Renungan Natal : Ego Cinta Saya untuk Tuhan

Standard

Beberapa hari ini ada 3 hal yang selalu saya lakukan. Membaca buku, menulis, dan menonton pertunjukan musik. Hampir ketiganya sudah saya tulis di blog ini. Tapi kali ini saya ingin menggandengkan ketiganya dengan kebakitan malam natal. Semua saya kawinkan demi satu warna yaitu ego saya sebagai individu utuh.

Jadi begini jalan ceritanya (biasanya kalau diawali dengan kata-kata seperti itu, artinya kita akan menjalani satu cerita yang panjang, jadi siap-siap ya 😀 ) ada 2 buku yang saya coba grogoti kertasnya yaitu Abad Kejiwaan dan Syekh Siti Jenar Pergumulan Islam-Jawa. Dua-duanya belum sempurna saya selesaikan tapi temanya sama, yaitu membahas mengenai jatuh cinta kepada Tuhan melalui ego.

Abad Kejiwaan itu adalah kumpulan ceramah Senosoenoto. Beliau adalah orang yang membawa ajaran Buddha Niciren Syosyu di Indonesia (NSI). Buddha ini beda dengan yang ada di Indonesia, kiblatnya lebih ke Buddha Jepang. Tapi lebih spesifik lagi, Buddha yang satu ini tidak percaya sinkritisme. Buddha NSI percaya kalau semua orang bisa sampai pada tingkat kesadaran Buddha, syaratnya adalah mengisi hidup dengan passion. Kenapa passion? Karena passion itu modal kita untuk mengeluarkan karma-karma baik.

Saya terpesona dengan ajaran mereka yang menyebutkan semua orang bisa sampai pada tingkat kesadaran Buddha. Ini kemudian bertalian dengan ajaran Syekh Siti Jennar yang kontroversial, apalagi kalau bukan manunggaling kawulo gusti. Saya adalah Tuhan dan Tuhan ada di dalam diri saya. Hah…saya suka dengan pernyataan ini. Lebih dasyat lagi, Syekh Siti Jenar yang jadi musuh bubuyatan Sembilan Wali ini bilang, orang yang sudah sampai pada taraf penyatuan dengan Tuhan, tidak lagi terbebani hukum dan bebas hukum. Dan menurut Syekh Siti Jenar, SETIAP ORANG MAMPU MENCAPAI TARAF ITU JIKA MAU. Lengkap dengan kata-kata, jika mau…dasyat menurut saya. Apakah kesadaran itu juga yang membuat Nietzche berani membunuh Tuhan, nanti itu kita bahas lagi ya…Majalah Basis saya masih lengkap kok ;D

Dua buku ini berbicara mengenai ego manusia untuk mengusai Tuhan. Kenapa ego, karena kalau kita bicara mengenai kesadaran, awalannya harus individual dan sangat subjektif. Itu kenapa kesadaran individual menjadi hal yang menyeramkan bagi agama-agama besar. Agama-agama besar merasa bagaimana pun butuh kesamaan kesadaran kelompok agar mudah diarahkan, sehingga fungsi agama untuk membuat sistem sosial tidak kacau bisa berhasil. Sedangkan agama-agama baru kesadaran individual itu penting, tujuannya untuk menyakinkan calon pengikut bahwa pemikiran atau individualitas mereka penting dan utama dalam pengenalan Tuhan. Ada misi memberi kepercayaan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan pada dasarnya adalah dekat.

Ego adalah awal dari daya tarik yang digunakan untuk menggumpulkan massa mengakui satu zat yang maha besar. Itu menurut saya. Baru setelah orang-orangnya terkumpul, adalah kebutuhan untuk membuat ego komunitas agar dengan demikian rasa saling memiliki dan kebersamaan muncul. Dari sinilah segala dogma berkembang menjadi aturan yang komunal.

Saya pribadi sih lebih orgasme mendengar ego Syekh Siti Jenar yang bilang setiap orang mampu menyatu dengan Tuhan. Dan sangat berenergi ketika mendengar bahwa setiap orang bisa sampai pada tingkat kesadaran Buddha. Hey bahwa keagungan dan kebersamaan Tuhan itu harus diawali dengan ekspresi diri terhadap realitas alias ego.Tapi jangan langsung mengawinkan pernyataan itu dengan mengagungkan Tuhan dengan egois ya, karena maknanya jadi beda. Sebab psikologi menyebut egois sebagai sifat seseorang melihat dan mementingkan dirinya secara berlebihan daripada realitas dihadapannya.

Itu kenapa Buddha NSI dan Syekh Siti Jenar memberikan ancar-ancar dengan menyebut karma baik dan tasawuf sebagai kondisi dari terbentuknya ego sebagai kesadaran utuh mengartikan Tuhan. Dan ini adalah ego pertama yang saya temukan dari membaca, menulis, dan menonton pertunjukan musik.

