Apakah Tuhan Sensitif Gender?

Standard

Belakangan saya (kembali) mengubek-ubek teori feminisme dan teori konflik. Ada proyek yang saya sedang coba garap berkaitan dengan dua topik itu. Saya ajak diskusi beberapa teman saya.

Semuanya sepakat, hampir dalam setiap situasi genting (mau krisis ekonomi, bencana alam, sampai konflik atau perang) anak-anak dan perempuan selalu jadi subjek yang menanggung beban berat. Tapi lucunya, dalam proses penyelesaian situasi genting itu, perempuan jarang dilibatkan untuk memberikan suara. Loh kenapa harus dikasih suara?

Contohnya begini, dalam situasi konflik, perempuan dan anak-anak biasanya akan memikirkan cara bagaimana untuk menyelamatkan diri. Sedangkan laki-laki, umumnya karena tekanan sosial atau hormon bertarung untuk bertahan hidup yang keluar, akan memikirkan strategi untuk memenangkan konflik. Mereka lebih memikirkan strategi karena kekuatan mereka ada pada berpikir logis untuk mengeluarkan diri dari situasi berbahaya.

Akhirnya konflik akan semakin sulit untuk diselesaikan, karena yang perempuan dan anak-anak memikirkan cara untuk menyelamatkan kehidupan sedangkan laki-laki berpikir untuk menyelamatkan eksistensi. Keduanya sama-sama penting menurut saya dan sama-sama harus dibela.

Tapi karena dari zaman nabi-nabi, perang atau konflik memang selalu identik dengan pekerjaan laki-laki. Maksudnya, hanya laki-laki yang dibolehkan ikut campur, berstrategi, dan meraih kemenangan. Alhasil ketika kita bicara penyelesaian perang atau konflik yang akan duduk di meja perundingan adalah laki-laki.

Padahal, menurut teori manajemen konflik, perempuan adalah pencipta dialog yang mumpuni. Mengapa, karena perempuan punya living skill yang mempersuasi orang. Dan sifatnya yang lembut, dirasa sejalan dengan terminologi perdamaian.

Tapi kata teman saya yang sedang mengambil master di Hubungan Internasional, pada tahap perundingan rada susah untuk melibatkan perempuan, meskipun mereka mengamini perempuan jago menciptakan dialog. Buat ilmu hubungan internasional yang menitikberatkan pada kesuksesan diplomasi, kelembutan perempuan akan membuat meja perundingan sulit menemukan poin-poin rasional. Implementasinya jadi pada membentuk perdamaian saja, padahal salah satu tujuan perundingan juga harus berbicara pada ranah penegasan wilayah atau eksistensi komunitas. Itulah mengapa perempuan jarang dilibatkan dalam proses perundingan.

Bahkan menurut teman saya itu, beberapa teman diskusinya di master HI merasa memasukkan teori feminisme dalam diplomasi justru akan membuat rancu semuanya. Kalau pun mereka berniat menyinggung teori feminisme yang dipakai pun feminisme aliran lembut bukan yang radikal.

Lalu bagaimana saya sampai pada pertanyaan apakah Tuhan sensitif gender? Awalnya adalah karena disela-sela diskusi dengan salah satu sahabat saya, saya mengeluh kesakitan. Rasa sakit dari peristiwa biologis bulanan saya sebagai perempuan. Sebagai gambaran buat laki-laki, rasa sakitnya itu kaya kain yang diperas…sangat khas. Trus saya iseng berkomentar, “Damn nih menstruasi bikin hari-hari penuh emosi. Sebelum mens, bawaanya pengen nampol orang dan saat mens, bawaanya pengen melow-melow ngga jelas. Plus perutnya kaya kain basah yang diperas berkali-kali.”

Sahabat saya, Nida cuman bilang, “Iya menstruasi kaya syarat untuk punya anak tapi dengan proses yang tidak mengeenakan.” Lalu saya nyeletuk,”Iya kenapa menstruasi harus sakit ya…padahal mengeluarkan darah setiap bulan saja sepertinya sudah lebih dari cukup. Ah Tuhan ngga sensitif gender nih!” Saya dan Nida setelah itu hanya tertawa terbahak-bahak.

