Monthly Archives: November 2011

Ini Indonesia…

Ini Indonesia…

Ini Indonesia dengan tingkat keterbacaan Agama yang tinggi.
Ini Indonesia dengan tingkat korupsi tertinggi di Departemen Agama.
Ini Indonesia dengan angka usia tenaga kerja yang meningkat.
Ini Indonesia dengan tingkat korupsi kedua ada di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Dan ini (masih) Indonesia dengan koperasi sebagai soko guru ekonomi kerakyatan.
(Tapi) Ini Indonesia dengan tingkat korupsi ketiga yang bersemayam di Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Selanjutnya bagaimana kita mendefinisikan Ini Indonesia?

Jakarta, 29 November 2011

Meresponi berita Kementrian Agama Terkorup yang ada di Harian Kompas hari ini.

The Third Decade : Generously Celebrating Life

The Third Decade : Generously Celebrating Life

Tangisan Haru

Saya yakin dengan sangat demi segala benda yang berpendar di langit, kalau Sang Pemilik Hidup punya rasa sayang yang luar biasa ke saya, mahluk centil yang belakangan suka banget pake anting sebelah ini. Dan kesadaran ini membuat saya semakin tak punya alasan untuk bermuram durja, pesimis, bahkan sampai tidak menikmati hidup.

Jika dekade kedua saya tahun kemarin dirayakan dengan beberapa jug margarita, berpiring-piring french fries, berpiring-piring nasi goreng atau sop buntut yang diselingi dengan nyanyian serta catwalk di atas meja, benar-benar perayaan penuh untuk menyandang angka 20-an pada kolom umur. Di tahun kemarinlah saya memberikan wujud pada MERAYAKAN HIDUP. Saat itu saya punya banyak alasan untuk mengartikulasikan perayaan hidup, setelah berhasil melalui pertarungan hidup yang hampir mematikan kesadaran saya untuk menikmati hidup, merayakan hidup adalah pilihan logis dari sebuah kebutuhan untuk bertahan hidup.

Lalu apa yang saya lakukan di perayaan hidup pada dekade ketiga ini? Saya dipertemukan dengan begitu banyak bentuk kemurahan hati, generosity. Begitu banyak energi berbagi yang menghampiri saya beberapa minggu menjelang perayaan hidup saya (baca: Hari Ulang Tahun), itu mengapa kalau diperhatikan beberapa postingan di blog ini sepanjang November bertemakan tentang berbagi. Saya bertemu dengan berbagai bentuk energi dari berbagi yang semuanya membuat saya dapat mengartikulasikan kata ‘haru’ dengan sempurna.

Begitu banyak peristiwa berbagi yang menyadarkan saya, betapa saya selalu diberi kesempatan untuk tertawa, menghimpun energi positif dari orang-orang yang tidak pernah kekurangan alasan untuk mencintai saya, hingga dipertemukan dengan orang-orang yang berbagi dengan tulus. Saya yakin Sang Pemilik Hidup punya maksud tertentu kepada saya hingga saya dipertemukan pada fragmen berbagi tersebut.

Bicara mengenai dipertemukan dengan orang-orang yang berbagi dengan tulus, ini yang semakin menyadarkan saya betapa energi berbagi adalah kilatan semangat yang tidak punya batasan. Berbagi adalah situasi yang menegasikan kesendirian manusia.  Yang kita butuhkan untuk menciptakan kilatan semangat ini adalah niat untuk menyentuh hati terdalam setiap orang demi sebuah kesadaran bahwa hidup itu indah.

Seorang pastor bule yang mengenal saya hanya pada sebuah deretan absen gereja, memberikan saya kilatan semangat itu. Dia mengirimkan sebuah kartu ulang tahun yang ucapan dan segala doa baiknya diekspresikan pada barisan tulisan tangan. Saat dia bisa saja mengetikkan kata-kata itu menggunakan teknologi yang diberi nama komputer, Pastor Bernard memilih untuk menggoreskan tulisan tangannya pada kartu putih polos. Buat saya, ini adalah energi berbagi yang sangat personal.

Kartu itu tiba sehari sebelum ulang tahun saya, saya diberi kebahagiaan dimuka. Tak hanya itu, di saat hari perayaan hidup itu datang, Pastor Bernard masih mengirimkan SMS yang berisi doa bahwa Sang Pemilik Hidup tidak pernah membuat jalan cerita hidup saya berada pada jalur yang salah. Saya luar biasa tersentuh oleh kartu dari ‘orang asing’ ini. Dari sinilah saya mendefinisikan berbagi sebagai sebuah kilatan energi yang tak berbatas.

Fragmen berbagi berikutnya adalah melihat begitu banyak teman, sahabat, dan rekan yang menghujani saya dengan ucapan selamat ulang tahun. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mencantumkan Selamat Merayakan Hidup pada barisan kata yang dikirimkan melalui telepon, BBM, SMS, Twitter, maupun Facebook. Semua teknologi komunikasi yang memutus jarak demi menyampaikan ucapan kebahagiaan atas kebaikan hidup yang dipercayakan kepada saya.

