Si Pencinta Hidup

Standard

Sekarang saya punya tempat nongkrong baru, bisa melihat matahari terbenam di tengah-tengah kota Jakarta! Dan kemarin, dengan seorang sahabat saya menikmati warna jingga itu menyusup masuk garis katulistiwa. Indah sekali.

Saya dan sahabat saya itu mengira bisa menikmati proses tenggelamnya matahari dalam hitungan jam, tapi ternyata hanya dalam hitungan menit. Iya menit, karena cepat sekali matahari yang bulat besar berwarna jingga itu menghilang dari langit Jakarta.

Tahu apa yang indah dari sunset atau proses bergantinya siang ke malam itu? Warna jingga yang kuat terasa tidak menusuk mata, lembut sekali. Dan warna jingga ini selalu memberikan aura tersenyum, karena kayanya ngga pas banget kalau kita lihat matahari tenggelam sambil marah-marah. Yang ingin kita lakukan ketika mengantar matahari itu pergi ke peraduannya adalah tersenyum dan itu yang saya lakukan bersama sahabat saya.

Demi matahari berwarna jingga yang bulat sempurna itu, kami menopangkan dagu dengan kedua tangan. Menatap matahari dari tembusan kaca dari mall mahal di Jakarta. Seiring meninggalkan garis katulistiwa, pala kami ikut bergeser, karena posisi duduk kami membuat kami harus melakukan itu agar nikmatnya sempurna. Sampai pada waktunya matahari itu menghilang yang ada tinggal semburat jingga yang meninggalkan salam perpisahan. “Yah kok udahan sih,” itu yang terlontar dari mulut kami berdua. Momen yang indah.

Lalu sahabat yang sudah bersama saya sejak kuliah ini, saya pun mulai meracau. “Lu tau ngga, matahari terbenam itu disukai banyak orang kenapa?” “Ngga,” jawab sahabat saya sambil menatap sisa-sisa matahari. “Karena auranya positif. Dan lu bisa lihat, betapa matahari yang sangarnya setengah mati kalau jam 12 siang, bisa begitu lembut ketika menutup hari. Udah gitu, meskipun tugas dia kelar hari ini, tapi dia akan selalu mengingatkan orang untuk menikmati detik-detik terakhirnya besok.”

Setelah panjang lebar berteori, sahabat saya cuman bilang. “Ho oh.” Tapi rupanya dia tidak mau kalah, dia pun mulai meracau. “Lu tau ngga, kenapa gua selalu salut ngeliat lu?” Saya…ya saya kaget lah. “Nih orang ngapa jadi ngomongin gua sih,” dalam hati saya nyerocos. Tapi saya sok cool balasnya,”Kenapa lu ngomong gitu?”

Mulailah dia bercerita. Jadi sewaktu kami sama-sama kuliah di Jurnalistik Fikom Unpad, dia pernah mimpi saya melakukan bunuh diri. Dia panik dan di kampus dia langsung mencari saya. Dia cerita dengan penuh semangat sambil pucat pasi. “Gua mimpi lu bunuh diri. Gua kaga inget gimana persisnya lu bunuh diri, pokoknya lu bunuh diri dah.” Hahahahaha kalau diinget sekarang lucu ya.

Trus saya jawab dengan santai,” Wahai Ita sayang, gua ngga bakal melakukan itu. Karena gua sangat mencintai hidup. Itu kenapa, bunuh diri kaga ada di kamus gua.” Dan teman saya pun lega, akhirnya dia punya jawaban bahwa itu hanya mimpi. “Semenjak itu gua kagum sama lu. Elu adalah orang paling positif di dunia yang pernah gua temui,” ucap dia sambil mendelikkan matanya.

Mendengar dia bercerita begitu, saya malah kagum dengan saya yang diceritakan Ita. Wow saya keren ;D Bukan…ini bukan tulisan untuk menarsiskan diri. Tapi saya jadi berpikir lagi, kenapa saya bisa yakin kalau saya mencintai hidup. Padahal kata Ita, hidup yang kita jalanin ini ibarat permainan dadu Tuhan. Oiya, saya pernah surat-suratan sama Ita ngebahas bagaiman Tuhan hobi banget mainin dadu untuk menentukan hidup oranng wakakakakaka…masa-masa keemasan dah bahasannya begituan.

Iya hidup memang tidak pernah memberikan warna-warna bahagia. Kaya naik wahana Histeria di Dufan. Dalam hitungan detik kita bisa diangkat hingga ketinggian 60 meter dan sekejap itu juga kita dihempaskan sejauh 30 meter. Kampret itu serem banget. Saya sudah merasakan wahana itu. Tuhan memang suka bermain dadu, tapi saya selalu bilang sama Ita, “Tenang Ta, tukang dadunya gua kenal.” Setelah itu kita tertawa terbahak-bahak.

Setelah acara melihat matahari terbenam di Mall yang menyediakan merek-merek mahal, Jakarta diguyur hujan lebat. Akhirnya saya memilih untuk naik taksi, toh suasana lebaran membuat Jakarta masih sepi. Di taksi, saya kembali berpikir, kenapa saya bisa begitu positif ya? Kalau saya terlalu mencintai hidup apa itu berarti saya takut mati? Padahal kalau menurut Rumi, orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang rindu sekali mati. Karena kematian akan membuat mereka bisa bertemu dengan Sang Penentu Hidup.

