Salah satu liputan yang berkesan

Standard

Terbit pada edisi khusus Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2007
Harian Jurnal Nasional


Komunitas Gay, Semakin Larut Semakin Ekspresif
LAYAKNYA akhir pekan di Jakarta, salah satu mal di bilangan Jakarta Pusat dipadati oleh pengunjung yang ingin mencuci mata. Awalnya, penulis menjadikan mal tersebut sebatas tempat menunggu Baby Jim Aditya, aktivis HIV/AIDS yang akan penulis wawancarai. Tapi, ternyata justru di mal inilah sebuah perspektif baru tentang orientasi seks menyimpang diperlihatkan kepada penulis.

Sabtu (24/11), tepat pukul 19.30 WIB, di bawah bulatnya purnama, lalu lintas di seputaran terminal di wilayah Jakarta Pusat itu masih ramai. Sayup-sayup terdengar musik dangdut mengiringi langkah kaki para laki-laki tegap maupun kemayu memasuki sebuah gelanggang dengan panggung kecil.

Di atas panggung terlihat seperangkat musik, mulai dari keyboard elektronik yang harus ditekan keras untuk menghasilkan musik, gitar listrik, dan seorang penyayi dangdut paruh baya yang mengenakan busana berwarna hijau lumut. Di samping panggung terlihat beberapa penyanyi dengan pakaian yang ketat tengah antre untuk mendendangkan lagu.

Malam semakin larut, jalan-jalan pun semakin sepi dari lalu lalang kendaraan dan hiruk pikuk orang. Tapi, tidak demikian halnya dengan gelanggang dengan gazebo-gazebo kecil di kiri dan kanannya. Semakin larut malam, semakin ramai. Itu artinya, semakin banyak tangan yang menukarkan uang tiga ribu rupiahnya dengan sepotong tiket, demi mengekspresikan kebebasan dan pengakuan ekstensi mereka yang ditawarkan oleh gelanggang.

Sekitar pukul 23.00 WIB, semua yang ingin diekspresikan pun diaktualisasikan. Mulai dari tatapan mata atas sahabat atau kekasih yang telah dinantikan, hingga gerakan tubuh yang mengalun mengikuti dinamisnya notasi dangdut. Maka, ada saja seorang gay yang datang hanya sekadar bercerita atau joget, yang tidak terasa membuat keringat mengguyur tubuh mereka. Hal serupa terjadi apabila kita mengunjungi pagelaran orkes dangdut di lapangan terbuka, yang mungkin hanya dapat dihentikan apabila Jakarta diguyur hujan lebat. Lazimnya disebut panggung misbar, gerimis bubar.

Apa yang membuat komunitas ini terstigma? Atau mengapa mereka identik dengan ketidaknormalan, bahkan kejahatan?

“Kita ini kan selalu memaksakan kehendak kita. Dan menurut kaca mata kita, yang paling wajar serta normal itu kalau laki-laki menikah dengan perempuan, no matter apa pun orientasi seksnya. Kalau ternyata orientasi seksnya adalah homoseks, Anda akan paksa kan juga mereka menikah dengan perempuan dan harus beranak pula. Pada kenyataannya, memang mereka bisa menikah dan punya anak, tapi orientasi seks adalah sesuatu yang sangat tidak bisa kita duga,” ujar Baby menjabarkan.

Mata penulis langsung menangkap seorang laki-laki tua berkopiah putih. Laki-laki yang berusia sekitar 40 tahunan itu terlihat ceria sesaat kakinya hendak melewati pagar yang dijaga oleh dua orang. Menurut Baby, laki-laki tersebut telah empat kali naik haji dan secara standar sosial dikategorikan sebagai bapak dan kepala keluarga yang baik. “Lihat penampilannya, socially accepted kan. Jadi, siapa yang bisa duga kalau dia itu homo?” kata Baby.

Sikap menghakimi memang lebih sering mengarah pada kelompok minoritas, karena kebenaran dikuasai oleh kelompok mayoritas. Tidak hanya itu, kelompok mayoritas yang juga menentukan batas koridor kebenaran. Walaupun belum tentu selalu benar dan belum tentu harus selalu yang mayoritas yang benar. Menurut Baby, kebenaran itu milik siapa saja dan suara terbanyak bukan otomatis adalah suara Tuhan.

“Apakah kita kemudian tidak mau membuka mata kita sedikit pun pada kenyataan bahwa kemauan kita untuk selalu meminta laki-laki harus menikah dengan perempuan itu akhirnya membawa dampak yang panjang pada laki-laki yang orientasi seksnya hanya pada laki-laki,” tutur Baby yang menyadarkan penulis dari keterperanjatan terhadap Pak Haji tersebut.

