Simbol Ketulusan

Standard

Hari ini saya, bermain ke museum bersama taman belajar RUMAH SENYUMPAGI yang diasuh oleh Ika Krismantari dan suaminya, Kelik Wicaksono. Pasangan unik yang selalu tertawa, saya hampir ngga pernah liat pasangan ini cemberut-cemberutan.

Awalnya saya kenal Ika, dan saya percaya tidak ada sebuah kebetulan dalam hidup termasuk ketika Summer Academy 2008 InWEnt mempertemukan saya dengan perempuan berambut ikal ini. Awalnya kami hanya catting di YM untuk mengakrabkan diri. Sebelumnya saya beberapa kali mendengar cerita tentang dia dari pacar saya. Ini kemudian membuat saya membaca blognya diam-diam πŸ˜€

Perbincangan awal kami adalah pada saat perjalanan ke Jerman, di dalam pesawat KLM, selama kurang lebih 14 jam! Entah kenapa saya merasa ingin bercerita banyak hal dengan istrinya Kelik ini, mungkin saya merasa “berhutang” karena sudah membaca cerita hidupnya sebelum kenal langsung dengannya di blognya.

Setelah itu, kita seperti bunyi tutup botol ketika dibuka, KLIK. Iya…kita nge-klik aja. Setiap malam kami tertawa-tawa di kamar dalam bahasa Indonesia selama di Hamburg. Cerita mengenai agama, perjalanan percintaan, sampai fantasi seksual wakakakaka…Fantasi…kayanya….kikikikikik.

Saya merasa sangat beruntung sekali, Sang Pengatur Cerita, mempertemukan saya dengan perempuan yang lahir 7 Desember ini. Pengalaman ke luar negeri pertama saya, benar-benar dipenuhi dengan petualangan! Belum lagi kami berdua mengalami kejadian yang menyeramkan akibat mabuk-mabukan di Berlin. Ya senasib dan sepenanggungan lah πŸ˜€

Sedangkan untuk Mas Kelik, yang saya tahu dia sangat cinta dan romantis kepada Ika. Saya ingat betul, saat menjemput kami di Bandara Soekarno-Hatta, Mas Kelik membawa seikat bunga yang sangat cantik. Dan ketika mama saya senyum-senyum melihat dirinya memberikan bunga kepada istrinya, Mas Kelik hanya berucap, “Aku malu tadi ngasih liat ke tante, makanya tak umpetin…” Oooooo Mas Kelik, kau mencuri hatiku…loh kok πŸ˜€

Semenjak perjalanan di Eropa, saya dan ika semakin dekat. Saya sayang sekali dengan dia karena dia begitu tulus ketika berteman. Sampai akhirnya dia bercerita dia punya taman belajar di rumahnya, Rumah Senyumpagi. “Karena anak-anak sering main ke rumahku, akhirnya aku bikin kelas aja. Kelas bahasa Inggris, dari pada cuman main-main doang.” Begitu Ika bercerita melalui YM kepada saya. Ekspresi saya, “Wah Ika kamu baik banget.”

“Kalau aku jadi anak-anak itu, pasti kamu akan jadi icon guru bahasa inggris yang cantik dan baik hati,” komentar saya sambil disertai tanda senyum di YM. Dan kami pun tertawa bersama. Alhasil saya sering mendengar cerita tentang taman belajar Rumah Senyumpagi. Baik dari cerita Ika langsung atau melalui statusnya di FB. Saya iri, saya ingin menjadi muridnya Ika πŸ˜€

Akhirnya dengan tanpa perencanaan, saya dan pacar saya mengunjungi Rumah Senyumpagi. Dengan bermodalkan panduan via SMS, kami pun sampai di rumah yang sangat nyaman. Saya duduk di antara anak-anak, maklum niat saya kan mau jadi muridnya Miss Ika dan Mas Kelik. Dan ada satu anak kecil yang mencuri hati saya, entah mengapa Nisa menatap saya dengan terpesona. Mungkin karena rambut saya seperti megalowoman πŸ˜€

Belum lagi salah satu anak yang dengan lugu menyarankan Ika agar banyak makan garam, biar bisa hamil…hihihihiiihi. Anak-anak memang punya privilege untuk menjaga originalitas ekspresinya. Kenapa setelah besar kita jadi jaim ya?

