Lompatan Rasa dalam Pikiran

Standard

Weekend ini adalah 2 hari penuh gejolak rasa dalam pikiran saya. Semuanya ada, mau rasa marah, antipati, bahagia, sampai sedih menumpuk jadi satu. Awalnya saya ingin menuliskan satu-satu agar semua emosi tergambarkan dengan jelas. Buat saya, emosi itu penting untuk diekspresikan agar kita bisa melihat variasi pilihan hidup. Tapi setelah saya pikir kembali, terlalu lama menyimpan semua emosi itu nanti akan mengacaukan hari-hari saya. Jadi lebih baik tuntaskan sekarang demi sesuatu yang lebih besar.

  • Rasa Marah.

Ini sudah saya tuliskan pada posting dengan judul Kampret Sejati : Pervert! Ada amarah yang belum terlampiaskan dengan puas sepertinya. Kadang saat saya sedang diselipi dengan rasa dendam yang dalam, saya ingin menguliti ‘benda’ 7 sentimeter itu. Atau saya ingin juga menonjok para pelaku pelecahan seksual. Dorongan menonjok selalu datang mana kala saya merasa disakiti oleh orang lain.

Kepalan tangan adalah sisi maskulin saya yang amat besar dipengaruhi oleh keberadaan dua saudara laki-laki saya. Dulu abang saya ikut karate sebagai salah satu ekstrakulikulernya. Saya minta sama ibu saya untuk diikutkan, tapi katanya karate bukan olahraga perempuan. Dan saya pun merasa sebal menjadi perempuan ketika itu. Namun abang saya memberikan saya alternatif lain. Kadang-kadang, saat ibu tak ada, saya akan diajak latihan di warung yang juga ruang tamu kami ketika itu. Mulai dari menendang sampai menonjok. Latihan diam-diam ini terhenti karena saya pernah tanpa sengaja menendang kemaluan abang saya. Saat itu dia merasa tenaga saya semakin kuat dan rasanya tak elok melihat saudara perempuan satu-satunya menjadi sangat perkasa ketika melakukan aksi tendang dan menonjok.

Ya, saya marah terhadap H. Dan ingin rasanya melihat dirinya kesakitan karena sisi maskulinitas saya keluar dengan tegas. Saya sampai tak sabar untuk berhadapan dengan dia secara langsung. Melakukan apapun demi mempermalukan harga dirinya.

  • Antipati.

Awal bulan ini, saya menemukan sebuah blog yang dengan apik menggabungkan cerita menjadi lajang dan menikah. Saya langsung jatuh cinta dengan blog ini. Idenya menarik dan sangat kreatif. Meski dua status yang berbeda, tapi lajang dan menikah sama-sama memiliki kerepotannya sendiri. Dan saya pun menjadi rutin mengunjunginya. Sampai pada beberapa hari lalu, blog ini menampilkan postingan mengenai perselingkuhan.

Entah karena saya pernah secara sial menjadi bagian cerita berdarah-darah itu atau memang topik ceritanya tak pernah menarik buat saya dari dulu. Perselingkuhan buat saya tetap hal yang mengundang emosi. Dulu saat anggota keluarga saya yang sudah menikah mengalaminya, saya menyakini perceraian adalah keputusan yang harus diambil. Karena dalam pernikahan, buat saya perselingkuhan bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan untuk dipertahankan. Dan kadang saya mikir, mungkin lembaga-lembaga agama sudah mulai harus menganggap perceraian sebagai jalan keluar yang sah untuk dipilih. Apa para pemuka itu pernah membayangkan untuk berbagi ranjang dengan seseorang yang bergelut dengan ranjang yang lain. Saya sih tidak bisa. Itu mengapa, kalau mendengar ibu saya bercerita ada anggota keluarga yang diselingkuhi, saya akan selalu bilang, “Udah cerai. Ngapain menyusahkan hidup dengan berbagi hidup bersama orang yang tidak bisa menjaga komitmen.”

Dan ketika saya mengalami rasa sakitnya secara langsung, walaupun statusnya masih pacaran, tapi tetap saja perselingkuhan (sempat) mencuri kesadaran saya bahwa kepengecutan bukanlah sesuatu yang harus dimaklumi. Saya linglung dan limbung. Bahkan saya menjadi orang yang sangat saya benci, pemurung dan pesimis. Pengkhianatan memang kejam jendral.

