Perempuan Hanaya

Standard

Asrama Unpad Jatinangor
26 April 2001,16:30
Aku adalah perempuan Hanaya
Perempuan yang nyaris melihat dunia
Hidup perempuan Hanaya yang dianggap tidak berharga
Karena begitu banyak janin perempuan Hanaya
yang dibunuh hanya karena kedudukan perempuan Hanaya,
lebih rendah dari binatang.

Tidak pernah aku meminta untuk dilahirkan ke dunia sebagai perempuan
Namun apa hak mu hai manusia untuk menghalangi kami melihat dunia
Apa hak mu hai manusia,
hingga kau langsung mencekik leherku, membanting tubuhku
dan meludahi kemaluanku, tepat pada saat aku menangis untuk
pertama kalinya.

Sekarang aku pun mati,
tepat pada saat aku melihat terang.
Tepat pada saat aku keluar dari rahim Ibuku yang gelap.
Tepat pada saat aku menjadi perempuan Hanaya.

Kalian tidak berhak menghalangi kami melihat dunia
Kalian tidak berhak mengembalikan aku kepada kegelapan abadi

Perempuan adalah manusia
Manusia yang diciptakan Tuhan dengan tanganNya sendiri
Dan memberikan nafasNya untuk menghidupi setiap Adam dan Hawa yang lahir.

Sadarlah manusi
Sadarlah hai kau mahluk yang paling sempurna
Sadarlah hai kau yang memiliki akal dan hati nurani

Ku mohon sadarlah demi setiap insan yang akan lahir
Dan demi satu wujud cinta kasih yaitu kemanusiaan.

—–

Tulisan itu gua buat, setelah gua mendengar di Radio Mustika (Radio perempuan yang bersegmentasi ibu2, btw kenapa radio2 perempuan harus identik dengan ibu2 ya?Ayo jangan mau dijebak dengan ranah domestik ini)yang menceritakan tentang kehidupan perempuan India, tepatnya di Hanaya. Jadi di sana, penggunaan USG itu ilegal karena kebanyakan dari mereka menggunakan USG hanya untuk mempermudah deteksi jenis kelamin bayi. Kalo ketauan bayinya perempuan pasti akan digugurin cepat2. Waktu itu gua inget banget, dengerinnya pagi2 karena masuk kuliahnya rada siangan. Reaksi gua, sedih banget. Gua ampe berenti sarapan dan ngomong sendiri, gila kali, kenapa mesti begitu dan sebagainya, tepat setiap kali penyiarnya ceritain tentang perempuan2 di Hanaya.

Pagi ini sebelum berangkat kerja, gua baca Kompas dan mereka ada supplement laporan dari India. Segala aspek lah dibahas. Dan salah satu bahasannya adalah PEREMPUAN. Pastilah gua baca. Mereka mengangkat tentang masalah perempuan di sana yang erat dengan mahar dan pembakaran diri. Gua jadi ingat, kira2 dua minggu lalu gua meng-up load berita tentang banyaknya perempuan muda di India yang melakukan pembakaran diri untuk keluar dari kemiskinan. Mereka masih sangat muda tapi sudah berstatus menikah. Rata2 di sana, umur 12-17tahun sudah disuruh nikah. Dan di sana uang mahar (mas kawin) diberikan keluarga perempuan sebagai simbol penyerahan diri calon istri kepada keluarga calon suaminya. Dan kalo mereka tidak bisa memberikan mahar, itu akan selalu diitung sebagai utang. Utang harus dibayarkan, kalo mereka tidak bisa membayar maka sang suami atau keluarga suami, seakan-akan mendapat “kekuatan” untuk menyakiti perempuan tersebut. Tulisan itu juga menjabarkan betapa jumlah anak laki2 yang lahir dengan anak2 perempuan sangat domplang. Mereka menggunakan bahasa “kehilangan yang disengaja”. Punya anak perempuan artinya biaya besar jadi kalo ngga mampu ya sengaja dihilangkan saja.

