Valentine dan Sapardi

Standard

Sewaktu wawancara Reda Gaudiamo untuk tulisan Oase Budaya bertema musikalisasi puisi, gua sudah terpesona dengan misi idealis mereka (barengan dengan Ari Malibu) dalam mengakrabkan puisi. Saking kagumnya dengan proyek idealis itu, gua bilang sama Mba Reda untuk tetap semangat melantunkan bait-bait puisi demi generasi muda. Alhasil ketika mereka mau manggung di Taman Ismail Marzuki untuk melagukan puisinya cintanya Sapardi, gua di sms.

Gua tentu antusias menerima sms itu dan berniat untuk datang. Akhirnya, gua ajaklah Aryku (untuk membedakan dengan Ari penyanyi hihihihi) nonton acara itu. Yah berhubung pagelarannya 14-15 Februari, akhirnya gua ngomporin untuk nonton yang 14 aja. Seolah-olah merayakan palenten lah.

Tapi Aryku itu sempat kaga jelas mau nonton apa ngga, jadi sempat mikir untuk nonton sama Nida atau temanku aja. Alhasil dia memberi kepastian di last minute dan akhirnya akupun nyaris telat, karena gua pikir kaga jadi. Dia sempat kirim sms, “Udah nyampe mana sih, penuh nih. Takut ngga dapat bangku. Aku benci dengan orang kebanyakan.” Wah gua sempat mikir, bakal ngedumel sepanjang pertunjukkan nih orang.

Melihat gelagat yang ngga seru, akhirnya gua suruh dia masuk duluan biar sedikit tenang. At lease dia dapat bangku yang enak untuk tenang. Tapi begitu nyampe di sana ternyata dia nungguin gua, dasar ni orang. Dan belum mulai juga, plus tidak rame jadi bisa milih bangku yang enak. Pas di tengah-tengah.

Acaranya berlangsung perfect, mulai dari aksi Teater Tanah Airku, Ansambel Musik, Teateritikal, sampe duet maut ARI-REDA!!! Malah yang bikin tambah dasyat adalah lantunan lagu puisi Sapardi yang dinyanyiin Ari-Reda diiringin gitar Jubing (for your information, i just know the maestro from Ary. He just interview the giutarist, few days before the peformer in TIM). Tapi gila itu bagusssss banget….ditambah suasana jakarta yang ujan kayanya makin pas aja untuk nikmatin itu semua dengan orang yang kita cintai (itu artinya bisa siapa aja loh).

Ada dua puisi Sapardi yang bagus banget dibawain Ari-Reda

“Aku Ingin”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

“Hujan Bulan Juni”

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Bahkan sampai sekarang, setiap kali denger lagu itu langsung kerasa suasana yang ditransfer penyanyinya saat itu. Sangat nyangkut di kepala dan kuping, bener-bener musikalisasi yang pas untuk sebuah puisi yang indah.

Dan akhirnya, kita sekarang suka berbagi rasa soal puisi Sapardi. Soal bagaiman musik dan katanya bisa nyatu dalam suara Ari-Reda yang luar biasa. Ngga nyesel untuk nonton acara itu dan tidak akan pernah nyesel bahkan karena ketagihan. Setidaknya Aryku itu dari yang ngga yakin dengan mengajukan acara itu sebagai liputannya dan menganggap itu acara orang kebanyakan, akhirnya bisa nemuin alasan kenapa mereka memang harus dinikmati. Jadi…sekarang mari bercinta dengan puisi Sapardi hihihihihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s