Perasaan Impulsif Bernama Pelampung

Standard

Ini bukan metafora, ini kenyataan.
Ini bukan puisi manis yang dibuat saat tergila-gila
dan menguap bagai buih soda ketika bertemu dengan kelamnya rasa takut.

Seseorang yang kerap menghindar dari ketakutannya sendiri dan berhenti melihat ke belakang.
Sebab di belakangnya, begitu banyak rasa bersalah yang ditinggalkan hanya demi sebuah perasaan impulsif.

Sayangnya perasaan impulsif yang dibuatnya melibatkan individu lain. Bukan seperti buku yang dengan mudah dijejer dalam rak rasa bersalah hingga berdebu. Bukan juga laptop yang harus diganti demi menemukan pelampung baru dengan corak sama. Setelah itu berharap debu bisa menghapus amisnya sebuah penghianatan pada setiap jejak pelampung yang kau pilih.

Perasaan impulsif yang akan dijadikan alat bahwa dirinya berani menghadapi kenyataan.
Tapi cerita hidup akan berulang, sebab kau meninggalkan rasa bersalah di setiap jejak kakimu dan di balik wajah pelampung barumu.
Hingga pada saatnya kau bertemu dengan rasa bersalah yang sama, signal kepala mengeluarkan tanda bahaya untuk menyelamatkan diri.
Tapi karena kau tidak pernah cukup berani untuk menghadapinya, tanda bahaya yang tertangkap adalah waktu untuk menemukan pelampung baru dengan pola mencari yang sama.

Kejar. Buai. Perdaya.
Agar pelampung baru itu mau tenggelam bersama.
Dan saat kesadarannya hilang, baui pelampung baru dengan perjuangan untuk menuju permukaan samudra.
Perlahan kau mendorong pelampungmu untuk mendekati permukaan samudra terlebih dahulu.
Mengamati apa yang diperlukan, menemukan kenyataan yang diinginkan…
Meski ketika itu kau perlahan menenggelamkan diri dalam palung laut yang tak terjamah.
“Bantu aku menemukan permukaan samudra,” ucapmu penuh pertolongan pada pelampung yang terlalu lebar membukakan kehangatannya.
“Tak ada yang perlu ditakuti, semua sudah teratasi. Angkatlah kepalamu dan lihatlah samudra ini begitu indah,” ucap pelampung lembut.
“Tapi aku tak bisa, aku tersesat,” ucapmu lantang, berharap pelampung mau berjuang lebih keras lagi.
Walaupun sebenarnya, dalam hati kau berbisik, “Samudra itu begitu terang menusuk mataku. Aku tak tahu, apakah aku cukup siap berhadapan dengannya lagi. Rasa bersalah yang menusuk tulang belulangku. Rasa bersalah yang kupikir sudah tertutup awan gelap nan abadi. Apakah rasa bersalah itu masih di sana? Atau kah justru pelampung itu yang membawa rasa bersalah.” Pergulatan batin panjang untuk sebuah esensi hidup yang sia-sia kau ciptakan.

“Ya, pelampung itu membawa rasa bersalah. Bagaimana mungkin jejak bersalah itu ada dipelampung yang kupilih dengan cepat. Adakah debu rasa bersalah itu tertiup dan menghinggapinya ketika menuju permukaan samudra? Ah mengapa harus menatap samudra jika dalam palung laut yang kelam aku bisa terselamatkan dari jejak-jejak rasa bersalah yang kutinggalkan pada beberapa pelampung.” Kau pun semakin kehilangan akan sehat.

Kau lupa, pelampung akan selalu menatap samudra. Kau lupa, kau pilih pelampung untuk menyelamatkan dirimu walaupun sebenarnya kau tidak pernah punya nyali untuk menyelamatkan diri. Lalu kau menatap palung laut yang suram itu. Dingin dan sepi. “Tapi aku tak berani menatap samudra, ada debu jejak rasa bersalah di sana,” kau kembali mencari pembenaran.

Palung laut tetap menawarkan warna kesendirian yang dalam dengan aroma keterpurukan yang menyeramkan. “Aku tak bisa sendiri, aku butuh pelampungku,” signal impulsifmu mulai terpancing. “Tapi bukankah pelampungku sudah berada di permukaan samudra? Berapa banyak pelampungku yang sudah sampai sana mengapa mereka masih menantiku di permukaan?” kau kembali bermain dengan labirin ketakutan.