Maka saat saya membaca postingan mengenai perselingkuhan di blog yang baru saja saya cintai, ada penolakan atau antipati besar-besaran ketika sang penulis (pelaku perselingkuhan) menyebutkan itu sesuatu yang mereka tidak rencanakan dan semuanya terasa amat sulit untuk ditolak. Pertemuannya mungkin saja tidak direncanakan atau terjadi begitu saja, tapi proses yang dijalani untuk kemudian disebut sebagai sebuah perselingkuhan, menurut saya adalah buah dari pilihan yang disadari.

Tapi entah kenapa, banyak pelaku perselingkuhan datang dengan suara yang sama. Ya itu, suara “Si Cupid tuh yang main panah asal-asalan. I never know it’s coming.” Saya bilang banyak, karena kecuali saya mendengarnya sendiri alasan tersebut dari seseorang yang (dulunya) begitu mencintai saya, saya juga mendengar beberapa teman yang juga pelaku perselingkuhan mengutarakan alasan yang sama. They speak in the same language.

Saya menjadi antipati karena saya melihat apabila orang yang sudah menikah bisa dengan nyaman bercerita mengenai perselingkuhan sebagai sesuatu yang terjadi tanpa batas nalar yang jelas, maka mengertilah. Semakin bisa dibayangkan ekspresi apa yang akan dikeluarkan jika perselingkuhan terjadi pada level pacaran, “Biasa lagi, masih pacaran ini.”

Tiba-tiba saya menjadi antipati terhadap sebutan komitmen atau ikatan. Semuanya menjadi sangat tipis untuk dipertahankan, bahkan pada level pernikahan sekali pun. Saya kemudian terpikir untuk kembali berhubungan tanpa status…

Saya sampai beberapa hari membaca postingan itu. Coba menemukan, di mana sih titik permisifnya. Iya semua orang berubah, termasuk perasaan orang. Tapi itu juga berlaku untuk janji dan sumpah dengan sejuta rayuan yang dulu diucapkan dengan mata yang berbinar-binar….Ah semua pertanyaan itu membuat saya jadi sinis memandang cinta. “T*i kucinglah sama cinta….ujung-ujungnya seberapa mampu lu memuaskan liang dan 2 biji yang menjuntai,” ucap saya kepada sahabat saya, Nida. Dia hanya tertawa-tawa mendengar saya berbicara seperti itu.

Sampai pada akhirnya, salah satu pembaca memberi komen pada postingan itu. Dia bilang, jangan bilang anti poligami kalau masih mencari pembenaran terhadap perselingkuhan. Saya tertawa penuh kebahagiaan ketika membaca itu. Iya, tuh dengerin buat semua pecinta perselingkuhan. Jangan ngerasa menjadi orang modern dengan berpikir poligami itu salah, kalau masih menikmati bermain api di atas ranjang perselingkuhan. Jadi, apakah komentar itu kembali membuat saya berhenti menjadi apatis…..kita lihat saja nanti….

  • Bahagia.

Kadang kala ada pekerjaan mudah yang mendatangkan banyak nominal pada rekening tabungan. Plus, pekerjaan itu adalah bagian dari yang kita sukai. Percayalah hal seperti ini ada, saya baru mengalaminya. Seorang teman menawarkan saya pekerjaan sederhana dengan digit angka yang belum pernah saya bayangkan. Saya bahagia luar biasa. Langsung terbayang ingin saya apakan digit angka itu.

Semuanya terjadi begitu cepat tapi dengan hasil yang menyakinkan, bagaimana mungkin saya tidak merasa bahagia dengan semua itu. Mari lengkapi kebahagiaan ini dengan terus menginjak bumi.

  • Sedih.

Tepat di hari saya mendapat kepastian proyek membahagiakan itu, ibu saya menelepon sambil sesenggukan. “Opung doli meninggal ‘de.” Opung doli adalah kakek dalam bahasa Batak. Beliau sebenarnya bukan kakek kandung saya, tapi dia sudah seperti kakek kandung saya. Buat ibu saya, dia adalah ayah angkatnya. Kakek kandung saya sendiri sudah meninggal saat saya masih SMA atau kuliah, saya lupa persisnya kapan. Dan semenjak itu, kakek angkat saya menjadi tempat yang selalu kami kunjungi ketika natalan atau tahun baru.