Ketika mereka kembali ke pangkuan istrinya masing-masing, hanya merekalah yang tahu sudah berapa banyak interaksi seksual mereka lakukan. Dan siapa yang berani menjamin bahwa mereka memahami bagaimana menjaga kesehatan organ vitalnya. Karena pemahaman tersebutlah yang kemudian merujuk pada hak pasangannya untuk terlindung dari risiko penularan HIV/AIDS.

Belum lagi posisi tawar perempuan untuk meminta pasangannya menggunakan kondom atau memperbolehkan dirinya menggunakan kondom perempuan, masih terkendala sistem patriarkal yang masih memojokkan hak perempuan atas kesehatan reproduksinya sendiri.

Dan tanpa terasa, angin malam semakin menusuk tapi hentakan kaki makin terasa di gelanggang tersebut. Bahkan setelah acara penyuluhan yang diberikan Baby, suasana semakin menghangat. Karena tampilan lipsing ala penyanyi Beyonce, dibawakan tiga orang yang berpenampilan lebih seksi dari penyanyi aslinya. Maka, jangan heran jika banyak kaki bergegas ke panggung untuk memberikan uang saweran yang diselipkan di baju penari. Bukankah itu juga terjadi di atas panggung-panggung musik rakyat?

Maka, ketika master of ceremony (MC) mengumumkan acara harus mengalah pada waktu, serentak seluruh pengunjung memberanikan dirinya menari di atas panggung sepuas-puasnya. Seolah hanya panggung itu yang bisa memberikan kebebasan pada mereka untuk menunjukkan identitas dan orientasi seks mereka yang asali.

Malam itu, menyadarkan penulis bahwa setiap individu berhak ada dengan segala identitas dirinya. Dan setiap identitas diri yang terbentuk merupakan proses dari pelbagai hal yang dihadapi seumur hidupnya. Sepertinya kita memang tidak berhak menghakimi proses kehidupan yang mereka alami. Tak berhak memandang mereka secara sepotong-sepotong.

****

Suatu Malam, di Rendezvous Para gay Ibu Kota

DI sebuah bioskop tua di bilangan Jakarta Pusat, banyak hal yang membelalakan mata untuk ukuran normal. Bayangkan saja, teater satu yang bisa menampung sekitar 150-200 orang itu tidak dilengkapi pendingin ruangan atau kursi empuk. Benar-benar jauh dari rasa nyaman dan tenang layaknya bioskop megah di Bliztmegaplex. Kedua bioskop ini tak berjarak jauh, tapi realitasnya keduanya berbeda jauh.

Bioskop yang lebih sering menampilkan film lama dan cenderung menawarkan cerita vulgar ini, merupakan tempat kelas menengah ke bawah. Para pekerja seks komersial gay yang dijuluki “kucing”, terlihat rapi dan wangi. Tapi, jangan bayangkan aroma Mount Blank, Hermes atau Calvin Clein asli menguap dari tubuh mereka. Karena mereka hanya mampu membeli aroma tiruan dari merek-merek ternama tersebut dalam bentuk cologne yang hanya bertahan beberapa jam.

Pada bioskop mahal, Anda mungkin berhak marah setiap kali ada orang yang berlalu-lalang, maka di bioskop ini justru orang yang berlalu-lalanglah yang ditunggu. Karena adanya lalu-lalang orang berarti sedang berlangsung pencarian teman kencan. Cara memilihnya pun cukup unik, cukup dengan menyentuhkan tangan pada punggung lengan teman kencan. Apabila memberi respons, maka keduanya akan melangkah ke bangku yang kosong. Di bangku tipis itulah segala kesepakatan dihasilkan kedua belah pihak.

Penulis kemudian mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang dilakukan pekerja seks gay tersebut setelah negatif film berhenti berputar dan layar lebar jadi melompong . Cukup kita duduk di tangga yang mengarah pada tiga teater di lantai dua – bioskop ini memiliki lima teater dengan dua teater berada di lantai dasar – para pekerja seks akan berkumpul setiap kali melihat ada teman yang dikenalnya tengah duduk di tangga tersebut.

Apa yang mereka bicarakan pada saat mereka berkumpul? Banyak hal. Pada awal pembicaraan, bisa saja mereka bertukar pikiran soal lagu yang akan dibawakan pada peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember. Pada hari ini, pekerja seks yang dibina oleh Partisan Club yang dipimpin akitivis Baby Jim Aditya ini akan menampilkan satu pagelaran puncak. Sebelumnya, sejak 11 November – 1 Desember 2007, acara kumpul-kumpul mereka diwarnai penyuluhan kesehatan seksual laki-laki dan HIV/AIDS.