Saya semakin tersentuh ketika salah seorang mantan pegawai HRD di kantor lama saya dengan penuh niat berbagi, menelepon saya demi menyampaikan barisan ucapan selamat ulang tahun. Pak Deden namanya. Dulu ketika kami masih sama-sama satu kantor, dia dengan begitu niat tulus menelepon ke meja saya berkali-kali, maklum waktu itu saya masih setiap hari turun ke lapangan jadi beliau tidak sukses menyampaikannya pada niat telepon yang pertama. Tapi niat yang baiklah yang kemudian mendorong dia untuk berkali-kali menekan angka-angka pada kotak telepon agar tersambung dengan saya.

Jika kali itu bisa saja dia mengingat ulang tahun saya karena dia memang memegang data pribadi saya, maka kali ini dia melakukan atas nama ikut merasakan kebahagiaan seorang teman yang diberi kepercayaan untuk menikmati hidup. “Wah Pa Deden masih ingat ulang tahun Priska,” ucap saya penuh antusias.  “Iyalah, masa ulang tahun teman lupa. Ngga lah, pasti ingat.” Sang Pemilik Hidup memberikan manusia kemampuan otak untuk mengingat salah satu fungsinya adalah agar kita diberi kesempatan untuk berbagi, salah satunya adalah berbagi ucapan selamat ulang tahun.

Ah saya jadi rindu untuk berpapasan dengan Pak Deden hanya sekadar untuk menyapanya dengan tawa dan ucapan hangat, “Apa kabarnya Pak?” atau “Wah Pak Deden cerah banget senyumnya.” Biasanya percakapan singkat itu akan diakhiri dengan tawa yang menyegarkan.

Dan energi berbagi luar biasa saya rasakan dari anak-anak yang belajar di Taman Belajar Rumah SenyumPagi. Saya yang awalnya datang untuk melihat Alia mengajar terakhir kali sebelum kembali ke Padang, justru mendapat kejutan dari anak-anak yang ekspresif. Ika dan Mas Kelik menyiapkan kejutan itu dengan luar biasa sempurna. Mereka menuliskan kata-kata “Selamat Merayakan Hidup Miss Priska” pada potongan kertas-kertas yang kemudian dipegang satu-satu oleh anak-anak yang sudah diberi intruksi.

Awalnya saya sempat curiga ketika anak-anak itu masuk ke dalam rumah dengan berbaris rapih. Mereka pindah ke dalam rumah karena rintik hujan gerimis mulai membasahi tanah. Ternyata mereka berbaris rapih agar formasi tulisan tersebut tersusun dengan tepat. Saya yang duduk manis di tangga menjadi luar biasa malu, ketika dari belakang rumah Mas Kelik membawa kue dengan barisan lilin yang menyala dengan meriahnya.

Saya menutup mata untuk menahan rasa malu, karena saya tidak pernah mendapat kejutan seperti itu. Dan saat saya membuka mata, barisan tulisan itu terbaca dengan jelas. SELAMAT MERAYAKAN HIDUP MISS PRISKA. Ah Tuhan, itu adalah barisan kata yang dengan sekejap akan menyentuh hati dengan luar biasa lembut, maka jangan heran kalau saya pun meneteskan air mata. Meski banyak yang mengira saya tidak benar-benar menangis karena sebelumnya saya pecicilan untuk menghapus grogi.

Selama ini saya memang selalu mengucapkan selamat merayakan hidup pada siapa saja yang berulang tahun. Karena buat saya hidup adalah perayaan yang tidak pernah terputus, ada begitu banyak peristiwa, rasa, dan momen yang kita rasakan selama detik waktu berputar 24 jam penuh. Dan semua itu adalah sebuah kemeriahan energi, kemeriahan cinta, kemeriahan rasa sedih, kemeriahan rasa bahagia yang menciptakan eksistensi perayaan yang tak putus-putus. Itu mengapa menurut saya, menganti ucapan selamat ulang tahun dengan Selamat Merayakan Hidup adalah sebuah transfer energi kebersyukuran yang luar biasa. Dan rasa bersyukur adalah modal utama untuk menghadapi pertambahan usia dengan aura positif demi sebuah perayaan yang tidak pernah putus.

Pada 18 November lalu, banyak juga teman-teman yang mengucapkan Selamat Merayakan Hidup kepada saya. Saya merasakan transfer energinya. Tapi ketika melihat anak-anak itu berbaris rapih agar tulisan Selamat Merayakan Hidup bisa terbaca dengan baik, saya merasakan kebersahajaan dari sebuah rasa syukur. Energinya dua kali lipat lebih besar. Dalam hati saya berucap, “Ah Tuhan, kebaikan apa yang telah saya lakukan sampai saya diberikan rasa syukur yang begitu indah. Siapa saya untuk bisa menikmati semua ini.”

