Hidup Tidak Pernah Simetris

Standard

Pacar saya yang filosifis itu selalu bilang kalau hidup tidak pernah simetris. Terutama ketika dia sedang down dan pusing dengan semua realitas yang ada. Awalnya saya tidak setuju, karena saya punya semangat optimis segudang lebih. Buat saya, hidup itu usaha yang diselubungi kepercayaan diri untuk membuat semuanya jadi positif. Jadi persetan dengan kegagalan atau ketidaksempurnaan, selama ada usaha ya itu pergerakan namanya.

Tapi seminggu kemarin, saya mengalami rangkaian peristiwa yang menggelikan untuk dibilang simetris. Mulai dari majalah yang merasa keberatan untuk dikritik dan kemudian membalas kritikan dengan tidak mencari titik temu sama sekali. Ya dia tidak mau, kita juga tidak mau. Padahal apa yang dikritik adalah hal rasional yang diungkapkan hampir seluruh narasumber ketika melihat majalah.

Perjuangan teman-teman selama ini untuk lebih menjadikan profesionalisme sebagai image majalah, dimentahkan hanya karena pertimbangan personal. “Kita masih bisa dapat berita dari tempat lain. Tenang saja.” Kutipan itu berasal dari orang yang tidak pernah turun ke lapangan. Kita melontarkan pertanyaan dan pemikiran, tapi tetap pemberi kutipan mengatasnamakan keputusan perusahaan. Perjuangan yang tidak simetris.

Hal lain yang terjadi adalah saya dihianati oleh sahabat saya sendiri. Dia merancang semuanya dengan rapi, walaupun saya diawal-awal saya sudah mengendusnya. Tapi saya dengan bantuan teman yang lain, menepis aroma negatif itu. Sampai akhirnya saya menemukan bukti-bukti dan menghadapkan kepadanya.

“Apa penjelasan lo?” pertanyaan itu dijawab dengan sikap yang defensif. Bahkan cenderung mengalihkan masalah dan membuat saya seolah baru menetas di dunia. Parahnya, saya malah dimarahi abis-abisan dan dia menyatakan kekecewaanya. Padahal kalau mau jujur, segala kebohongannya saya paparkan dengan halus. Tidak dengan melempar ke mukanya tanpa memberi kesempatan bagi dia untuk menjelaskan.

Dia terlalu defensif. Dia terlalu mencari alasan yang dengan mudah saya patahkan. Saya punya bukti dan dia tidak. Ketika ditanya mengenai pembuktiannya, dia kembali membentengi dirinya dengan mengatakan kecewa atas saya. Kalau dia mau jujur, kecewa adalah otonomi saya. Karena dari banyak hal yang saya temukan, semuanya mengecewakan saya. Semua teman saya, sepakat dia melakukan kebohongan tingkat akut.

Ini juga realitas yang tidak simetris. Atas nama persahabatan dan perjuangan bersama, saya percaya dia tidak akan ngadalin saya. Dan atas nama persahabatan, dia membayar saya dengan manipulasi skenario yang terlalu mudah diungkapkan.

Lalu apa artinya selama ini? Apa pertimbangannya melakukan semua itu? Apa pembelaan yang dia punya. “Pokoknya jangan hubungin atau temui gua dulu, gua sakit hati,” itu jawaban dari orang yang terbuka kedoknya. Kedok dari penghargaan persahabatan yang asimetris. Saya kecewa dan saya harusnya lebih dari sekedar kecewa, tapi dia mengambil posisi itu untuk membuat saya merasa terpojok. Dia lupa, saya punya alibi dan bukti yang kuat untuk itu.

Maka saya mulai membentuk frame dunia memang tidak simetris dalam kepala saya. Semua yang saya lakukan dibalas dengan kekecewaan dan bahkan balik mencucuk hidung saya. Saya merasa dua orang ini telah melakukan kontaminasi terhadap semangat optimistis dan pikiran positif saya. Saya menangkap bau amis kepentingan dari keduanya. Atas nama uang mereka menjadi tidak malu untuk balik menuduh orang.

Pelan-pelan saya meyakini dunia memang tidak simetris, jadi jangan terlalu menganggap semua positif dan lurus seperti harapan kita. Salah seorang sahabat saya bahkan berkata, “Semua orang berubah Pris. Dan lo tidak bisa berpikir bahwa seseorang yang lo kenal dulu akan selalu dalam sosok yang sama.”

“Bahkan pandangan dia mengenai persahabatan akan berubah? Lalu apa artinya selama ini,” tanya saya setengah tidak percaya. “Ya iyalah Pris. Orang berubah dan itu merubah semuanya,” ucap teman saya coba menyadarkan saya. “Dunia memang tidak simetris,” ucap saya pelan. Dan itulah kali pertama saya menambahkan realitas tersebut dalam kamus kehidupan saya.

Sampai sekarang, saya masih mencari cara untuk menghapus cara pernyataan negatif itu. Tapi realitas majalah saya, masih harus diperjuangkan. Sedangkan cerita yang kedua, membutuhkan usaha yang amat panjang. Karena saya sudah kecewa teramat dalam dan saya tidak tahu bagaimana menghadapi teman saya itu.

Seekor kalajengkin, dilahirkan dengan cangkang yang kuat dan berbisa. Dia tidak bisa dilukai terlalu dalam karena yang keluar adalah bisa kekecewaan. Dan butuh penawar yang kuat untuk bisa itu. Karena asimetris dunia memang selalu melahirkan kepahitan. Dan kesiapan kita menetralisir kepahitan itu, butuh kesadaran diri atas arsiran ide simetris dengan realitas asimetris dunia.

Persetan dengan semuanya. Saya bekerja profesional dan ketika itu tidak diapresiasi, maka saya akan mencari yang bisa mengapresiasi. Saya loyal dalam berteman dan ketika itu tidak dihargai, maka saya punya alasan yang bijak untuk membangun kurungan bagi pertemanan itu. Biar dia menjadi eksklusif, karena dunia adalah tempat yang penuh dengan kesendirian. Jadi buat apa untuk selalu bersama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s