Benturan Peradaban

Standard

Didetik-detik mau pulang kemaren, gua tertarik untuk meng-up load satu berita tentang kebanggaan guru dan murid SDN 1 Papandayan Bogor yang ketemuan sama Bush dan Laura Bush. Diberita yang gua baca dari Antara itu, ada satu fakta yang lucu. Jadi, ceritanya ada seorang murid yang bertanya kepada Laura Bush dan Ibu Ani Yudhoyono mengenai masa-masa keemasan mereka saat masih SD. Mungkin dialognya akan seperti ini :

Raffi (Anak Kls 6 SDN Papandayan 1) = R
Laura Bush (Istri Penguasa Negara Adidaya) = LB
Ani Yudhoyono (Istri Negara yang tengah mencari bentuk demokrasi) : AY

Dialog :
R: Ibu Laura, apasih mata pelajaran yang Ibu suka waktu masih di elementary school?
LB :(bayangin dia ngomongnya gaya noni-noni Belanda gitu) Oh saya sangat suka pelajaran matematika. Saya bahkan dikenal paling jago matematikanya dibanding teman-teman satu kelas saya.
Mungkin Raffi akan terbengong-bengong sambil mikir, matematika di AS itu dibuatnya dari hamburger kali ya makanya bisa ada orang yang suka pelajaran matematika waktu SD!!!. Dan secepat kilat, Raffi mengalihkan pandangannya ke Ibu yang sering dia liat di tipi, First Lady-nya Indonesia, Ani Yudhoyono.
R: Kalo Ibu Ani, prestasinya waktu SD apa?
AY : (Dengan sangat santun dan lembut, bener-bener dengan karakter keibuan orang Jawa) Oh kalo Ibu, prestasinya waktu SD adalah ME-NA-RI.
—–
Oke dialognya sampai disitu aja, bisa sih untuk diterusin tapi endingnya lebih baik diserahkan kepada pembaca aja…hahahaha (cari aman bos…)

Ntah kenapa reaksi pertama gua setelah baca itu, KETAWA…Kenceng banget sampe temen gua nanya..Loh kenapa Pris?. Dia mungkin mengira gua kemasukan, maklum gua baca berita itu abis banget azan maghrib….dan sebelum2nya gua diam…serius ceritanya….wakakakak…

Dialog singkat itu sangat bisa dianilisa menjadi sesuatu yang sangat panjang dan menguak ulasan benturan peradaban. Sebenarnya jawaban kedua perempuan dibalik kesuksesan presiden itu sangat menggambarkan bagaimana posisi perempuan dalam kebudayaan masing-masing. Entah itu jawaban spontan atau jawaban politik karena di dunia politik kan tidak ada teman atau lawan yang abadi karena yang ada hanya kepentingan abadi…

Kembali kepada posisi perempuan di dua kebudayaan tadi. Perempuan Indonesia memang lebih sering dipersiapkan sebagai sesuatu yang menampilkan keindahaan secara tiga dimensi. Makanya ada kutipan (sumpah gua benci abis kutipan ini), Wanita itu harus bisa menguasai tiga hal, kasur, sumur dan dapur. Maka perempuan tidak perlu jago dalam hal-hal yang memeras otak, matematika misalnya. Akan selalu ada standar ganda memang untuk perempuan Indonesia. Bahkan ketika itu menyangkut pilihan hidupnya.

Berprestasi dalam menari bukanlah hal yang jelek atau tidak lebih baik dari jago matematika. Hanya saja matematika dan menari tersebut sangat bisa merepresentasikan posisi atau latar belakang keduanya dibesarkan. Matematika dan menari itu, kemudian menjadi sedikit gambaran akan perspektif atau pandangan hidup dari dua perempuan yang berasal dari dua benua yang berbeda.

Trus gua jadi penasaran, kalo gua jadi Raffi mungkin gua akan nanya, ceritain dong setelah SD sampai jadi first lady itu bagaimana prosesnya. SMPnya ngapain aja, SMAnya ngerjain apa aja, Trus pas kuliah ide2 gila apa yang ada di kepala mereka. Pasti seru mendengar cerita dan paparannya. Dan itu lagi2 akan menguak satu jurang besar nantinya dan kemudian akan menghasilkan benturan peradaban.