Kunjungan impulsif ini bikin saya ingin bercengkrama lagi dengan anak-anak luar biasa itu. Dan ketika mendengar Ika akan mengajak mereka ke museum, saya berjanji untuk datang. Rasanya luar biasa, melihat tour guide keren bercerita dengan lugas tentang benda-benda bersejarah. Lugas, karena sang tour guide tidak seperti tour guide kebanyakan yang kaku dan pegawai negeri bangetlah. Tour guide yang ini trendi, pake kemeja kotak-kotak dengan syal melilit di lehernya. Saya kalau jadi anak-anak itu pasti naksir sama Mas Kelik, abis keren banget sih (gaya abg mode on).

Dan hari ini, saya lagi-lagi terpesona apa yang pasangan ini lakukan. Mereka bahkan sampai menyewa bis yang sangat nyaman untuk mengantarkan 18 anak dari Pondok Cabe sampai Museum Gajah. Dan anak-anak merasa sangat antusias mengisi titik-titik di kertas kuis yang mereka sediakan. Seingat saya dulu, setiap kali dikasih soal pas mengunjungi museum saya merasa biasa aja. Karena ya itu, tour guidenya bapa-bapa berseragam cokelat πŸ˜€

Melihat bagaimana pasangan ini membagikan waktunya bersama anak-anak yang awalnya gemar mampir ke rumah mereka, rasanya luar biasa untuk bisa memiliki keinginan berbagi seperti mereka. Menangkap setiap ekspresi yang dilontarkan bebas tanpa dibatasi, beruntungnya anak-anak itu mengenal dua sosok orang dewasa yang mengajarkan keutuhan untuk menjadi diri sendiri.

Ah mereka berdua memang simbol ketulusan yang hidup yang saya temui dan nikmati. Keterbukaan mereka terhadap berbagi itu indah tidak hanya terbukti pada hubungan perteman yang belum lama saya jalani dengan mereka, tapi juga terlihat nyata melalui interaksi miss, mas, dengan anak-anaknya.

Cobalah berkunjung ke rumah Senyumpagi. Temukan seorang perempuan yang sangat mencintai hidup tengah duduk di depan pintu rumahnya yang bermodalkan whiteboard dan spidol, menulis tentang bahasa inggris yang sederhana. Tidak perlu menjadi yang terhebat di kelas ini karena Miss-nya masih suka lupa bahasa inggris dari sebuah kata dan mencarinya di dalam kamus di depan anak-anaknya.

Setelah belajar tanpa tekanan, giliran Mas-nya menciptakan permainan. Bisa jadi permainannya origami, hang man, atau ular tangga, yang pasti permainan sederhana yang membuat kita penasaran dan tertawa. Di akhir pelajaran, anak-anak akan diberi choki-choki yang didapat setelah mengantri dengan rapi. Belum puas bermain di rumah Senyumpagi, tenang saja Miss Ika dan Mas Kelik masih bisa dipanggil setiap kali kita melintasi depan rumahnya. Seperti anak-anak itu yang tidak bosan mengajak mereka bermain, “Miss besok olahraga pagi yuk.” Atau, “Miss mau main dong.”

Dear Ika dan Mas Kelik, makasih ya untuk pembelajaran tanpa hentinya. Taman belajar Rumah Senyumpagi selalu memberikan candu kepada saya untuk selalu datang, datang, dan bermain. Love you both so much πŸ˜€

Advertisements

6 responses »

  1. miss priska,iyah anak anak itu emang polos, lucu lucu dan seru seru deh. dan kata ika, itu yang membuat hidup lebih 'hidup'.dan kami terharu deh baca tulisanmu…ditunggu kedatangannya lagi yah miss priska!pssst… nomer telepon pak pemandu guanteng kemaren dah kamu dapet kan πŸ˜‰

  2. Pingback: Doa Cinta Untuk Senyum Pagi « Flying so light to the sky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s