Monthly Archives: September 2011

ME, the luckiest SISTER in the WORLD

ME, the luckiest SISTER in the WORLD

Jadi awal September ini saya menuliskan status di Facebook yang isinya adalah merayu teman-teman saya. Maksudnya?

Iya saya mempublikasikan wish saya untuk bisa dapat tiket konser Linkin Park secara gratis. Siapa saja yang ingin mengekspresikan rasa sayangnya kepada saya pada selembar tiket itu, saya akan hadiahi senyuman termanis sedunia!

Seminggu setelah status itu nyantol di newsfeed, belum ada yang menawarkan saya tiket gratis. Minggu kedua, semakin tak ada gelagat karena harga tiketnya terbilang mahal. Pelan-pelan saya mengikhlaskan diri untuk tidak menonton konser band rock asal California itu.

Sampai kemudian tiba-tiba adik saya semata wayang bilang, “Ka, gw mau nonton Linkin Park!” Saya membelalakkan mata sambil menutup mulut. “Ah yang bener lu?” Tau ekspresi ade saya apa? “Kaga percaya ya udah.”  “Sial,” saya pun membatin.

“Lu mau ikut ngga?” Ade saya semakin memancing emosi. “Kaga deh,kaga ada duit. Lu pergi aja sendiri,” jawab saya lemas. “Udah si jangan sedih gitu mukanya, gw beliin aja sini tiketnya.” Sekilas saya merasa seperti sedang mimpi. Maklum biasanya saya yang dipalak adik saya untuk sekadar traktir makan, beli jaket, beli sepatu, atau sekadar jalan-jalan berdua. Plus dia belum memiliki pendapatan tetap jadi bagaimana mungkin dia punya dana buat beli 2 tiket.

Tapi adik saya ternyata memang membelikan tiket Linkin Park konser untuk saya. Jadi, dia dapat hadiah dari bapa saya karena baru lulus kuliah. Sebenarnya dia bisa aja beli satu tiket yang harga 1 jutaan, tapi dia split duitnya demi bisa menonton konser itu bareng saya, kakak perempuannya yang paling manis sedunia! :D

Maka hadirlah kami pada 21 September lalu di Gelora Bung Karno (GBK). Diantara 25 ribu penonton yang rindu dengan kehadiran Mike Shinoda and the gank ini, ada saya dan adik saya. EUFORIA kita berdua benar-benar terasa ketika mengantri sambil memegang tiket. Maklum terakhir kali mereka konser di Jakarta itu adalah 2004 dan konon kabarnya berhasil menggebrak Jakarta, jadi penasaran adalah aroma yang kita hirup dalam-dalam.

Kami memang tidak membeli tiket yang berdiri di depan panggung. Selain karena terlalu mahal, membayangkan berjejalan sambil berdiri berjam-jam rasanya cukup menguras duit dan keringat. Jadi kami memilih bagian yang duduk tapi sedikit jauh. Iya sedikit jauh, karena dari posisi kami duduk pandangan mata ke panggung tetap nyaman. Oiya saking euforianya, saya rela membeli bando dengan tanduk evil yang menyala-nyala hahahaha…ngga ngerti maksudnya apa, tapi merasa lucu aja pake bando itu.

Setelah menunggu hampir 1,5 jam tiba-tiba stadion sepakbola terbesar di Indonesia ini pun gelap. Dua layar sedang di kiri dan kanan panggung membentuk semacam prisma dari pantulan lampu-lampu laser. Tiba-tiba semua penonton berdiri, termasuk saya dan adik saya. Mereka belum nyanyi, kita sudah teriak sehisteris yang kita bisa. Lagu pertama bergulir, Papercut, dan setelah itu GBK seolah tak berhenti berguncang. Semua orang berteriak mengikuti Chseter Bennington menarik pita suaranya kuat-kuat.

Ada beberapa lagu baru dari album Linkin Park teranyar yang dibawakan. Ya karena konser kali ini memang sekalian untuk mempromosikan album terbaru mereka. Dari sederetan lagu baru itu, saya paling suka yang When They Come for Me. Saya kutip sedikit liriknya:

I’m awfully underrated but came here to correct it
And so it ain’t mistaken, I’mma say it for the record
I am the opposite of wack, opposite of weak
Opposite of slack, synonym of heat, synonym of crack
Closest to a beat, far from a punk
Ya’ll oughta stop talking, start trying to catch up mother fucker

Permainan perkusi, digital synthesizer dan rap pada lagu ini tetap buat saya lompat-lompat bahkan cenderung berayun lompatannya karena mengikuti ritme musik. Buat saya sih, Linkin Park selalu punya cara untuk menghentakkan telinga tapi juga cukup bisa lembut menenangkan jantung. Jadi tidak terlalu merasa rusuh tapi tetap bersemangat.  Ini artinya akan susah sekali untuk menahan diri tidak lompat-lompatan :D

Awalnya saya pikir ngga nyaman untuk loncat-loncatan di bangku yang di desain bagi penonton sepak bola. Jaraknya terlalu dekat dan pendek. Plus, saya ada di tempat yang lumayan tinggi jadi rada kuatir juga untuk loncat-loncat. Tapi musik rock tanpa teriak-teriak dan lompat-lompat apa rasanya? Akhirnya kami berdua pun terbawa suasana. Bahkan beberapa kali saya dan adik saya saling rangkulan sambil lompat-lompat bersamaan.