Akika mau tampil entar ah ne, itu kan udah akhir. Sayang aja kalo nggak ikut ngeramein. Bow, kalau bisa besok banyakin acara dari kucing-kucing aja. Orkesnya dikurangin aja,” ucap salah satu pekerja seks yang ketika itu dikenalkan relawan Club Partisan kepada penulis.

Dan pembicaraan mengenai acara puncak tidak berhenti sampai di situ, mereka juga membicarakan lagu apa yang harus dinyanyikan secara lipsing serta kostum apa yang harus dipilih. “Iya ah ntar eke minta ke langganan kostum untuk dibuatin baju ala Inul Daratista, soalnya yang ini Inul Daranista,” ucapnya diikuti derai tawa teman-teman lainnya termasuk penulis. Benarkah mereka nista?

*****

Bertopeng untuk Survive
SALAH seorang pekerja seks komersial gay bercerita betapa dirinya pernah kebingungan karena seminggu menjelang Lebaran, tidak ada uang di kantong untuk pulang kampung. Dan seperti orang kebanyakan yang sedang buntung harapan, hal yang dapat dilakukan hanyalah berharap ada jalan untuk mendapatkan uang. “Eke sedih banget bow, Ibu di kampung udah nanyain kapan pulang. Udah gitu saudara-saudara pada minta oleh-oleh,” kata Fahrul, sebut saja dia begitu.

Namun, laki-laki berwajah tampan ini akhirnya berhasil pulang kampung juga. Bahkan, membawakan bonus celana jins untuk adik-adiknya. Dari manakah uangnya ? “Eke ditelepon sama lekong yang bilang sayang sama eke. Tapi, eke kan waktu itu punya pacar dan itu temen pacar eke, jadi eke bilang ngga bisa sayang sama dia.” Dan atas nama kesetiaan, Fahrul bersedia menjadi teman cerita untuk pria yang menyatakan cinta padanya.

“Yang namanya hati ne, ngga bisa dibohonginlah. Rasanya tuh ngga tenang aja pas jalan sama lekong itu, ada rasa bersalahnya. Padahal, cuman jalan doang ngga ngapa-ngapain” Pengakuan itu diamini oleh pekerja seks lainnya, “Ember!” Dan laki-laki yang menyatakan perasaannya kepada Fahrul untuk menunjukkan keseriusan atas perasaan yang dimiliki, bersedia mengongkosi dirinya pergi-pulang ke kampung halamannya. “Udah gitu masih beliin oleh-oleh buat orang rumah bow. Katanya dia senang kalau ngeliat eke senang bow.” Dan serentak teman-temannya mengamini, “Yuk…!.”

Pada keluarganya di kampung, Fahrul bercerita berjualan baju di Jakarta. Karena pekerja seks dan gay adalah dua hal yang didefinisikan menyimpang oleh masyarakat. Maka mereka tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengenakan topeng setiap kali berada di luar komunitasnya.

Menurut Baby Jim Aditya, masyarakatlah yang mengajarkan individu per individu untuk menggunakan topeng. Karena masyarakat kita tidak terbiasa menerima keberadaan orang lain yang berbeda dengan definisi secara umum. Bahkan, Baby menegaskan bahwa Indonesia memiliki banyak role model untuk skill pemilihan topeng. Di antaranya adalah pejabat yang melakukan korupsi.

Dan komunitas ini pun dialpakan dari program pembinaan pemerintah karena mereka dinilai devian atau menyimpang. Sehingga, informasi kesehatan dan pembentukan skill kepada mereka dilakukan secara sporadis oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki keterbatasan tenaga, juga dana. Maka, jangan heran bila jalanan, bioskop murah, lapangan terbuka atau tempat-tempat yang merupakan bayangan dari ruang publik lainnya menjadi tempat bagi mereka untuk curhat sekaligus mencari nafkah.

Padahal, apabila mereka dibina, banyak potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari penata rias, penari, hingga penyanyi. Bahkan, salah satu dari mereka telah berhasil membuat skenario cerita untuk acara serial televisi. Mereka hanya butuh diakui karena dengan pengakuan itulah eksistensi mereka dihargai. Dan tidak ada manusia di dunia ini yang menolak untuk dihargai.

Suka atau tidak, kita tidak bisa menjadikan mereka garis imajiner dalam komunitas sosial masyarakat. Karena, seperti yang ditegaskan oleh Baby, stigmasasi tidak akan menyelesaikan apa pun. Justru stigmasasi menghambat mereka dari akses informasi dan pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai warga negara.