Buat saya sih, mengapa saya mencintai hidup karena setiap detik saya bisa embracing life. Matahari terbenam itu misalnya, hitungannya detik dan kita tidak tahu apa yang terjadi di detik berikutnya. Itu kenapa, kita harus memaksimalkan setiap detiknya. Maka jangan heran kalau saya dan Ita rela memiringkan kepala untuk mengantarkan kepergian matahari terbenam. Ini juga yang membuat saya sangat ekspresif, karena saya selalu berpikir, emosi adalah perasaan jujur dan momen untuk mengekspresikan itu hitungan juga detik. Jadi buat apa ditunda-tunda.

Embracing life juga membuat saya akan berjuang demi apapun yang menurut saya membuat saya bahagia. Apapun! Plus proses hidup yang saya lalu memang membentuk saya demikian. Untuk menghapus pandangan sebelah mata dari keluarga besar saya terhadap saya yang tak pernah juara kelas atau berprestasi di sekolah, saya berjuang mati-matian biar keterima di Universitas Negeri. Demi sebuah cita-cita menjadi seorang penulis, saya berani melawan ayah saya dan bilang saya mau ambil Jurusan Jurnalistik.

Dan atas nama idealisme, saya pernah rela nganggur 6 bulan lebih demi bekerja di media. Walaupun pada akhirnya saya kerja di bank, tapi saya tak pernah berhenti mengejar cita-cita saya. Saya mengirimkan tulisan dan dimuat, sampai akhirnya saya diterima bekerja sebagai wartawan. Hidup terlalu sempurna untuk disia-siakan, demikian juga mimpi-mimpi saya.  Jadi jangan heran kalau saya jadi keras kepala, karena saya akan selalu fokus dengan apa yang sudah saya patrikan di kepala saya. Itu konsistensi saya untuk mencintai hidup, memperjuangkan pilihan yang menurut saya tidak sekadar membuat saya bahagia tapi juga menyempurnakan hidup saya.

Jadi nanti ketika Pemilik Hidup bertanya kepada saya, “Apa saja yang kamu nikmati selama kamu hidup di dunia, wahai kamu anak pemberontak?” Oke ini saya dramatisir sedikit biar heboh ;D Lalu saya akan menjawab, “Banyak. Banyak sekali yang sudah saya nikmati dan saya menikmatinya dengan berjuang penuh dengan segala risiko yang ada dan kegagalan yang saya terima bulat-bulat. Sebulat saya mengamini keberhasilan saya.” Yah saya ngga tahu sih, apa jawaban seperti itu diterima atau tidak. Tapi setidaknya saya tidak akan mati penasaran mengenai bagaimana definisi menikmati hidup itu seharusnya.

Ya saya bukan superwoman yang bisa dengan cepat mengganti tanggis dengan senyuman. Ada juga kok masanya saya terpuruk dan merasa orang paling sial sedunia. Tapi saya selalu berusaha mencari cara untuk bangkit. Selama saya masih dikesempatan untuk hidup dan menjalani prosesnya, berarti saya masih dikasih kesempatan dan kepercayaan untuk sampai pada cita-cita saya, sesuatu yang saya yakini.

Seorang sahabat saya yang lain, Nida, pernah bilang, kalau saya selalu cepat meninggalkan kesedihan. Walaupun setelah itu saya SMS dia untuk minta dihibur. Iya proses jatuh bangun itu ngga pernah enak, menguras tenaga, emosi, dan memisahkan kita dari kemampuan berpikir objektif. Padahal untuk menyelesaikan masalah kita perlu objektif. Ini yang akan membuat kita bisa see the big picture dan menemukan jalan keluarnya. Bahkan saya tak jarang saking sebelnya menghadapi masalah, saya menggugat Tuhan. Kurang ajar mungkin, tapi saya percaya ada komunikasi spesial antara Dia dengan saya. Saya sih percaya kalau Dia sangat mengerti bagaimana fluktuasi emosi saya, pada akhirnya kami selalu berdamai dan menjadi sahabat baik.

Saya tidak akan menyesal atas setiap pilihan yang saya ambil. Apapun risiko dan bagaimanapun hasilnya, berhasil atau gagal, saya hanya perlu nyoba lagi sambil memperbaiki strategi. Itu kalau pilihan ternyata membuat saya gagal, namun saat situasinya berhasil, saya akan tetap belajar. Belajar untuk menyerap energi positif apa yang saya keluarkan ketika itu. Proses, itulah hidup. Semuanya berproses dan ketika kita bisa menikmati prosesnya setiap detik, rasanya tak ada yang kurang sempurna dari perjalanan hidup. Dan kalau mau diperhatiin, mendekati ulang tahun saya, naik-turun emosinya pasti datang berurutan. Saya selalu merasa Sang Penentu Tanggal Lahir saya ingin mengingatkan, ulang tahun jangan sekadar tiup lilin.

Itu kenapa, saya selalu menanti-nanti hari ulang tahun. Selain menunggu hadiah ;D Saya juga menantikan bersama Pemilik Hidup, pelajaran apa yang kita simpulkan setahun kemarin dan pelajaran apa yang akan kita dapat dipertambahan umur yang ada di depan mata. Jadi sebagai pencinta hidup, saya akan merindukan momen-monen matahari meninggalkan jejaknya sambil menitipkan pesan,”Besok kita ketemu lagi ya Pris,” melalui semburat jingga yang positif yang ditinggalkan. Ah indahnya hidup. Selamat menikmati, jangan lupa, sepersekian detik banyak sekali maha karya hidup terjadi dalam perjalanan waktu kita.Yuk kita nikmati bulat-bulat ;D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s