Esensi Berpasangan

Standard

Tiba-tiba berpikir kenapa agama sering kali mendengungkan betapa pentingnya berpasang-pasangan. Mungkin karena saya kangen berat dengan pacar saya hihihihih…oke it’s starting out of the context.

Saya sih merasa butuh berpasangan, karena saya senang merasakan jatuh cinta. Senang berbagi kecupan dan pelukan dengan pasangan saya. Walaupun memang dua kepala berisi 2 hal yang berbeda, kisah cinta saya juga diisi denga berkali-kali ngambekan. Tapi ya senang aja bisa tahu kalau kita bisa manja-manjaan dan cerita apa aja ke orang yang mau memahami kita.

Ngga jarang juga sih saya ngerasa membagi keindividualan saya dengan pacar. Kaya kalau kita mau jalan-jalan sama teman, merasa perlu untuk laporan. Atau ketika memiliki impian menyangkut masa depan, ada kebutuhan untuk menanyakan apakah itu akan mengganggu keberlanjutan hubungan kita.

Walaupun sebenarnya, pacar saya ngga akan menghambat saya, bahkan dia akan cenderung membantu. Namun seperti ada kode etiknya kalau berpacaran harus membagikan sebagian keakuan kita kepada pasangan.

Pada beberapa hubungan, situasi membagikan keakuan ini sering kebablasan hingga atas nama cinta, merasa berhak untuk membatasi ruang gerak. Jika sampai pada level kritis ini, kita pasti bertanya, ngapain harus berpasangan? Bukankah esensi diri adalah kita berhasil menikmati keakuan kita.

Seorang sahabat saya yang nyentrik bahkan berani memutuskan untuk hidup melajang selamanya. Dia bilang, “Gw sangan menyintai keakuan gw sampe merasa ngga butuh berbagi dengan siapa-siapa, khususnya laki-laki.”

Beberapa orang menanggapi keputusannya sebagai wujud sakit hati dari laki-laki. Malah ada yang bertanya, apakah dia pernah mengalami trauma parah hihihi. Tapi buat saya, itu hanya keputusan biasa seperti saya memilih berbagi hidup dengan pacar saya. Mungkin karena saya melihat sendiri betapa hidupnya sahabat saya ketika dia berjalan sendirian di teriknya Jakarta. I mean, litteraly walking karena dia suka jalan kaki. Atau ketika dia cerita dia mau ke gunung halimun sendirian atau ke karimun jawa sendirian. Buat saya, ya itulah dia.

Tapi pernah juga sih saya bertanya, kenapa gw ngga kepikiran untuk melakukan itu lagi ya. Dulu waktu belum pacaran, saya dan teman-teman merencanakan ke luar kota. Walaupun sedikit yang terkabul. Atau menghayal punya perpustakaan bareng dengan teman-teman itu.

Sekarang malah kebalikannya, saya merasa lebih seru jalan-jalan sama pacar saya. Seru aja, karena saya bisa manja-manjaan. To be honest saya termasuk orang yg ngga mau repot kalau jalan-jalan. Pokoknya harus nyaman. Dan pacar sendiri lebih nyaman direpotin ketimbang teman kan hihihihihi.

Soal perpustakaan juga, saya pengen punya perpustakaan bareng pacar saya nantinya di rumah kita berdua. Bahkan saya berjanji untuk membeli buku di negara-negara yang saya kunjungi. Tujuannya untuk melengkapi perpustakaan masa depan. Amin πŸ˜€

Pada tahap ini, apa kita bisa bilang ternyata membagi keakuan bukanlah hal yang mengancam status individualitas kita. Karena pada intinya, sebagian besar hidup manusia diisi dengan saling berbagi. Apakah dengan sahabat, keluarga, atau pacar.

Jadi seharusnya, agama menekankan nikmatilah hidup dengan berbagi banyak hal kepada semua orang yang membuat kita nyaman. Kalau kita nyaman untuk berpasangan (baca: berbagi hidup) dengan teman-teman, maka nikmati. Dan hal yang sama juga terjadi jika kita merasa nyaman berpasangan dengan pacar. Yah berpasangan tidak harus mengenal jenis kelamin karena bagaimana pun juga berpasangan lebih baik dari pada sendiri. Sebab semuanya mengenai mari berbagi πŸ˜€

Advertisements

3 responses »

  1. yep,i'm an autistic pedestrian, and i'm proud of that.but i just keep wondering,why most people think that being unmarried is a silly&insane decision?we're all not the same.so why should have same decision about marriage??just like my kings (koc) say: "we've got 4 eyes, so why yearn for 1 perspective?"

  2. You right my dear…Btw, i like the lyric " We've got 4 eyes, so why year for 1 perspective" Bagus kata-katanya…Udah ngga usah pikirin kata orang…yang penting gua tetap bisa nyulik lu untuk jalan-jalan ke tempat yang aneh…hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s