Semangat Rock n Roll

Standard

Sewaktu masih kuliah dulu, saya terbuai dengan jemantik jari Jim Hendrix di gitarnya. Tidak sampai disitu saja, saya malah semakin menjadi-jadi. Suara David Bowie yang serak-serak gimana gitu, berhasil membuai saya.

Entah atas nama totalitas atau penjiwaan yang mendalam, saya pun mulai berdandan ala rock n roll. Ikat pinggang paku-paku melingkar di pinggang saya. Bahkan tas kuliah saya dipenuhi dengan pin-pin bernada rock. Plus saya punya kaos bertuliskan ROCK, besar-besar.

Tapi entah kenapa, seorang teman saya malah memanggil saya Avril Lavine. Emang sih, ketika itu Avril lagi naik daun, cuman saya masih belum bisa mengerti kenapa saya diidentikan dengan penyanyi pop rock belia itu.

Alhasil teman-teman satu jurusan memanggil saya dengan sebutan Mba Avril. Sempat ngga suka dengan panggilan ini, karena bukan saya banget. Usut punya usut, panggilan itu terinspirasi dari ikat pinggang paku-paku yang melinggar yang menjadi salah satu aksesoris si Avril itu. Yah apalah arti sebuah panggilan. Pokoknya saya cinta David Bowie dan sejenisnya, bukan Avril.

Saya pikir, semangat mencintai rock n roll ada hanya karena jiwa muda saya…Kalau katau Bang Rhoma, “Darah muda…darah yang berapi-api.” Tapi Bang Rhoma tidak pernah benar memang ๐Ÿ˜€ Karena saat ini saya sedang dibius oleh kekentalan musik rock n roll ala The Changcuters.

Tanpa sengaja saya menonton ditelevisi saat mereka meluncurkan album teranyarnya, The Changcuthers dan Misteri Kalajengking Hitam. Saya meresapi sekali permainan bass, melodi, dan drum yang dipadu dengan suara melengking bergelayut. Meskipun liriknya masih berbau santai, tapi musik yang ditampilkan cukup ampuh membawa saya pada identitas musik Mick Jagger dan kawan-kawan. Saya pun tidak memindahkan channel, saya simak dengan khusyuk karena saya penasaran dengan trik yang dilakukan Tria bersama kawan-kawannya.

Meskipun liriknya bernada santai dan jenaka, tapi mereka cukup jelas melemparkan semangat rock n roll sebagai kemasan yang kasat mata. Saking kasat matanya, saya sampai berniat untuk membeli album baru mereka. Setelah itu saya download ke mp3 saya agar bisa saya dengarkan dengan volume tertinggi, ketika saya menyusuri jalan di mana saja.

Dulu ketika kuliah, saya melakukan ini dari Setiabudi sampai Jatinangor. Saya menghadirkan penyanyi-penyanyi edan rock n roll era 80-an di kepala saya. Saya menjadi egois, dengan membiarkan mereka hanya menyanyi untuk saya di dalam bis damri yang melaju di jalan tol. Orang yang duduk di samping saya, hanya kebagian getah mendengar sayup-sayup sambil menggelengkan kepala atas volume mp3 yang membetot telinga saya.

Tujuannya hanya satu, mematik adrenalin saya agar apapun yang saya hadapi setiap harinya sekuat teriakan penyanyi rock n roll. Seperti Mick Jagger yang membuka rongga mulutnya lebar-lebar untuk menyampaikan kecanduannya pada musik cadas yang hanya memerlukan gerakan kepala yang normal alias tanpa head banging ala hard core.

Ah rasanya saya akan kembali memiliki kebiasaan lama, mendengarkan musik itu untuk keegoisan diri. Tapi tanpa ikat pinggang paku-paku tentunya….ah atau malah akan lebih afdol dengan ikat pinggang paku-paku? Well we see ๐Ÿ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s