Petualangan Pada Dunia Kertas

Standard

Menjelang 2011, saya menengok kembali apa saja yang sudah saya kumpulkan selama 2010. Di saat orang merangkum dengan cantik resolusi mereka, saya justru asik membersihkan debu dari rak buku saya. Sebenarnya saya lagi rajin aja.  Membersihkan debu buku, bukanlah ritual saya setiap kali tahun baru.

Di kamar saya ada 1 lemari buku dengan 3 tingkat dan 2 rak sulapan yang kemudian difungsikan menjadi rak buku. Semuanya berdebu dan belakangan saya kesulitan untuk menemukan waktu yang pas untuk membebaskan buku-buku itu dari debu. Ada rasa bersalah ketika melihat buku-buku itu menjadi kusam karena debu dan jika dibiarkan terlalu lama akan mengundang serangga pemakan kertas.

Ini tentu bisa membuat saya nangis darah, karena buat saya, buku adalah barang yang bisa dibeli tanpa batasan punya uang atau tidak. Saya selalu bilang, membeli buku itu adalah investasi. Bukan karena saya sok intelek, tapi lebih dilatarbelakangi niat saya memiliki perpustakaan pribadi.

Dulu sewaktu kuliah, saya terpesona dengan sebuah perpustakaan umum yang diberi nama Batu Api. Ini perpustakaan yang didirikan 3 orang yang berkuliah di Universitas Padjajaran (Unpad). Ketiga orang ini dengan sukarela mengumpulkan buku-buku yang mereka punya untuk kemudian dipinjamkan kepada mahasiswa atau siapa aja yang mau baca.

Karena waktu itu Unpad yang baru pindah ke Jatinangor,benar-benar kekurangan buku. Pertama, karena perpustakaan pusatnya di Bandung, padahal sebagian besar kampusnya di Jatinangor. Ya selalu ada ‘keajaiban’ di universitas negeri :D. Kedua, Jatinangor ketika itu tidak ada hiburan sama sekali dan akses ke ibukota (baca : Bandung) butuh waktu yang sama dengan lamanya perjalanan Jakarta-Bandung.

Alhasil dibuatlah Batu Api, yang kemudian dikelola oleh Pak Anton. Ada cerita lucu dibalik panggilan Pak Anton ini. Sebenarnya, semua orang panggil dia Bang Anton. Tapi saya dan seorang teman saya adalah anak baru yang sopan, kami memanggilnya Pak. Dan ketika panggilan Pak didengar oleh pengunjung Batu Api yang lainnya, mereka tertawa terbahak-bahak yang kemudian membuat Pak Anton merah merona. Hahahahahaha…tapi ini tidak membuat saya dan teman saya itu berhenti memanggil dia, Pak Anton. Ternyata ngga semua yang sopan bisa diterima dengan legowo ya…hihihi….

Kembali ke perpustakaan. Setiap kali saya stres atau bahagia, perpustakaan Batu Api selalu ada untuk saya. Ruangannya kecil memanjang. Buku-bukunya juga disusun sesuka hati, kategorinya malah lucu-lucu. Misalnya, ‘Jangan baca, nanti jadi Atheis’  isinya adalah buku-buku filsafat. Atau ada juga kategori, ‘Kalo ini, kesukaannya Fidel’ Isinya tentang buku-buku komunisme. Jangan langsung mengaitkannya dengan Fidel Castro. Fidel yang ini adalah salah satu anak Sastra Rusia yang lebih sering keliatan di Batu Api, ketimbang di kampus. Oiya, lokasi Batu Api itu, lumayan jauh dari kampus. Harus naik angkot karena kampus yang berundak membuat kami mencintai angkot (kecuali Nidandelion Pedistrian, tentunya).

