Menghargai Diri

Standard

Senin (1/11) kemarin, saya dan Nida AKHIRNYA menonton Eat, Pray, Love. Penekanan pada kata,AKHIRNYA, karena sudah beberapa kali batal. Sebenarnya ada satu kali, kita bisa saja menonton film itu, tapi yang terjadi malah duduk di depan pintu theather-nya sambil makan semangkuk besar popcorn rasa manis dan asin. Hahahahaha itu pengalaman pertama, tapi sangat menyenangkan. Diliatin mba-mba penjaga tiket dan satpam, karena setelah semua yang menunggu masuk ke theather masing-masing, kami hanya duduk sambil makan popcorn sambil tertawa girang. Konyol? Ngga juga, kami justru sangat menikmatinya.

Tapi sebenarnya, bukan itu yang hendak dibahas pada tulisan kali ini. Jadi, salah satu adegan film itu ada kutipan yang bagus sekali. Tuhan ada di dalam dirimu, sebagaimana adanya dirimu. Muhammad Iqbal pernah mengatakan hal yang sejenis,”Dia yang mengenal dirinya adalah yang mengenal Tuhannya.” Bahkan yang tidak kalah hebat adalah Syekh Sitti Jenar yang berucap,”Tuhan adalah kita dan kita adalah Dia.” Bayangin apa yang ada di kepala mereka saat itu, sampai bisa mengeluarkan kata-kata penuh daya magis. Saya bahkan masih suka merinding ketika mendengarnya.

Dan saya mengimani hal yang sama. Kalau Alkitab bilang (jangan tanya ayat ya,saya selalu lemah dalam hal ini), Tubuhmu adalah bait suci Tuhan. Kalau bahasa premannya, tubuh kita adalah tempat tinggal Sang Pemilik Hidup. Inilah pesan yang dibuat untuk menggoda manusia agar yakin bahwa sebenarnya Tuhan itu ngga jauh-jauh amat kok.

Tapi buat saya itu benar. Entah karena dari kecil guru sekolah minggu saya selalu bilang, “Tuhan itu ada di dalam hati kita,jadi jangan takut ke mana pun kita pergi, Dia ada.” Saya bahkan ingat betul kalau lagi takut yang saya lakukan adalah meletakkan tangan saya tepat di dada saya, sambil bilang,”Tuhan,tolong saya ya. Temenin saya terus, biar saya berani.” Tangan di dada itu ibarat mengajak Tuhan bergandengan tangan.

Setelah saya besar ada pendalaman makna dari ucapan kakak sekolah minggu saya itu. Karena Tuhan tinggal dalam hati, maka jangan pernah asing dengan kata hati. Ketika kita mengenal kata hati kita, maka kita mengenali apa yang dikatakan Dia yang tinggal di dalam hati.

Ternyata omongan kakak sekolah minggu saya soal Tuhan tinggal di dalam hati, tidak hanya membuat saya punya kedekatan dengan kata hati saja. Sebab saya jadi mengerti bagaimana menghargai diri saya. Ketika Tuhan yang Maha Hebat itu mau tinggal dalam hati saya, masa saya merendahkan diri saya sendiri. Ada sesuatu yang Tuhan liat yang membuat Dia mau tinggal sebagai kata hati saya.

Ini membuat saya jadi percaya diri. Tidak hanya itu, Saya jadi sangat tulus menjalani apapun. Karena menurut saya, tiap hari saya ditemenin Tuhan, lalu kenapa saya harus takut, toh semua yang terjadi pasti hal yang paling sempurna yang akan saya alami. Tak perlulah itu bertipu muslihat. Wong saya didampingi Tuhan kok.

Efek bola saljunya ngga berhenti sampai sana. Saya jadi sangat menghargai setiap apa yang saya kerjakan. Saya ngga mau mengisi setiap langkah kaki saya dengan pesimisme atau ketakutan. Caranya, buat semua yang saya lakukan berarti.

