Merealisasikan 28

Standard

Hari ini Sang Pemilik Kehidupan memberikan kepercayaan kepada saya untuk memasuki ke-28 tahun hidup di dunia. Mari mendalami usia ini.

Sewaktu saya masih remaja, saya menggambarkan di usia ini saya akan menikah. Mengapa? Karena saya memprediksikan karir saya sudah lebih enak. Enak buat saya dan keluarga. Ya ini ada benernya.

Disamping itu, saya juga menyakini secara psikologis saya siap. Entah dari mana ketika itu saya bisa dapat keyakinan sedemikian bulat.

Kenyataannya….
Beberapa hari menjelang pertambahan usia, saya jadi gampang marah dan semakin egois. Ntah apa ini memang buah perjalanan karir yang lebih enak. Karena tanggung jawabnya makin besar, tingkat stres saya juga makin tinggi. Tapi saya bersyukur, amat bersykur bahkan. Karena Sahabat Kehidupan saya memberikan kepercayaan untuk masuk dalam kenaikan tanggung jawab. Saya percaya apa yang dipercayakan Dia adalah yang paling baik yang saya bisa lakukan.

Selain gampang marah, saya semakin egois. Tanya saja pacar saya, dia bertubi-tubi dapat “serangan” keegoisan saya (Maaf ya sayang). Apa ini namanya kematangan psikologis, rasanya tidak juga.

Beberapa jam lalu, saya cerita dengan seorang sahabat saya yang lama sekali tidak bertemu. Saya bilang, saya merasa aneh ketika beradu argumen dengan teman-teman lain. Saya merasa asing. Saya percaya, people do change tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa perubahaan itu membuat kita merasa kikuk ketika berhadapan dengan mereka yang lama kita kenal tapi dengan perbedaan pemikiran. Iya, saya menjadi tidak adil jika memaksa semua orang untuk berubah ke gelombang yang sama dengan perubahaan saya. Itu mengapa, saya memilih saya yang merasa asing.

Lalu saya bertanya kepada sahabat saya itu, apa saya yang masih menjadi alien sementara yang lain sudah jadi manusia 😀 Teman saya menjawab, interaksi kita sudah beda jadi outputnya juga beda. Ya apa yang teman saya katakan benar, tapi saya masih bertanya, mengapa saya berubah terlalu cepat? Teman saya itu bilang lagi, semuanya masalah pengertian. Kalau kita mengerti telah terjadi sebuah perubahan pada masing-masing orang, lebih baik menganggap perbedaan itu sebagai kondisi sekarang yang diterima dengan porsi yang pas.

Iya porsi yang pas dengan mengerti ketika jalur perubahan kita terlalu cepat, lebih baik memancing pembicaraan yang umum-umum saja. Biar tidak ada yang tersakiti atau disakiti dengan kesadaran people do change.

Mungkin kecenderungan egois saya yang tinggi muncul karena saya merasa sendirian. Tidak banyak pendamping pikiran-pikiran gila saya. Semuanya berjalan sesuai aturan, sedangkan saya masih jatuh cinta dengan ketidaknormalan. Alhasil saya merasa butuh menyuarakan keinginan saya dengan berlebih agar semua orang mendengar ketidaknormalan saya dan memahaminya sebagai kewajaran. Entahlah saya sedang egois memang.

Tapi saya bersyukur, setidaknya saya bisa merasakan fluktuasi emosi yang melelahkan. Ini membuat saya ingin keluar dari kekacauan emosi dan keegoisan ini dengan cepat.

Lagi-lagi saya butuh keluar dari kepompong saya. Saya butuh menegaskan diri sebagai sesuatu di luar garis. Saya harus menjadi asing karena proses metamorfosis mengantarkan saya pada itu.

Tapi saya juga menyadari, bahwa kebutuhan menjadi asing ini seharusnya tidak membuat kekasih saya terzalimi berkali-kali. Saya hanya ingin kita menjadi asing bersama-sama. Saya takut dia saya temukan menjadi sosok yang tidak saya kenal. Dengan cara yang salah, saya coba menyadarkan dia dengan “memaksa” dia mendengarkan saya. Karena saya ingin, kita tetap pada atmosfer cinta yang sama ketika memutuskan untuk menjalani hubungan. Saya tidak mau hubungan saya yang ini berubah menjadi sesuatu yang pragmatis. Karena sudah biasa jadi tidak perlu manis-manisan atau manja-manjaan lagi. Saya ingin tetap deg-degan ketika dibonceng dia dengan supra fit.

Ya saya takut menjadi pragmatis. Saya ingin tetap hidup dengan keliaran berpikir saya. Aku berharap kamu tetep temenin aku yang. Karena ternyata, semakin kita tua kita menjadi seragam. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan buat aku.

Ah umur 28 itu ternyata butuh banyak pengertian dan kesabaran. Di umur ini, lingkungan kita jadi linear. Pilihannya ditarik garis lurus itu atau menarik garis ke luar kertas. Saya sih inginnya yang kedua. Saya percaya menjadi dinamis lebih aduhai ketimbang sekedar jalan tanpa tau kenapa harus jalan. Bila kemudian ini diartikan sebagai egoisme karena tidak mau bertoleransi dengan keseragaman ya saya telan saja bulat-bulat. Toh dulu saya juga dibilang demikian saya memilih keluar dari kewajaran.

Semoga metamorfosis ini akan lebih kuat saya jalanin karena usia 28 itu dasar dari kematangan proses hidup. Jika saya sukses merealisasikannya maka saya tinggal memoles proses saya menjadi istri, ibu, dan nenek dari masa depan saya.

Ayo kupu-kupu, sudah habis waktunya menjadi kepompong. Robek kepompongnya dan lebarkan sayap, karena keliaraan itu ada di luar selubung hitam yang menyesakkan. Selamat memasuki proses baru dan selamat menikmati hidup 😀

Advertisements

2 responses »

  1. salam kenal…membaca sebagian tulisan yg dibuat oleh sang kupu2, membuat saya seperti menjadi mendalami karakter sang kupu2…selamat menjelajahi ke 28 thn usiamu….mampir sekali-kali ke blog ku….:Dhttp://dewiyovankahutagalung.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s