Makan Siang ala Komandan Polisi

Standard

Siang ini, saya dan pacar saya memilih untuk makan siang di Gado-Gado Bobplo. Maklum, pacar saya baru tiba dari pengembaraanya di negeri Jiran. Jadi hasrat untuk makan-makanan tradisional menggebu-gebu. Kembali ke lidah asal.

Saat kami sedang menikmati gado-gado yang identik dengan bumbu kacang yang kental, tiba-tiba ada seorang Bapa mengisi bangku-bangku di hadapan kami. Satu meja terdiri dari empat bangku dan Bapa berkulit putih itu menempati satu meja khusus. Gayanya sangat santai sekali, tidak terlihat kelaparan berat seperti kami.

Tidak lama setelah Bapa itu duduk, datang seorang pria tinggi menyeret kursi dari meja sebelah Bapa tersebut. Pria tinggi berseragam coklat ini dengan cekatan memanggil pelayan. Setelah pelayan menangkap lambaian tangan, pria tinggi berseragam, mengarahkan telunjukkan ke meja Bapa putih bertubuh sedikit gempal.

Ternyata pria tinggi berseragam tidak sendiri, di belakangnya tegap berjalan dua polisi. Dua polisi menyeret bangku dari meja yang sama dengan pria tinggi berseragam. Saya berbisik pada pacar saya,”Kenapa mereka ngga duduk satu meja aja ya yang?” Pacar saya hanya membalas, “Psssttt…nanti kedengaran.”

Belakangan, datang juga seorang pria bersafari hitam dan berkaca mata. Pria tinggi berseragam, menyilahkan pria bersafari untuk duduk di sampingnya. Saya berasumsi, pria putih berbadan gempal itu pastilah petinggi instansi tertentu. Pria tinggi berseragam adalah ajudannya, ini diperkuat karena selalu membawa tas hitam yang menyerupai agenda. Sedangkan pria bersafari hitam adalah supirnya.

Sang pria putih berbadan gempal, selesai memesan makanan dan meminta sesuatu pada ajudannya. Yang terdengar oleh saya, hanyalah balasan Sang Ajudan. “Siap komandan,” seraya menyerahkan dua buah handphone.

Komandan menekan keypad dan berbicara, “Tadi pagi, saya sampai bandara jam 09.30 ….” saya tidak mendengar jelas apa kata komandan ini karena lagu yang diputar restoran berpadu dengan suara hujan yang deras. “Saya sudah lama pakai jasa perusahaan Anda.”

Tidak lama kemudian, makanan komandan datang. Tungku kecil berwarna perak mengeluarkan asap dengan aroma yang nikmat. Sang Komandan,kembali memanggil ajudannya. Memberikan perintah dan ajudan pun menghampiri pelayan. Sesaat kemudian,pelayan datang membawa gelas berisi air panas.

Air panas diterima dengan sigap dan memasukkan sendok serta garpu ke dalamnya. Setelah terendam beberapa detik, komandan mengangkat sendok garpu tersebut dan mengelapnya dengan tisu. “Wah higienis sekali,” batin saya.

Tiba giliran pelayan mengantarkan makanan para pendamping komandan. Uniknya sebelum makan, mereka punya kata sandi. “Mohon ijin komandan untuk makan.” Sang komandan dengan santai atau bahkan setengah tidak peduli karena sedang menikmati makananya hanya mengganggukkan kepala.

“Wah makan aja minta ijin,” saya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Pacar saya yang awalnya tidak peduli untuk berkomentar, akhirnya mengeluarkan suara, “Hah masa sih?!?”

Mereka makan selahapnya dan usai komandan selesai makan, ajudan memberikan sebungkus rokok dan matches. Sang Komandan menyalakan rokok sambil menghisap dalam-dalam. Saat kepulan asap rokok dihembuskan, handphone komandan berbunyi. “Iya, saya ini sebenarnya ingin marah kepada Ibu. Ibu tau, bawahan itu tidak mengeri konfirmasi…” Komandan mengeluarkan uneg-uneg dan para ajudan menikmati makananya.

Selesai menunjukkan kekuasaanya pada perusahaan taksi yang melakukan kesalahan, komandan bercerita. “Ibunya bilang, maaf Pa atas kinerja bawahan saya,” sambil ketawa cengengesan. Ketawa cengengesan inilah yang membuat saya sedikit tidak nyaman. Rasanya komandan puas menggunakan kekuasaanya untuk dilayani bak raja. Berbagi cengengesan dengan bawahan menunjukkan betapa dia punya pengaruh, jadi jangan macam-macam sama dia.

Kenapa komandan bangga sekali mengintimidasi. Dia tidak memberi peringatan dengan tendensi mengedukasi tapi lebih kepada, layani saya dengan baik atau kalau tidak perusahaanmu celaka. Para ajudan ikut cengengesan sambil mengucapkan, “Siap komandan….siap setuju komandan.” Tidak hanya itu, mereka memperhatikan detail cerita komandan, seolah hal itu patut ditiru agar ketika kejadian yang sama terjadi semuanya mempunyai guru untuk amalkan.

Selesai menghisap rokok, komandan meminta ajudannya untuk membayar. Dompet berbentuk agenda itu dibuka, ajudan mengeluarkan lembaran ratusan ribu. Saat menunggu pelayan menyerahkan bukti rincian, komandan memberikan intruksi. “Ayo kita jalan sekarang.” “Siap komandan,” semuanya menjawab sambil berdiri padahal di tangan mereka rokok baru saja dinyalakan. Hisapan awal menjadi hisapan akhir.

Komandan berjalan di depan, ajudan bertubuh tinggi memeriksa meja. Memungut bungkus rokok dan matches. “Hatssssimmmm….” ajudan bersin seraya mengambil tisu. Tisu tipis yang menyentuh hidungnya yang berair itu, digumpalnya dalam genggaman tangan. Setelah itu tisu diletakkan sembarang di kursi kosong yang melintasinya. Kenapa dia tidak buang di tempat sampah ya? Apa dia tidak takut, kalau satu hari komandan memilih duduk di kursi yang telah ditempeli virus flunya?

Ah ternyata makan siang bersama komandan tidak seru. Penuh perintah dan terlalu dimanjakan. “Namanya juga komandan neng, raja kecil”ucap pacar saya sambil meledek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s