Surat Untuk Sahabat

Standard

Dulu gua pernah nngerasain gimana CAPEnya berantem sama diri sendiri. Betapa lelahnya meredam suara dari “the other side of me”. Mencoba mencari pembenaran2 melalui sekeliling gua. Bahwa apa yang gua lakukan adalah esensi dari keberadaan gua. Tapi ternyata sebuah eksistensi diri pun bisa dimanipulasi, oleh DIRI KITA SENDIRI. Anjrit… dan keadaan itu sangat teramat tidak enak. Berada di satu tempat tanpa benar2 mengada. Gua inget bener saat2 terberat itu. Menjauh dari eksistensi dunia, bengong kaga jelas, dan di malam hari yang bisa dilakukan hanya membuka mata di kegelapan sambil nangis.

Cukup lama juga berada dalam fase itu. Gua nyebutnya fase kegelapan kepompong. Being alone is suck apalagi ketika kita berada di tengah keramaian. Udah gitu kita berantem mulu sama diri sendiri. Sama-sama ngotot untuk didegerin. Dan puncaknya adalah, waktu gua pulang dari persekutuan (tempat di mana gua sering berantem sama diri gua sendiri) dalam keadaan tidak sadar. Jalan aja tanpa tau mau ke mana. Ujan gede ngga bikin gua ngerasa kedinginan dan secara tidak sadar gua pun menangis. Bayangin di tengah ujan gede gitu, gua jalan aja dengan tas gemblok di pundak, jalan nunduk ngeliatin ke mana kaki ini bakal melangkah. Sampai gua tidak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata yang membasahi muka gua.

Saat itu gua ngerasa, ini ada perkelahian terberat dan terparah yang pernah gua alami. Gua harus mengurai benang kusut ini. Gua harus menemukan jawaban dari pertanyaan terbesar gua atas eksistensi gua (saat itu gua bahkan tidak tau bagaimana gua bisa menemukan kata eksistensi, muncul gitu aja). Akhirnya gua membiarkan the other side of me untuk “berbicara”, mencoba menemukan titik equlibriumnya. Begitu nyampe asrama dengan kedinginan dan basah kuyup (hahahaha Tetty kaget banget saat itu karena gua kaya orang tolol, basah kuyup ngga jelas plus badan gua coklat2 kena cipratan genangan air…anjir gua aneh bener pasti saat itu) gua langsung mandi dan bersiap2 untuk berangkat. Yup gua harus berdamai dengan diri gua, gua harus sendirian melakukan dialog dengan diri gua. Menjauh dari eksistensi dunia untuk benar2 eksis untuk diri sendiri.

Gua langsung pergi di tengah ujan yang tiba2 berhenti (waktu itu gua mikir, ah Tuhan hanya ingin memberi kebebasan buat gua nangis di pinggir jalan tanpa ketauan banyak orang hahahahahaha. And again Tetty tambah kaget, karena tanpa banyak ngomong gua cuman bilang kalo gua mau nginep di Bandung)naek Damri yang waktu itu belum lewat tol dan tidak ada damri AC. Jadi masih bis damri bapuk yang panas dan penuh. Untungnya gua dapat tempat duduk di pinggir kaca, that was a nice place to be alone. Dengan walkman yang memutar lagu2 Nugie…hahaha gua dulu suka banget sama Nugie dengan lagu2 bernuansa alamnya itu. Gua mikir dan mikir dan terus berpikir. Gua mengalami perbincangan terpanjang dengan waktu yang terasa singkat banget. Begitu sampai Bandung yang kepikiran cuman DAGO PAKAR. Dago pakar itu hutan di Bandung yang ENAK BANGET..dulu masih bersih sekarang udah kotor yah tapi untuk hiburan murah dan tempat menyendiri lumayanlah. Berangkatlah gua ke Dago Pakar SENDIRIAN. Nyampe di sana cuman duduk, tutup mata sambil ngobrol2 ya dengan the other side of me itu.

