Renungan Aspal

Standard

Melakukan perjalanan malam selalu membuat saya bergairah. Saya suka lampu-lampu lalu lintas atau kedipan lampu dari mobil-mobil. Saya juga suka dengan keheningan yang ditawarkan.

Seperti malam ini, dalam mobil travel yang penuh, saya bisa merasa sangat senyap. Bukan sunyi, tapi senyap. Bagaimana menggambarkan senyap? Aura energi yang hening tanpa merasa kesepian. Romantis sekali.

Kota yang saya tuju juga punya romantisme tersendiri. Setidaknya ada 3 kota yang selalu membuat saya deg-degan setiap kali berkunjung.

Pertama adalah Jakarta. Alasannya sangat masuk akal, inilah rumah saya. Satu tahun setelah saya lahir, keluarga hanya muter-muter di Jakarta. Mulai dari Pulomas, Perumnas Klender, dan kini kembali ke Pulomas 😀

Di kota yang macetnya kaya setan ini, saya selalu berhasil menemukan keindahan. Seperti sekadar duduk berdua dengan Nida, sahabat saya, di taman Suropati sambil menikmati nasi goreng langganan kita. Atau memandangi gedung-gedung tinggi di malam hari dengan lampu yang cantik-cantik, selalu membuat saya takjub sendiri. Atau menikmati kesibukan yang tidak pernah mati dari ujung utara Jakarta sampai ujung selatan Jakarta. Ini rumah saya, apapun wujudnya, rumah adalah tempat paling sempurna untuk bertemu dengan keluarga saya.

Dulu saya pernah sebulan di Jerman. Saat pesawat hendak mendarat di Jakarta, saya tersenyum-senyum melihat kemacetan, akhirnya saya merasakannya kembali. Merasakan nikmatnya ketidakteraturan hahahaha.

Kedua, Bandung. Saya lahir di sini. Di kota di mana ayah saya menuntaskan kuliahnya di universitas katolik yang sampai sekarang masih mahal.

Tidak seperti ayah saya, kampus saya adalah kampus negeri yang tempatnya disebut Bandung coret karena terlalu pinggir Bandung. Di kota berhawa sejuk ini, saya menghidupi mimpi saya dan meninggalkan separuh jiwa saya di sana.

Maka setiap kali saya ke Bandung, saya seperti bertemu dengan diri saya yang lama. Romantisme masa lalu. Masa di mana saya pernah memakai ikat pinggang paku-paku dengan kaos Rock n Roll yang lusuh hahahaha. Atau keberanian ketika mengirimkan puding spesial untuk senior yang ditaksir, lengkap dengan ucapan romantis hahahaha. Indahnya hidup memang.

Beberapa waktu lalu, saya memundurkan waktu dengan mengunjungi Bandung dan Jatinangor. Meski hanya sehari, saya berhasil memutar memori secara utuh. Mulai dari naik damri AC Dipatiukur-Jatinangor, duduk di jembatan cincin, jalan kaki dari Fikom ke Gerbang Unpad, makan soto ayam super enak di rumah makan yang namanya ‘Adi Ada Aja’, sampai makan lumpia basah Gerbang Unpad. Satu hari yang menyenangkan, seperti bertemu pacar lama yang masih cinta mati sama kita.

Kota ketiga adalah Yogyakarta. Pertama kali saya mengunjungi kota ramah ini adalah saat kuliah dengan misi wawancara Romo Sindhunata demi skripsi yang membahas mengenai RUU Kerukunan Umat Beragama di majalah Basis. Saya naik kereta ekonomi dari Bandung bersama dua orang teman saya.

Namanya kereta ekonomi, segala macam ada. Dan saat itu kita jalan malam, jadi bisa dibayangkan apa yang terjadi. Saat mata terasa ditarik 30 juta rasa kantuk, tiba-tiba ada suara bencong masuk bernyanyi dengan cemprengnya. Saya masih pura-pura tidur, tapi sang bencong haus perhatian. Dia menoel saya minta diberi recehan. Yang saya punya hanya lambaian tangan malas dengan mata ngantuk 😀

Sampai subuh, saya bertemu dengan ibu-ibu luar biasa yang semangat memanggul sayur untuk dijual. Ah mereka luar biasa sekali menapaki jalan-jalan kaku sambil membawa sayuran segar yang beratnya bisa melebihi berat badan saya.