Saking terharunya, tangan saya sampai gemetaran. Saya benar-benar dimanja oleh Sang Pemilik Hidup, karena saya dikelilingi oleh energi berbagi yang luar biasa indahnya. Saya justru merasa malu, karena saya tidak setiap minggu menghampiri anak-anak itu. Tapi mereka tetap bernyanyi antusias dan tersenyum lebar ketika menunjukkan energi pada kata-kata yang mereka pegang itu. Ah kalian sungguh luar biasa menyempurnakan perayaan saya. Suasana semakin meriah ketika Mak Ani, tetangga Ika yang selalu antusias membantu setiap acara yang ada di Taman Belajar Rumah SenyumPagi mencium kedua pipi saya sambil mengucapkan selamat ulang tahun yang juga disertai doa yang begitu lugas dan mengundang derai tawa; “Emak doain, dapat laki yang kaya!” lengkap dengan logat Betawi yang kental. “Amin Mak. Okeh banget dah doanya,” ucap saya sambil mengangkat dua jempol tangan sambil melirik ke pacar saya yang hanya ketawa geli dan membuat seluruh orang tertawa.

Ah di saat tahun lalu saya menjadikan Hidup Adalah Perayaan sebagai tema besar saya untuk menjalani akhir dari dekade saya yang kedua. Kali ini Sang Pemilik Waktu menambahkan kata berbagi dengan kemurahan hati, menjadi Merayakan Hidup dengan Kemurahan Hati atau Generously Celebrating Life. Dengan segala kerendahan hati, 18 November lalu adalah tanggal cantik buat saya karena Sang Pemilik Waktu telah menaikkan satu level dari perayaan hidup saya. Dia melebarkan cakupan perayaan hidup saya dengan berbagi dan kemurahan hati. Dan dengan segala kecintaan saya pada hidup, saya yakin akan (luar biasa) menikmati perjalanan hidup kali ini. Saya percaya Pengatur Cerita Hidup selalu berpihak pada saya untuk membuat perayaan hidup saya selalu luar biasa bahagia setiap harinya.

Dan untuk kalian semua yang menjadi artikulasi hidup dari sebuah barisan kata berbagi dengan kemurahaan hati, saya ucapkan terima kasih yang paling tulus dari seorang perempuan yang selalu mencoba untuk merayakan hidup. Terima kasih semakin menyadarkan saya bahwa saya tidak pernah sendirian, bahwa menikmati hidup adalah sebuah cara untuk bertahan hidup, dan mengisi hidup dengan energi positif adalah eksistensi hidup yang kolektif. Maka marilah terus berbagi, jangan nikmati kebahagiaan seorang diri, jangan resapi kesedihan seorang diri, jangan juga simpan kecemasan seorang diri, dan jangan pernah berpikir untuk mengerami amarah seorang diri karena Sang Pemilik Hidup tidak pernah menetapkan manusia sebagai mahluk yang tunggal.

Foto taken by. Hendra Kaprisma

Spontanitas Tawa: Nada Dasar Perayaan Hidup

Spontanitas Tawa: Nada Dasar Perayaan Hidup

Ada dua cara menyenangkan untuk mendefinisikan saya, yaitu suka nongkrong dan iseng. Iya keduanya saya lakukan dengan sadar :D

Kalau dengar kata suka nongkrong, jangan langsung bayangkan pertemuan yang hanya menghabiskan waktu. Karena saat saya nongkrong sama teman-teman saya, yang kami bicarakan beragam, mulai dari what’s new from your life, buku terbaru, film terbaru, acara tv, model baju yang lagi nge-trend, sepatu, agama, tuhan, politik, hukum, dan tentunya kesehatan. Yup kualitas nongkrong saya bersama teman-teman bisa dikategorikan sebagai sesi diskusi yang sangat santai.

Saking berkualitasnya, tidak jarang teman-teman akan “mem-booking” saya dari awal-awal minggu. Jadi sangat sering dalam satu minggu penuh saya akan bertemu dengan teman-teman saya dari berbagai latar belakang kisah pertemanan, mulai dari teman SMA, teman kuliah, sesama wartawan kesehatan, sesama wartawan, sampai teman senasib dan seperjuangan. Alhasil saya pun akrab dengan istilah, jadwal padat merayap.

Apa yang saya suka dari sesi pertemuan itu adalah cerita dan tertawa. Saya senang mendengarkan cerita orang-orang yang membentuk sempurna arsiran saya. Ini sama senangnya dengan antusiasme saya untuk bercerita banyak hal ke mereka. Interaksi berbagi cerita buat saya adalah transfer energi dan kesadaran. Iya, itu membuat saya selalu menapakkan kaki di bumi.