Kalau diliat sekilas, kok kayanya saya suci banget ya hahahaha. Atau klise bangetlah semuanya. Nggalah, saya pernah juga mengabaikan kata hati atau bahkan berantem sama kata hati. Tapi lagi-lagi ini proses dan saya yang memilih bagaimana menjalani proses tersebut, jadi ya saya bertanggung jawab atas pengabaian dan perkelahian dengan kata hati. Bertanggung jawab maksudnya menerima segala risiko yang ada dari semua pilihan yang diambil. Kalau gagal ya saya ajak kata hati untuk sama-sama belajar agar tidak mengulangi kegagalan yang sama. Sedangkan kalau berhasil, saya cepat-cepat menyelamati kata hati atas kesuksesan yang kita raih.

Dan bicara soal kata hati, hampir 3 bulan ini saya dan kata hati mengalami banyak hal. LUAR BIASA. Penuh air mata, kekecewaan, keterpurukan, sakit hati, keyakinan, keberserahan, sampai kebahagiaan. Meski 3 bulan, inti masalahnya cuman 1 yaitu masalah hati πŸ˜€

Saya sih tidak pernah menyesal jatuh hati untuk kemudian mengalami patah hati dengan cerita dan intrik yang melebihi sinetron atau opera sabun yang ada di televisi. Mulai dari kehilangan keyakinan terhadap hubungan yang sudah siap disempurnakan, pengalihan pelaku perselingkuhan, sampai perlindungan perselingkuhan. Hahahaha baru sadar ternyata intinya tentang perselingkuhan.

Anyway, saya banyak dihadapkan dengan keping-keping puzzle selama 3 bulan ini. Saya dibuat percaya bahwa kepingan puzzle yang saya punya adalah yang sesungguhnya terjadi. Tapi (untung) saya orangnya penasaran, sehingga merasa tidak cukup puas kalau kepingan puzzle itu belum benar-benar utuh terbentuk. Mungkin ini efek kerjaan saya sebagai kuli tinta. Saya mencari dan terus mencari. Dan hebatnya, kepingan puzzle yang ‘hilang’ itu datang dengan sendirinya. Boleh dibilang usaha saya adalah keterbukaan saya pada realitas.
Saya bicara pada realitas dengan tutur kata hati, alhasil banyak sekali yang membantu saya. Mulai dari orang-orang yang tidak saya kenal, nyaris kenal, sangat kenal, sampai belajar untuk kenal.

Jika dulu saya bertanya, “Gimana mungkin sih, baru nyadar sekarang kalau kita tidak memiliki kesamaan dalam ritualisasi bertuhan. Pas kenalan kemana aja?” Lalu kemudian pertanyaan berganti, seiring dengan kepingan puzzle baru ditemukan. “Demi perasaan impulsif karena merasa nyaman berbicara mengenai satu pengarang, semua cerita dan mimpi yang dibangun selama ini cuman dianggap titik imajiner yang tak akan pernah bersambung. Kok bisa ya?” Tapi saya beruntung, kepingan puzzle yang diberikan kepada saya sebagai wujud (katanya) penyesalan, akhirnya menjadi energi yang justru mendukung saya.

Sampai kemudian datang kepingan terbesar dari semua ini. Kepingan yang paling jujur dan sebenarnya sangat letih membebani diri membawa kemana-mana kepingan besar itu, demi sebuah…ah entah namanya apa. Biar mereka yang mendefinisikannya, saya tidak peduli.

Dan gambarnya terbuka lebar. Bahkan cukup dengan mengandalkan teknologi yang paling sederhana, disajikan gambar yang utuh. Gambar yang tidak butuh kepingan-kepingan puzzle yang lain. Semuanya terbaca jelas. Walaupun sempat ditutup rapat, entah mengapa kejujuran berpihak pada saya, semuanya terbaca dengan jelas. Sangat teramat jelas.

Saat saya membaca, saya menemukan saya yang dulu. Nyaris sama. Rasa yang diciptakan. Panggilan yang diberikan. Kehangatan yang coba ditawarkan. Tapi nyaris sama, mengapa? Yang saya baca penuh ketertutupan. Serba rahasia. Serba menyudut. Dan serba menunjuk pada orang lain. Apa cerita ini memang dibuat atas dasar kesadaran untuk menjadi salah. Saya tidak menemukan kata hati di dalam sana. Tidak ada ketulusan karena yang ada hanya tipu muslihat.

