6 November Yang Kedua

Standard

Dua tahun lalu, kami memilih untuk berbagi kasih bersama. Pilihan ini mungkin bagi sebagian teman terbilang nekad, karena saya baru kenal dengannya sekitar dua minggu saja. Pembicaraan yang diawali dengan pertanyaan apakah mungkin Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa dilompatinya. Pertanyaan ini saya jawab sekenanya, maklum, saya bukan orang yang terlalu menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang kaku. Jadi bisa saja Dia menciptakan batu yang tidak bisa dilompatinya. Walaupun katanya, menurut persepsi banyak orang, Tuhan itu ngga mungkin menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Apalagi membuatNya terlihat bodoh.

Lalu saya bertanya padanya, bagaimana mungkin sampai sekarang Syiah dan Sunni masih bersitegang. Dia kemudia bercerita panjang lebar, mulai dari sejarah sampai intrik politik. Dan dia bercerita mengenai mazhab gelap dari sejarah gereja, perang salib. Well there’s no differences between it, every religion has their own black history. Satu hari yang singkat namun cukup menciptakan chemistry tersendiri. Kami tertarik satu dengan yang lain, banyak pembicaraan yang membuat kami nyaman untuk bersama.

Selang seminggu, kalau saya tidak salah ingat, dia melontarkan pertanyaan mengenai ice cream. “Ingin merasakan ice cream secara nyata tapi setelah itu tidak akan bisa mengingatnya atau hanya membayangkan nikmatnya ice cream agar sensasinya tetap dapat diingat sepanjang hayat? Yang dua minggu kemudian, dijadikan cara untuk mengajak saya berbagi kasih. Well, pertanyaan ice cream, saya jawab saya ingin menikmatinya secara langsung, perkara setelah itu saya tidak akan punya memori mengenai nikmatnya ice cream adalah hal yang harus dihadapi nanti. Saya berani ambil risiko, ketimbang hanya menghayal bagaimana rasanya ice cream seumur hidup.

Banyak orang bilang, hubungan kita berisiko. Atas nama perbedaan agama, makin lama kami menikmatinya makin banyak orang yang mengingatkan perbedaan tersebut. Mereka bilang, kami hanya menghabiskan waktu. Ada juga yang mengeluarkan pembenaran teologi, “Tidaklah mungkin yang gelap dan terang bersatu.” Bahkan kedua keluarga berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan kami pada “jalan yang benar”. Mulai dari doa-doa sampai hujan wejangan.

Awalnya, kami merasa lelah karena begitu banyak orang yang kemudian berbicara atas nama Tuhan dan pembenaran sosial. Alhasil kami harus menjelaskan satu per satu, atas perspektif berbagi rasa ketuhanan kami. Tentu tidak diterima, karena kemudian mereka berbicara atas nama anak-anak yang nantinya akan dibingungkan atas status orang tuanya yang beda keyakinan. Jadi, atas nama menyelamatkan “ketenangan sosial” dan “kenyamanan anak”, kami diminta untuk benar-benar memikirkan semuanya (baca : mengakhiri hubungan).

Satu yang kami percaya, rasa sayang yang kami punya tidak pernah berhenti. Saya masih merasakan “kejutan listrik” setiap kali dia menjemput saya. Dia masih bilang, “I love you so much,” dengan bola mata yang tulus. Saya masih merasakan ada yang aneh ketika kita tidak bersama dan dia merokok. Karena saya tidak suka kalau dia merokok. Bayangkan untuk hal ini saja, saya bisa merasakannya. Dan dia masih sangat panik kalau saya belum kasih kabar, apakah saya sudah sampai dengan selamat di rumah.

Dua tahun kebersamaan, adalah waktu yang jamak. Pertemuan kami terlalu sering, tapi rasa itu tidak memudar. Ini bukan rutinitas, ini sesuatu yang kami lakukan dengan keyakinan. Berbeda sekali rasanya, ini bukan sekedar cerita Galih dan Ratna. Ini keyakinan. Dan ketika kami sampaikan argumentasi ini untuk memberi gambaran kenapa kami masih keras kepala untuk bersama, banyak orang bilang itu hanya bumbu-bumbu asmara.

Entahlah, saya pikir memang tidak ada jawaban matematis untuk sebuah perasaan yang dinikmati dengan ketulusan. Alhasil, kami juga tidak ingin memaksa semua orang mendapat gambaran ini. Karena ini sesuatu yang kami rasakan, orang harus melihatnya dengan jujur bahwa ada keterikatan yang kami bangun hingga semuanya bukan sekedar asmara muda-mudi.

Dan kini, di 6 November Yang Kedua, rasa yang kami punya semakin kuat. Semakin ingin untuk selalu bisa menghabiskan waktu bersama. Semakin percaya bahwa masa depan ada diantara satu dengan lainnya. Dengan ketulusan dan kesederhanaan untuk menciptakan arsiran antara dua manusia, kami hanya berharap serta berusaha tetap bersama.

Perkara jalan yang kami lalui semakin terjal, wejangan semakin kasar, itu adalah sesuatu yang harus dihadapi. Saya tidak ingin menyebutnya sebagai sebuah risiko, karena risiko hanyalah sesuatu hal yang alamiah yang terjadi dalam setiap roda kehidupan. Dan yang perlu dilakukan manusia adalah mempersiapkan diri ketika harus berhadapan dengannya. Semoga apa yang kami rasakan bisa menjadi persiapan yang baik untuk titik risiko yang merupakan penjelmaan kematangan manusia.

Dengan segala kerendahan hati, terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Dan dengan segala kerendahan hati, selamat menikmati ketulusan saya untuk mencintai serta menyayangi kamu apa adanya. LOVE YOU SO MUCH MY ICE CREAM MAKER 🙂

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s