Tanpa disadari musik rock telah membuat saya dan adik saya sama-sama norak. Sesekali menunjuk-nunjuk tangan ke arah Bennington, seolah-olah kami begitu akrab. Tapi ada sedikit kritik yang saya rasakan selama konser berlangsung, si Bennington dan Shinoda itu pelit sekali berbicara. Mereka hanya menyapa dengan ucapan, “Hello Jakarta”; “Thank you Jakarta, you’ve been amazing” ; atau “Good night, Jakarta.” Saya berharap mereka akan menyapa atau berkomunikasi lebih dari itu, sekadar bilang “Makasih ye udah datang” atau “Akhirnya kita ketemu ye”. Saya ceritakan kritik saya ini ke bos saya yang super zuper nyentrik dan tahu apa komennya, “Ye…elu…nonton konser apa mau denger ceramah, ngarepin penyanyinya banyak ngomong…” Hahahahaha saya ketawa setengah mati dengar respon bos saya. Ini bos paling funky yang pernah saya punya and i am so lucky to know him hahahaha.

Saya sadar juga sih, mungkin si Bennington udah luar biasa cape sampe ngerasa ngomongnya dikit aja dah. Atau emang gitu settingannya…banyakin nyanyi dan buat seluruh penonton lu dapat emosinya ketimbang banyak ngomong tapi kerasa garing. Ya kritik itu tidak lantas membuat saya merasa rugi menyaksikan konser bertajuk A Thousand Sun World Tour Concert 2011 ini. Di konser ini mereka juga melakukan amal, Rp 10 ribu dari harga tiket akan disumbangkan untuk aksi kemanusiaan. Jadi ya grup musik rock yang berhati rinto sepertinya :D

Satu hal yang saya rasakan setelah selesai konser, selain kaki pegal karena hampir 1,5 jam berdiri sambil lompat-lompatan memakai sepatu masculine boots saya, adalah saya dan adik saya akan mengingat momen ini. Momen di mana kita menjadi sangat euforia atau bahkan norak, bernyanyi, lompat-lompatan sambil rangkulan bersama, meluruskan kaki sambil terus membahas bagaimana Linkin Park berhasil menghipnotis kami berdua, sampai menunggu taksi dengan ditemani sebotol air mineral untuk mengendorkan pita suara yang menegang.

Dan untuk melengkapi ke-euforia-an saya, facebook saya kembali bertengger status yang menyempurnakan wish yang terkabul:

Having great night with my bro.We were singing&jumping.Rock music definitely a fun way to embrace your family bounding.And of course Me,the LUCKIEST sister in the WORLD \m/

Suatu hari nanti, saya akan cerita ke anak-anak adik saya dan anak-anak saya, bahwa kami pernah jadi saksi hidup konser LINKIN PARK di GBK…terdengar norak….biarin karena ME, the LUCKIEST sister in the WORLD.

 

Religius Populer

Religius Populer

Selama Ramadhan ini, berapa banyak Ustad atau Ustadzah yang kalian lihat di televisi? Ada wajah-wajah baru dan masih ada wajah-wajah lama. Diantara yang baru itu adalah salah satu Ustad yang terkenal dengan sapaan, “Jaaammmmaaahhh…..oi….jaaammmmaaaahhh” atau dia akan memenggal kata Alhamdulillah seraya memancing jamaahnya untuk menyambung penggalannya, persis gaya anak-anak. “Al…ham…du….?”

Saya membahas gaya penceramah itu dengan seorang sahabat saya. Sahabat laki-laki yang paling saya rindu, Edi. Ngomong sama orang ini ngga pernah lama-lama, tapi perbincangan singkat itu selalu menghasilkan ide tulisan, ini salah satunya. “Pokoknya jadi utang tulisan ya, gua tunggu.” Dan saya coba menggenapinya saat ini.

Ada satu hal yang selalu terjadi di saat momen-momen perayaan agama mendekat, yaitu menjadi religius adalah sebuah gaya hidup. Menjadi religius adalah menjadi trend setter.  Semua stasiun televisi merasa wajib hukumnya untuk terjaga hingga subuh dan membuat program bagi-bagi hadiah dengan pengisi acara yang lucu-lucu (Baca: Pelawak) demi menemani kita bersahur. Acara itu dibuat sedemikian lucunya tak hanya agar sahur kita dilakukan dengan mata terbuka, tapi juga agar ratting televisi menarik pengiklan.