Dan dengan yakin, kata hati saya mengatakan, “Kita, bukan korban.” Ya ketulusan dan kejujuran saya mengatakan demikian. Yang saya lakukan kemudian adalah menganggukkan kepala dengan sangat tegas. Tiba-tiba saya teringat kata-kata seorang teman yang juga pernah dikhianati,”Yang gua tahu, yang salah tak akan pernah bahagia karena kebahagiaan tidak menyertakan kebahagiaan.”

Saya merasa sangat luar biasa lega. Tiba-tiba saya merasa karakter saya semakin matang dan kuat. Saya tidak gagal, saya justru berhasil, LUAR BIASA BERHASIL untuk menunjukkan ketulusan dan kejujuran akan selalu memenangkan pergumulan. Selicik dan sekotor apapun pergumulan itu.

Bagaimana mungkin kebahagiaan itu datang menghampiri, jika mereka mengorbankan orang asing demi kesenangan bertipu muslihat. Bahkan mereka mengorbankan orang terdekat dengan iming-iming julukan teman terbaik, demi penghianatan. Lalu saya bertanya, apa yang mereka lakukan dengan kata hati mereka? Terasingkah dia atau terlukakah dia karena dicampakkan begitu saja dari keutuhan dirinya?

Saya tidak akan menyesal menjalani semua ini. Rasa yang dulu saya punya pun tidak akan pernah saya sesali. Itu mengapa, saya tidak menutup blog ini atau coba memproteksinya, bahkan saya tidak berpikir untuk menganti nama blog ini. Karena ini adalah identitas saya dan saya tidak malu akan hal itu. Ini adalah suara hati saya dan saya tidak akan pernah mengasingkan kata hati saya. Semua yang saya catat di sini adalah ketulusan saya menghargai hidup yang sudah diberikan dengan dampingan Pemilik Kata Hati. Jadi, saya tak perlu merasa harus mengalienasikan blog ini. Karena buat saya, cerita dan pemikiran yang ada di dalamnya bukan unidentified flying object yang hanya jadi buah bibir ketika tertangkap mata telanjang yang perlu perdebatan panjang untuk menemukan sisi benarnya.

Dengan segala kerendahan hati, saya sangat bangga karena punya keberanian untuk menghadapi ini semua. Dan saya sangat menghargai setiap orang yang sekadar mampir, singgah, atau memilih menetap dalam hidup saya sambil menyemangati saya. Buat saya, mereka adalah orang-orang penting. Karena saya peduli, maka saya mengajak berbicara dari hati ke hati. Saya mengulurkan tangan karena saya sangat mengasihi. Dan apabila saya berbicara sambil menempatkan tangan di dada, itu tanda saya tengah mendoakan orang-orang tersebut. Iya saya metal, bahkan cenderung radikal plus nekad, tapi saya sangat percaya kuasa doa.

Karena doa, membuat saya punya kekuatan untuk menghadapi semua ini. Dan sumber dari kekuatan saya sangat banyak, teman-teman saya yang luar biasa. Akan selalu beruntung punya banyak teman karena sebenarnya mereka adalah salah satu hadiah dari Tuhan, setelah keluarga. Bahkan kadang kala tanpa kita sadari, orang yang tidak pernah kita duga menjadi teman ternyata adalah salah satu special gift dari Tuhan. Dan saya lebih dari sekadar beruntung untuk memiliki kalian semua.

Dengan segala kerendahan hati, saya sangat ingin berterima kasih untuk semangat, masukan, sentuhan, pelukan, dan doa yang kalian kirim buat saya. Ingin saya menyebutkan satu-satu tapi ada beberapa pihak yang ingin dirahasiakan. Biarlah ini menjadi special gift terindah saya menjelang ulang tahun saya. Tapi percayalah, saya melafalkan nama-nama kalian semua dengan jelas dalam doa saya. Dan saya percaya, SAHABAT HIDUP yang saya punya tidak punya keterbatasan dalam daya ingat, jadi Dia sudah memasukkan teman-teman semua dalam daftar penting arsiran hidup saya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengirimkan pelukan besar dan ketulusan cinta yang saya punya untuk kalian. Ayo kita menikmati hidup dengan menghargai setiap hal yang terjadi sama seperti kita menghargai diri kita. Seperti salah satu kata bijak yang dicatat dunia, Kasihilan sesamamu seperti engkau menghasihi dirimu sendiri πŸ˜€