*****

Aslinya, aku bikin dua tulisan besar untuk komunitas men having sex with man (MSM) ini, for the record, mereka lebih suka disebut seperti itu ketimbang gay. Tapi sepertinya kepanjangan maka dipecah jadi tiga tulisan. Dan sebenarnya tidak banyak yang berubah dari editan yang tampil di Jurnas, cuman aku ngerasa alurnya lebih singkat aja.

Pada dasarnya aku senang dengan tulisan ini. Setidaknya ini salah satu liputan yang waktu di kelas Pa Sahala aku impi-impiin. Kita dulu ada kelas in-depth reporting,(Pa Sahala adalah pegajar yang handal untuk mengajarkan dasar-dasar peliputan jurnalistik, mulai dari wawancara sampai in-depth), waktu itu aku ngajuin tiga usulan, bisnis pengawetan hewan buas, perawatan objek wisata di bandung, dan terakhir aku lupa apa. Sebenarnya aku pengen banget yang bisnis pengawetan hewan buas, di saat banyak anak-anak mengangkat soal bisnis prostitusi.

Tapi ideku di colong sama salah satu anak, karena urutan topik di proposal menunjukkan kesiapan dari pengaju proposal. Anak itu disebut duluan sama Pa Sahala dan dia menaruh bisnis pengawetan hewan buas di nomor tiga, tapi pa sahala mengapprove itu jadilah dia dapat itu. Aku harus berpuas untuk perawatan objek wisata. Kenapa berpuas? Karena aku ngerasa kurang greget, ngga ada tantangannya, ngga kaya detektif. Kan peliputan in-depth identik dengan gaya kerja ala detektif 🙂 Tapi pas dikerjain, seru banget ternyata. Betapa ngga jelas, itu uang karcis masuk lari kemana. Iya kita dikasih potongan karcis sebagai bukti bahwa itu adalah resmi tapi ngga pernah ada yang tau uangnya dipake kemana aja. Karena tidak jarang, penjaga objek wisata tidak digaji jadi diambil dari uang itu. Dan standar pas ditanya ke dinas pariwisata, jawabnya kurang dana lah, keterbatasan SDM lah, objek wisata tidak dijadikan perhatian pemda lah. Normatif semua jawabannya. Satu lagi serunya liputan itu, bisa jalan-jalan ke objek wisata sama Atun. Dan gantian nemenin dia untuk liputan mengenai kampung adat di soreang yang ngaku-ngaku keturunan orang Arab. Tapi cowonya kaya bule semua loh, mirip anggota Debu.

Oke kembali ke awal, liputan komunitas gay ini adalah liputan beruntung. Karena aku bisa memnuhi hastrat yang terlupakan waktu kuliah dulu dan mengembalikan semangat nekat, seperti jaman keemasan di kampus. hahahahha kayanya aktivis bener ya, padahal….Trus awalnya, cuman mau wawancara profil Baby Jim Aditya dengan kegiatan LSMnya. Tapi karena dia ada kegiatan pendampingan di komunitas itu, alhasil gua mewawancarai dia lewat tengah malam di antara teman-teman MSM yang baru gua kenal.

Ini dapat durian runtuh namanya. Ketemu Baby yang dari dulu pengen diwawancarai dan bisa kenal sisi lain dari Jakarta, ditambah punya channel di komunitas ini. Ada Yakub, Erwin, Amel, dan nama-nama pria yang kalo malam berubah jadi perempuan. Mereka baik-baik, ekspresif, dan melindungi. Beneran, mereka selalu berusaha melindungi tamunya untuk merasa nyaman dengan sekitarnya. Ngga perlu takut dekat mereka, karena sangat terbuka dan mau cerita banyak tanpa diminta. Cukup belajar bilang bow dan ne aja, pasti langsung nyetrum hihihihihihi

Dan kita emang ngga pernah adil ketika menilai orang dari pandangan pertama. Ngga ada yang tau kan kalau laki-laki paruh baya berpeci, ternyata homo. Padahal dia udah naik haji dan beranak cucu. Bayangin kalau mereka sudah terinfeksi dan pasangannya (baca: isteri) ngga tau, bisa jadi anak-anaknya tertular. Dan rantai penularan ini yang namanya, fase akut di HIV. Bukan sekedar awas. Karena udah kena ke ibu dan anak.

Yah proses melindungi harus diawali dengan mengenali faktor risikonya, bukan menstigmasasi. Karena stigmasasi tidak memperbaiki keadaan, justru memperparah. Jadi mau pilih yang mana…? Ya setiap hal adalah media pembelajaran, dan liputan ini mengajarkan aku akan banyak hal. Makasih untuk Mba Wita yang meminta aku dalam penugasan ini dan makasih untuk Baby plus Yakub untuk keterbukaanya. Sekali lagi, terima kasih untuk kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s