Komunikasi Itu Sulit

Standard

Malam ini saya menyadari bahwa setiap kata-kata sulit untuk dihapus. Irreversible, istilah ilmu komunikasinya.

Padahal tadi pagi saya tulis terminologi itu dalam salah satu artikel saya yang membahas mengenai bagaimana membuat anak-anak mendengarkan orangtuanya. Yaitu, ketika marah, jangan pernah bilang “Dasar anak bandel”. Sebab selain anak-anak lebih cepat merekam kata-kata negatif, kata-kata juga sulit dihapus. Ya sesuai terminologi komunikasi tadi. Lantas saya mengajak pembaca saya untuk lebih memilih membuat anaknya mengerti bahwa marah berlebihan hanya menghabiskan energi.

Saya amat paham, betapa sulit mengerem kata-kata negatif keluar dari mulut. Maklum, saya termasuk orang yang frontal alias ceplas-ceplos. Saya terlalu ekspresif dan amat ngemar ngecengin teman-teman saya. Salah seorang teman liputan, menyebut saya kompor meleduk karena suka menggiring massa untuk menyerang satu orang.

Kadang-kadang kalau saya sadar, cengan saya berlebihan, saya akan minta maaf. Walaupun saya tahu ngga gampang memaafkan saya, karena udah dipermalukan duluan baru saya minta maaf. Itu kenapa, saya lebih memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pelampiasan blongnya rem kata-kata saya. Alias, hanya ngecengin yang orang-orang terdekat saja.

Tapi bukan berarti penyaringan itu membuat orang-orang terdekat saya aman dari sakit hati yang timbul dari kata-kata yang berseliweran dari mulut saya. Bahkan mungkin ada yang menjadi tidak nyaman dengan kehadiran saya. Maka kadang-kadang saya bisa sangat sensitif ketika ada perubahaan sikap dari orang-orang terdekat saya. Yang terlintas dipikiran saya, jangan-jangan gua salah ngomong nih.

Bila sudah sampai tahap merasa seperti itu, saya bisa drastis mengerem kata-kata pada orang tersebut. Saya bisa menjadi santun dan formal kepada dia. Bagus mungkin, karena meminimalisir bertambahnya korban sakit hati. Tapi pertanyaan bijaknya, kenapa mesti nunggu sakit hati kan? Yah inilah kedunguan manusia, baru sadar kalau udah ada efeknya.

Mungkin ngga sih, Tuhan mikir kalau ngga dikasih proses sadar dari kesalahan, manusia sulit menjadi matang sesuai masanya. Tapi kalau dipikir lagi, bukannya Tuhan cinta perasaan damai ya, tanpa iri dengki? Trus kenapa mesti ada perasaan sakit hati? Jangan jawab bahwa semuanya ada hitam dan putih ya. Kalau ada damai ya mesti dilengkapi dengan sakit hati. Buat saya, jawaban ini ngga buat para ahli teologia atau pencari kebenaran menemukan esensi hidup. Datar kalau cuman begitu aja.

Tiba-tiba, dari situasi ngga enak hati karena sakit hati dari kata-kata yang kurang tepat dari seseorang, saya jadi bertanya banyak hal. Dan kebanyakan pertanyaan itu soal komunikasi.

Saya baru saya mengantar seorang perempuan Jepang yang menggilai King of Convinience (KOC). KOC manggung di Paris, dia ke sana. Dan di Indonesia, dia rela nonton di Bandung dan Jakarta demi dua laki-laki ganteng itu.

Bahasa Ingrrisnya terbata-bata, saya dan teman-teman juga sesekali lupa bahasa Inggris. Ada yang mencoba berbahasa Jepang, dan sedikit terbata-bata juga. Dan hebatnya dari komunikasi terbata-bata ini adalah kadang kala, kalimatnya belum selesai lawan bicara kita yang beda bangsa itu langsung paham. Akhirnya dua-dua akan mengangguk atau tertawa, simbol kesepahaman.

Padahal kalau dirunut, kita adalah dua orang berbeda dari dua kebudayaan berbeda dan bahasa ibu yang berbeda. Tapi justru lebih ngerti dengan bahasa terbata-bata. Bahkan ketika coba saling ngecengin dengan kemampuan bahasa terbata-bata itu, tanpa menyelesaikan kalimat, dua-duanya sudah saling mengerti. Seolah gesture tubuh dan ekspresi melengkapi jurang pemahaman yang ada dalam bahasa terbata-bata.

Duh kenapa seperti keluar dari konteks ya, semakin keliatan kayanya saya coba melarikan diri dari kesalahan kata yang sulit dihapuskan dari seseorang. Yah sudahlah intinya, komunikasi itu sulit. Dan lebih sulit lagi membuat dua orang berada dalam rasa kata, kalimat, dan aksentuasi kalimat yang berbeda untuk masuk dalam level pemahaman bahwa semua kata-kata baik adanya. Karena yang membedakan hanya siapa yang mengatakan.

Dan ketika yang mengatakan adalah orang terdekat, kata-kata yang sulit terhapus semakin tegas. Kembali mengambil teori komunikasi karena kadang kalau lebih penting melihat siapa yang berbicara ketimbang apa yang dibicarakan. Who says what, to whom, with what channel, and with what effect. Jadi semakin dekat kualitas hubungannya, saluran komunikasinya memang makin dekat tapi efek yang ditimbulkan juga makin kuat. Artinya makin salah ngomong makin susah diluapin, bila yang ngomong itu orang terdekat. Yah mesti ngerem kata-kata nih kayanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s