Audisi “Ikan Salmon”

Standard

Gambarnya mancing deh...abis yang nyelem kaga ada πŸ˜€

Seorang teman laki-laki di kantor memberikan istilah yang pas ketika saya bercerita sms-sms apa saja yang belakangan sering saya terima, “Widih Priska lagi buka audisi ajang cari gandengan baru.” Saya yang mendengar hanya tertawa sambil menimpali, “Truk kali gandengan.”

Tapi memang teman saya benar, saya tengah mencari ikan salmon. Loh kok ikan salmon? Lagi-lagi ini hasil perbincangan dengan seorang teman, kali ini salah satu wartawan senior kesehatan. “Cari ikan salmon Pris.Udah mana bikin otak cerdas, dia juga gurih karena berlemak. Tapi lemaknya tetep bikin perut rata,karena lemaknya lemak sehat.” Hahahahahaha susah emang kalau pekerjaan sampai menyusup masuk ke sumsum tulang belakang.

Tapi lagi-lagi istilah itu menurut saya sangat pas. Sama pasnya dengan wejangan positif yang diberikan teman-teman saya ketika tahu saya kembali menjadi single. “Tenang Pris, there are so many fish in the sea. Pasang jaring dan tangkap yang banyak. Suka makan,ngga suka tinggalin.” Hahahahahaha.

Dan kali ini saya ngga mau pasang jaring. Karena kalau pasang jaring itu kelas ikan permukaan dan mengamini nasihat wartawan senior itu, saya ingin ikan laut dalam sekarang. Dengan sedikit aksi menyelam dan memilih mana yang sehat dan tidak.

Dan kini saya sedang berenang di laut. Baru melakukan beberapa tarikan nafas, ada beberapa yang menghampiri. Tahu rasanya seperti apa? MENYENANGKAN!!

Ada satu kali di tempat umum, pada segerombolan anak kuliahan laki-laki, ada salah satu yang terus menempelkan matanya pada saya.Β  Awalnya saya pikir itu hanya tatapan kebetulan. Ya mungkin kebetulan di belakang saya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi saat saya duduk dan tanpa sengaja melihat ke arah diagonal tempat dia duduk, dia melemparkan senyum. Dan bodohnya saya kaget lalu spontan senyum balik…hahahahaha…Tiba-tiba saya merasakan aliran darah mengalir deras di jantung saya. Saya deg-degan.

Lucu juga kayanya sama anak kuliah, masih penuh semangat menggilai hidup. Dan masih naif jadi masih bisa kita arahkan…hahahaha no..no..I’m kidding. Hanya saja anak kuliah itu memang membuat saya percaya kalau kenapa ngga sama anak kuliahan…*dua tanduk muncul di kepala*

Pada sesi berenang berikutnya, saya bertemu ikan bergaya cuek tapi dengan aroma yang menggoda. Tidak ada yang menyambungkan kita sebenarnya, kecuali untuk saling memperolok satu sama lain. Diam-diam kami semakin sering menyapa walau sekadar memperolok yang kemudian diakhiri dengan gelak tawa yang membuat segar wajah. Dan (sepertinya) mulai menemukan kenyamanan untuk menghabiskan waktu berdua.

Lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan ikan yang lainnya. Ikan yang ini geraknya cepat dan terbilang sangat ekspresif. Saya suka senyum-senyum sendiri bagaimana dia menyusupkan signal-signalnya. Kadang terasa kaya, “Permisi ada garam ngga? Ooo ngga ada ya, kalau nomer telepon ada…” Hahahahaha lucu. Saya sampai bilang ke teman saya, “Gila ternyata rumus pedekate kaya gini masih bisa bikin kita senyum-senyum ngga jelas ya. Berasa ’70an sih..tapi tetep bikin lu terbang hahahaha.” Ini dilengkapi dengan guguran bunga warna-warni di kepala (baca: Berbunga-bunga).

Dari semua ikan-ikan itu, saya merasakan nikmatnya berenang dilautan. Proses menyelamnya juga enak, saya tak perlu membawa jala-jala besi yang berat itu untuk kemudian ditebar selebar yang saya mampu. Setelah jaring-jaring terisi, ikan yang banyak sudah dalam kondisi mengelepar-gelepar. Ntah karena kehabisan oksigen atau karena ikan permukaan laut memang lebih rapuh di banding ikan laut dalam.

Yang terjadi pada sesi berenang laut dalam kali ini adalah saya menyusup masuk ke dalam laut. Saya sadar saya tengah memilih setiap ikan yang menghampiri. Ini membuat saya, mengamati mereka dengan jelas. Mulai dari bagaimana kekuatan mereka berenang, kemampuan mereka bernafas, sampai warna apa yang mereka pilih untuk menarik perhatian saya.

Audisi kali ini benar-benar menyenangkan. Karena ternyata lautan itu ngga kelam, justru sebaliknya menawarkan banyak sekali warna-warni ikan. Itu kenapa, saya sampai bilang sama Gadis Pendiam, “Ayo cepat keluar…banyak ikan sehat di lautan yang ngga sabaran buat mencuri perhatian kita.” Gadis Pendiam hanya ketawa-ketawa aja.

Tapi seneng juga liat dia bisa ketawa, setidaknya itu persiapan awal untuk menyelami lautan. Karena sebenarnya, saat kita tertawa, kita mengantarkan oksigen yang segar ke dalam otak. Inilah yang membuat sel-sel otak baru terproduksi dan sistem komunikasi otak kembali lancar. Itu kenapa tertawa lepas adalah ‘pil’ ajaib yang bikin saya keluar cepat dari episode berdarah-darah itu. Dan kini, saya masuk alam laut yang lebih segar untuk aura saya yang baru.

 

Gambar dari sini

Advertisements

4 responses »

  1. Hanya saja anak kuliah itu memang membuat saya percaya kalau kenapa ngga sama anak kuliahan…*dua tanduk muncul di kepala*

    I see what you were doing there. 😈 *siul-siul*

    Jadi gimana, udah ada ikan yang siap dimakan belum? Apa masih menikmati mancingnya? πŸ˜‰
    Saya belum nemu yang bisa dimakan.

    • I see what you were doing there. 😈 *siul-siul*

      Mmmm…apa ya…ndak ngerti *pura-pura lugu*

      Jadi gimana, udah ada ikan yang siap dimakan belum? Apa masih menikmati mancingnya? πŸ˜‰

      Psssstttt…keputusan juri tidak boleh diganggu gugat sebelum ada pengumuman πŸ˜‰

      Saya belum nemu yang bisa dimakan.
      Mmm…masih kebayang ikan yang lama ya *dikeplak*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s