Ini Pilihanku!!!!What The Heck

Standard

Mungkin salah satu alasan maksa yang dipunya Hitler kenapa dia melakukan genosida terhadap orang Yahudi adalah karena Hitler kaga mau anak perempuannya menikah dengan orang di luar suku dan agamanya dia….AH TERLALU MAKSA BAHKAN UNTUK DIJADIKAN JOKE…

Semalem gua melakukan pembicaraan terumit yang pernah gua lakukan ke nyokap. I’m trying to be honest and responsible for my own choice. And of course i’ve to tell her that coz i do respect her or them (including my father). Gua selama ini ngerasa “aneh” aja karena harus sneeking out untuk bisa barengan dengan si tukang es krim itu. Umur gua udah terlalu tua untuk tetap harus melakukan itu, udah ngga jaman kaleeeeee…(tolong diucapkan dengan gaya anak gaul).

Dari dulu gua tidak bisa menemukan pembenaran yang enak kenapa anak perempuan harus menikah dengan orang satu sukunya(perlu dicatat gua adalah anak perempuan satu2nya dari suku yang sangat patriakal). “Kamu perempuan, dan kebatakan kamu itu akan hilang kalo kamu bukan sama orang batak.” Ha…(dengan muka aneh)…gua terlahir menjadi batak dan selama hidup gua kebatakan itulah yang melekat dalam diri gua…so i think i’ll never lose it. Dan ketika gua mencoba memberikan argumentasi dengan bilang, bahwa bisa aja pasangan gua itu dibikin marga like the common way people do right now. Bahkan keluarga gua sudah sangat terbiasa melakukan pengangkatan marga itu karena banyak juga sepupu gua yang kawin dengan orang selain jawa. Bahkan om gua ada juga yang menikah dengan orang bukan batak. Trus argumentasi nyokap “sebenarnya akan lebih akurat kalo yang diangkat marga itu perempuan karena anak dari perempuan itu akan tetap punya marga dari suaminya.” Jadi gua ngga akan pernah punya kesempatan untuk memilih bagaimana gua menjalani hidup gua hanya karena kalo pasangan gua itu dibikin marga kurang afdol. Ah dan masih banyak lagi argumentasi-argumentasi yang benar2 bertolak belakang bahkan kadang kala lari dari masalah.

Menikah….?Bahkan belum sampai kepada keputusan terbesar dalam hidup gua aja, gua udah tidak punya otoritas untuk itu. Iya, bahkan untuk pacaran aja menurut mereka itu berbahaya…they push me not to fall in love with other who is not from the batak ethnic. Apakah memang cinta bisa dibilang paling perfect kalo dari satu suku? Apakah memang cinta bisa benar2 dikondisikan seperti itu ya? Lalu apakah memang pernikahan definisi afdolnya hanya untuk “kenyamanan” orang tua. Nyokap juga sempat bilang bahwa orang tua akan sangat puas ketika anaknya sukses dan menikah.Ah…lalu bagaimana buat mereka yang kemudian memutuskan untuk selibat. Atau menikah berkali-kali dengan kasus kawin-cerai? Ah pertanyaan ini sebenarnya akan sangat mudah dipatahkan. Sama seperti pernyataan2 nyokap atau orang tua lainnya yang sepaham dengan itu, akan sangat mudah dipatahkan juga.

Kenapa kita tidak mencoba untuk mengerti, bahwa keputusan menikah atau pacaran itu bukan semata-mata untuk kenyamanan “sosial”. Itu pilihan. Apabila dengan umur setua ini gua masih belum dipercayai untuk memilih dan bertanggung jawab atas salah satu pilihan terbesar dari hidup gua, trus kapan gua punya wewenang atas hidup gua ini. Apakah dalam pemerintahan kekeluargaan itu tidak ada sistem pemerintahan demokrasi, bahwa orang tua hanyalah penerima mandat. Terkesan sangat kasar memang, tapi seharusnya mereka tidak menekan gua karena gua bisa lebih keras dari apa yang mereka pikir. I know…kekerasankepala ini memang bukan pembenaran yang bagus juga.

Tapi, sebelum ngomong sama nyokap gua udah bilang untuk berikan kepercayaan kepada gua untuk bisa memilih dan bertanggung jawab atas pilihan gua. Dan pembicaraan yang rumit itu hanya diakhiri dengan, ” ya sudah kalo kamu tidak bisa dibilangin terserah”. Dan kemudian perempuan yang gua sayang itu mulai berbicara bahwa mereka sudah tua, bahwa semua kondisi yang gua pilih akan sangat riskan untuk siapapun, betapa kemudian semua ini (baca:pemberontakan gua) adalah karena dia terlalu lunak sama gua, dan lain-lain…sampai gua harus bilang “Kenapa kemudian gua harus diancam atau ditempatkan pada ketakutan2 yang seperti itu…”

AH WHAT THE HECK lah…i’ve chosen what i have to choose and i want to responsible to it. Dan untuk setiap resiko yang ada akibat setiap pilihan ini, ijinkan gua punya kemampuan untuk menghadapinya. Karena Kau akan bukan jalan disaat tidak ada jalan. Dan aku percaya bahwa, setiap hal yang aku alami dan akan aku hadapi adalah wujud kepercayaan tertinggiMu atas keberadaanku. Walk beside me would You…
Makasih Tuhan untuk semuanya.

SELAMAT MENIKMATI HIDUP

And God please let all the risk that might be exist in the future for all this choice that i had made,

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s