Saya selalu suka bau buku lama yang ditawarkan Batu Api. Belum lagi, Pak Anton selalu memutarkan lagu-lagu aneh. Dia pernah memutarkan kaset Jimi Hendrix dan saya bilang, “Ih enak nih Pak…” Dan dengan ringan dia bilang, “Mau…?Nih buat kamu?” Sialnya, sekarang saya lupa itu kaset ada di mana…Setan…

Pak Anton, juga pernah memberikan saya kaset Pink Floyd yang kemudian hanya membuat saya bertahan mendengarnya hanya 5 menitan kayanya. Dan beribu maaf, sekarang saya lupa juga nih kaset ada di mana…*mudah-mudahan Pak Anton ngga baca ini blog ya*

Di Batu Api, saya juga beberapa kali mengikuti diskusi film. Mereka suka melakukan pemutaran film-film festival atau film-film Hollywood yang memang memiliki masa panjang untuk dinikmati. Malah saya ingat, mereka pernah bikin nonton The God Father secara marathon. Tau apa yang terjadi, player-nya sampe meledak….padahal waktu itu belum jaman DVD, malah CD saja baru menggeliat. Dan punya koleksi The God Father dalam bentuk piringan hitam ketika itu adalah bukan hal mudah, jadi saat player-nya meledak ya plat piringan hitamnya ikut bermasalah.

Batu Api-lah yang kemudian membuat saya berpikir untuk memiliki perpustakaan pribadi. Saya ingat betul, pernah siang-siang bolong ke Batu Api. Kebetulan, ketika itu sepi. Saya duduk di lantai yang adem sambil selonjoran dan ditemani musik etnik dari Aborigin. Saya memejamkan mata dan menghirup bau buku-buku lama itu. Aromanya sangat menenangkan. Bau buku lama yang romantis ini, bukan karena debu-debu yang menempel menurut saya. Tapi lebih kepada aroma yang ditimbulkan dari kertas yang kian menua. Dan buku-buku ringkih akibat faktor usia itu bisa awet muda, jika kita menjauhkannya dari debu. Itu mengapa, saya meniatkan diri untuk benar-benar membersihkan buku-buku saya, ketika cuti yang kebetulan jatuh pada menjelang tahun baru 2011.

Saat menyapa buku-buku itu, tiba-tiba saja saya mengirimkan pertanyaan pada diri sendiri. “Setahun ini, gua udah baca berapa banyak buku ya?” Karena dengan rumus tak ada batasan budget untuk membeli buku, saya sadar betul, lebih sering beli ketimbang baca 😦

Saya harus berhenti memperlakukan buku-buku itu seperti barang konsumtif. Kertas-kertas yang menua itu harus dibikin berarti. Caranya, dengan membaginya ke dalam 3 kategori. Pertama, buku yang sudah dibaca. Dalam arti, benar-benar dilumat sampai halaman terakhir. Lalu, kedua adalah buku yang harus dibaca selama 2011 ini. Dan ketiga, adalah buku-buku yang udah berulang-ulang coba dibaca tapi selalu nyangkut di beberapa halaman depan atau tengah.

Ternyata ini benar-benar menyadarkan saya, buku-buku yang saya baca hingga habis lebih sedikit dari yang saya beli atau dihadiahkan orang. Apalagi kalau melihat buku yang perlu usaha untuk membacanya sampai habis. Padahal dulu, saat meminjam di Batu Api, saya pasti membacanya sampai selesai. Maklum, minjamnya bayar, jadi rugi kalau ngga dibaca sampai tuntas. Nah dulu itu, saya janji, kalau saya bisa beli buku dari duit sendiri, saya akan baca sampai selesai…hahahahaha well look who is talking now 😀

Ya, acara membersihkan buku ternyata membawa saya pada kesadaran baru. Malah bisa dibilang memberikan cara baru untuk membuat resolusi. Saya pandangi lagi buku-buku yang berhasil saya baca sampai selesai.

Ini dia bukunya. Kalau liat dari jumlah, masa cuman sebulan 1...*menepok jidat*

Iya, jumlahnya sangat sedikit. Tapi petualangan yang diberikan luar biasa. Mulai dari teori-teori feminisme, Oka Rusmini yang menurut saya makin galak, Tuesday With Morrie yang bikin mikir panjang soal hidup dan harapan, Nietzche yang tiba-tiba jadi mudah untuk dipahami setelah dijelaskan oleh ST. Sunardi, Saudagar buku yang liberal tapi sama keluarganya sangat Islam fanatik, Kisah pencarian jati diri dan cinta yang sangat Hollywood, Jostien Gaarder yang makin ringan setelah Dunia Sophie, Sang Coelho yang selalu menghembuskan energi positif dalam pencarian cara menikmati hidup, sampai 4 perempuan Riyadh yang berjuang mendefinisikan kebebasan, kepatuhan, agama, dan materi.

