What if….

Standard

Hari ini, semua orang membicarakan bencana, mulai dari Tsunami di Mentawai, Gunung Merapi meletus, sampai banjir di mana-mana. Tiba-tiba semua orang tersadarkan atas betapa semuanya serba tidak pasti. Tidak ada yang bisa memegang waktu yang kita bisa lakukan hanyalah menghitung waktu.

Ada yang bilang, bumi kita semakin tua. Dan ini biasanya diikuti dengan kesadaran untuk mulai melindungi bumi. Bumi meminta kita bertanggung jawab, begitu tulis mereka yang percaya bahwa manusia sudah terlalu serakah. Ada juga yang menyebut semua bencana sebagai kesadaran bahwa semuanya milik Tuhan, tidak ada kepemilikan abadi di dunia ini.

Semua merasa diingatkan akan arti sebuah kehilangan. Tapi berapa lama sih kita bisa menjaga kesadaran akan sedihnya sebuah kehilangan. Pertanyaan sinis saya sih, setelah berbagai peristiwa bencana ini lewat, kita juga akan kembali mabuk kepayang lagi. Terlalu sinis kayanya.

Tapi memang itu yang sering kita lakukan. Kita baru merasa memiliki sesuatu yang berharga setelah kehilangan sesuatu. Menurut saya ini adalah teori kelalaian, iya lalai menghargai hidup. Saya percaya pada teori harapan. Teori ini membuat kita menyadari bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah PENTING, tidak perlu tunggu waktu kehilangan untuk memiliki makna tersebut. Karena hidup itu bukan permainan judi yang semuanya tergantung dari berapa besar taruhan yang kita letakkan di muka sang bandar. Hidup juga bukan permainan saham yang butuh modal besar biar untung besar, sebab saham-saham bagus harganya mahal. Jadi relalah menghilangkan sebagian dari apa yang kita punya untuk sesuatu yang (mungkin) memberikan keuntungan besar. Lagian, kalau hidup dilihat sebagai meja judi, kok kayanya kasihan ya Tuhan yang serba bisa itu diartikan sebagai bandar judi yang hanya mikir gimana caranya ngadalin penjudi. 

Sebagai penganut teori hidup adalah harapan membuat saya akan selalu menjaga apapun yang saya punya. Karena buat saya, apa yang saya kerjakan sekarang akan memberikan dampak pada hari-hari yang akan datang, ada atau tanpa saya. Mengapa? Percaya deh, harapan itu ngga bisa mati. Harapanlah yang membuat setiap udara yang kita nikmati menjadi berharga, karena kita percaya setiap apa yang kita kerjakan bermakna, tidak perlu nunggu sampai waktu menghentikan semuanya. Bahwa harapanlah yang membuat kita berjuang untuk membentuk kesempurnaan.

Lalu pertanyaan besar datang menghampiri. What if, today is your last day?

Tenang-tenang, ini bukan posting untuk harakiri. Saya terlalu berharga untuk mengakhiri hidup dengan sekadar bunuh diri demi harga diri semu.

Ok berbicara mengenai kematian, saya yang pecinta hidup ini rada males sebenarnya membahas hal tersebut. Tapi saya punya proses panjang untuk memaknai kematian. Sewaktu adik perempuan saya dikubur, udah lama sih sekitar 25 tahun lalu, saya melihat dia begitu cantik dengan baju kesukaannya. Tubuhnya putihnya terasa damai sekali berbaring dalam peti kayu berwarna cokelat. Lalu petinya ditutup. Saat-saat penutupan peti itulah saya bertanya dalam hati, “Ade ngga sesak napas ya? Dia ngga takut ya sendirian? Dia ngga ngerasa sempit ya di kotak kayu itu?” Dan sebenarnya banyak sekali pertanyaan untuk dia, Angela namanya, cantik secantik orangnya.