Di sore hari, stasiun televisi itu juga merasa harus menyediakan slot waktu untuk ceramah 7 menit untuk ustad atau ustadzah. Ceramah adalah medium untuk mendefinisikan tren religiusitas. Mengingat misinya sama, berceramah, para penceramah harus menemukan ciri khasnya masing-masing untuk memperpanjang kontrak eksistensinya di tahun depan. Mulai dari gaya menyapa jemaah, membawa tablet elektronik, sedikit berdendang, sampai adegan menangis untuk menciptakan kesan pertaubatan dan pengampunan. Ya, drama selalu laku dilayar televisi kita.

Iklan-iklan yang keluar pun sangat khas. Sirup manis, obat anti maag, mouthwash, varian pasta gigi yang hanya keluar di bulan Ramadhan, mie instan dengan settingan makan mie untuk sahur dan berbuka, sampai minuman berkarbonasi khas Amerika yang ikut-ikutan latah merubah aura iklannya menjadi lebih “hijau”.

Padahal kalau mau dipikir-pikir, ada beberapa iklan yang rada maksa. Iklan mie instan misalnya. Ya kalau sahur dan buka puasa pake mie instan, selesai puasa, bukan sehat malah muncul penyakit, tifus misalnya. Bukankah puasa juga momen detoksifikasi bagi tubuh, jika ini diisi dengan makanan instan yang melar di usus ya bukan detoksifikasi jatuhnya. Atau minuman berkarbonasi dengan logo merah itu misalnya. Kebayang setelah tidak menyentuh makanan dan minuman dari jam 4 subuh sampai 6 sore, langsungn diisi dengan minuman berkarbonasi, perut dijamin melilit. Ngga masuk akal dan ngga mendidik. Ah iklan kan jarang bicara mengenai masuk akal yang penting nyangkut di kepala penonton untuk kemudian pelan-pelan mengacaukan akal sehat kita. Dan lagi, produk-produk itu perlu memanfaatkan momen demi membayar THR para pegawai.

Atau handphone yang dibuat khusus untuk menyempurnakan ibadah di bulan penuh berkah ini. Tambahkan fitur-fitur berbau-bau agama, maka ibadah jadi lebih afdol karena teknologi ada untuk mengerti Anda. Dan mari coba tengok iklan-iklan rokok yang kemudian bernada sangat religius demi menyakinkan pembelinya bahwa merokok bukanlah tindakan (sengaja) membuat tubuh adikftif pada satu zat yang diharamkan oleh agama.  Merokok berjamaah setelah seharian penuh berhasil menahan hawa nafsu, rasanya kemenangan yang perlu dinikmati bersama-sama.

Lalu mendekati ritual ini berakhir, kita akan dihujani dengan testimoni public figure mengenai apa perbedaan yang dirasakan pada puasa kali ini dengan puasa tahun kemarin. Kekhidmatan menjadi sebuah komoditi. Dan mendekati akhir puasa, konsep religius berikutnya adalah baju lebaran yang akan menjadi tren. Tahun ini tren-nya adalah kaftan ala Syahrini. Baju terusan atau long dress dari bahan sifon ini memiliki potongan yang unik. Lengannya sengaja dibuat lebar  sehingga terlihat seperti jubah. Taburan manik-manik atau bahkan kristal swarovsky yang dijalin rapih di bagian dada dan sepanjang lengan, menjadi busana khas Maroko ini menjadi sangat elegan dan mahal.

Betapa seragamnya ritual dan perayaan kita. Sebulan penuh, religius menjadi sebuah tren. Nilai mata uang berubah wujud menjadi seberapa royal kita mengeluarkan uang untuk membuat momen religius ini semarak.  Kekhusyukan ibadah kita menjadi senada dengan deraian air mata yang keluar atau senyum malu-malu yang tersimpul karena merasa satu bahasa dengan penceramah yang dipilih stasiun televisi. Di momen-momen seperti ini menjadi populer sangatlah mudah, jadilah religius seperti yang lainnya.

Apa ini tanda-tanda akhir zaman? Ah bukan, kita hanya sedang membuat mazhab baru dari sebuah perjalanan kehidupan beragama. Mazhab itu namanya religius populer.  Tiba-tiba saya tergoda untuk menghitung berapa biaya yang harus dirogoh dari kantong kita demi eksis di mazhab ini.  Tidak ada biaya yang murah untuk menjadi populer kan? Dan siap-siap untuk momen religius populer berikutnya…karena natal akan segera datang :D