Wah saya senang sekali bagaimana kertas-kertas ini bisa mengombang-ambingkan saya dari satu jaring ke jaring yang lain. Rasanya kaya bikin jaring laba-laba sendiri. Jaring laba-laba itu memiliki siku-siku yang tajam dan rapuh, tapi rangkaiannya tidak pernah putus untuk melindungi laba-laba. Malah tidak jarang mengundang ‘calon makanan’ untuk ikut terpikat pada kenyamanan labirin. Dan calon makanan itu, membawa saya pada tumpukan buku-buku yang harus saya selesaikan sepanjang 2011 ini.

Entah karena saya merasa malu melihat tumpukan buku yang berhasil dibaca sangat sedikit, atau memang saya membeli terlalu banyak buku. Tapi ada beberapa yang memang saya dapat sebagai hadiah.

Sengaja dibikin melingkar kaya tangga. Berharap benar-benar berhasil menapaki bukunya satu-satu

Tumpukan ini lebih gila lagi menawarkan perjalanan waktu kepada saya. Mulai dari ajakan mempersatukan Tuhan dengan diri ala Rumi, Salman Rusdie yang membuat saya dan Edi penasaran, sebenarnya apa sih yang bikin cerita dia kontroversial. Iya, memang ini bukan Satanic Verses, tapi untuk perkenalan pertama…ya ndak papalah…toh ini juga hadiah ulang tahun.

Dan sebuah buku dari Pram, dengan judul yang sangat sederhana tapi penuh godaan. Panggil Aku Kartini Saja. Iya buku lama, tapi Pram tidak akan uzur dimakan usia. Bahkan dimakan kematian, Pram akan tetap jadi Pram…

Ada juga beberapa buku feminisme, seperti salah satu edisi khusus Jurnal Perempuan dan Simone de Beauvoir. Khusus untuk de Beauvoir, ini juga buku pemberian. Udah lama saya dapat buku ini tapi…ya baca sekarang ajalah. Dan ada juga buku yang bisa membantu saya dalam berbahasa inggris…hahahahaha…

Saya juga memasukkan buku dari penulis kesukaan saya. Satu, novelnya Ayu Utami yang katanya bercerita tentang pendaki tebing. Dan yang kedua adalah buku biografi Paulo Coelho. Saya, hampir selalu membeli buku-bukunya Ayu Utami. Dan saya selalu membeli bukunya Paulo Coelho. Jadi keduanya dipilih berdasarkan fanatisme lah.

Saat ini, saya membaca 2 buku sekaligus. Abad Kejiawaan dan Syekh Siti Jenar. Dua buku ini berhasil  bikin saya senyum-senyum dan mengimani kesadaran Buddha atau manunggaling kawulo gusti adalah cara menyadari Tuhan dengan cara menyenangkan. Yaitu, dengan memutus jarak antara Dia dan kita.

Tapi ada juga buku yang belum saya temukan jawabannya, kenapa saya membeli buku ini ya. Itu adalah buku Batas Nalar yang dari judulnya aja udah bikin pusing. Lalu buku kedua adalah Isme-Isme yang Mengguncang Dunia. Yang saya ingat, kedua buku ini memberikan reaksi yang sama ketika saya melintasinya saat di toko buku. “Hah…ini buku apaan sih…” dan kemudian diikuti dengan membaca ringkasannya disampul belakang buku…”Oooo..ya coba deh dibaca…kayanya lucu.”

Saya harus berkomitmen, karena sepertinya daftar buku-buku ini lebih seru dari buku yang berhasil saya baca sampai tuntas. Trus saya jadi sok-sok berkontemplasi, apa jadinya saya kalau berhasil membaca semua buku ini ya? Jawabannya, ngga tahu. Karena siapa yang bisa meramal apa yang terjadi besok. Bahkan, 1 menit dari sekarang aja, kita tidak tahu apakah malam masih berlanjut atau tidak.

Tapi saya tidak pernah takut berpetualang. Sama seperti saya tidak pernah menganggap satu hari yang saya lalui sebagai kesia-siaan. Renungan saya makin dalam, efek tahun baru kayanya.