Bagaimana kita menyadari bahwa mereka selalu punya kerinduan untuk mendengarkan cerita kita adalah kebutuhan manusia untuk merasa diperhatikan. Dan ketika kita bisa saling meringankan beban dari masalah yang tengah dihadapi, itu adalah kesadaran bahwa hidup itu adalah rentang waktu kolektif yang merumuskan kenikmatan-kenikmatan apa saja yang telah berhasil kita lalui. Inilah yang kemudian kadang membuat saya tidak ingin menolak ajakan mereka untuk nongkrong. Saya benar-benar menikmatinya.

Bonus dari pertemuan-pertemuan itu adalah ketawa berseri, alias penuh dengan derai tawa, pipi pegal, dan perut sakit akibat efek samping ketawa yang terpingkal-pingkal. Pernah ada penelitian yang mengungkapkan kalau tertawa adalah cara yang paling murah dan efektif untuk awet muda. Ada penelitian yang mengungkapkan, tertawa bikin jantung kita bersemangat. Ini yang kemudian membuat sel-sel tubuh lebih lincah, kita bebas dari stres dan panik.  Plus saat kita ketawa itu otot-otot wajah ketarik yang secara otomatis menghapus kerutan di wajah. Jadi jangan heran kalau saya masih sangat terlihat berumur 25 tahun, ini benar-benar terbukti pada beberapa orang yang secara jujur mengatakan hal itu ke saya *muji sendiri sambil kedip-kedip centil*

Aktivas berbagi cerita dan tawa inilah yang selalu membuat saya rindu untuk nongkrong dengan teman-teman. Bahkan tidak jarang saya secara spontan mengajak salah satu dari mereka untuk sekadar nongkrong atau mencoba tempat hang out baru bersama-sama. Iya, spontanitas, saya suka itu. Seperti malam ini, saya spontan mengajak salah satu teman untuk memenuhi kerinduan saya makan bubur ayam.

Teman saya ini adalah ibu beranak dua, tantangannya mengajak ibu-ibu adalah mereka sulit menerima ajakan yang dadakan. “Lu lupa apah gua udah punya laki ama buntut yang nungguin di rumah..” begitu biasanya mereka bereaksi tapi trus dilengkapi dengan komentar ini,”Besok aja ngapah, gua rayu dulu laki gua malam ini. Ayolah besoklah…besok.” Hahahahahaha. Tapi malam ini saya lagi beruntung, karena teman saya sedang butuh mencari kesegaran malam. “Pembantu gua sama tukang pijet gua lagi bikin masalah mulu. Stres gua.” Hahaha tipe masalah yang hanya dihadapi oleh ibu-ibu saya rasa. In this kind of situation I do feel happy for being single.

Tapi berhubung dia sudah keluar kantor duluan, akhirnya kami bertemu di tengah-tengah, halte busway Harmoni-Jakarta. “Eh cumi, di Harmoni mananya yang ada tukang bubur?” begitu isi pesannya pada smartphone saya. “Mana gua tahu. Ntar kita cari lah,” tulis saya sambil menyisipkan tanda senyum, berharap tanda itu bisa menenangkan kepanikannya. Sayangnya saya ngga berhasil menenangkan dia, “APA?!? LU KAGA TAHU! Lu lupa apa lu ngajakin ema-ema yang anak keduanya baru aja dilahirin 4 bulan lalu.”

Hahahahahaa tipikal ema-ema muda, dalam hati saya, dramatisir. “Lah inilah tema malam ini, cari bubur sampe dapat,” balas saya dengan santai. Setelah teman saya sampai di Harmoni duluan, ternyata dia tidak menemukan tukang bubur di sana. Sepenglihatannya hanya ada tukang nasi goreng, mi goreng, lontong sayur, siomay, dan gorengan. Akhirnya saya memberikan ide untuk mencarinya di daerah Sabang. “Pasti ada di Sabang. Udah, lu masuk halte busway aja. Ntar kita ke sarinah naik busway.” Tahu bagaimana teman saya bereaksi? “Kampret bener nih orang, tahu gitu gua bisa naik bis sekali dari kantor gua tadi…cumiiiiii…..” “Tenang, abis segala caci maki ini, gua yakin lu bakal senang banget ketemu gua,” jawab saya dengan percaya diri. “Ah emang lu suka iseng dasar, ya udah gua tunggu di sini.”

Setelah teman saya menunggu 5 menit, dia kembali meradang. Dia bertubi-tubi mengirimkan pesan ke saya, bertanya sudah sampai di mana perjalanan membelah Jakarta saya lakukan. Jawab saya hanya,”Sabar manis. Coba lu itung ampe 25 sambil nutup mata. Setelah di angka 25, I’ll be there.” Teman saya tidak membalas apa-apa, entah mengapa saya suka melakukan itu kepada orang-orang dekat saya. Di satu sisi bisa terasa nyebelin membayangkan saya mengatakan itu sambil kedip-kedipin mata. Tapi di sisi lain mereka pasti ketawa karena juga membayangkan saya mengatakannya dengan nada yang sangat centil.

