Tanggung Jawab Itu Saya Terima

Standard

Mungkin memang ada benarnya ucapan yang mengatakan, “kata-katamu adalah doa.” Saya sering mengalami ini. Dan saya bersyukur karena kata-kata saya yang terbaik yang menjadi doa dalam kenyataan.

Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa, saya begitu mengagumi Jerman karena konsep Jurnalistik Jerman lebih original. Lalu saya membatin, semoga satu hari saya bisa ke sana untuk belajar. Lima tahun lebih setelah kata-kata yang dalam kepala itu terucap, saya mendapat kesempatan untuk fellowship di Jerman. Ya cuman pelatihan sih, sebulan doang lagi. Tapi buat saya itu salah satu legenda pribadi saya yang tercapai. “Saya telah melihat piramida itu,” ucap Santiago seraya menitikan air matanya.

Selepas kuliah, saya menganggur hampir setahun lebih. Alasannya idealis, saya ingin bekerja di media yang menulis tema-tema yang saya suka. Inceran saya saat itu, Majalah Basis. Majalah filsafat kebudayaan yang emang ngga perlu reporter karena semua tulisannya adalah kiriman orang-orang pinter 😀 Tapi saya tetap membatin, saya ingin satu saat realitas yang berkorban demi saya. Mau mengakui bahwa saya bisa melakukan apa yang saya suka dan dibayar.

Dan legenda pribadi saya yang ini, tengah saya lakoni selama sebulan ini. Bekerja sebagai editor di majalah online PreventionIndonesia.com. Saya merasa sangat bersyukur karena media online ini membahas mengenai kesehatan dan perempuan. Wilayah yang menurut saya sangat mewakili nafsu intelektualitas saya selama menjadi buruh tinta.

Banyak tanggung jawab yang ditawarkan ke saya. Mulai harus bikin tema, polling, ngedit sampai mulai mencari cara agar tetap berjalan dengan “asupan” yang menyehatkan. Saya semakin tersadar ketika seseorang mengatakan pada saya, “Kita udah di level manejerial jadi harus mulai mikir gimana semuanya biar laku.” Jujur saya kaget, karena sebelumnya saya terlalu asik dengan hanya liputan dan memberikan laporan dalam bentuk tulisan. Dan kini saya ditantang untuk bisa memimpin, kreatif, dan bertanggung jawab pada pembaca.

Kadang saya merasa, Am I not to fast for this. Tapi saya kubur dalam-dalam rasa itu, saya takut otak merekamnya menjadi doa. Saya percaya, ketika Santiago memilih untuk meninggalkan apa yang dia punya untuk mencari sesuatu yang sebenarnya hanya berupa ide, dia sudah mengerti bagaimana agar sampai pada pewujudan ide itu. Kalau Santiago berani, kenapa saya tidak.

Saya semakin yakin, ketika baru 5 hari kerja, kantor memfasilitasi saya dengan laptop. Iya laptop, barang yang dari 2006 saya pengen-pengen tapi selalu gagal untuk alasan ekonomi. Saya sangat diberkati, laptop ada di tangan tanpa harus membayar seperak pun. Cuman pegel aja, setiap hari harus luntang-lantung bawa barang berat itu. Tapi well semuanya harus membawa sesuatu untuk sampai pada legenda pribadi berikutnya kan.

Kepada Sang Pencipta Legenda Pribadi, saya percaya Dirimu tidak pernah mencelakai kekuasaanMu sendiri. Ketika Kau memutuskan untuk memberikan semua ini padaku, Kau pasti tidak tengah bermain dadu apakah aku bisa atau tidak. Kau yakin aku bisa dan aku yakin itu. Dan dengan segala keyakinan yang Kau selipkan di dalam kepalaku, biarkan aku menjadi padi menundukkan kepala bukan karena kalah tapi karena begitu rindu untuk membagikan apa yang ada ke bawah. Plus, mampukan aku tidak sekedar menjadi daging yang melongo tanpa makna. Biar daging yang bisa melahirkan ini, bertanggung jawab atas hidup yang Kau beri dengan menikmatinya seutuhnya. Dengan segala kerendahan hati, mari jalan bersamaku ke Legenda Pribadi yang berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s