Ada keramahan dan keterbukaan yang ditawarkan Jogja pada saya. Ini semakin lengkap karena ibu teman yang saya dengan tangan terbuka menerima kami, orang asing yang dia tau hanya dari cerita anaknya. Ibu, begitu saya memanggilnya, adalah guru STM yang sangat independen tapi juga luar biasa lembut. Setiap malam, dia akan bercerita banyak mengenai 2 anak perempuannya yang tinggal di kota berbeda. Bercerita soal bagaimana dia yakin menikahi suaminya yang beda agama dan mengajarkan berbagai macam agama pada 2 anak perempuannya. “Waktu itu, ade mau belajar Budha. Ibu langsung cari Biksu. Malah belajar Islam juga bukan dari Ibu, tapi dari Ustad,” ceritanya dengan wajah berbinar padahal ketika itu kanker payudara telah mengampirinya.

Setiap pagi,ibu akan meninggalkan sangu di meja kayunya yang antik. Lengkap dengan teh manis dan sarapan nasi bungkus. Di amplop tempat sangu, ibu menulis,”Maaf ya ibu ngga bisa nyediain makan dan temanin kalian jalan-jalan karena harus ngajar. Ini ada sangu,buat ongkos dan makan di jalan.” Ah sampai sekarang saya masih terharu mengenang itu semua. Sekarang ibu sudah istirahat tenang di surga. Dan terakhir kali saya telepon beliau, dia masih ingat saya dengan baik. “Ibu selalu doain Priska kok.” Ucapan tulus inilah yang selalu membuat saya mengidentikan Jogja dengan keramahan dan keterbukaan ibu.

Plus pertemuan dengan Romo Sindhu, kaya ketemu cowo yang udah diincer lama banget….hahahahahahha. Jadi deg-degan tetap terasa kalau sampai di Jogja.

Tahun kemarin saya kembali ke Jogja. Dan saya terkesima dengan museum Ullen Sentalu. Di museum itu saya percaya bahwa Indonesia bisa kok punya museum yang mumpuni. Lengkap dengan guide museum yang santai tapi informatif berlogat Jawa medhok. Saya sempat merasa iri karena Jakarta ngga punya museum Sentalu.

Saya berencana ke Jogja lagi, kali ini misinya wisata kuliner atau wisata budaya 😀 Saya ingin ngubek-ngubek Jogja lagi dengan mengakhiri hari duduk di depan benteng Venderburg, sambil menikmati sate tusuk yang harganya murah selangit itu.

Ada cerita unik dibalik sate tusuk itu. Salah satu temen yang pergi bersama saya saat kuliah dulu, tersentuh melihat seorang ibu yang duduk di depan tumpukan sate. Dengan kain lusuh yang membebat tubuh, teman saya tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada ibu itu. Dia menghampiri dan membeli sate sambil merasakan betapa wajah lembut itu punya karakter yang kuat. “Ngga tau gimana, tapi ibu itu terasa pejuang banget auranya,” ucap teman saya.

Dan aura itu terus terasa sampai dia tes kerja di Media Indonesia. Pada sesi psikotes, dia diminta menggambar seseorang lengkap dengan umur dan pekerjaannya. Wajah dan kekuatan ibu itulah yang digambarnya. Sampai pada saat ditanya mengapa teman saya menggambar ibu itu, dia hanya bilang, “Saya ngga tahu siapa dia, tapi auranya terlalu kuat menempel pada ingatan saya. Sampai sekarang saya masih ingat dia pake baju apa dengan lurik lusuh warna apa. Saya percaya, dia orang yang kuat dan saya mau seperti dia.” Entah karena gambar ibu itu atau tidak, tapi teman saya diterima bekerja sebagai wartawan di sana.

