Menstruasi, Legitimasi Pernikahan

Standard

Seminggu belakangan, seorang Pria asal Semarang yang bernama Pujiono tengah diburu berbagai pihak. Mulai dari wartawan, polisi, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perempuan dan anak.

Diburu, karena pria berusia 43 tahun itu secara terbuka mengakui telah menikahi seorang anak berusia 11 tahun 8 bulan. Bahkan pemimpin pondok pesantren yang juga pengusaha, ini merasa bahwa apa yang dilakukannya merujuk pada ajaran agama. Alhasil, dirinya menyakini apa yang dilakukannya adalah hal yang benar.

Maka tuntutan Departemen Agama dan LSM, hanya dianggap bumbu-bumbu di awal pernikahan keduanya. Tidak hanya itu, Pujianto yang bergelar Syeh ini pun mengaku akan menikahi dua orang anak lagi. Seorang berumur tujuh tahun dan seorang lagi sembilan tahun. “Saya bersumpah tidak akan menyetubuhi keduanya, sampai mereka menstruasi,” ucapnya dengan tegas.

Saya ngeri mendengar ucapannya bahkan saya merasa miris melihat gayanya, ketika diwawancarai wartawan.” Pria ini merasa suci sekali,” batin saya. Bahkan dengan bangganya, dia mengatakan bahwa salah satu isteri Nabi Muhammad saja dinikahi dalam usia yang muda. “Ah lagi-lagi, laki-laki merasa punya taring dalam mengartikan agama,” gumam saya bak tersulut api.

Pria yang konon membagi-bagikan uang hampir Rp 1,3 triliun saat menjelang lebaran itu, bahkan mengadu para pihak yang tidak menyetujui penikahannya untuk bertanya pada isteri belianya apakah merasa dipaksa atau tidak ketika menikah.

Oh my God, apakah dia tahu bahwa anak seusia itu tengah mendefinisikan tubuhnya sendiri. Mengapa setiap sebulan sekali, dia harus mengerang kesakitan saat darah segar mengaliri vaginanya. Tidak kah dia tahu, diusia semuda itu yang ada di kepalanya hanya bermain yang puas. Tapi karena tamu tak diundang yang berwarna merah itu, dia harus berubah menjadi dewasa. Tidak boleh tertawa terlalu berlebihan, berbicara yang lembut, dan pakai pakaian yang tertutup agar selamat dari birahi tidak bertanggung jawab.

Pasti pria tua yang hanya mikir singkat itu tidak merasa merenggut apapun dari anak bawah umur yang yang dinikahinya. Toh dia merasa telah menyelamatkan anak tersebut dari gelapnya kemiskinan. Karena kini, Sang Anak bisa memilih berjalan-jalan dengan mobil mewah yang mana. Astaga Tuhan, murahnya harga sebuah proses kehidupan dan robeknya sebuah vagina, hanya cukup menawarkan jalan-jalan dengan mobil mewah.

Dulu, saat saya pertama kali menstruasi, Ibu saya memberikan petuah. Saya harus menjaga diri, dua kali lipat lebih ketat dari laki-laki. Karena menstruasi tanda kedewasaan saya. Saya ingat betul, ketika itu saya teramat tomboi. Jadi kalau ada yang isengin saya, pasti saya tendang.

Kala itu hari pertama saya pakai pembalut, boro-boro mau nendang temen saya yang iseng. Jalan saja rasanya seperti ada bantal mengganjal. Dan ketika saya menendang, saya panik. Panik pembalut saya mencong dan menyisahkan tanda di rok saya. Bahkan ketika sepupu perempuan saya melihat rok saya terdapat bercak merah, dia menarik saya ke dapur, “Priska ganti pembalutnya. Tembus tuh…malu-maluin.” Saya panik dan merasa seluruh dunia menertawai saya. Oh Tuhan, apa sih artinya menstruasi bagi dunia?

Saya juga sangat ingat, ketika pertama kali membeli pembalut. Saya akan mencari warung yang dijaga oleh mba-mba atau ibu-ibu. Pokoknya kelaminnya harus perempuan. Dan lucunya mba-mba atau ibu-ibu itu akan membungkus pembalut dengan koran dan plastik hitam. Seolah ini benda terlarang yang tidak bisa ditangkap mata.

Tapi proses kehidupanlah yang kemudian membuat saya menyadari bahwa menstruasi perempuan sama dengan mimpi basahnya laki-laki. Itu pertanda kematangan hormon dari manusia, ya yang berpenis maupun yang bervagina. Kenapa kalau laki-laki mimpi basah, cukup dimengerti dengan hanya menjemur kasur. Mereka tidak dibebani tuntutan sosial seperti harus berututur kata lembut atau mengenakan pakaian tertutup.

Kenapa kalau anak laki-laki mengalami mimpi basah, tidak dijadikan legitimasi untuk menikah? Kenapa mereka masih diberi waktu lama untuk menentukan kapan pernikahan layak dilakukan?

Seandainya Pujiono bertukar tubuh pada anak berusia 12 tahun yang tengah menghadapi hari pertama menstruasi, apa yang ada dibenaknya? Tidak hanya itu, kutukan sosial ekonomi yang membelenggunya membuat dirinya harus menikah dengan pria yang sama tuanya dengan ayahnya.

Saya rasa, Pujiono enggan bertukar tubuh dengan anak berusia 12 tahun itu. Karena dia ogah merasa kesakitan sebulan sekali. Dan yang paling masuk akal, dia emoh punya vagina berselaput darah. Karena itu hanya akan membuat hidupnya didefinisikan orang lain. Karena vagina dan selaput darah adalah milik sosial untuk “mengkultuskan” wanita. Dunia memang tidak pernah simetris, dimana agama dan seksualitas selalu menjadikan semuanya tambah tak beraturan untuk dikatakan adil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s