Buat saya 2010 adalah luar biasa. Banyak air mata, tapi itu masih kalah banyak dengan derai tawa yang saya nikmati. Petualangan saya di 2010, benar-benar sempurna. Mulai dari memasuki pekatnya belantara patah hati, sampai kemudian berhasil menerabas segala ketakutan yang mengantarkan pada momen kembali jatuh cinta pada kehidupan.

Salah satu mimpi besar saya, berhasil saya rampungkan di 2010. Dan banyak mimpi-mimpi besar yang lama atau baru yang minta direalisasikan di tahun ini. Hebatnya lagi, dalam petualangan itu, saya didampingi oleh orang-orang luar biasa. Mereka adalah energi yang tidak pernah pergi dari saya, karena mereka memilih untuk mengiringi keberanian saya untuk menikmati hidup.

Dan pada titik tertentu, kadang kita perlu memasuki tahap yang sama untuk menyempurnakan keberhasilan atau merubah kegagalan menjadi sebuah kesempurnaan. Untuk kasus yang ini, saya mengibaratkannya dengan buku-buku kelompok 3, yaitu buku yang sudah berulang-ulang dibaca tapi belum sukses sampai halaman akhir.

Inilah judul-judul yang membuat saya berputar-putar pada beberapa halaman saja 😀

Ada buku yang sudah saya punya dari kuliah. Sejarah Tuhan dan Dunia yang Dilipat. Dua-duanya butuh kehampaan otak ketika membaca…hahahahaha.

Ada satu buku yang  belum sukses dibaca tapi cukup mencolok perhatian karena berhubungan dengan pekerjaan. Rata-rata wartawan kesehatan yang saya kenal membaca buku The Miracle of Enzym, dan saya pun melatahkan diri.

Dan ada beberapa buku yang membaca judul serta nama penulisnya saja, sudah berhasil membuat saya euforia…Budi Darma-Rafillus, karena saya pernah diminta mengulas soal Budi Darma. Dan saya tahu, buku Rafillus menceritakan tokoh utama yang mati berkali-kali…Itu emang cirinya Budi Darma, melawan realitas dari kata-kata. Ya, Rafillus bikin saya orgasme dengan jalan ceritanya yang mati berkali-kali.

Orgasme yang sama juga terjadi pada buku Albert Camus-Mite Sisifus Pergulatan Akan Absurditas. Saya ingat betul membeli buku ini di jembatan penyerbangan Semanggi, usai melihat pengumuman seleksi Bank Mandiri yang tidak berhasil. Saat itu saya butuh pengalihan kesedihan dan beberapa hari sebelumnya, memang tiba-tiba teringat buku ini. Maka ketika saya melihat pedagang buku kaki lima itu menggeletakkan buku hitam ini seperti tak bernyawa. Saya langsung menyelamatkannya, tanpa aksi tawar menawar, dalam hitungan detik, buku ini sudah ada digenggaman saya.

Begitulah saya, jika sudah mau sesuatu atau penasaran akan sesuatu, maka itu artinya, harus dipenuhi. Tahu reaksi saya apa ketika usai bertransaksi dengan penjual buku? Saya teriak kegirangan, semua orang memandang saya. Persetan dengan orang-orang itu, mereka toh punya absurditasnya masing-masing.

Lalu ada satu buku yang saya beli di Berlin. Jadi saya sejak bercita-cita punya perpustakaan pribadi, memberikan perintah pada otak. Jika mengunjungi satu tempat atau daerah, belilah satu buku sebagai cendera mata! Dan itu yang saya lakukan ketika saya sekitar 3 tahun kemarin diberi kesempatan ke Jerman. Untuk alasan tertentu ketika itu, saya memilih Milan Kundera-Immortality. Saya membacanya di kereta cepat Jerman yang nyamannya kaya surga tapi yang terjadi kemudian, saya malah tertidur pulas. Entah karena keretanya yang bikin ngantuk atau kata-kata Kundera bak lagu Nina Bobo 😀

Dan buku berwarna merah yang polos di sebelah Kundera itu, saya temukan tidak sengaja di salah satu toko buku bekas di Pasar Festival. Ini benar-benar keberuntungan. Karena sepertinya, seseorang sengaja meletakkanya di tempat yang sulit terlihat. Mungkin orang itu tidak punya uang untuk beli dan berjanji untuk membawanya pulang saat keadaan lebih baik. Tapi buku itu bertemu saya dan sebagai pencinta Satre, melihat buku merah bertulis The Age of Reason, ya jangan pikir panjang….selamatkan buku itu sekarang juga 😀 Sabar ya Satre, nanti kita bercinta lagi. Maklum, ada 2 buku Satre pada kategori ini. Jadi saya harus memenuhi janji saya pada Satre.

