngeliat para gay yg rempong,ribet dan heboh gayanya,hehee.
    trus gw nanya k diri gw sndiri, “am i a lesbiphobic?” err..gw blm bisa jawab.tp sbnrnya ya,gw mah bkn cuma takut ditaksir lesbian.lah ditaksir cowok jg gw kabur! πŸ˜€

    • (persetan dgn berlian krn gw ga tertarik dgn benda2 bling2 :p)

      Kalau kamu dikasih berlian dan tak suka, kasih aku aja ya *kedipkedip*

      gw mah bkn cuma takut ditaksir lesbian.lah ditaksir cowok jg gw kabur! πŸ˜€

      Hahahahaha gilani kamu….tapi kemarin terpikat sama pemain harmonikanya kan…tapi ngga mau ngejar juga ya….ya ya ya kalau ngejar mah bukan nida namanya yak πŸ˜€

  4. am i homophobic? sejauh ini belum. belum pernah punya pengalaman dicintai perempuan lain soalnya (damn, aura gw kurang memikat rupanya! hihihi)

    tapi jika ada lesbian yang berada di sekitarku, sepertinya tidak akan ada masalah. belum tentu juga dia suka sama aku bukan? demikian juga dengan gay yang berada di kumpulan laki-laki, jangan ge-er, belum tentu dia suka dengan kalian, hai para homophobic! πŸ˜€

    namun, jika pun pada akhirnya mereka mengatakan cinta, ya sudahlah ya.. katakan baik-baik bahwa kita tidak bisa membalas cintanya, tanpa harus disertai kekasaran. bukankah perasaan cinta itu sesuatu yang indah? πŸ™‚

    ps: tulisanmu bagus2!

    • Virtriiiiiiiiiiii……senangnya kamu main ke sini…Ayo masuk, anggap blog (baca: rumah) sendiri ya…

      damn, aura gw kurang memikat rupanya! hihihi

      Ah aura kan masalah selera, ntar juga nemu kok πŸ˜€

      bukankah perasaan cinta itu sesuatu yang indah?

      Ah indahnya penolakan cinta….hihihihihihihi

      ps: tulisanmu bagus2!

      ps juga : bisa aja kamu, aku kan cuman curhat di sini….

  5. Pingback: Flying so light to the sky

  6. Kalo yang dari gw baca, itu berarti masih ada ketakutan dengan orang yang menyukai sesama jenis (dalam arti you are still homophobic!)

    Kalo seandainya ada lesbian yang demen sama lu, berarti kan lu sendiri ada daya tariknya.. Kalo misalkan lu emang ga demen, ya uda bilang aja tidak tertarik..
    Sama aja kan kyk menolak pria yang lu ga suka.. It’s just the same and LGBT also have feelings.. just saying..

  7. Hai Koinz,

    At first, yes i am little bit afraid. Tapi itu karena situasinya aja, sama kaya ketika ada laki yang ujug2 tanpa angin atau awan datang menghampiri untuk memberikan signal-signal ketertarikan. Ada situasi yang membuat kita menjadi shock dan kemudian berpikir, apa yang harusnya dilakukan untuk menghadapinya. Because we are not prepare for the situation. Dan diakhir tulisan kan saya juga mengakui, kalau benaran penyanyi itu tertarik sama saya, berarti saya menarik bagi pria dan wanita.

    Yes, i know all of us have feelings and i am learning not to mention people base on their sexual attraction. Tujuannya sederhana, untuk memperkecil kemampuan saya dalam menilai orang dari atribut sosialnya alias i’m trying not to be judgmental.

    Anyway, thanks for coming by πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s