“Wahai pelampungku, pergilah dan selamatkan dirimu. Sampaikan salamku pada debu rasa bersalah, aku terpuruk dan tak layak untuk diselamatkan,” suaramu lirih dengan mata berkaca tapi dalam tanganmu kau rangkai pelampung baru yang siap mengembang. “Maafkan aku, ini adalah dosa terbesarku. Biar rasa sakit ini aku yang telan hidup-hidup,” suaramu makin lirih dan menitikkan air mata, tapi tanganmu mengirimkan denyut nadi pada pelampung baru yang siap terbuai oleh gelapnya palung lautan.

Perlahan kau berbisik pada pelampung baru, “Aku terpuruk, mau kah kau membantuku? Aku akan berikan nafas dan darahku untukmu. Aku akan membuat kau menjadi pelampung terbaik di dalam laut ini,” sapamu sambil menebarkan sulur-sulur teori kehidupan. Pelampung baru menatap tajam, “Adakah dia yang kucari? Tapi sulur yang ditawarkannya begitu jujur dan bisikannya begitu lembut di telingaku, sebentar saja aku sudah mau terlelap di nadi tangannya. Ah indahnya kebersamaan ini, aku harus membiarkan kulitku dipompa dengan nafas dan darahnya agar aku menjadi pelampung terbaik di dalam laut ini. Aku harus!!”

Begitu kau melihat pelampung baru menawarkan kulitnya yang bersih, secepat itu juga kau tancapkan euforia kehidupan. “Mungkin semuanya terasa cepat, aku tak peduli. Yang ku tahu aku menggilaimu sekarang,” itu yang kau benamkan dalam kulit pelampung barumu yang bersih. “Tapi aku pernah tersakiti, jadi jangan sakiti aku lagi,” ucap pelampung baru. Kau tak menjawab karena kau teringat pelampung mu yang lain yang tengah mengulurkan tangan untuk menatap permukaan samudra yang kau tawarkan. “Aku pergi sebentar, ada yang harus aku selesaikan,” ucapmu lembut sambil membelai pelampung baru yang mengembang pesat.

Melalui bulir-bulir air laut. Melalui plankton-plankton kecil. Melalui rumput laut yang menjuntai, kau kirimkan pesan pada pelampungmu yang menunggu dengan cemas. Semua bulir laut, plankton-plankton kecil, dan rumput laut yang menjuntai menyampaikan pesan yang sama. “Dia tak berani menghadapi luasnya samudra. Dia tak berani bertemu dengan pelampung-pelampungnya yang lain. Dia tak berani menghapus jejak rasa bersalah yang dia tinggalkan di daratan. Sebaiknya kau berhenti mengulurkan tangan karena dia tengah merajut pelampung barunya.”

“Tapi tak ada tanda apa-apa. Dia begitu lembut menggiringku menatap indahnya samudra. Dia masih membelaiku beberapa menit lalu, bahkan dia masih mengirimkan bahasa cintanya? Apa yang terjadi?” Tapi tak ada yang berani menjawab pertanyaan itu, tak juga bulir-bulir air laut, plankton-plankton kecil, dan rumput laut. Sampai akhirnya kau mengirimkan tali tipis bagi pelampung yang tetap menunggumu di permukaan samudra dengan cemas. “Maafkan aku….aku tenggelam dalam pekatnya rasa bersalahku teramat pekat. Apa yang terjadi adalah nyata, tapi aku….maafkan aku,” ucap tali yang kau kirim dengan getaran rasa bersalah yang baru.

Di bawah palung laut yang tergelap, pelampung barumu menunggu. Dengan binar-binar mata. Dengan kulit putihnya yang bersih. Dengan benih cinta yang masih tertutup rapat dan siap menetas menjadi pelampung barumu. Tapi sayang, pelampung baru ini tetap memiliki corak yang sama. Corak dari rasa dan ketakutanmu menghadapi amisnya rasa bersalah. “Akan ke mana kita saat ini,” tanya pelampung barumu. “Mari menikmati kelamnya palung laut,” ucapmu dengan senyum getir.

Jakarta, 20-10-2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s