Belum nyampe juga, teman saya pun kembali membombardir saya dengan message pada smartphone yang jadi telepon sejuta umat ini. “Heh ini itungan 25 yang lu suruh udah nyampe sepuluh kali gua itung, lu kaga nyampe-nyampe. Maksud lu 25×10 yak? Ceppppaaaattttt….sini.” Dan sesaat saya liat statusnya di jendela chat, 25×10…. Hahahahahaha…Tak lama setelah itu, saya benar-benar muncul dihadapannya. “Beuh tau kenapa gua kaga nyampe-nyampe meski lu udah itung ampe 25?” Teman saya pun memberikan jawabannya, “Apa…? Dengan senyum sumringah saya bilang, “Karena lu ngitungnya kaga pake tutup mata, jadi ilmu ilang gua kaga bekerja.” Dan kami pun tertawa sejadi-jadinya. “Dasar orang sarap lu,” balas teman saya sambil menahan tawa.

Dan malam ini kami berhasil menemukan penjual bubur ayam. Meski bukan bubur ayam dengan kuah kaldu ayam yang kami dapatkan, tapi kami sangat menikmatinya. Kami menemukan tempat nongkrong yang murah meriah dengan bubur ayam bumbu kacang yang ternyata sangat enak. Lihat, betapa sebuah spontanitas bisa menjadi satu cara untuk berbagi kenekatan, emosi, dan rasa penasaran yang menyenangkan. Semalaman kami bertukar cerita, meski saya harus sedikit menyakinkan suami teman saya kalau memang benar isterinya pergi dengan saya malam ini, tapi semua spontanitas ini benar-benar menyenangkan.

Selain spontanitas untuk menemukan tempat nongkrong baru, saya juga suka spontanitas ngerjain orang. Iya, saya iseng. Bisa dibilang iseng yang nyebelin hahahaha. Saya suka tiba-tiba gemas dengan orang yang lagi dekat dengan saya. Bisa saya peluk, tepuk-tepuk pipinya, cubit atau saya gigit hahahaha. Iya kadang saya mendapat dorongan untuk melakukan itu.

Kalau di kantor, kadang saya menghampiri meja salah satu teman kerja dan meletakkan berbagai macam benda di atas laptopnya. Untuk ini saya punya ‘korban’ tetap, kadang saat ekor matanya meliha saya mulai mendekat, ‘korban’ saya ini akan dengan sendirinya meletakkan berbagai macam benda ke atas laptopnya. Hahahahahaha.

Tapi yang paling lucu adalah ketika saya mengerjai Athied, dia sahabat yang juga teman seperjuangan saya di website kesehata yang sama-sama kita bidani. Saat kami sedang serius menulis, saya tiba-tiba kehilangan ide. Stuck. Dan yang saya lakukan kemudian adalah melirik ke Athied.

Dia tengah serius mengetik artikel sambil mendengarkan lagu melalui earphone dari kedua telinganya. Entah ide dari mana, saya ambil gagang telepon yang ada diantara kami dan menempelkan sesaat di telinga saya untuk kemudian saya ulurkan ke arah Athied. Spontan Athied menoleh sambil melepaskan earphone. Dia meraih gagang telepon itu, menempelkan di telinganya dan berkata,”Iya Hallo……” Tapi yang terdengar hanya bunyi….tut….tut…tut….Hahahahahaha spontan saya tertawa geli dan Athied hanya teriak, “Mbbbaaaaaaa…..Prissssss…….sssiiiaaaaaauuuuulllllll kaaaammmuuuuhhhhh….” Haahahahahaha tawa geli dan teriakan Athied membuat teman-teman di sekitar cubicle ikut bereaksi.

Beberapa hari setelah itu, Athied coba balas dendam. Dia coba membuat semuanya berjalan smooth. Bahkan membuat seolah ada orang yang memang benar-benar ingin berbicara ke saya, dengan wajah yang datar dia pun memberikan gagang telepon ke saya yang sedang memakai earphone. Tapi dengan cool saya bilang, “Udah tutup aja, kan tadi teleponnya kaga bunyi.” Athied kaget dan bengong liat ke arah saya. “Lagu di earphone gua kebetulan abis pas lu angkat telepon jadi gua tahu itu kaga bunyi, lu mau bales dendam kan.” Mendengar ini Athied pun menghampiri saya dan mengunyeng-unyeng kepala saya, “Ah..siaul-siaul inih…ah..ah…” Hahahahaha.

Eh tapi kalian jangan jadi takut ketemu saya ya, untuk pertemuan pertama saya masih sopan kok. Masih sangat menjaga kenyamanan masing-masing. Keisengan dan spontanitas akan muncul seiring dengan kenyamanan yang sudah bercampur dengan keakraban. Jadi pesannya, jangan akrab-akrab biar ngga diisengin hahahahah….Ngga…ngga…bercandalah. Saya suka punya banyak teman karena banyak teman bukan hanya bikin arsiran saya lebih berwarna, tapi juga mengajari saya untuk belajar berbagi. Berbagi waktu, momen, sampai berbagi emosi. Dan sebagai penganut mazhab hidup adalah perayaan, tanpa interaksi berbagi ini, perayaan hidup saya tidak akan sempurna. Jadi, mari kita mengisengi satu sama lain hihihihihi….

