Surat Untuk Sumanti

Standard

Hari ini gua shock banget, biasa sebelum bekerja sebagai up loader berita, gua mengawali hari gua dengan membaca koran kompas. Dan di section nasionalnya ada berita tentang seorang ibu di Bekasi yang membakar hidup2 anak yang baru dilahirkannya. Tidak hanya itu, ibu yang diduga mengalami depresi berat itu juga memakan daging anaknya. Dan karena polisi tidak mau mempublikasikan nama ibu itu, akhirnya namanya dibikin jadi Sumanti. Kenapa Sumanti, karena pelaku kanibal sebelumnya yang berjenis kelamin laki2 itu bernama Sumanto. Dan penjelasan nama itu, tidak bermaksud untuk melucu, hanya mencoba untuk memberikan penjelasan saja.

Berita itu serem sebenarnya dan tidak ada waktu yang tepat untuk mengkonsumsi berita seperti itu. Tidak pagi hari, siang, atau malam. Karena beritanya memang seram. Tapi itulah yang terjadi ketika batas kesadaran kebentok dengan kemiskinan, semuanya jadi sangat tidak mudah untuk didefinisikan. Ya kalo ngga sukses untuk menegosiasikan keduanya, jadi depresi kaya Sumanti itu. Well not everybody has the same ability to knock down the world kan. Untuk itu, aku turut bersimpati atas apa yang menimpa Ibu yang tengah kebingungan keluar dari permasalahan hidupnya itu. God Bless U Madam.

Membicarakan kemiskinan memang akan menarik kita akan lembah hitam yang terlalu “curam” untuk dihidupi. Satu2nya yang bisa dilakukan manusia adalah dengan keluar dengan susah paya darinya. Banyak cara juga untuk bisa keluar, mulai dari yang rasional dengan bekerja, terlepas dari itu halal atau tidak karena kita membicarakan bagaimana keluar dari kemiskinan. Ada juga dengan mencari “ketentraman” dalam agama. Teologi Pembebasan namanya. Ada satu teman gua yang getol banget dengan teologi ini, Debbie namanya. Dia ampe sering bolak balik batu api (perpustakaan keren di Jatinangor dan merupakan tempat pertama gua merobek kepompong, thx to batu api gua bisa jatuh cinta dengan filsafat dan Tuhan) untuk melahap habis2an buku2 yang menjabarkan tentang teologi pembebasan. Bahkan kita pernah barengan ikut diskusi antara agama yang dibikin anak fisip (yang waktu itu ketua bem-nya namanya didi…cakep, pinter, dan keblinger…salah satu kecengan gua yang sampe sekarang belum pernah kenalan hahahahaha) tentang Teologi Pembebasan.

Di seminar itu, gua hampir jatuh cinta dengan teologi pembebasan itu karena akar mereka memang dari kemiskinan yang menjerat masyarakat amerika latin. Mereka melakukan pergerakan2 untuk merubah sistem ekonomi yang menjerat dengan menggunakan pastor2 dan biarawati2 sebagai ujung tombak perjuangan mereka. Setelah seminar itu gua sering ngobrol ama debbie, how we admire those point of view. Bagaimana keberpihakan terhadap rakyat dan menjadikan kemiskinan sebagai hal yang dibenci Tuhan, kayanya ideal banget. Gua bahkan merasakan kepuasan luar biasa ketika lagi penasaran sama teologi itu pas banget di pameran buku gua nemuin edisi BASIS tentang teologi pembebasan. Anjrit…sepertinya Tuhan berpihak kepada gua untuk menjadi pejuang teologi pembebasan hahahah. Tapi di edisi itu lebih mengupas betapa perjuangan para pelaku2 iman itu (baca : pastor dan biarawati) harus mengorbankan nyawanya untuk tuhan yang mereka sembah yaitu “teologi pembebasan”. Teologi yang konon sangat teramat berpihak pada rakyat miskin, dan mengangkangi penguasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mengaggap rakyat miskin sebagai malaikat surga dan penguasa sebagai penghuni neraka. Para pelaku iman itu banyak yang ditembak, di kejar2 dan sebagainya. Ya setipe lah dengan cerita2 pelaku iman lainnya, ketika mereka mencoba menegakkan iman dengan cara mereka dan kemudian dianggap melanggar nilai2 sebelumnya sehingga harus di ganyang (sumpah kata2 ini selalu menimbulkan kengerian sendiri, lebih ngeri ketimbang bilang mati..mati…mati…). Ya benturan agama itu kan selalu seperti itu, ketika ada pembaharuan dalam agama yang sangat berbeda jauh dengan keberadaan agama asal pasti akan dianggap menggoyangkan nilai2 luhur dan menimbukan keresahan masyarakat. Makanya kaya Ahmadiyah mereka dikejar2 dan dibilang kafir.

Dan sebenarnya dalam setiap permasalahan hidup, bukan hanya kemiskinan, manusia selalu mencari teologi2nya sendiri sebagai salah satu jalan keluar yang aman. Manusia itu memang tidak bisa hidup sendirian, dia selalu butuh teman untuk menghadapi keajaiban dari hidup yang tidak bisa ditebak ini. Mungkin seperti ibu yang membakar anaknya itu, dia sudah kesulitan (tidak hanya dalam bentuk kemiskinan tapi juga kesadaran)mungkin dia juga merasa sendirian. Sehingga dia tidak menemukan pelaku2 iman yang bisa membuka wacana baru untuk mensiasati permasalahan yang dihadapinya. Atau tidak ada yang meninabobokan dia tentang pemikiran2 teologi pembebasan yang pro orang miskin itu. Dan ibu itu pun menjadi sangat abu2 ketika dia harus memutuskan tentang keberlangsungan anaknya. Akankah anaknya menderita seperti dia dalam kemiskinan yang mendera. Ataukah anaknya akan menjadi pelaku iman bagi dia. Semuanya menjadi sangat kabur buat ibu itu. Sehingga yang dibutuhkan adalah terjerembab dalam kekaburan karena bisa jadi dia tidak tau bahwa dia sedang berada dalam wilayah tidak jelas. Argh….makin ribet kayanya tulisan ini.

Banyak hal yang ingin kita katakan atas apa yang terjadi disekitar kita. Mau itu hal besar atau hal yang sangat senderhana. Tapi tetap saja kata2 hanyalah kata2 yang dalam proses merangkainya saja sangat terbatas. Lalu kenapa Tuhan menciptakan alam semesta dengan kata2? Jangan2 gara2 itu kita menjadi sangat terbatas? Hahahahahaha…

Dan dengan kata2 sederhana yang terbatas ini, saya hanya ingin menyampaikan rasa duka atas meninggalnya anak ibu dan sangat bersimpati atas apa yang tengah ibu hadapi. Semoga kata2 ini bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kata2.

Advertisements

One response »

  1. liberation theology? hmm…it sounds sexy but i don’t think it solid enough to be made “pegangan hidup” by any people distressed by the suffering of the world. you know, when i was at city desk and patroling the city police, i used to read notes of those committing suicide. i read them carefully, imagining and wondering what they felt when they tied their necks with a rope or when they wrote the Last Notes. there’s one i clearly remember, “ade, maafin kakak, ya.” he was 22, the person who wrote the note. the police said he killed himself because he had been unemployed for such a long time…you know, i read them because it once crossed my mind to leave the world…thank god those days had passed and i learned so much. honey, i admire the way you see the world. really, i never thought i would have found a girl like you. and si didi itu apakabarnya? what’s wrong with you and a man with his god and philosophy?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s