Dan saat kita berhasil membenturkan kedua peradaban, sebenarnya kita berhasil menabrakan berjuta-juta pemikiran yang berbeda jauh. Trus kita mungkin kita akan nanya, kok bisa ya orang mikir sesederhana itu, atau kok ada ya pemikiran yang serumit itu. Trus kita jadi sedikit nyadar kalo ternyata konstruksi sosial itu benar-benar nyata. Bahkan keberadaannya yang bisa berabad-abad lamanya telah menjadi gurita, kaya cumi-cumi yang mengikat kita bahkan sampai kepada pilihan pribadi kita. Dan “cumi-cumi” yang disebut sebagai common sense itulah yang menjadi alat mematikan dari seorang perempuan untuk menjadi bebas terhadap keberadaanya sendiri.

Perempuan harus kemayu, kenapa? Karena perempuan timur itu adalah seserahan untuk dewa-dewa. Dan dewa-dewa itu dipersonifikasikan sebagai laki-laki. Laki-laki dikonstruksikan untuk memimpin dan kuat. Jadi kalo perempuan galak, judes atau slebor itu mengangkangi keberadaan kelelakian dari laki-laki. Perempuan dari timur juga harus nurut. Oh ya, kenapa? Karena perempuan itu tidak boleh menentukan pilihannya. Bahkan ketika Adam dan Hawa makan buah kuldi atas inisiatif hawa,MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA. Jadi jangan pernah memberikan perempuan kesempatan untuk memilih. BAHAYA TUJUH TURUNAN. Perempuan timur juga ngga boleh seksi. Argh kenapa lagi emang? Karena kalo seksi itu akan jadi pembenaran bagi laki2 yang otaknya lebih kecil dari udang plus dengan nafsu yang lebih binatang dari hewan, untuk melumat tubuh kamu habis-habisan.

Trus perempuan timur harus ngapain? Belajar nari ampe botak?Hahahahaha…Udah ngga boleh juga karena katanya menari itu membuat perempuan jadi sangat erotis…mengundang sahwat. Btw perempuan punya sahwat ngga ya? ADA BENER…Bahkan kalo laki-laki mau jujur, birahi perempuan itu lebih hebat dari laki2. Perempuan bisa tahan lama dan bercinta terus2an. Laki-laki harus istirahat dulu dengan minum madu pake telor atau pilih viagra yang buatan Amerika. Dan ada lagi kelebihan perempuan, alat kelamin perempuan itu paling sempurna. Buktinya untuk pipis dan masukin alat tumpul itu beda, sangat tau fungsi dan keberadaanya. Sedangkan laki-laki, ya pipis ya begituan, satu paket…Pernah ngga ya mereka merasa bosan dengan satu paket itu…hahahaha. Ada lagi, G-spot perempuan itu banyak bahkan almost in every inch of our body could be g-spot…kalo cowo….mmmm…..ya kalo ada juga dikit….hahahahaha

Pasti cowo gua yang baca blog hari ini mikir, kenapa dia jadi merendahkan laki-laki ya perasaan tadi pertemuan di pagi hari sangat berjalan lancar…hahahahaha…Tenang sayang, aku yakin kamu punya G-Spot yang banyak….kekekekeke…

Sebenarnya tulisan ini dibuat untuk mencoba menyadarkan diri sendiri atau orang lain yang baca, bahwa peradaban adalah sesuatu yang sangat absurd, karena manusia adalah absurd saat dia berhadapan dengan kepentingan dan jati dirinya dia. Jadi konstruksi sosial yang disadari berarti mencoba menyadari peradaban yang absurd. Ketika kita sadar kita menyadari yang absurd mungkin kita tidak sedang menjadi absurd.

Ah kalo gua ditanya jago apa pas SD, gua akan bilang jago ngarang. Apalagi kalo abis liburan pasti gurunya nyuruhnya buat karangan tentang liburan kamu…ternyata itu titik awal gua suka mengarang atau bahasa kerennya menulis…karena guru gua waktu SD bahkan sampai SMP terlalu sering menyuruh menulis untuk mengungkapkan apa yang ada dikepala selama tidak dipakai untuk mikir mata pelajaran apalagi matematika. Gw coba mengingat, selama gua nulis tentang liburan itu gua kaga pernah cerita kalo gua ikut les nari….Sepertinya gua tidak akan jadi the first lady, karena gua tidak jago matematika dan pas liburan gua kaga les nari….HAHAHAHAHAHAHA. Finishing touch yang bagus….

SELAMAT MENIKMATI HIDUP

Advertisements

2 responses »

  1. itu bukan benturan peradaban tapi cuma dua ibu rumah tangga yang sedang chit chat gak jelas.kamu jadi first lady, hmm…kayaknya gak dibolehkan ikut upacara bendera. karena waktu mengheningkan cipta pasti nyengir dan ngomong sendiri. ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s