Saat itu tenang banget, ternyata gua terlalu keras memberikan presure terhadap diri gua sendiri. Kita ngobrol lama banget bahkan sampai menghadirkan “pihak ketiga”, Sang pemilik eksistensi itu sendiri. Kita ngobrol…ngobrol…dan ngobrol sampai akhirnya bisa nangis tanpa bersuara dan KETAWA LEPAS…BAHKAN TERIAK…DAMN THAT FEEL SO GOOD. Dan dengan kesadaran untuk menghargai eksistensi diri, kami pun merobek kepompong menjadi kupu2. Balik dari Dago Pakar gua langsung ke Batu Api mencoba bercinta dengan “mereka” yang tau bagaimana berorgasme dengan eksistensi diri. Buku2 Satre, Nitzche, percakapan dengan Tuhan untuk remaja dan buku2 lain. Semenjak itu, gua tidak mau keras terhadap diri gua sendiri. Gua harus terbang bebas dan liar seliar yang gua bisa.

Belakangan ini, there were few of my friends who perhaps right now are in those situation. Feel abandoned by your self…God that fell like hell in fact maybe worst than hell. Gua bisa merasakan (walaupun sebenarnya gua mungkin tidak merasakan secara seutuhnya karena gua hanya “pengamat” dari luar)bagaimana sesaknya dunia kalian saat ini. Bahkan salah satu dari kalian tengah mengalami satu fase yang teramat berat. Banyak sekali kata dan pemikiran yang berlari-lari di kepala gua. Dan ketika satu sms di jam 02.32 subuh datang dengan kata2 “Jujur ini fase berat dlm hidup gw.Tp tentunya setiap pilihan biringian dngn prubahan.Gw butuh kalian!Tmni gw mlewati fase ini”. Dan reaksi lo cuman bisa, “i’ll be by ur side my friend. Everything gonna be OK. Karena lo salah satu orang terkuat dan sangat sadar atas setiap pilihan yang diambil. Gua rasa itu akan jadi modal kuat untuk bisa melalui ini. Trust me, setelah ini semuanya lo akan menjadi lebih luar biasa dari sebelumnya”. Dan di sorenya, dia tlp gua dengan bilang kalo fase itu sudah menyerang fisik dia, bukan cuman mental. Damn ini gawat karena dia belum pernah seperti ini sebelumnya. Ini luar biasa hebat. Dan di tengah malam dengan tlp yang terputus-putus setiap 5menit, kita ngobrol. Perbincangan terberat yang pernah kita lakukan. Karena kita sama2 ngga ngerti gimana mengurai benang kusut itu. Sebelumnya, hal2 lebih absurd dari hidup juga bisa kita “akalin” tapi ini…sesuatu yang lebih besar dari itu. Dan perlahan-lahan kita mencoba mengurai benang kusut itu, perlahan tapi pasti. Untungnya dia punya keinginan kuat untuk menguraikan benang itu…

Kita memang tidak pernah bisa memilih proses mana yang mau kita jalanin. Tapi ketika kita berani untuk menjalani proses itu, gua rasa kita lebih dari sekedar hidup. Kita telah memberikan makna hidup bagi hidup. So my dear friend, lo adalah salah satu orang berharga dalam hidup gua dan keberhargaan lo akan selalu memiliki nilai yang sama dengan keberhargaan jati diri lo. So jangan pernah takut untuk menghadapi diri kita sendiri, karena jauh di bawah alam sadar kita, cuma diri kita sendirilah yang paling hakiki dari eksistensi kita. Dan satu hal yang pasti…I’LL BE BY YOUR SIDE bahkan lebih dari itu WE’LL BE BY YOUR SIDE.

Inget lagu ini Tun, keep smiling…keep shining knowing u can always count on me for sure. That’s what friends are for. For good time and bad time i’ll be on ur side for ever more. That’s what friends are for.

Dan lagu ini, u just call on my name..and u know where ever i’m…i came running to see u again. Winter, spring, summer or fall..all u got to do is call…and i’ll be there yes i will…u’ve got a friend…

Setelah itu kita akan terpesona dengan speed of light-nya COLD PLAY…
Come back soon ya.

SELAMAT MENIKMATI HIDUP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s