Author Archives: Butterfly Menikmati Dunia

Go Away Black Spell

Go Away Black Spell

Beberapa hari belakangan, saya dikerubungi oleh energi negatif. Rasa pengen marah terus, menggeluh, dan menggerutu. Jangan tanya apa yang menyebabkan saya begitu, karena saya sendiri ngga ngerti kenapa.

Energi negatif ini membuat saya menuliskan status ‘Senggol Bacok’ di mesin chat saya. Saya juga menuliskannya di mesin social media yang saya ikuti sih.

Status-status itu melahirkan respon dari beberapa teman saya. “Kenape lu?”; “Status lu serem amat” atau “Kok bisa begitu?”

Ya temen-temen saya aja bingung, apalagi saya. Malah ketika bersua dengan beberapa teman saya, mulut saya yang cerewet tiba-tiba mengurangi kecepatannya untuk bercerita. Saya kelelahan, tapi masih belum tahu kelelahan kenapa.

Aneh ya? Well buat saya ini aneh, karena saya jarang ada disituasi absurd seperti ini, jadi ya saya ngga ngerti harus ngapain.

Mungkin saya jenuh. Sangat mungkin. Kalau jenuh, pengen banget liburan, ngga usah jauh-jauh yang dekat dan menyenangkan aja. Tapi saya inget, saya harus nabung. Hmmm…liburan murah meriah bisalah. Lihatlah betapa meracaunya saya malam ini.

Saya juga rindu aktivitas menulis saya. Susah sekali rasanya menemukan waktu untuk menulis.

Ah saya rindu malam tinggal lebih lama agar jenuh tak segera datang.

*Dalam sebuah bus trans Jakarta ditemani wajah-wajah lelah pencari nafkah.

‘Bendungan’ Buku ala Belanda

‘Bendungan’ Buku ala Belanda

Saat sedang mencari tahu apa yang menarik dari Belanda, saya menemukan fakta kalau di negara kincir angin ini terdapat sebuah toko buku terindah di seluruh dunia. Ngga tanggung-tanggung, Sean Dodson, sang pemberi rating  yang juga jurnalis dari the Guardian, menempatkan toko buku di Belanda ini di urutan pertama! Apa sih nama toko bukunya?

Coba ketik ini pada kolom search google, selexyz dominicanen bookstore, maka kita akan menemukan banyak sekali artikel yang bercerita mengenai betapa indahnya toko buku yang satu ini. Daya tariknya adalah pada daya kreativitas arsitek Belanda, Merkx+Girod yang berhasil ‘menyulap’ gereja Dominika tua menjadi tempat berburu buku yang sangat menyenangkan.

Read the rest of this entry

Jangan Hakimi Aku dari Penyakitku

Jangan Hakimi Aku dari Penyakitku

Sebenarnya sudah lama saya mau nulis ini. Semenjak Ibu Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih diumumkan mengidap kanker paru-paru. Bagaimana kemudian orang mempolitisir status kesehatannya ketika itu, untuk urusan politik-politikan ini saya ngga mau menjebak dirilah. Tapi saya menjadi mendidih ketika mendengar orang berkomentar, “Lah menteri kesehatan kok bisa kena kanker?” Pengen banget jawab komentar itu dengan ucapan ini, “Terus yang boleh kena kanker siape, pemulung atau koruptor?” Please deh, penyakit itu ngga pernah milih-milih.

Emosi saya memuncak ketika itu. Saya inget banget melontarkan semua kekesalan itu pada Jendral Blogger ketika dia ‘turun gunung’ ke Jakarta hehehe. Tapi saya juga sadar, betapa masyarakat kita masih kurang peka mengenai penyakit dan segala penyebabnya. Dan sebenarnya, masyarakat kita juga sangat mudah mengaitkan sesuatu hal pada status sosial yang kemudian merujuk pada stigmasasi, pelabelan. Salah satu penyakit yang juga sering dilabelisasi adalah HIV/AIDS.

Read the rest of this entry

Beginilah Rasanya Jadi Pembicara, Deg-degan Cyyynnnn….

Beginilah Rasanya Jadi Pembicara, Deg-degan Cyyynnnn….

Dulu sewaktu bermimpi menerbitkan buku sendiri, saya pasang target, pokoknya buku pertama ngga boleh terbit di atas umur 30. Lalu bagaimana Sang Pemilik Hidup mempersepsikan mimpi saya? Buku pertama saya terbit, pas ketika hari lahir saya diperingati untuk yang ke-30 kalinya.

Masih ketika merajut impian, saya tidak pernah membayangkan saya harus bercerita mengenai isi buku saya di depan banyak orang. Well, saat mimpi itu berubah menjadi ide yang diwujudkan, saya hanya berpikir bagaimana membuat buku saya bisa seperti apa yang saya inginkan. Soal harus mempromosikannya, memikirkan bagaimana biar penjualannya naik, serta bagaimana bercerita mengenai isi bukunya, terus terang saya tidak terlalu memusingkannya. Kenaifan saya untuk memiliki buku bermuara pada kata-kata ini, “I want to started now, yang penting terbitin bukunya dulu.” Iya saya berpikir, masalah promosi itu urusan penerbit dan mereka sudah cukup ahli untuk itu.

Tapi namanya penulis pemula, belum bisa dikasih privilege banyak-banyak. Masih mending bukunya diterbitin kan :D Tapi kondisi ini membuat saya terus berpikir, gimana niat saya untuk menampilkan sisi menyenangkan mengenai hidup sehat bisa dibaca banyak orang kalau bukunya kaga ada yang beli.

And what the ‘Universe’ do to help me?

Read the rest of this entry

Obituary from Pakistan

Obituary from Pakistan

Menjadi seorang wartawan atau jurnalis bukanlah tanpa risiko. Tidak tanggung-tanggung, taruhannya bisa nyawa. Tapi dulu, ketika saya memilih jurusan Jurnalistik sebagai bidang studi yang saya dalami di bangku kuliah, saya berpikir risiko itu bisa saya terima. Bahkan saya ingat betul pada saat mendapat tugas menulis kenapa saya mau jadi jurnalis, saya menjadikan Udin Wartawan Bernas sebagai pembuka tulisan saya.

Iya, Udin Wartawan Bernas, dibunuh karena tulisannya yang kritis pada pemerintah daerah setempat. Sampai sekarang, tidak ada yang bertanggung jawab atas perampasan hidup Udin. Tapi yang saya lihat, tugas Udin sebagai jurnalis begitu dekat dengan masyarakat. Dia menyuarakan perjuangan hidup mereka yang tertindas dengan lantang. Meski berupa barisan kata, tulisan itu efektif menyiutkan nyali penguasa. Penguasa yang terpojok pun merasa butuh ‘menutup mulut’ Udin.

Satu nyawa hilang. Seorang anak harus hidup tanpa ayah dan seorang isteri harus membesarkan anaknya tanpa rekan sejiwanya. Perampasan hidup itu tidak pernah adil bagi siapa pun, bukan hanya bagi wartawan yang risiko pekerjannya begitu dekat dengan pembunuhan. Read the rest of this entry