Berbicara dalam Keheningan

Standard

Begini toh rasanya patah hati, gamang, menguraikan berton-ton air mata, memutar semua peristiwa yang pernah dilalui sambil mencoba menemukan di mana letak salahnya. Saya belum pernah patah hati, karena dulu-dulu saya belum pernah officially in a relationship. Apa memang seharusnya saya setia dengan hubungan tanpa status aja ya? Ah tidak, saya tidak pernah menyesali apapun yang terjadi. Yang terjadi biarlah terjadi, ini semua sudah tertulis. Dan rasanya saya sudah menjalani dengan baik. 

Ini pengalaman patah hati yang pertama, officially broken heart. Jadi saya masih bingung apa yang seharusnya saya lakukan. Ada yang bilang, memutuskan hubungan itu harusnya datang dari kedua belah pihak. Karena ketika memilih untuk berhubungan kan yang menjawab pilihan juga dua belah pihak. Tapi ada juga yang bilang, be free Priska and be strong. It’s his lost not yours.

Hmmmm….kata-kata yang terakhir terdengar heroik ya. Girl power. Tapi jujur saat ini saya tidak mengerti apa yang harus saya pilih. Maksud saya, sikap saya. Bagaimana saya harusnya saya bersikap. Yang ada di kepala saya saat keputusan itu dijatuhkan, saya butuh waktu sendiri. Saya butuh berbicara dalam keheningan. Tapi emosi saya tak mau diajak kerja sama. Maunya konfrontasi mulu. Mintanya penjelasan mulu, karena yang melintas adalah sekumpulan pertanyaan “Kenapa…kenapa…kenapa?”

Seorang teman mengingatkan saya untuk berpuasa. “Lu selalu melakukan itu ketika harus mengambil keputusan penting dalam hidup Lu. Itu bikin lu sadar.” Hmmm…bener juga…setidaknya emosi saya yang meletup bisa diam dengan sendirinya. Alhasil saya berpuasa.

Saya bilang sama Sang Sahabat, oke hari ini kita puasa ya. Kita lihat seberapa tenang menghentikan mulut untuk mengunyah dan minum ini bisa meredam emosi. Sang Sahabat bilang, “Ngapain Lu puasa? Ngerayu Gua?”

Saya jawab, “Buat apa Kau dirayu. Kita kan sama-sama kenal tukang dadunya. Masih suka main dadu kan?”. Saya pun berseloroh kepadaNya. “Oke, kita puasa. Tapi bukan berarti lu akan berhenti memikirkan semuanya,” Dia cuman mengingatkan. “Iya,” jawab saya lirih.

Setelah itu apa yang orang patah hati lakukan? Saya masih tidak tahu. Akhirnya saya memilih untuk menjauh dari peradaban. Memilih tempat yang intelek untuk menyendiri. Eh tempatnya tutup, sial ternyata alam sedang tak tahu kalau saya sedang berpuasa. Atau jangan-jangan mereka tahu ya? Anyway, saya bengong di halte. Memikirkan ke mana lagi saya harus pergi.

Oke tempat yang biasa saya datangi di malam hari. Menikmati gelas dengan pinggiran garam. Tapi kan saya puasa, masa saya ngga mesan apa-apa ke sana? Ah biarin aja kita pesan dan tidak kita makan ;D

Segelas jus jeruk, sebotol aqua, berdiri rapi di depan saya. Dan sebentar lagi saya akan memesan makanan. Lagi-lagi bukan untuk disentuh. Bangku-bangku rotan dan kayu yang dijejer rapi oleh pelayannya masih kosong. Saya bahkan menjadi saksi bangku-bangku ini disusun rapih. Karena saya datang saat mereka belum buka, saya duduk dengan manis. “Maaf ya Mba, kita belum buka,” ucap salah satu pelayannya. Ini bukan pelayan yang biasa saya temui, Mas Deden. Mungkin dia shift malam. Kalau Mas Deden yang melayani pasti dia akan bilang, “Yakin ngga mau satu jug?” Tapi untung sih bukan Mas Deden, bingung saya nanti menjelaskannya gimana.

Saya hanya membalas dengan tersenyum, “Ah ngga papa mas. Saya tunggu, santai aja.” Tiba-tiba saya tersadar, saya tersenyum. Senang rasanya bisa tersenyum.

Setelah pagar kecil dengan hiasan anggur tiruan itu terbuka, saya memilih bangku rotan yang dekat dengan stop kontak. Yah demi si laptop ini, karena saya harus memantau situs yang saya kelola. Maklum kita buruh kasar, jadi kerja hukumnya wajib. Btw, orang patah hati kerja ngga ya?