Setelah baca tulisan itu, sekelebat memori gua di suatu pagi di Asrama itu muncul. Walaupun sudah banyak yang dilalui dari 2001-2006, ternyata rasanya tetap sama, sedih, ngeri dan marah. Gila ternyata peristiwa itu masih berlangsung sampai sekarang. Perempuan2 itu masih terancam. Dan gua langsung bersemangat mencari-cari tulisan gua itu untuk meyakinkan diri gua bahwa rasa itu memang pernah gua tulis jauh sebelum gua baca tulisan di kompas (dan lelaki ku mengsms, ternyata gua udah nyampe alphamart . Waduh mana gua belum mandi, tulisan belum dapat, karena gua mau tulis ini di blog. Mati gua…panik…panik dan…maaf ya telat hehehehehe). Ah manusia emang gila kadang2. Apalagi kalo berhubungan dengan vagina, tubuh perempuan dan keberadaan perempuan. Belakangan orang heboh dengan video mesumnya YZ dengan ME plus pernikahan kedua Aa Gym. Ini semakin komplit setelah Presiden SBY menyarankan untuk merevisi UU Perkawinan soal poligami.

Semuanya membicarakan bagaimana pelecehan terhadap perempuan terjadi dalam banyak aspek. Bagaimana untuk kehidupan perempuan pun, dia tidak punya andil. Bagaimana ketidakberuntungan yang dimiliki perempuan hanyalah milik perempuan. Tapi kalo berbicara tentang keindahan tubuh dan birahi mari “merayakan” dengan perempuan. Semalem di todays dialog-nya Metro TV ada satu perwakilan dari Fraksi PPP yang bilang kalo poligami itu dibolehkan dengan persyaratan, disetujui istri, istri dalam keadaan tidak sehat, dan istri tidak mampu memberikan keturunan. Dan dari sisi lain, seorang Ibu dari ICRP (Gua lupa kepanjangannya, tapi ini LSM yang concern terhadap hubungan lintas agama kalo ngga salah Ahmad Baso dulu di sini atau masih di sini)bilang dengan suara halus tapi NOHOK…lah kalo yang tidak sehat dan tidak mampu memberikan keturunan adalah laki2nya gimana pa? Bapak itu dengan hanya tertawa aneh bilang ya di ceraikan saja. Trus anchornya, Najwa Shibab bilang, wah ini sangat bias jender.

Benerkan betapa perempuan akan selalu menjadi topik menarik untuk dibicarakan (setelah seks dan tuhan, sebenarny urutannya begini: seks, perempuan, Tuhan). Karena perempuan selalu dilekatkan pada standar yang gua rasa lebih dari standar ganda, bisa jadi multi standar. Kalo ngebahasa hal2 seperti gua selalu mempertanyakan kemanusiaan manusia. Kenapa sih orang tidak bisa menjadi lebih humanis, menghargai manusia lainnya dengan keberadaan kemanusiaannya. Buat gua, kemanusiaan adalah bahasa pertama Tuhan yang bisa dimengerti manusia. Karena turunan dari kemanusiaan itu luas banget, bikin kita jadi lebih sadar dan peka atas segala yang terjadi disekeliling kita. Bahkan, kemanusiaan itu adalah keilahian Tuhan yang melekat pada kita. Ayolah manusia…menjadi lebih humanis lah….itu bisa jadi salah satu modal kita untuk bertahan hidup, berbagi kasih.

SELAMAT MENIKMATI HIDUP DENGAN LEBIH HUMANIS

Advertisements

2 responses »

  1. salam kenal..kalo menurut gue, yg utama adalah pendidikan untuk perempuan. memang skrg kesempatannya jauh lebih terbuka dibanding jaman dulu. tapi stigma domestik dan tekanan untuk tunduk terhadap tradisi patriarkis masih besar.. dgn pendidikan anak2 bisa berlatih kritis dan merdeka berpendapat. eh, tp tergantung yg ngedidik patriark/bukan juga y.. :-\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s