Merindukan Pelangi

Standard


Belakangan Jakarta lagi dihampiri sinar matahari yang mendelik.
Tajam dan menusuk sampai ke sumsum tulang belakang.
Sering kali, saya berlari cepat untuk menghindarinya.
Atau berjalan santai sambil bergumam dalam hati, “Wahai matahari, kenapa kamu begitu bersemangat hari ini?”

Sebenarnya kalau mau ditelisik dari sisi fungsi, sinar matahari yang bersinar cerah itu adalah benar adanya. Karena memang itu lah alasan matahari diciptakan. Tapi ulah manusia membuat lapisan penyaring sinar matahari menjadi bolong-bolong sehingga teriknya terasa seperti matahari menambahkan amunisi.

Lalu saya berbisik dalam hati, apa sinar yang begitu menusuk pertanda hujan akan datang?
Setidaknya itu yang selalu dikatakan banyak orang.
Suhu yang meninggi membuat uap air naik ke udara membentuk awan dan menjatuhkan hujan.

Kembali saya berbisik, jika begitu, saya berharap setelah hujan biarkan matahari tetap ada.
Sebab matahari akan mengundang datangnya pelangi.
Dan saya pun sadar, ternyata matahari ada bukan hanya untuk membuat semua orang menggerutu atas sinarnya yang menerjang kulit, tapi karena dia bisa mendatangkan pantulan warna-warna indah di awan.
Saking indahnya, orang menyebut pelangi sebagai waktunya para dewi-dewi mandi di bumi.

Sebenarnya cerita matahari dan pelangi ini mewarnai cerita hidup saya sebulan terakhir.
Salah satu bulan terberat dalam hidup.
Matahari menusuk tulang saya sampai ke sari-sari terdalamnya.

Ada dua pilihan, berlari dengan cepat untuk berteduh di pemberhentian baru.
Atau menghadapinya dengan tenang sambil bertanya-tanya apa yang terjadi pada matahari.
Mungkinkah lapisan pelindung sinarnya semakin menipis sehingga cahaya yang dulu lembut berubah wujud menjadi merah dan memanas.

Apa yang saya pilih?
Saya pilih menghadapi panasnya.
Saya terus mencari jawaban apa yang terjadi pada sinar lembut saya.
Saya menelisik apa yang terjadi pada lapisan pelindung sinar.
Apa yang harus ditambah untuk kembali membuatnya menghantarkan kehangatan sifat matahari.

Saya terus berusaha karena saya cukup keras kepala untuk menyerah dan berhenti di tempat teduh yang asing.
Saya memilih bertahan karena ketika saya menyentuh matahari, saya tahu dia masih sanggup mendatangkan pelangi.
Ya, saya percaya pelangi itu akan segera datang.
Seperti saya percaya matahari saya adalah identitas kehangatan yang melengkapi keberadaan saya.
Ya, kupu-kupu tak pernah indah meliukkan tubuhnya tanpa hangat sinar matahari yang membentuk siluet tarian kedua sayap saya.

Dan inilah hasil akhirnya, saya menantikan pelangi bukan karena hujan menghapus semua jejak matahari.
Tapi justru karena sinar matahari mampu meneduhkan langit dengan curahan hujan dan menutupnya dengan alur pelangi yang indah.

Jadi saya akan tetap menunggu pelangi bersama matahari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s