Usai memesan minuman yang sampai sekarang tidak saya minum-minum, saya hanya memejamkan mata. Antara ngantuk dan ingin tenggelam dalam kegelapan. Saya berbicara lagi dengan Sang Sahabat, “Trus kalau udah di sini kita ngapain? Nangis? Marah-marah? Atau diem aja?” Dia menjawab, “Tarik napas aja dulu, baru mikir lagi.”

Kami menarik napas. “Masih sesak,” ucap saya lirih. “Iya, Saya tahu,” balasNya bijak. “Sampai kapan ya harus merasakan ini semua?” tanya saya memulai pembicaraan. “Saya ngga tahu, jalani aja nanti juga ada titik akhirnya.” “Tidak membantu,” jawab saya menggerutu. Dia bilang,”Lah Gua kan cuman nemenin bukan untuk memberikan jawaban.”

Tiba-tiba Sang Sahabat bilang,”Eh inget film yang dimainin Kate Winslet bareng Jim Carey?” Saya hanya bengong. “Itu loh film soal menghapus ingatan?” Dia semakin memaksa. “O…ya…ya…inget, kita pernah nonton bareng film itu. Ah ngapain diingetin sih? Bener-bener ngga membantu deh?” saya semakin kesal. “Iya, iseng aja, kalau mesin penghapus ingatan itu benar-benar ada, mau?” tanyaNya serius. Benar-benar serius.

Saya speechless…diam benar-benar diam. Yang saya lakukan berikutnya adalah mengingat bagaimana jalan cerita film itu. Ya film yang bercerita dua karakter yang berbeda jauh. Perempuannya tipe yang sangat ceria dan bebas dalam memandang hidup. Sedangkan laki-lakinya terbilang kaku. Ah saya tiba-tiba teringat dia pernah berucap betapa karakter perempuan itu menggambarkan saya dan dari sana panggilan Tangerine berasal. Saya malas meneruskan ceritanya. Saya kutip dari Wikipedia, mudah-mudahan membantun :

Emotionally withdrawn Joel Barish (Jim Carrey) and unhinged free spirit Clementine Kruczynski (Kate Winslet) strike up a relationship on a Long Island Rail Road train from Montauk, New York. They are inexplicably drawn to each other, despite their radically different personalities.

Although they apparently do not realize it at the time, Joel and Clementine are in fact former lovers, now separated after having spent two years together. After a nasty fight, Clementine hired the New York City firm Lacuna, Inc. to erase all her memories of their relationship. (The term “lacuna” means a gap or missing part; for instance, lacunar amnesia is a gap in one’s memory about a specific event.) Upon discovering this, Joel was devastated and decided to undergo the procedure himself, a process that takes place while he sleeps.

Much of the film takes place in Joel’s mind. As his memories are erased, Joel finds himself revisiting them in reverse. Upon seeing happier times of his relationship with Clementine from earlier in their relationship, he struggles to preserve at least some memory of her and his love for her. Despite his efforts, the memories are slowly erased, with the last memory of Clementine telling him to “Meet me in Montauk”.

In separate but related story arcs occurring during Joel’s memory erasure, the employees of Lacuna are revealed to be more than peripheral characters. Patrick (Elijah Wood), one of the Lacuna technicians performing the erasure, is dating Clementine while viewing Joel’s memories, and copying Joel’s moves to seduce her. Mary (Kirsten Dunst), the Lacuna receptionist, turns out to have had an affair with Dr. Howard Mierzwiak (Tom Wilkinson), the married doctor who heads the company—a relationship which she agreed to have erased from her memory when it was discovered by his wife. Once Mary learns this, she steals the company’s records and sends them to all of its clients.

Akhir dari ceritanya sengaja saya tidak tampilkan, mmmm…alasannya….Saya butuh waktu untuk berpikir.  Karena ini film dan film akhirnya selalu bahagia, sedangkan yang saya jalani adalah kehidupan nyata. Jadi kita tenangkan pikiran dan emosi dulu. Saya melirik Sang Sahabat, “Iya kita tenangkan diri dulu. Semuanya terjadi begitu cepat dan itu sama seperti sedang berlari. Itu kenapa yang perlu kita lakukan adalah beristirahat dan mengatur napas dengan baik,” ucapnya seraya menawarkan pelukan hangat. Saya memeluk Sang Sahabat dalam pembicaraan hening ini. Ah terharu, berbicara dalam keheningan selalu membuat keharuan. “Sudah ayo kita pindah tempat lagi, kita cari tempat berkontemplasi yang baru,” ajakNya seraya mengulurkan tangan.

Jadi cukup untuk hari ini.

Advertisements

One response »

  1. untung ada si ita malau yg menghabiskan semua pesananmu ya pris… xixixiSelalu ada angin yang akan mengusir awan gelap! (sambil melihat awan gelap di luar padahal jam sudah menunjukkan waktu pulang, hiks).dont worry be happy, priska. i know you can do it. step at a time.. si malau tea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s