Ego kedua adalah produktivitas saya menulis belakangan muncul karena saya ingin menyuarakan segala ego saya. Mulai dari pengamatan, analisa, sampai sekadar curhat. Dan ketika tulisan-tulisan itu dipublish, saya berharap mereka membaca sambil melihat refleksi ego saya di dalamnya. Walaupun sebenarnya, pembaca punya privilege utuh untuk mengartikan dan bereaksi terhadap apa yang saya tulis. Iya, saya harus memberikan ruang ego itu kepada semua yang baca. Maka inilah ego yang kedua ;D

Lalu apa yang terjadi dengan menonton pertunjukkan musik? Oke mungkin terlihat absurd untuk bilang penyanyi itu melakukan semua performance-nya untuk memenuhi ego kita. Toh semuanya sudah dia setting, mulai dari lagu-lagu yang dibawakan, interaksi dengan penonton, plus bangku yang disusun pun sudah direncanakan. Sulit untuk melihat ego kita tidak diarahkan agar menikmati itu semua. Tapi sebenarnya, sebagus atau seburuk apapun tampilan penyanyi, kita yang berhak menilai apa yang mereka lakukan. Tiket atau undangan untuk menyaksikan secara gratis atau berbayar adalah apresiasi terhadap ego kita. Panitia pertunjukkan musik meminta kita untuk mengekpresikan keberadaan mereka. Dan ego juga berbicara mengenai menyalurkan kebutuhan individual manusia terhadap objek di luar dirinya sebagai wujud ekspresi dari keberadaanya.

Jadi kalau pertunjukkannya memuaskan kebutuhan individual saya, maka ego saya terpuaskan. Dan hampir dapat dipastikan, kita memilih menjadi saksi dari sebuah pertunjukkan musik untuk memuaskan ego. Maka inilah ego yang ketiga.

Lalu bagaimana semua ego itu berkumpul dalam renungan Natal?

Tadi saat saya menghadiri kebaktian Natal, saya berbisik kepada Tuhan. Oke, hari ini adalah hari ulang tahun-Mu. Jadi aku datang untuk mengekspresikan keberadaanMu dalam hidup saya. Hanya saja saya tidak ingin selalu mengikuti aturan yang berlaku, karena saya percaya, cinta yang saya punya cukup besar untuk menjadi ego penyatuan diri kepada Tuhan. Kesadaran saya sebagai individu lebih memudahkan saya untuk menyatu dalam Kemahaan Tuhan.

Pada bagian-bagian tertentu, saya memilih tidak bernyanyi. Bukan karena saya malas. Saya ingin merasakan, kira-kira bagaimana ketika Tuhan mendengar satu gereja bernyanyi penuh semangat dan penghayatan untuk Dia. Dengan alat musik yang lengkap, bahkan disertai dengan beberapa alat musik daerah, beberapa lagu menjadi sangat hidup. Bahkan ketika menyanyikan lagu Malam Kudus (dalam bahasa Batak), saya merinding mendengarnya. Ini baru kali pertama saya merinding mendengar lagu Malam Kudus.

Gereja yang penuh orang itu, memiliki tarikan nafas yang sama tapi dengan variasi suara yang berberda ketika melantunkan lirik-lirik. Trus saya menengok ke kiri dan ke kanan, mereka tersenyum bernyanyi, karena kata-kata dalam lagu itu sangat indah. Bercerita mengenai kasih. Bercerita mengenai penebusan dosa. Pantas saja mereka tersenyum ketika melantunkannya.

Dan sesaat setelah lagu Malam Kudus, lagu berikutnya adalah tentang betapa kabar gembira ini harus dibagikan. Saya tidak hafal judulnya dalam bahasa Indonesia, karena bisa jadi banyak versi. Kali ini saya memilih untuk bernyanyi. Saya ingin mengekspresikan ego cinta saya kepada “Yang Sedang Berulang Tahun.”

Ego itu masih berlanjut ketika kita diberi kesempatan untuk berdoa meminta sesuatu, maka waktunya untuk meminta apa saja. Di saat-saat seperti ini, biasanya butuh tingkat kekhusyukan yang tinggi. Mungkin ini yang dimaksud Syekh Siti Jenar, tasawuf. Karena kita harus benar-benar tahu apa yang kita mau. Bukan sekadar bilang ini dan setelah buka mata baru menyadari bahwa ada keinginan lain yang lebih butuh rayuan (baca: doa).

Iya saya percaya, kita bisa minta apa saja kepada Pemilik Kehidupan. Tapi kita pasti pernah dengar bahwa ada 3 cara Tuhan menjawab doa kita. Pertama, segera. Kedua, mengulur waktu. Ketiga, tidak akan diberikan. Nah rumus logika membuat kita harus mengerti mana yang akan memenuhi cara pertama, kedua, atau ketiga. Yang ketika kenapa tetap didoain? Hey setiap usaha itu ada harganya yang penting dicoba dulu, perkara diterima atau tidak, biar ego Tuhan yang tentukan 😀

Jadi di malam natal ini, saya ingin menunjukkan ego cinta saya untuk Tuhan. Biar ego cinta ini menjadi salah satu jalan saya untuk membagikan karma baik kepada setiap orang. Plus ego cinta ini juga yang nantinya akan membuat saya mengerti apa yang dikatakan Syekh Siti Jenar, jika mau, kita bisa menyatu dengan Tuhan!  Tiba-tiba saya teringat kutipan Nietzche yang belakangan terekam beberapa kali di Facebook saya. Begini kata ‘Tuhan Eksistensialis” itu, “Membuat orang gelisah, itulah tugas saya!” Hahahahaha….sepertinya saya juga demikian Mas Nietzche….kita punya tabiat yang sama ya…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s