Malam ini, saya kembali memundurkan waktu ke Bandung. Saat penumpang dalam travel tertidur lelap, saya mempersiapkan diri untuk bertemu dengan romantisme masa lalu. Dan beberapa menit menunggu masuk Bandung, saya selalu terkesima dengan susunan rumah yang berundak pada cekungan danau kuno ini. Banyak yang sudah berubah dari Bandung, tapi saya masih terasa akrab dengan gaya pakaian anak-anak mudanya. Dalam hati saya berucap,”Dulu gua pernah bergaya seperti mereka dan rasanya menyenangkan.” Hahahahaha

Saya sudah membayangkan, besok malam akan menyusuri jalan dago yang penuh dengan hiruk-pikuk anak muda yang mencoba menegaskan eksistensi mereka di jalanan. Dalam hati pun saya akan merasakan,dulu gua pernah bela-belain jalan malam dari Jatinangor ke Dago, demi merasakan beat musik yang memekakan telinga. Dan balik lewat tengah malam ke Jatinangor, sambil mampir makan indomi pada tenda pinggir. Atau kalau sedikit beruntung, saat kembali ke jatinangor, dalam angkot mungil, kita bisa bertemu cowo beda kampus yang diam-diam kita taksir hahahaha. Bahkan tidak jarang menambah daftar gebetan yang bisa diprospek 😀

Lalu saya penasaran, apa yang akan saya rasakan ketika benar-benar mewujudkan niat untuk kembali mengunjungi Jogja? Tiba-tiba rindu Ibu dan rumahnya yang sederhana dengan sentuhan rumah jogja yang sangat khas. Tiba-tiba ingin merasakan mie jawa yang dia bilang paling enak se-Jogja hahahaha.

Sepertinya saya sedang dihampiri romantisme masa lalu yang menyenangkan. Padahal walkman yang saya pinjam dari adik saya ini, kebanyakan memainkan musik-musik disko, tapi kerinduan saya pada kebebasan Bandung dan keramahan Jogja terasa sangat kuat. Yah harus diwujudkan agenda jalan-jalan di Jogjanya…

Setidaknya sampai Minggu, saya sudah bisa menggenapi romantisme dengan Paris van Java. Waktunya mengatur jadwal untuk mengunjungi keramahan Jogja 😀 Dan tiba-tiba saya terpikir untuk jalan-jalan sendirian atau minimal berdualah untuk misi yang ini. *mulai melihat kalender dan friends list yang bisa diajak*

Hihihihihih tulisan panjang ini…rada lari sana-sini…demi menemani saya menikmati aspal dengan lampu lalu lintas yang berlari cepat dan lagu-lagu yang cepat saya ganti demi memilah mana yang lagu saya dan lagu adik saya. Perjalanan malam memang selalu menyenangkan, harus sering-sering dilakukan nampaknya 😀

Advertisements

2 responses »

    • Diantara lagu-lagu disko yang selalu gua skip di walkman ade gua yang kalau dipake kaya orang dari masa akan datang itu adalah:

      Pas pergi
      – Lagu-lagunya Adhitia Sofyan. It’s a must apalagi yang forget jakarta. Kalau dipilemin,nih lagu diputer pas kamera nyorot sepatu gua masuk mobil travel 😀
      – Temper Trap : Sweet disposition. Kalau ini pas bener buat ngebut di tol..kaga tau kenapa kalau denger lagu ini bawaanya pengen masuk jalan tol dan ngebut gila..melesat diantara cahaya.
      – Lagu-lagunya Frau. Kalau ini untuk membangunkan imajinasi diri nyanyi ala Frau..jadi kaga ngantuk di dalam travel *singer wanna be*
      – Lagunya Agnes Monica. Ini lagu,lagu pilihan ade gua..dia ngefans banget ama Agnes hahahahaha. Tapi untuk suara, Agnes bagus sih…gua suka beberapa lagu yah bolehlah untuk berasa Abg dikit.
      – Meaghan Smith, Here comes your man. Lagu kita Al 😀

      Pas pulang
      – Green Day, American Idiot. Berharap bisa loncat-loncat dalam travel sambil head banging 😀
      – Lucky I’m in love with my best friend. Ini lagu bener-bener bikin gua pengen cepet-cepet jatuh cinta dan pacaran.
      -Panic at disco, I write sins not tragedies. Ini lagu bikin pengen loncat-loncat dah.
      -Sandy Sandoro, lupa judulnya..tapi suaranya seksi…memanjakan kuping 😀
      -Jens Lekman, a postcard for nina…senyuman sepanjang lagu kayanya sudah jadi penjelasan yang cukup 😀

      Itulah beberapa yg gua inget…soundtrack yang pas buat membebaskan pikiran. Btw kita menjelajahi Jogja yuk ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s