Pergulatan Kegelisahan Perempuan Sufistik

Standard

Konstruksi sosial sering kali menjadikan syair sufistik perempuan didefinisikan sebagai sebuah pemberontakan terhadap konstruksi sosial patriakal.

Priska Siagian
priska@jurnas.com

Entah apa sebabnya, perempuan selalu berada dalam ranah kedua setelah laki-laki. Banyak yang kemudian menyebutkan bahwa kedatangan Hawa yang belakanganlah, yang menjadi pembenaran atas posisi ketersampingan perempuan. Lalu bagaimanakah syair-syair sufistik kemudian melakukan pergulatan ilahiahnya pembenaran tersebut? Seberapa lama kegelisahan ini berjalan untuk kemudian menjadi media perenungan publik?

Salah satu penyair sufi yang terkenal adalah Jalalludin Rumi, keterasingannya terhadap dunia membuat banyak orang dapat memperkaya batin tentang nilai ilahiah. Dan ketika berbicara mengenai nilai ilahiah, sangatlah tidak mudah untuk merangkumnya dalam kata-kata manusia yang amat terbatas. Maka setiap huruf yang dirangkai Rumi, harus dapat diresapi kedalaman interaksi ilahiahnya ketimbang pemahaman simbol hurufiah. Inilah mengapa, sastra sufistik harus mampu menjadi media apresiasi seseorang untuk melakukan penyangkalan terakhir dari manusia dan menjadi awal mulainya keberadaan yang sesungguhnya.

Dan layaknya seorang manusia, perempuan juga memiliki kegelisahan terhadap penyangkalan terakhinya sebagai manusia. Hanya saja konstruksi sosial yang terlalu lama terbentuk, sering kali menjadikan syair sufistik perempuan didefinisikan sebagai sebuah pemberontakan terhadap konstruksi sosial yang sangat patriakal tersebut. Lalu bagaimanakah perempuan mendefinisikan sastra sufistik?

“Sangat sederhana sebenarnya untuk mendefinisikan sastra sufistik. Kalau sastra itu merujuk kepada yang vertikal keketuhanan dan kedalaman dengan landasan nilai-nilai Islami. Itu niscaya sudah mengarah ke pengertian sufistik. Tapi hal yang menjadi catatan adalah seberapa besar kedalaman simbol Tuhan mampu digambarkan dalam tata nilai yang memperkaya batin,” penyair Rayani Sriwidodo coba memaparkan definisinya atas sastra sufistik.

Karena itu, tambahnya, karya-karya sufistik harus selalu berangkat dari definitif keilahian. Bukan hanya berbicara Tuhan sebagai obyek perenungan yang mentah. Dan perenungan itulah yang kemudian menjadikan kegelisahan atas keberadaan yang sesungguhnya sebagai pergumulan tanpa batas mengenai keilahian. ”Maka menurut saya, hambatan terbesar mengapa sastra sufistik tidak secemerlang di masa tahun 80-an adalah karena para penggulat sastranya hanya mampu bermain dalam kecerdasan menyusun kata-kata. Mereka menjadi lupa mengembangan diri untuk mendapatkan daya hayat yang tidak sekadar teaterikal belaka. Karena itu sangat mudah menghasilkan karya sufistik, tapi untuk benar-benar menjadi seorang sufi ya sangat sulit.”

Mengapa demikian? Menurut Rayani, pergumulan vertikalisasi keilahian seharusnya tidak hanya mampu tercermin dalam kata-kata tapi juga tergambar dalam perbuatan penyair. ”Karena itu, saya tidak mau membenarkan kata-kata yang sufistik itu otomatis penyairnya adalah sufi. Menurut saya itu hanya bersifat kesufi-sufian. Tapi ini paham saya, paham orang lain bisa beda. Karena seorang sufi harus memiliki mental yang mampu memikul beban moril dari pesan-pesan yang coba disampaikannya.”

Sehingga dengan demikian Riyani menyakini ketika ada keselarasan antara kata-kata dan perbuatan, maka dalam proses pergumulan hingga kemudian dilemparkan pada ranah publik, tidak terselip kesempatan untuk ’selingkuh’ terhadap keilahian Tuhan. Hal ini juga yang coba direalisasikannya ketika salah satu karyanya, Percakapan Hawa dan Maria (1989), berhasil menciptakan diskursus sastra dari berbagai unsur keagamaan. Meskipun tidak berani mengklaim dirinya seorang penyair sufistik, namun menurut Riyani karyanya cukup mampu mengajak banyak pihak untuk terlibat dalam kegelisan ketika perempuan disebut sebagai penyebab utama jatuhnya manusia dalam dosa.

”Saya tersinggung besar ketika banyak perspektif yang menyebutkan bahwa Hawa itu adalah pendosa awal. Hal ini menurut saya menciptakan suatu vonis. Padahal vonis ini tidak berlaku karena drama agung Hawa ini tidak lepas dari pada rencana Tuhan untuk membuang manusia ke bumi. Karena menurut saya, drama agung ini tidak berdiri sendiri. Tuhan itu maha kok, kalau Dia tidak suka dengan Hawa bisa tinggal diganti. Itu yang saya gambarkan dalam Percakapan Hawa dengan Maria,” ucapnya seraya menyebutkan bahwa kegelisahan itu sudah mulai ada jauh ketika dia masih duduk di bangku SMP.

Ketika Adam dan Hawa dilarang untuk memakan buah terlarang, dikatakan bahwa Tuhan belum mengajarkan tentang pilihan. Dan menurut Rayani, ajaran tentang memilih itu terjadi ketika mereka kemudian memilih untuk memakan buah terlarang tersebut. Ajaran tentang pilihan ini pun kemudian diteruskan pada peristiwa Kain dan Habil, dimana Tuhan selalu memilih persembahan Kain yang lebih gemuk dan empuk.

”Artinya Tuhan selalu mengajarkan manusia untuk memilih. Dan yang kemudian sering dilupakan adalah apa yang benar menurut saat itu, belum tentu benar pada saat sekarang. Sehingga pada akhirnya, kita harus adil pada salah dan benar. Karena definisi salah dan benar harus juga mampu menjawab kapan, di mana serta untuk siapa kebenaran itu ada.”

Alhasil ketika karyanya dilemparkan ke publik, sudah dapat dipastikan menularkan kegelisahan pada banyak pihak. Maka karyanya pun sempat menjadi perdebatan yang panjang, baik dari kubu Kristen maupun Islam, mengenai keberpihakan Rayani terhadap Hawa atau Maria. ”Karena yang dari Muslim melihat, aku mengenakan jilbab tapi banyak mengutip Alkitab. Sedangkan yang Kristen menganggap ini caraku untuk mendobrak apa yang ada. Padahal yang coba aku lakukan adalah mengembalikan konsep drama agung ini pada permukaan yang lebih benar.”

Maka menurutnya, kegelisahan gender pun harus mampu menguak sejarah peradaban yang kadung terlalu lama terbentuk dalam silogisme konstruksi sosial patriarki. Karena itu sebuah karya sufistik juga harus mampu menggambarkan pemahaman keilahian yang lebih adil. ”Sebab Tuhan terlalu kerdil untuk memvonis Hawa sebagai pendosa awal.” Inilah mengapa karya sastra sufistik, menurut Rayani, pada awal penciptaannya akan selalu berangkat dari kegelisahan batin. Hingga dengan demikian, kegelisahan batin itulah yang menjadi modal untuk memperkaya batin tentang nilai-nilai keilahian. Bukan hanya sekadar simbolisasi Ketuhanan.

Dimuat pada Harian Jurnal Nasional, 08 Sept.07

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s