Keramahan Jawa Terhadap Agama

Standard

Secara garis besar, setiap agama menawarkan konsep cinta kasih kepada manusia dan dunia merupakan tempat persinggahan sementara. Adapun filosofi dasar keimanan orang Jawa sangat diwarnai dengan kesadaran mereka dalam memandang relatifitas keberadaan manusia di dunia. Dua filosofi tersebut memiliki daerah arsiran yang sama, yaitu membentuk kesadaran bahwa apapun yang ada di dunia sangat bersifat sementara. Sehingga manusia harus menjaga setiap hubungan yang terjalin dalam definisi keteraturan untuk mewujudkan harmonisasi.

”Salah satu yang merupakan wujud dari kepercayaan asali Jawa adalah mengenai Pawukon atau penghitungan waktu. Pawukon sangat dikaitkan dengan Kala atau dikenal sebagai dewa waktu yang menelan manusia ketika manusia tidak mendalami keseimbangan alam secara sempurna. Dari pawukon tersebut lahirlah perhitungan hari baik dengan hari buruk, atau orang yang lahir pada hari tertentu akan dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu. Bila diartikan secara konseptual, pawukon dapat menimbulkan kesulitan secara teknis karena upacara pernikahan harus sesuai dengan hitung-hitungan yang tepat,” Dr. Gabriel Possenti Sindhunata. SJ memaparkan.

Namun kini dengan proses inkulturasi dari agama, sinkretisme tersebut melebur kedalam tingkat pemahaman yang lebih matang. Menurut Sindhunata pawukon kemudian menjadi pemahaman keagamaan bahwa setiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dimana proses kesempurnaan manusia, hanya dapat terjadi ketika tepo seliro atau kasih dipakai sebagai penghargaan tertinggi atas waktu dan kehidupan. Karena mereka kemudian menyakini bahwa semua hari terbentuk dengan kesempurnaan Sang Pencipta. Dan memaksimalkannya melalui kepedulian terhadap sesama adalah cara untuk mempersiapkan keutuhan untuk kembali pada pemilik waktu.

Disamping itu, menurut Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ, salah satu yang menjadi kekuatan orang Jawa adalah mereka tidak pernah terlepas dari penghayatan kebatinan terdalam mereka. Artinya pengaruh masuknya agama-agama dalam sistem kepercayaan orang Jawa merupakan salah satu ekspresi mereka untuk menghayati jati diri kebatinan mereka.

“Jauh di dalam hati mereka, mereka takut menimbulkan efek negatif dalam kehidupan sehari-hari mereka ketika tidak menjalankan hal-hal yang bersifat kebatinan. Karena kebatinan merupakan suatu proses penghayatan mendalam yang kemudian disinergikan dengan keberadaan agama yang mereka peluk. Atau dapat didefinisikan dalam bahasa sederhana, bahwa masyarakat Jawa menghayati nilai-nilai ajaran agama sebagai bentuk penghayatan atas kebatinan kejawaannya. ”

Hal inilah yang kemudian menunjukkan kekuatan identitas kultural Jawa yang kuat didalam permukaan yang berbeda.Jadi orang Jawa tidak akan mengalami keterasingan dari kebudayaannya sendiri. Adapun dimensi kebatinan yang bersinergi dengan nilai-nilai Injil, Magnis menyebutkan bahwa agama Kristen dan Jawa memiliki paham rasa yang sama. Ketika Allah berada dalam hati seseorang, maka Allah akan mengolah rasa seseorang dalam memandang realitas. Artinya penyertaan Allah selalu disimbolkan dalam berbagai aspek karena bagi mereka yang ilahi muncul dalam bentuk yang sama dengan manusia.
“Dalam kisah pewayangan, Punakawan terdapat hubungan yang erat antara Arjuna dan Semar. Arjuna dinilai sebagai yang dilayani dan semar dianggap sebagai yang melayani, dimana keduanya selalu bersama dalam konteks kebersamaan dan cinta kasih. Dan bagi orang Kristen, inti Iman adalah Allah menjadi manusia dan Allah menyertai kita. Maka sinergitas rasa antara hubungan yang erat antara manusia dan tuhan terealisasi dalam Kristen yang dijawakan atau Jawa yang dikristenkan,” Magnis menambahkan.