 

Foto dari sini

Kelezatan Bumbu Kesempurnaan Cinta

Kelezatan Bumbu Kesempurnaan Cinta

“Busyet dah ini rendang enak bener.Makasih ya mama sayang :D “,begitu isi SMS saya ke mama saya saat makan siang di kantor. Iya hari ini saya membawa bekal dari rumah. Dan tahu bagaimana mama saya bereaksi? Dia menelepon saya dan bilang dia terharu, sambil sesekali batuk-batuk karena lagi flu berat.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mengirimkan SMS untuk memuji masakannya, tapi mama selalu terharu membaca SMS saya. Satu kali dia pernah membalas pujian saya begini, “Ah kamu ‘dek,mama dipuji-puji mulu, jadi ge er,” ucapnya sambil malu-malu tertawa. Persis seperti orang yang sedang mabuk kepayang karena dipuji.

Setiap kali saya menikmati bekal dari rumah di saat jam makan siang di kantor, saya teringat bagaimana mama saya akan bangun pagi-pagi buta demi memasakkan makanan buat anak-anaknya. Bahkan setelah mama saya punya menantu yang berangkat kantor pagi-pagi sekali, mama mempercepat bangunnya agar kakak ipar saya bisa membawa bekal ke kantor.

Menu masakan mama saya selalu komplit, yaitu nasi, sayur dan lauk. Bahkan kadang lauk ikan atau daging masih akan dilengkapi dengan tempe atau tahu. Iya, mama saya penganut setia 4 sehat 5 sempurna. Boleh dibilang kebiasaan makan sehat saya itu adalah hasil ‘doktrinasi’ mama.

Setiap malam mama akan membuatkan kami sekeluarga jus yang dicampur dari 2-3 buah. Bahkan buku panduan jus itu sampai sekarang belum habis-habis dipraktekkan, karena 2 atau 3 jus bisa divariasikan menjadi lebih dari 10 jus.

Mama saya memutuskan untuk memberikan kami sekeluarga, segelas jus di malam hari karena alasan yang sederhana. Pertama riwayat nenek dari mama saya yang kanker usus dan mama sudah 2 kali dioperasi karena tumor di ginjal dan payudara. Dia percaya sayur dan buah adalah cara untuk memutus rantai penyakit genetis itu. Alasan sederhana lainnya adalah karena dia ngga yakin jus diluaran itu 100 persen sehat. Entah itu karena memakai gula atau karena perbandingan air yg lebih banyak ketimbang buah yang digunakan.

Alasan pengolahan juga dijadikan pertimbangan dirinya untuk membujuk kami membawa makanan dari rumah atau makan di rumah ketimbang beli di luar. “Minyaknya belum tentu bersih loh,” atau “Ikannya belum tentu segar,” bahkan “Ih pengawetnya pasti banyak,malah sekarang makanan banyak yang pake boraks.” Itu adalah argumentasi mama saya untuk mempersuasi anak-anaknya, menantunya, dan suaminya agar tidak terpesona dengan makanan-makanan luar. Dia menyebut makanan-makanan itu sebagai makanan jorok.

Makanya kadang sulit untuk mengajak makan mama di luar, meski di restoran mahal sekali pun. Karena kalau restoran mahal ada alasan tambahannya,”Ih mahal banget, mama bisa bikin lebih enak dari ini.” Hahahahaha ibu-ibu emang. Tapi emang bener sih, mama saya itu jago masak.

Itu diturunkan dari nenek saya. Bahkan masakan khas Batak seperti Naniura, seluruh keluarga saya sepakat kalau mama saya paling jago membuatnya. Naniura itu adalah makanan yang dulunya hanya dimakan raja-raja. Kenapa? Karena bikinnya susah dan bumbu-bumbunya beragam.

Naniura adalah ikan mas yang diolah tanpa dimasak tapi bisa matang. Bingung? Jadi semua bumbu-bumbunya harus dimasak, baik itu disangrai atau direbus. Dan bumbunya lebih dari 10 macam. Semuanya harus ditumbuk halus untuk menjadi rendaman ikan selama beberapa jam yang kemudian mematangkan daging ikan mas yang sudah dipotong-potong. Hebatnya lagi potongan daging-daging itu harus bebas duri, padahal ikan mas terkenal akan durinya yang banyak, jadi bayangkanlah apa yang harus dilakukan untuk melepaskan duri-duri itu.

Selain naniura, mama saya juga jago mengolah babi. Meski dia sudah menjadi mantan Advent, mama saya tetap tidak bisa makan babi. Lalu bagaimana dia bisa menerka rasanya. Dia hanya melihat tampilan dari bumbunya dan untuk mencicipinya, dia akan minta bantuan anak-anaknya atau suaminya, which is Bapa saya wakakakak.

