Long distance again

Standard

Pacaran jarak jauh atau long distance zaman sekarang memang lebih mudah, thanks to the technology. Tapi rasanya selalu ngga enak untuk berada di bentangan ribuan kilometer. Maklum saya perempuan yang menikmati ketika dimanja pacar saya 😀

Ini memang bukan pengalaman kali pertama kami pacaran jarak jauh. Kurang lebih dua tahun lalu, selama enam bulan saya memanggil pacar saya ‘Bang Toyib’, karena dia harus meliput berita di Bali. Dan tahun kemarin, saya hampir tiap hari menerima sms kangen luar biasa selama sebulan dari pacar saya yang di Jakarta, sedangkan saya di Jerman.

Dua pengalaman itu memang bisa jadi guru untuk hubungan jarak jauh selama tiga bulan. Kesayangan saya harus mengikuti pelatihan di negara pengeruk pasir pantai Indonesia. Iya sih kali ini ngga selama waktu dia ke Bali atau sejauh waktu saya ke Jerman. Tapi rasanya tetap ngga mudah.

Saya inget betul sewaktu mengantar dia ke bandara sebelum terbang ke Bali, saya nangis sejadi-jadinya waktu dia boarding. Saya telepon dia tanpa bisa bersuara, cuman sesenggukan aja. “Kamu mau aku keluar lagi yang?” dia lembut banget ngomongnya. Cara dia menenangkan saya sebenarnya yang ngangenin.

Dan seminggu sebelum berangkat ke Jerman, pacar saya kecelakaan motor. Ini bikin saya tambah sedih, karena saya tidak bisa menemani dia terapi untuk syaraf lehernya yang kejepit. Selama seminggu itu, dia juga merasa sedih karena bakal sendirian pascakecelakaan. Pacar saya parnoan, maka ketika saya bisa menghilangkan keparnoannya dari jarak jauh, bener-bener ngangenin.

Beberapa hari lalu, saya dan dia mengucapkan berkali-kali betapa kami saling menyangi satu sama lain teramat sangat. Kata keterangan berkali-kali menunjukkan betapa kami sangat menyadari bahwa terpisah ribuan kilometer, tidaklah mudah. Karena, kami terlalu nyaman saat bersamaan dan rasanya tidak sempurna kalau tidak berdekatan.

Untuk menciptakan kenyamaan jarak jauh, pacar saya menyarankan agar saya menulis puisi-puisi Jalaluddin Rumi setiap harinya di blog ketika dia harus enam bulan di Bali. Tapi saya hanya memberikannya beberapa, karena saya lebih suka telepon-teleponan berjam-jam. Ini membuat biaya telepon kami membengkak. Dan sewaktu saya ke Jerman, setiap hari bisa lebih dari sepuluh sms saya kirim untuk menghadirkan dirinya dekat saya. Lagi-lagi, ini membuat bayaran telepon saya sampai Rp 1 juta!! But it worth it 😀 plus dia ikut menyumbang kok hihihi.

Selain berkali-kali mengucapkan betapa kami saling mencintai, kami juga bilang “Jangan nakal-nakal ya sayang.” Ini biasa diucapkan sambil tersenyum biar senyum saya terpatri di kepalanya setiap kali melihat perempuan berbaju merah. Atau ketika dia mengatakan kalimat itu, dia akan mencium kening atau memeluk saya. Saya yakin tujuannya sama dengan saya, cuman tanpa perempuan berbaju merah 😀

Ah sayang, I miss you already. Please come back soon coz you complete me when we were together. Bahkan kamu belum jalan aja, aku udah smsin kamu untuk ‘melaporkan’ hal-hal yang ngga penting. “Kamu kan suka mencuri perhatianku yang,” itu katamu meresponi smsku yang cuman bilang aku mimpi seram atau sakit perut karena menstruasi.

I love you honey, I love you million times and don’t be naughty ya 😀

Advertisements

6 responses »

  1. Wah, itu tangan siapa tuh? Kok kesannya gimana gitu. :DKita emang enggak pernah bisa bener-bener tahu hidup bakal kayak apa besok atau sejam kemudian, tapi kita tidak pernah bosan bersandar pada upaya dan harapan, sekalipun banyak orang bilang upaya itu sia-sia di hadapan Tuhan Penguasa Takdir dan harapan itu tak lain dari ilusi yang lahir dari hasrat, bukan nalar. Setiap detik, menit, jam, pekan dan tahun — seperti yang pernah kamu bilang — sejatinya datang seperti kejutan, dan kita mengamini kenyataan itu. Tetapi apa artinya kejutan tanpa ekspektasi dan rasa cemas? Doh, aku ini ngomong apa yah? Hehe…filsuf gadungan, maklum. Well, Pris, mungkin komentarku ini aja: sepertinya kita sudah begitu mencintai hari ini sampe kita merasa perlu untuk cemas bila esok semuanya berubah, dan merasa wajib untuk berharap bahwa semua yang kita anggap baik hari ini akan tetap menjadi baik, atau menjadi lebih baik, atau menjadi yang terbaik besok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s