Bersenggama Dengan Absurditas

Standard

Sebelum mulai berkata-kata…ntah kenapa gua suka dengan judul itu….hihihhihih

Beberapa hari belakangan ini gua dihampiri oleh pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa dari kekasihku itu. Pertanyaanya seperti ini, Apakah bahagia adalah hidup serba cukup?Apakah Love bisa musnah karena teman, impian dan keluarga?. Atau yang ini, Apasih yang kita inginkan dari hidup ini? Oh masih ada lagi, Kamu sadar ngga sih kalo kita jarang merakyat, melebur dengan banyak orang? Sepertinya dia sedang sangat menikmati persenggamaan itu (Gosh ntah kenapa gua suka banget kata yang ditulis italic itu hehehehe).

Well sometimes, saat kita lagi jenuh dengan rutinitas atau kecewa dengan sekitar kita, pertanyaan2 ajaib kaya gitu tiba2 datang in the middle of no where. Kaya kecipratan tai burung yang tiba2 plok dan bau. Saking baunya, seharian itu kita akan mikir kok bisa ya tuh burung pup sembarangan, AND THE BIG QUESTION WILL BE, WHY ME…GOD…WHY ME….? Oke kalo ini sudah terlalu didramatisir…

Tapi sebenarnya cerita pup burung yang menclok di muka itu sedikit banyak bisa jadi analogi. Kadang kala, kita suka ngga nyadar apa yang tengah terjadi disekitar kita. Atau apa yang telah sedikit terlupakan dengan “idealisme” liar kita. Sampai2 itu kemudian membusuk dan meninggalkan (enaknya pake kata apa ya, noda apa bercak?)bekas yang kita ngga sadar ternyata telah menganggu keberadaan kita. Sometimes we do ignorance ourself dengan pembenaran bahwa hidup itu memang hanya harus dijalanin. Padahal ada hal2 esensial yang lebih mendarah daging ketimbang itu. Dan karena kita sering mengesampingkan kepuasan diri atas nama “kesadaran” akhirnya ide2 gila yang mendarah daging itu jadi “kotoran” yang terus2an akan menghantui kita dengan “baunya”. Lagi2 kita akan dibenturkan dengan kenyataan bahwa hal2 gila itu mau ngga mau harus dihadapin. Harus ditemuin formulasi yang pas untuk keberadaan kita yang utuh. Tanpa harus memikirkan apakah ini wajar, normal atau baik di common world.

Kalo lagi bersenggama dengan absurditas, gua sering berguru kepada kitab yang membahas tentang absurditas. Mite Sisifus, Pergulatan Dengan Absurditas karya Albert Camus. Sekedar info, Albert Camus itu temennya Satre tapi mereka sempat musuhan karena perbedaan pemikiran padahal dulu sahabatan banget..see bagaimana semuanya berbicara tentang negosiasi, kalo negosiasinya gagal we could lose one of our best friend. Dan Satre plus Camus itu juga temenan ama Simon de Boviour (gua rada lupa nulis nama belakangnya gimana). Simon de Boviour itu salah satu tokoh feminis yang juga pacarnya Satre. See bagaimana cinta dan kegilaan itu juga hasil dari bagaimana kita menegosiasikan eksistensi dan penuntutan kesetaraan gender. Alah jadi semakin melebar…fokus…fokus…

Ngomong2 soal fokus, sebenarnya saat kita bersenggama dengan absurditas kita tengah ditarik oleh satu magnet yang kuat banget dan bernama FOKUS itu tadi. Kita ditabrakin lagi dengan hal2 yang dulu kita jadikan energi untuk bertahan hidup. Jadi sebenarnya, saat kita dirundung pertanyaan2 tentang eksistensi diri, kita lagi “dicolek” untuk kemudian sedikit menoleh ke tempat di mana kita meletakkan nilai2 kepuasan diri kita, ya ide2 liar itu tadi. Sama absurdnya memang dengan Mite Sisifus yang selalu mendorong batu ke atas bukit hanya untuk kemudian di jatuhkan, terus dijatohin dan dan didorong lagi ke atas…again…and again….Phew ngebayanginnya aja cape. Tapi sebenarnya, Mite Sisifus itu orang yang paling tau gimana nikmat bersenggama dengan absurditas. Dia bener2 mendedikasikan diri dan hidupnya hanya untuk kepuasan dirinya sendiri. Ya itu dengan mendorong dan menjatuhkan batu. Maybe for some people that was stupid or weird. Tapi itulah eksistensi diri, dia bukan sesuatu yang dipertanyakan dan ditemukan jawabannya dengan logika. Semuanya mengenai bagaimana kita menikmati menjadi diri sendiri dengan pilihan hidup kita. Sometimes gua mikir, kira2 selama Si Mite Sisifus itu mendorong batunya ke atas dia mikir apa ya? Apakah itu kepuasan diri dia?

Sebenarnya tidak ada definis yang pasti soal kepuasan diri, karena itu semua bagaimana kita merasakan bukan bagaimana itu dipikirkan. Kaya sometimes kita suka memiliki keterbatasan kata2 ketika kita mendefinisikan kenapa kita bisa sayang sama seseorang. Tapi kita bisa tau bahwa kita sayang banget sama dia. Ato kaya kenapa kita bisa percaya sama Tuhan padahal kita ngga pernah liat wujud Tuhan. Kata2 itu memang terlalu terbatas untuk bisa menjawab atau mendefinisikan setiap hal yang kita rasakan. Sama seperti reaksi gua saat, pacar gua itu nanya2 pertanyaan2 yang gua yakin sangat terbatas tergambarkan oleh huruf2. Karena sebenarnya ada hal besar di luar dari pertanyaan2 itu. Banyak sebenarnya yang mau dijabarin pas dia nanya seperti itu dan dia juga sebenarnya pasti sudah menemukan banyak postulat2 untuk itu tapi ya itu…kata2 terbatas banget untuk menggambarkan dunia yang luar biasa ini. Atau untuk menggambarkan kehidupan yang hebat ini. Semuanya akan kembali kepada bagaimana kita menemukan kata2 kita sendiri untuk kemudian kita tabrakin dengan realitas, dan kemudian kita menemukan negosiasi atau titik tengah untuk itu. Titik tengah itulah yang namanya realitas. Hidup bukan bagaimana 1+1=2 tapi lebih kepada bagaimana biar 1+1 itu tidak selalu menjadi 2 atau tidak harus 2. Artinya, bukan cuman bercinta yang butuh variasi tapi begitu juga dengan pemaknaan hidup. Salah satu caranya adalah dengan bersenggama dengan absurditas. Jadi tips gua cuman satu, kalo lagi bersenggama dengan absurditas, NIKMATIN AJA KARENA ITU PROSES UNTUK MENCAPAI ORGASME. Nah ntar kalo udah orgasme jangan lupa untuk memikirkan gaya baru dari persenggamaan absurditas. Coz we are Mite Sisifus yang akan melakukan hal itu berulang-ulang sebagai satu proses pembelajaran. Tapi satu hal yang harus diingat, bahwa jangan sampai orgasme dari persenggamaan dengan absurditas itu menjadi eforia. Karena itu hanya akan membawa kita dalam letupan emosi sesaat. So be responsible for our own orgasm…Selamat Menikmati Persenggamaan Dengan Absurdita

SELAMAT MENIKMATI HIDUP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s