Saat tanah mulai menghujani peti kayu itu, pertanyaan-pertanyaan sejenis kembali muncul. “Kenapa mesti ditutup pake tanah, kan kasian ade ngga bisa napas.” Pertanyaan-pertanyaan polos anak-anaklah. Dan begitu sampai di rumah, keluarga saya masih berduka. Memandangi baju-baju ade yang tersisa dan mainan yang dulu dia punya. Meskipun sebenarnya mainan kita tidak banyak karena hidup begitu susah ketika itu.

Sampai akhirnya hari ini, saya sudah hidup 1/4 abad lebih dan menyaksikan begitu banyak cerita dukacita. Saya ingat, betapa teman gereja saya meraung sejadi-jadinya ketika mamanya meninggal dunia. Atau seorang teman kuliah yang ibu dan bapaknya meninggal dalam waktu berdekatan bercerita bahwa seharusnya kita kenal dengan orang tuanya. “Bokap dan Nyokap gua tuh orang yang baik banget, harusnya kalian kenal mereka.”

Saya tersadar, betapa cerita duka cita tidak pernah memberikan kesan menyenangkan selalu ada air mata. Tapi pernyataan teman saya yang terakhir yang menyadarkan saya. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat, hanya sama-sama satu jurusan. Dan saya menghampiri dia untuk memberikan pelukan dukacita, saat itulah dia berkata demikian. “Seharusnya kalian kenal mereka.” Saya tertohok karena ketika teman saya berkata demikian yang menderita kerugian bukan yang berduka tapi saya. Kehilangan terbesar ada pada saya, karena tak ada waktu yang menghampiri saya untuk memberikan kesempatan berkenalan dengan orang tuanya.

Lalu saya tersadar, apa yang telah kita lakukan pada orang-orang yang sudah diberi kesempatan untuk menghampiri kita. Apa yang kita lakukan untuk menjaganya? Apa yang kita lakukan untuk membuat orang lain mengenalinya? Teman saya mengajarkan saya untuk tidak menyimpan sendiri. Buat saya, ini masuk dengan teori harapan. Ketika kita membagikan semangat dari orang-orang yang membuat kita lebih berani menghadapi hidup maka harapan itu tidak akan pernah mati.

Dan lagi-lagi teori kehilangan itu bukan selalu berawal dari apa yang kita miliki. Kadang kita justru akan merasa kehilangan ketika kita benar-benar tidak punya waktu untuk memiliki. Suka atau tidak, kepemilikan itu menuntut tanggung jawab. Apa ini artinya tidak memiliki sama dengan tanpa tanggung jawab? Jangan langsung berpikir jadi orang yang mau ngampangnya saja karena tidak memiliki dalam konsep yang diberikan teman saya itu, menyadarkan saya untuk menghargai apa yang belum kita punya. Caranya? Hargai dulu apa yang kita punya. Karena apa yang bisa kita jaga sekarang adalah harapan yang akan menjadi kenyataan, ada atau tanpa kita.   

Lama sekali saya bisa merampungkan tulisan ini. Sampai kemudian pertanyaan ini muncul lagi, “What if today would be our last day on earth?” Apa yang menjadi jawaban kita? Sudahkah kita menjaga orang-orang yang paling kita sayangi dengan benar? Sudahkah kita menghargai waktu yang diberikan untuk mengenali mereka? 

Ayo berhenti menjadi orang rakus dengan meletakkan begitu banyak taruhan di meja judi yang baru menyadari kehilangan hal yang paling berharga setelah bandar mengatakan, “Selamat Anda Kalah!” Karena waktu hanya bisa dihitung dan kita tidak bisa tahu kapan hitungan itu berhenti, bisa sekarang, 2 menit lagi, 2 jam lagi, 2 hari lagi, 2 minggu lagi, 2 bulan lagi, 2 tahun lagi, 20 tahun lagi atau bisa juga 2 kalimat terakhir dari paragraf ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s