Matinya (Kesadaran) Kerukunan Umat Beragama

Standard

“Jika manusia tidak dapat belajar saling memahami dan saling setia lintas batas religi, jika kita tidak mampu membangun suatu dunia tempat orang yang sangat berbeda kenyakinannya dapat hidup bersama dan bekerja sama, prospek bagi masa depan bumi kita ini tidaklah cerah.” Wildfred C.Smith, Memburu Makna Agama.

Dulu sewaktu darah saya masih mudah mendidih, saya pernah membuat tulisan pada kertas berukuran A4. Tulisan itu adalah, “Saat memasuki kamar ini, tinggalkan Tuhan di depan keset kamar.”

Tulisan itu saya tempel tepat di dinding yang menghadap ke pintu. Jadi begitu pintu dibuka lebar, seluruh mata akan membaca tulisan yang saya ukir dengan spidol hitam pekat itu. Tak hanya itu, saya masukkan semua simbol-simbol agama di dalam tulisan tersebut.

Apa tujuan saya? Hanya demi mengingatkan diri sendiri dan semua orang yang bertamu ke kamar saya untuk tidak mendewakan agamanya. Apalagi Tuhan, karena eksistensinya sudah sangat jelas. Tidak seperti kita yang kehilangan eksistensi sedikit langsung jadi ABG labil.

Ketika itu, saya baru saya memutuskan untuk keluar dari persekutuan yang pernah saya masuki. Dan lamat-lamat saya dengar mereka coba mengaitkan kepergian saya dengan kedekatan saya kepada salah satu sahabat saya yang Katolik.

Tentu saya marah dan tak dapat dihindari darah saya pun mendidih. Tulisan itu saya buat, karena beberapa orang dari persekutuan masih suka mendatangi saya untuk memberi percakapan penyadaran. Percakapan itu berhasil, karena saya semakin sadar bahwa saya bukan bagian dari mereka.

Semenjak itu saya tidak pernah memandang tinggi agama. Buat saya, semua agama itu punya pesan indah untuk mengajak kita menghargai hidup. Hanya saja kadang-kadang kita lebih memilih mengandalkan keterbatasan mengartikan segala hal ketimbang menyakini bahwa Tuhan berbicara bahasa cinta yang sama kepada semua umatnya.

Tadi pagi, saya masih membaca bagaimana Jalaluddin Rakhmat mulai menyebarkan kesadaran agama madani di harian Kompas. Kang Jalal, begitu dia akrab disapa, bercerita ada pemikir Islam Syiah yang bernama Murtadha Muthtahhari yang menyadarkan dirinya akan indahnya pluralisme. Muthtahhari bilang, Tuhan adil sehingga pasti memberi pahala bagi siapa pun yang berbuat baik, apa pun agamanya. Hukuman diberikan kepada yang berbuat jahat, apa pun agamanya. Jadi semua agama itu pada intinya selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.

Pesan indah yang membuat saya bersyukur masih ada cendikiawan sehat yang berpikir cerdas di bangsa yang lagi diserang penyakit korupsi stadium lanjut ini. Setidaknya ada topik baru yang bisa didiskusikan dan membuat cerdas banyak orang, ketimbang terus-terusan membaca berita betapa semua pelaku korupsi itu merasa dijebak untuk kemudian minta dikasihani demi penipuan yang telah dilakukannya.

Tapi selang beberapa jam, saya membaca running text pada stasiun televisi bahwa kembali terjadi penyerangan terhadap Jamaah Ahmadiyah. Dan beberapa saat kemudian, running text itu kembali bercerita kalau 3 orang Jamaah Ahmadiyah telah tewas pada peristiwa penyerangan di Pandeglang, Banten.

Ah saya jadi merasa getir setiap kali mendengar ucapan Bhineka Tunggal Ika yang begitu mulia itu. Dan kenyataanya kita begitu mudah membunuh orang yang berbeda ritual keagamaan demi jaminan surga yang hanya diartikan dalam tindak kekerasan.

Atau betapa saya harus menundukan kepala setiap kali mengingat, betapa kita dulu pernah begitu bangga dengan tulisan bahwa Indonesia adalah negara yang menghargai perbedaan agama dan keyakinan. Namun pada prakteknya, negara tidak mampu melindungi warga negaranya untuk menjalankan ritual keagamaannya tanpa rasa takut.

Negara sudah terlalu sering melakukan pembiaran. Beberapa peristiwa penyerangan yang berbau SARA memang berhasil dibawa ke meja hijau, tapi pelaku penyerangan tetap menguasai persidangan dengan memberi intimidasi pada proses menegakkan keadilan yang harusnya netral dari tekanan apapun.

Saya ingat pada kasus pengadilan penyerangan gereja HKBP di Bekasi, mereka yang diserang harus merasa ketakutan karena melihat pendukung kelompok penyerangan bisa dengan leluasa berteriak-teriak di dalam ruang pengadilan. Bukankah aparat seharusnya tegas dengan semua itu, kelompok yang berteriak harusnya bisa dikenakan hukuman karena tidak menghargai proses persidangan yang tengah berlangsung. Tapi yang terjadi adalah, kelompok penyerang bisa pulang lenggang kangkung sambil mengepalkan tangan di udara seraya meminta Tuhan ikut mengepalkan tangan dengan mereka.

Yang dilakukan pemerintah hanyalah gelar rapat terbatas dan mengeluarkan 7 himbauan penting untuk dilakukan. Oke, saya tahu mereka harus menemukan fakta yang jelas atas setiap peristiwa yang terjadi. Tapi bukankah pengrusakan, penyerangan, dan pembunuhan adalah kriteria jelas telah terjadi tindak kriminal. Jadi, sudah seharusnya kelompok-kelompok penyerangan itu dianggap kelompok haram yang harus berhenti menjadi pahlawan kesiangan moral.

Harusnya kelompok-kelompok itu dikasih tonton film Inherit the Wind. Dan setelah nonton, mereka diajak diskusi sambil role playing soal definisi kerukukan dan kebebasan beragama. Atau kalau perlu saya buat lagi tulisan soal meninggalkan Tuhan di keset kamar pada kertas ukuran KTP yang bisa diselipkan ke dalam dompet. Jadi setiap saat bisa diliat-liat biar sadar kalau Tuhan ngga perlu pasukan pahlawan siang bolong yang mau menegakkan moral demi pintu surga yang sebenarnya ngga pernah ketutup itu.

Dan melalui tulisan ironis yang sedikit diisi darah yang mendidih ini, saya sampaikan turut berbela sungkawa atas berpulangnya rasa menghargai perbedaan agama ke rahmatullah atau rumah bapa di surga. Semoga seluruh warga Indonesia yang ditinggalkan kembali sadar bahwa Tuhan tidak pernah berpihak pada siapa pun. Bahwa kerukunan dan kesadaran untuk saling menghargai perbedaan adalah cara kita berterima kasih pada Tuhan atas hidup yang sudah begitu indah diberikan kepada kita tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Duka cinta yang mendalam 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s