Tak hanya pada Satre saya berhutang, tapi juga pada Sindhunata. Pemimpin Redaksi Majalah Basis yang pernah saya wawancarai untuk skripsi saya ini memang selalu memesona saya. Dulu saya ingat sekali betapa Majalah Basis membuat saya tidak terlalu mendapat pertanyaan menyeramkan ketika sidang skripsi. Maklum, jarang yang milih majalah ini sebagai bahan skripsi di jurusan saya. Plus tema yang saya pilih juga rada-rada aneh.

Karena ketika itu saya sedang tergila-gila dengan konsep agama, tuhan, dan mikir berat (baca : filsafat), saya ingin memasukkan ketiganya pada skripsi. Saya bosan dengan analisa majalah atau koran yang sangat berbau jurnalistik yang sudah barang tentu dilakukan hampir oleh seluruh mahasiswa jurusan saya. Dengan deg-degan dan pasrah, saya pun mengajukan analisa wacana RUU Kerukunan Umat Beragama pada Tanda-Tanda Zaman pada majalah Basis. Tanda-Tanda Zaman adalah tajuk rencana dari majalah ini.

Dan sebagai pimred, saya harus mewawancarai Sindhunata. Saya deg-degan setengah mati ketika harus berhadapan dengan beliau. Karena saya memang selalu terpesona membaca tulisan-tulisan  Romo yang juga suka menulis ulasan pertandingan sepakbola dengan analogi filsafat. Saya sempat blank ketika mewawancarainya, tapi namanya Romo, ya dia baik saja menerima kegugupan saya. Sampai sekarang, saya masih berharap untuk bisa bekerja di Majalah Basis 😀

Buku Putri Cina yang ditulis Sindhunata, banyak mengambil latar belakang pewayangan. Ini memang ciri novelnya Sindhunata. Dan butuh tarik napas dalam-dalam untuk membacanya karena kita kaya masuk ke labirin yang dalam dan tak putus-putus.

Lalu saya tersadar, dari kategori ini, ada satu buku yang saya tak temukan penjelasan mengapa belum sukses membacanya hingga abis. Leo Tolstoi-Kebangkitan. Sepertinya saya membelinya bersamaan dengan buku Sindhunata. Dan saya pun tergerak untuk memindahkannya ke kategori kedua, buku yang harus dibaca tahun ini. Well…apa saja bisa terjadi kan? Kita ngga pernah tahu apa yang merintangi atau memudahkan kita di depan.

Berhubung judulnya memberikan aura positif, sepertinya saya akan memilih untuk memasukkannya pada kategori kedua. Dan setiap pilihan menyertakan risiko, tapi apa jadinya hidup kalau kita selalu takut menghadapi risiko. Karena keberuntungan dan risiko itu adik-kakak. Serupa tapi tak sama.

Ah hidup cuman sekali. Kalau memang bertemu dengan kegagalan dari pilihan yang kita ambil, ya bertekunlah untuk melihat di mana letak kesalahannya. Karena ketekunan mempertemukan kita pada harapan yang membuat kita diberi label orang yang tahan uji. Baru setelah itu, kita tahu bagaimana rasanya kebangkitan seperti yang ditulis Tolstoi besar-besar.

Petualangan pada dunia kertas memang bisa memindahkan kita dari berbagai perasaan dan keadaan. Dan waktu yang diperlukan untuk membuka lembar demi lembar, bisa jadi membuat kita menguning karena keletihan. Tapi petualangan akan selalu memberikan adrenalin untuk memicu kegairahan, bahkan tak jarang orgasme dari keberanian untuk menelanjangi hidup tanpa malu.

Di 2011, saya akan melakukan itu. Berpetualang dan menelanjangi hidup dengan utuh. Tidak takut untuk bergabung kan? Dijamin proses menelanjangi dan bercinta yang satu ini tak akan menimbulkan penyakit menular seksual, hanya rasa orgasme yang berkelanjutan….hahahaahaha…Selamat tahun baru ya…

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s