Adapun Islam menurut Mohammad Sobary, ada kalanya berhimpitan dengan kejawaan. Dan ada kalanya Islam bersebelahan dengan kejawaan. Yang menjadi kunci dari proses inkulturasi keduanya, menurut budayawan ini adalah Sultan Agung yang berhasil menginterpretasikan tahun jawa ke dalam tahun Islam. “Karena watak pluralisme yang kuat dalam diri Sultan Agung maka secara eksplisit suro diartikan sebagai muharam. Dari sinilah kemudian pemikiran akan kontektualisasi Islam mulai berkembang, Maka lahirlah tradisi sekaten dalam konteks kerajaan Jawa, sekaten itu sendiri memiliki nuansa keislaman yang kental,”

Dan seiring dengan berjalannya waktu, Islam-Jawa yang telah meresap dalam kebudayaan keraton membuat proses islamisasi di Jawa melahirkan cirinya sendiri. Sehingga pemahaman bahwa hidup di dunia hanyalah bersifat sementara atau mampir ngumbeh membuat nilai-nilai Islam kemudian diterjemahkan secara harmonis dalam kebudayaan Jawa. Misalnya adalah ajaran tentang bagaimana memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, menurut Sobary telah diajarkan sebelumnya oleh Sunan Drajat yang kemudian bersinergi dengan kebatinan orang Jawa sebagai kedalaman cinta kasih kepada manusia dalam bermasyarakat.

Bahkan sinergitas antara Islam dan Jawa juga telah terdapat pada kitab pujangga Jawa yang menyebutkan unsur-unsur keislaman. Salah satunya ada dalam tulisan tembang dandang gula Mangkunegara IV yang mengajarkan tentang menghormati guru. “Dimana ternyata tulisan Mangkunegara tersebut disatir dari kitab Imam Al-Ghazali yang mengajarkan bahwa guru yang baik adalah yang bermartabat, menjalankan hukum-hukum Islam, merasa cukup dan berprinsip tidak peduli terhadap hal-hal keduniawian atau suhud. Dari sini terlihat bahwa Islam dan Jawa sudah sejak dulu bersebelahan bahkan berhimpitan.”

Dan konsep itu semakin dikuatkan ketika salah satu wali yang paling berpengaruh di Jawa, yakni Sunan Kalijga mampu melakukan harmonisasi antara Islam dan Jawa dalam konsep mampir ngumbeh atau hanya mampir minum dan kemudian harus kembali pulang. Hal tersebut menurut Sobary, kemudian diwarnai oleh nilai-nilai Islami yang kuat dan diselaraskan dalam konsep kebatinan orang Jawa. “Bahwa dunia bukanlah semata-mata tempat tinggal yang absolut karena setiap orang akan kembali kepada pemberi kehidupan, untuk itu kesederhanaan dan kejujuran harus dijalani untuk mempermudah proses kembali pada Allah.”

Inilah mengapa Islam-Jawa membentuk cirinya sendiri dalam proses inkulturasi. Tidak hanya itu, karena harmonisasi menjadi tonggak yang akan dikejar dalam filosofi kebatinan orang Jawa, membuat mereka mampu menangkap nuansa kerohanian yang sama dari setiap nilai-nilai agama yang masuk. Namun mereka juga tidak akan pernah melupakan titik awal dari kebatinan mereka sendiri.

Dimuat pada halaman Oase Budaya, Jurnal Nasional, 12 Juli 2007

Tulisan Lebih lekat dengan filosofi Jawa dan tulisan ini sangat gua suka. Karena prosesnya berat tapi gua pribadi memuji isi tulisan yang gua buat sendiri. Narsis…?Ngga ada salahnya kasih apresiasi pada diri sendiri kan. Dan ketika gua baca tulisan ini, tiba-tiba cita-cita untuk bisa jadi bagian dari Majalah Basis. Duh Romo Sindhu, pekerjakanlah aku dimajalahmu itu…..

Advertisements

2 responses »

  1. Kamu serius apa boongan bilang itu? Tapi emang beneran bagus kan? Aku menyakini itu bagus…alah…Aku pengen jadi penulis yg kaya gini yang, menulis sesuatu diluar dari identitasku. Rasanya itu baru menempatkan penulis sebagai pencerita…Bagaimana caranya biar Romo Sindhu mau memperkerjakan aku ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s