Ketika Agama Dipersepsikan Salah Oleh Media

Standard

Salah satu berita yang ditampilkan di Detikcom salah satunya berjudul “Ferry Ingin Jadikan Alda Seperti Ricard Gere?”. Judul yang sangat provokatif menurut gua. Dan setelah gua baca, memang sangat profokatif.

Memang sampai sejauh ini, pihak kepolisian mengumumka bahwa saksi kunci yang juga diduga sebagai dalang di balik kematian penyanyi Aku Tak Biasa itu, bernama Ferry Surya Prakasa alias Yonzhin Rinchope yang ternyata tercatat sebagai Biksu aliran Tibet. Sampai saat ini Ferry memang belum berhasil ditemukan dan diminta keterangannya seputar kebersamaannya selama 2hari di Hotel Menteng, Matraman Jakarta Timur, bersama Alda yang akhirnya menyebabkan Alda tewas dengan kurang lebih 25 bekas suntikan. Disamping itu, hasil forensik RSCM yang menyebutkan Alda meninggal karena overdosis zat psikotropika dan ampevitamin tersebut membuat polisi memburu rumah Ferry di bilangan kelapa gading. Dan di rumah yang mewah itu, polisi menemukan shabu-shabu dan senjata api. Akhirnya penyelidikan polisi mengungkapkan identitas Ferry Prakasa, lengkap dengan agama dan pekerjaannya.

Tapi, entah dari mana, Detikcom berhasil membuat sebuah perkiraan, sekali lagi perkiraan, bahwa Ferry mengaet Alda untuk dijadikan salah satu pengikut Buddhis seperti Richard Gere. Kenapa gua bilang perkiraan? Karena, mohon diingat, sampai saat ini jangankan Detikcom, polisi aja belum berhasil menemukan Ferry. Artinya, perkiraan itu adalah sebuah spekulasi yang didasarkan kepada perasaan penulis berita. Perasaan itu kemudian coba dibentuk dalam satu realitas rekaan Detikcom dengan data-data yang sepertinya mendukung perasan Detikcom. Dan hal ini sebenarnya sangat tidak bijak bahkan lebih tepat disebut sangat tendisius. Bahkan Detikcom menampilkan Ferry Prakasa dengan gambar lengkap ketika dia memimpin peribadatan.

Masyarakat kita memang terlalu dibiasakan dengan pikiran-pikiran jelek tentang agama lain. Kristenisasi, Islamisasi, Budhanisasi, Hindunisasi (ada ngga ya atheisasi…?) adalah suatu hal yang sangat dicurigai oleh setiap kelompok agama. Jujur, sebagai orang awam, ketika gua membaca judul detikcom itu, gua berpikir bahwa memang Ferry berusaha membuat Alda mengalihkan keyakinannya? Tapi apa misi detikcom itu memang seperti itu? Kalau ngga, lalu apa misi yang coba dibentuk detikcom kepada pembacanya? Haruskah media selalu menciptakan sensasi untuk menarik keuntungan yang besar? Seharusnya media menjadi alat penalaran pembaca yang lebih bijak dalam memandang setiap hal. Bukankah media adalah “kunci pengaman sosial” masyarakat, “otak dari masyarakat madani”, atau infrastruktur dari open society yang konon katanya more civilized. Trus apakah mereka mencitrakan setendisus itu untuk menciptakan pembaca yang kritis atau malah menciptakan pembaca yang paranoid?

Ah media seharusnya ingat, bahwa tulisanya atau apapun yang diberitakannya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam bertindak dan berpikir. Ya polanya gitu, kita kebanyakan bertindak dulu baru kemudian memikirkan apakah yang kita lakukan itu sudah benar. Itu juga merefleksikan betapa masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat stigmatif. Apalagi bila berhubungan dengan agama. Di Indonesia kan yang lebih penting agamanya, ketimbang Tuhannya. Orang Indonesia, lebih melihat seseorang itu berafliasi dengan agama mana, ketimbang melihat bagaimana seseorang “menikmati” agamanya. Kita lebih pusing mencari-cari perbedaan kemudian mendiskusikannya dengan kelompok kita sendiri, sehingga stigma-stigma bisa muncul subur disetiap nilai-nilai kehidupan beragama. Kita lupa, bahwa agama adalah bahasa sederhana Tuhan yang mampu didefinisikan manusia. Jadi, Kristen, Islam, Hindu, Budha atau agama-agama lainnya adalah bahasa-bahasa yang memiliki nafas yang sama. Nafas Keesaan Tuhan. Seharusnya kita lebih terbuka, lebih bisa menemukan bagaimana nikmatnya Tuhan berbicara ke setiap umatnya yang beragam itu. Ah kenapa juga Ferry Prakasa yang Biksu itu kemudian dibesar-besarkan tanpa fakta yang jelas?

Ah…pokoknya selama si Ferry itu belum ketangkap dan ngomong, seharusnya media lebih berhati-hati dalam mempersepsikan identitas ketuhanan dia. Jangan kemudian menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Permasalahan baru yang justru jauh dari konteksnya. Seperti yang Ayu Utami pernah bilang di bukunya Si Parasit Lajang, bahwa pertanyaan pertama dan utama yang akan selalu ditanyakan orang Indonesia adalah, Agamanya apa?”. Dan gua akan jawab pertanyaan itu dengan, AGAMA GUA PERCAYA TUHAN. ITU SUDAH LEBIH DARI CUKUP. KARENA RITUAL KEAGAMAAN ADALAH PRIVASI GUA YANG TIDAK PERLU DINILAI DAN DICAP DALAM SATU KESATUAN KOMUNITAS ATAU LABEL. Dan seharusnya, identitas agama dalam KTP ITU MEMANG NGGA PERLU!!!!!!!

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s