Dan dia akan luar biasa senang ketika melihat ekspresi kami, para penikmat masakannya, untuk menghabisi masakannya tanpa bersisa. Semua keletihan dan antusiasmenya untuk meramu bumbu serta bahan masakan terbayar sempurna.

Mama saya benar-benar mengajarkan indahnya berbagi. Berbagi dengan penuh cinta tanpa berharap apa-apa. Bahkan SMS saya yang bercerita mengenai kelezatan masakannya itu, tidak sepadan dengan niatnya untuk bangun pagi, pergi ke pasar, menggiling bumbu, sampai berpanas-panasan dekat kompor.

Ah Ibu itu memang orang pertama yang mengajarkan dunia akan menikmati hidup dengan berbagi dengan tulus. Dan kadang kala kita lupa untuk mengucapkan hal yang paling sederhana yang bisa membuat Ibu bahagia, yaitu “Terima kasih, mama.”

Teori Darwin Dalam Kapitalisme Waktu

Teori Darwin Dalam Kapitalisme Waktu

Pernah membayangkan kalau waktu lebih berharga dari napas? Atau membayangkan waktu sebagai tolak ukur kesempurnaan hidup manusia? Saya tidak pernah dan film In Time membawa saya pada imajinasi dimana menjadikan waktu sebagai mata uang bukanlah sistem yang menyenangkan banyak orang.

Film yang naskahnya ditulis serta disutradarai Andrew Niccol ini sangat berhasil membuat saya terkagum-kagum karena ide ceritanya yang membuat penonton berpikir filosofis soal hidup, waktu, dan kebahagiaan. Menurut saya idenya berawal dari jargon Bapak Evolusi, Charles Darwin, yang sangat tersohor itu,”Survival of the fittest.” Dan esensi dari kebertahanan teori evolusi itulah yang kemudian dikembangkan dengan menjadikan waktu sebagai tolak ukur survive.

Siapa yang ingin bertahan hidup harus memiliki waktu yang panjang. Jadi jika waktu yang berdetik itu menyentuh angka 0:00:00 maka berhentilah kehidupan kita meski oksigen tetap mengalir bebas di sekeliling kita. Waktu menjadi mata uang baru untuk membeli kehidupan. Alhasil keabadian diukur dari seberapa banyak barisan waktu yang berdetak pada pergelangan tangan kita. Barisan waktu yang berbentuk seperti jam digital yang ditanam pada kulit kita dengan pendaran lampu hijau.

Bagaimana kehidupan yang porosnya ada pada waktu? Yang kuat bisa lebih santai menjalani hidup, karena waktu mereka banyak. Sedangkan yang lemah, harus sering berlari untuk memperpanjang hidup menuju bank peminjaman waktu, tempat pembagian waktu cuma-cuma, atau bertemu dengan orang yang kita sayangi untuk meminjam sedikit waktunya.

Tapi hidup yang berporos pada waktu ini, juga menciptakan terminologi kejahatan. Pencurian waktu yang dilakukan para preman waktu atau oleh bank yang menjerat peminjam waktu dengan bunga waktu yang tinggi. Ada adegan di mana, saat seorang perempuan ingin meminjam waktu selama 24 jam, pihak bank memberikan 30 persen dari 24 jam sebagai bunga. Bahkan ada juga kelompok preman yang mencuri waktu dengan menodongkan pistol pada korban untuk kemudian mencengkram guliran waktu dari lengan korban ke lengannya. Dan setiap kali guliran waktu itu sampai pada detik-detik terakhir, saya merasa luar biasa deg-degan seolah saya ikut terhanyut pada definisi setiap detik adalah berharga.

Mengapa waktu dijadikan tolak ukur keberlangsungan hidup manusia? Karena film ini juga meniupkan aroma imortality, keabadian. Semua orang ingin hidup abadi, mereka tidak ingin menua dan mati. Itu mengapa proses penuaan pun dihentikan. Saat memasuki usia 25 tahun, guliran waktu di mulai dan manusia akan tetap terlihat seperti berusia 25 tahun sampai detik waktunya habis.

Maka bagi orang yang berhasil memiliki waktu yang banyak pada pergelangan tangannya akan memiliki jaminan hidup selamanya. Alhasil terciptalah juga sistem kapitalisme waktu, sebab yang memiliki deposito waktu banyak menempati kelas sosial tertinggi. Mereka bisa tinggal di kawasan elit, memiliki bodyguard, menikmati makan enak, dan satu hal yang pasti mereka akan menjalani setiap detik hidup dengan santai tak perlu ada yg diburu karena mereka punya peluang untuk hidup 10 tahun, 100 tahun atau 1000 tahun. Bahkan bank terbesar menyimpan 1 juta tahun di brangkas besarnya, inilah kemewahan terbesar yang kemudian dicuri oleh Will Salas (Justin Timberlake) dan Syliva Weis (Amanda Seyfried) untuk dibagi-bagikan ke orang-orang yang tinggal di ghetto alias orang marginal dengan kapasitas waktu yang terbatas.