Tapi sampai di rumah, sebelum menutup mata untuk tidur, saya kembali terngiang ucapan saya sendiri. “Tuhan ngga sensitif gender.” Mmm…dalam proses memiliki anak, sebenarnya ada 2 pemain yang harus berperan aktif. Dan prosesnya sudah dimulai, jauh sebelum laki-laki dan perempuan bertemu di atas ranjang.

Perubahan anatomi dan fungsi tubuh, dialami laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki, suaranya membesar, kumisnya tumbuh, dan mengalami mimpi basah. Ada hal yang tidak enak dari semua ini? Dari kaca mata saya, sepertinya tidak. Silahkan kalau mau didebat 😀

Sedangkan pada perempuan, mulai dari payudara yang terasa sakit dan menstruasi yang tak hanya bedarah-darah tapi juga sakit luar biasa. Ngga cuman itu, pas melahirkan juga, rasa sakitnya tetap ikut. Belum lagi masih harus melalui masa-masa nifas yang mengeluarkan bergumpal-gumpal darah.

Kalau diliat dari proporsi itu, rasanya lebih banyak bebannya kepada perempuan ketimbang laki-laki. Proporsinya lebih banyak nyamannya untuk laki-laki. Alkitab bilang, rasa sakit perempuan dalam proses berketurunan adalah hukuman atas kemampuan Hawa untuk mempersuasi Adam memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Sedangkan kaum Adam, dihukumnya cuman dengan mengolah tanah dengan susah payah sebagai cara untuk bertahan hidup. Bahasa sederhananya, laki-laki disuruh kerja mencari nafkah dengan titik keringat yang terakhir.

Nah kalau menurut Simone de Beauvoir, apa yang perempuan harus alami dengan segala perubahan hormon dan tubuhnya adalah panggung drama. Hah bagus bener istilahnya. Kenapa? Karena mulai dari menstruasi, menopause, dan pramenopause itu adalah rangkaian fenomenologis yang membuat perempaun kadang ngga mengerti apa yang terjadi dengan emosi serta tubuhnya.

Dan lagi-lagi, saya sulit menemukan apa yang menyenangkan dari rangkaian perjalanan dramaturgis itu. Saya bukan sedang menyangkal keberadaan saya sebagai perempuan, hanya bertanya frontal aja ke Sang Perancang Manusia, ada apa sih dibalik rasa sakit menstruasi? Maksudnya menstruasi akan tetap menjadi menstruasi kan, dengan atau tanpa rasa sakit? Yang penting ada proses luruhnya sel telur matang tak tak dibuahi. Kalau rasa sakit menstruasi itu sekadar mengingatkan perempuan bahwa mereka perempuan, kenapa harus dengan rasa sakit? Memiliki payudara sudah sangat mengingatkan kita, bahwa dalam kelas mamalia ya perempuan atau betina harus punya kelenjar susu untuk menyusui makanya disebut mamalia. Jadi kenapa harus ada rasa sakit menstruasi?

Saya jadi penasaran, ada ngga sih proses transformasi anak laki-laki menjadi laki-laki yang harus dilalui dengan rasa sakit? Kalau ada, apakah itu kadang kala membuat kalian merasa menyebalkan untuk menjadi laki-laki? Ayo dong di-sharing demi rasa penasaran saya, apakah Tuhan sensitif gender? 😀

Advertisements

4 responses »

  1. perubahan suara, tumbuh kumis itu bikin ga enak buat gw heheh. kalau mimpi basah, gw malah bertanya2… eh bener ga ya itu yg disebut mimpi basah? 😀

    • perubahan suara, tumbuh kumis itu bikin ga enak buat gw heheh.

      Hahahahahah….lu kumisan emang kaga cocok…sumpah kaga cocok banget…perasaan suara lu kaga berat-berat amat dah…berarti dulunya cempreng ya…

      Tapi ini pengakuan menarik…pernah ngga ngerasa benci jadi laki-laki karena suaranya berat atau berkumis…*tetep aneh ngebayangin lu berkumis*

      kalau mimpi basah, gw malah bertanya2… eh bener ga ya itu yg disebut mimpi basah? 😀

      Kenapa, cewenya kurang real ya…yang ada cuman ‘jejak’ di kasur 😀

      Btw, ayo aktif nulis lagi…dan kembalilah menjadi edi yang kasep seperti di foto…suit..suit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s