Dengan segala kerendahan hati, kalau kalian butuh menambah sedikit ketulusan dalam menikmati semua itu, saya siap hadir karena itu berkat yang saya dapat serta siap saya bagi-bagikan. Plus kalau kalian butuh sedikit ‘kegilaan’ dalam menikmati hidup, saya siap hadir untuk memberikan keberanian yang saya punya di dalam hati kecil saya. Serta kalau kalian butuh sentuhan dan pelukan kasih sayang untuk membuat hidup sedikit lebih manis, hadirkan saya. Sebab kadang kala dunia bisa begitu dingin jika dihadapi sendirian. Jadi, beginilah tulisan terima kasih saya dari hati yang paling dalam. Kepanjangan, pasti. Hahahahaha…karena saya baru saja melalui proses mematangkan diri dan saya tidak sabar untuk memasuki proses selanjutnya. Tertarik untuk bergabung?

God bless you all my dearest friends. Thank you for being more than friends, all of you are gifts from heaven. And this up coming birthday, I wouldn’t ask for more coz I have you all. Dan pelukan besar pun terkirim ;D

Advertisements

7 responses »

  1. Ini tulisan yang sangat menginspirasi. Saya suka sekali. Suatu hari nanti pun, saya yakin saya pasti dapat berdamai dan menghargai diri sendiri, dan dapat tersenyum ketika melihat kembali "bigger picture" lalu merasa luar biasa. Suatu hari nanti, saya menantikan hari itu. Terima kasih untuk menunjukkan bahwa hari seperti itu ada. πŸ™‚

  2. Seperti mbak, saya pun percaya, Tuhan menguatkan saya. Maka saya juga membaca komentar mbak sambil meletakkan tangan saya di dada, dan tersenyum (entah kapan terakhir kalinya saya dapat tersenyum seperti ini :P).Mbak benar pada setiap tulisan mbak, hidup itu indah, maka mari menikmatinya :)Saya perempuan, by the way. Kalau mbak seekor kupu-kupu, maka saya hanya seekor kunang-kunang yang cahayanya redup, namun tetap hidup. =)

  3. Salam kenal Mba Kunang-kunang, nama yang bagus ;DDulu waktu saya masih menjadi penghuni asrama di kampus Jatinangor yang masih banyak rumput dan pohon-pohon, ada malam-malam penuh dengan kunang-kunang. Saya dan teman-teman hanya duduk dan memandangi kunang-kunang yang terbang cantik banget.Ah kunang-kunang itu cantik banget Mba dan membantu saya serta teman-teman lain untuk menyusuri jalan ke asrama yang gelap karena tak ada lampu sama sekali. Rasanya beruntung banget diiringin sama kunang-kunang ;DBtw, saya terharu membaca Mba jadi bisa tersenyum. Peluk besar untuk Mba ;D

  4. Salam kenal untuk mbak kunang-kunang. saya temannya mbak kupu-kupu..xixixixi. i'll pray for u too.To priska: Lu sengaja ya sebut ultah berulangkali dlm tulisan ini biar dibeliin kado? xixxixxixixix.. kidding dear. tak ada yang sia2 saat Tuhan kasih pembelajaran hidup, semuanya indah pada waktunya. ingin peluk priska. aku sama ponakanmu ini pengen dipeluk jugaa… πŸ˜€ si malau tea

  5. u are the champion my dear. segala ksedihan lo 3 bln terakhir ini bener2 'diganjar' dgn dewi fortuna yg benderang πŸ˜€ ya, krn lo punya keyakinan, keluarga, sahabat dan menepatkan Si Pemilik Hidup di jantung hati lo. kontradiksi bgt sma pihak lain yg bkin lo kacau 3 bln belakangan ini ;p yah mgkn dia skrg msh aja berkubang di lupur nista yg penuh kebohongan, meratap [penuh depresi..oia,sbnernya dia gak jahat. teringat kata2 einstein. 'kejahatan itu gak ada. kejahatan adl kondisi dari ketiadaan Tuhan'. gw rasa itu yg tjd padanya.meski byk jg org ga percaya Tuhan yg bneran baik :p sayangnya, dia gapunya tmen2 baik dan tulus,jd gampang tersesat :Daku mau dipeluk juga yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s