Beliau adalah orang yang sederhana dan sangat baik. Sederhana karena dia adalah seorang guru yang sangat dekat dengan murid-muridnya. Dia juga seorang pekerja keras yang kemudian berhasil mengantarkan dirinya dan opung boru (nenek) saya menjadi salah satu pengusaha kue kering tersukses di Jakarta. Meski sudah menjadi pengusaha sukses, beliau tetap mengajar dan kapur papan tulis yang dulu digunakannya sebagai cara untuk membekali masa depan murid-muridnya itu ternyata menjadi salah satu penyebab penyakitnya. Ada kerak di paru-parunya. Kapur dan rokok menjadi benda asing yang melemahkan organ pernapasannya.

Beberapa hari setelah natalan kemarin, kami mengunjunginya. Membawa makanan yang dia sukai. Masih lahap dia memakannya. Masih tersenyum menyambut kami meski sesekali dia harus menghirup oksigen dengan selang tipis di bawah hidung. Dan melihatnya terbaring dengan pakaian rapi dan sepatu mengkilap, saya tiba-tiba lupa bagaimana lemahnya dia ketika kerak paru-paru itu membuatnya kesulitan bernapas.

Saat berdiri di samping petinya dan melihat opung boru saya menangis luar biasa, saya hanya bisa terdiam. Saya coba mengingat apa pesan ketika kunjungan natal kemarin yang ternyata menjadi pertemuan terakhir kami. Tiba-tiba saya menitikkan air mata dan merasa tidak percaya, setelah ini saya tak akan punya kakek lagi. Dan kehilangan kakek 2 kali, bukanlah hal yang menyenangkan.

Walaupun sebenarnya bagi orang Batak, meninggal di usia tua dalam kondisi memiliki cucu adalah sebuah kesempurnaan hidup yang harus dirayakan dengan pesta, tapi tetap saja rasa duka itu tak bisa ditutupi. Beliau meninggal Jumat kemarin, Sabtu malam saya melihatnya terbaring kaku dengan muka yang tenang dalam peti putih, dan Minggu pagi adalah terakhir kali saya bisa merekam wajahnya dalam memori otak saya.

Di hari ini, anak-anaknya mendapatkan ulos sebagai perlambang kebahagiaan sekaligus kesedihan. Di hari ini juga anak-anak beserta cucunya diminta untuk menari sebagai lambang perpisahan yang membahagiakan. Sebab bagi orang Batak, meninggal dengan kondisi semua anak sudah menikah dan memiliki cucu berarti bukan untuk ditangisi. Bahkan kalau meninggal dengan kondisi memiliki cicit, itu artinya harus memotong kerbau sebagai lambang kemakmuran. Iya, kelahiran, pernikahan, dan kematian bagi orang Batak adalah sebuah perayaan.

Tapi di hari ini juga, kami semua tetap menitikkan air mata ketika menyadari salah satu orang baik tak lagi bersama kami mewujud. Mama saya terus saja menitikkan air mata setiap kali berdiri di samping petinya. Ayah angkatnya yang mencari-cari dia beberapa hari setelah Natalan kemarin, kini sudah tidak ada lagi. Ayah angkatnya yang hanya mau makan masakan khas Batak buatannya itu, kini sudah berpulang. Saya hanya bisa memegang tangan mama saya dan memegang pundak adik saya. Ya, kami kehilangan. Pulang dengan tenang ya Opung. Terima kasih untuk semua perhatiannya selama ini untuk kami yang sebenarnya bukanlah anak dan cucu kandungmu.

Ah dua hari yang penuh emosi. Dan semua emosi itu tak bisa saya rasakan penuh, sebab berganti dengan begitu cepat. Kadang pikiran saya terbakar akibat emosi marah yang saya rasakan atau menjadi sangat sinis pada saat saya teringat cerita dari blog tetangga itu. Dan dengan cepat pula saya merasa bahagia mendengar kabar digit angka pada rekening saya nantinya yang kemudian diganti dengan duka mendalam.

Emosi. Barometernya ternyata hanyalah pada pintu realitas mana yang kita masuki, duduk, untuk kemudian pergi dan berganti pada pintu realitas lainnya.

Advertisements

6 responses »

  1. Turut berduka cita sedalamnya ya mbak, semoga Opung mbak Priska dapat beristirahat dengan tenang. 😦

    Emosi. Barometernya ternyata hanyalah pada pintu realitas mana yang kita masuki, duduk, untuk kemudian pergi dan berganti pada pintu realitas lainnya.

    Seconded. I absolutely love this!

  2. What a weekend you were having, Ito. Despite the 25% happiness, it must be tiring to undergo those emotional changes in a very short time. Also, sorry to hear about your Grandpa, may he rest in peace. 😦

    BTW, kalau udah nendang barang 7 cm-nya si pervert itu, boleh dishare di mari. :-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s