Alhasil ketika waktu bernominal 1 juta tahun itu dibagi-bagikan secara gratis, dunia perekonomian waktu pun jadi kacau balau. Terjadi deflasi waktu yang kemudian membuat orang-orang marjinal bisa percaya dari menuju kawasan waktu New Greenwich yang adalah kawasan orang-orang borjuis waktu. Orang yang tinggal di Greenwich bisa dengan mudah taruhan di meja judi dengan nominal waktu yang besar, lebih dari satu dekade waktu. Dan orang-orang di New Greenwich bisa memiliki deposito waktu yang banyak ya karena mereka punya cara untuk menyedot waktu dari orang-orang marjinal. Layaknya sistem pasar kapitalisme, mereka yang memiliki modal waktu lebih banyak akan lebih bebas menguasai pasar. Bebas menentukan kenaikan harga waktu untuk sekadar naik bis, membayar tempat tinggal, sampai menentukan suku bunga dan inflasi pasar waktu.

Peristiwa pembobolan waktu ini juga bertujuan untuk mengacaukan sistem pasar waktu. Karena buat Salas dan Weis, keabadian bukanlah tujuan hidup. Mereka ingin waktu menjadi milik semua orang. Salas yang memang berasal dari keluarga marjinal ingin membuat para pemilik modal waktu ikut merasakan penderitaan ketika detik di pergelangan tangan mereka perlahan mendekati angka 00:000:00  Sedangkan Weis yang adalah anak dari pemilik bank waktu terkenal, ikut membantu Salas karena dia sadar tidak ada kehidupan yang abadi. Adalah sebuah kejahatan kemanusiaan jika seseorang harus dikorbankan untuk membuat orang lain merasakan keabadian hidup. Alhasil Weis terus mendampingi Salas untuk membobol bank ayahnya bahkan bank waktu terbesar di dunia.

Bagaimana akhir dari film ini? Apakah salah satu dari mereka ada yang mati ketika polisi yang disebut sebagai penjaga waktu terus mengejar-ngejar mereka? Lalu kepada siapakah pasar berpihak, apakah pada kaum borjois waktu yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya bertahan hidup dalam beberapa detik? Atau pasar justru berpihak pada ‘Robin Hood’ waktu yang membantu para proletar waktu bisa lebih santai dalam menikmati hidup?

Silahkan temukan jawabannya pada film ini. Dan film ini membuat saya berpikir, tidak menyenangkan untuk hidup abadi. Bukankah menjemukan untuk terus menjani hidup sampai 1000 tahun? Saya yang mencintai hidup ini pun berpikir bahwa bukan berapa banyak deposito waktu yang kita punya untuk mengitari dunia, tapi seberapa sadar kita menjadikan setiap guliran detiknya menjadi begitu bermakna. Seperti Salas yang tidak sengaja mendapatkan donasi waktu dari orang asing selama 100 tahun justru menemui sahabatnya untuk mendermakan 10 tahun. Tapi sahabatnya terlalu singkat mendefinisikan 10 tahun perpanjangan hidup, dia terlalu bahagia hingga mabuk-mabukan dan tak sadarkan diri kemudian mati dipencuri waktu.

Ironisnya lagi, ketika Salas ingin mebagikan 100 tahun yang dia punya kepada ibunya, dia harus melihat ibunya meregang waktu yang hanya berjarak serentangan tangan darinya. Salas dan ibunya sudah berlari sekuat tenaga untuk bisa bertemu dan mentrasfer waktu tapi tak bisa karena pergelangan tangan ibunya merujuk pada angka 00:00:00 Adegan film yang paling miris yang pernah saya rasakan, karena ketika waktu menunjuk angka 00:00:00 pemilik waktu tak akan berkesempatan mengucapkan kata terakhir. Jantung mereka berhenti seketika.

Ah kehidupan memang tidak semestinya abadi. Dan secara kebetulan nats renungan saya menuliskan demikian: Your marriage isn’t a destination, it is a preparation. Your job isn’t a destination, it s a preparation. Your friendship and family aren’t destinations, they are a preparation. The sight and sound, touch and taste experiences of this present world aren’t destination, they are a preparation for a final destination. No, it isn’t wrong to celebrate marital sex or a beautiful bouquet, or a silky chocolate pie, or a wonderful painting, or a death defying roller coaster. It is right to stop and smell the roses along the way-as long as you don’t treat those roses as a final destination. So whatever (we say we believe) about eternity, at the (everyday) level we live as if this is all there is.  Dan jika kita percaya akan teori evolusi maka seharusnya tidak ada hukum hidup keabadian. Yang ada adalah menciptakan kenikmatan hidup dari setiap detik keabadian waktu.

 

Foto diambil dari sini