Monthly Archives: August 2011

Freudian Style

Freudian Style

Do you still remember my story about the Cranberries concert? How euphoric I am to come to the concert, not only because I was going to see one of my favorite alternative rock bands but also it was my first time watching Java Rockin Land. To celebrate that special moment, I bought merchandise from the concert. Wise man said, buying a merchandise in a concert will bring a good long relationship between you and your favorite band/artist hihiiihih… I made it up :D

So I bought a t-shirt. But don’t imagine that I  chose the one emblazoned with Java Rockin Land logo. No, I’m not that cheesy. I chose a t-shirt with a simple quote from Sigmund Freud.  Yes Sigmund Freud, the master of the unconscious mind.  Well I was unconscious that night, totally hypnotized by the Cranberries :D

I didn't wear my cat earing but it look the same

So what did Freud say on that t-shirt? He said, “Civilization began the first time an angry person cast a word instead of a ‘rock’ ”, with a silhouette of an ape at the left corner of the t-shirt.

But actually the t-shirt is too big for me and the neck is so tight. My first time wearing it, I felt like a boy. Short hair, short pants jeans, and a pair of masculine boots did make me look like the boy next door.

The second time, I wore it to the office with my one piece cat earing, it made me feel/look more like a boy. Suddenly I wasn’t comfortable wearing it. I don’t know where the idea came from, but I just need to make my “own-style” t-shirt. Guess what I’ve done?

I cut a little part of the neck and the sleeves. It was totally an impulsive action. That was my first extreme decision to create do-it-yourself (d.i.y) style. I never made a design for my cloth nor sewed a cloth; I used to ask my tailor to translate my idea of a dress and she would sew it perfectly. Well, in most cases she was the one who gave me the idea, I just picked the color :D

So the D.I.Y project was totally a giant leap for me. Moreover, I didn’t bring another cloth that time. If I cut it wrong, there would be no better word than SH*T. But I had to make a decision; have the-boy-next-door look or the overexposed look a.k.a failed D.I.Y style.

I preferred to make the first D.I.Y project perfectly done. I checked youtube for  any tips about how to make over an ordinary t-shirt into sexy t-shirt. But sh*t, my office’s internet connection couldn’t do more than making me more nervous. So I decided to face the battle with no preparation.
With my heart pumping so fast, like riding Tornado in Dufan, I grabbed my colleague’s scissors and cut the t-shirt. The neck vanished and voila…I CUT IT TOO MUCH!!! Shit…I made my t-shirt very low-necked which showed much of my cleavage. I had to stop panicking and find a new idea to solve the problem.

It is said that the more dangerous the situation you face, the more diligent your brain giving you a way out. Suddenly my hand took the edge of the neck and cut it into two. After that, I tied it up and it looked like a cute ribbon. More importantly, this trick lifted up the neck so I was not look to sexy.

After doing it all, I saw myself in the mirror and felt satisfied. The boy next door now had a new look, a sexy chick in freudian style. The experience makes me more confident to cut a lot of tight neck t-shirt :D

Sometimes you only need a t-shirt and a scissor to give yourself a little surprise. Trust me, I already tried it and I feel happily surprised. So do you have a gut to do the same thing? Let’s surprise our self today :D

Romantisme Pertama

Romantisme Pertama

Ketika kami belum berkomitmen, dia mengajak saya ke gereja bersama. Saya deg-degan luar biasa. Maklum saya belum pernah punya pengalaman ke gereja dengan laki-laki yang sedang saya suka.

Setelah berkomitmen dalam satu hubungan, dia memegang tangan saya di gereja ketika pendeta tengah menguatkan iman jemaatnya. Saya, “Anjrit…dia pegang tangan gua…mampus gua nih,” ekspresi saya dalam hati. Saya juga mencoba terlihat santai, padahal saya merasakan dengan begitu jelas telapak tangan yang mulai mendingin; bukan karena ruangan gereja yang memang dingin tapi lebih kepada reaksi psikosomatis akibat adrenalin yang menari-nari.

Di beberapa minggu berikutnya, dia melingkarkan tangannya di pundak saya saat menikmati pastor bule ganteng tengah menarik perhatian saya dengan kotbahnya yang sangat rileks. Lagi-lagi saya coba terlihat santai, tapi percaya lah, itu bukan kondisi sesungguhnya. Saya deg-degan dan berpikir, “Ah romantisnya merasakan semua ini di gereja.” Pelan-pelan saya melihat dia, kami tersenyum. Saya berdoa dalam hati, “Makasih ya Tuhan, benar-benar romantis.”

Iya, saya tidak mengira ekspresi sederhana itu bisa terasa berbeda ketika di dalam gereja. Dan dia, menjadi referensi romantisme gereja saya yang pertama. Sekarang setiap kali ke gereja, selain mempersiapkan diri untuk ‘cerita’ pastor-pastor bule itu, saya penasaran dengan ekspresi rasa sayang yang akan dia tunjukkan.

Atas rasa sayang juga, dia pernah tiba-tiba merangkul saya dengan jaketnya hahahaha. Loh kok saya ketawa, ya karena ada alasan lain kenapa dia melakukan itu. Karena baju saya bisa dikatakan mayoritas berlengan pendek dengan potongan leher yang rendah, membuat dia sebenarnya merasa risih. Tapi dia tidak langsung melarang saya. (Mungkin) dia tahu cara larang melarang akan justru membuat saya melakukan apa yang dilarang. Iya, saya kan keras kepala hahaha.

Justru cara menggenakan jaket ke tubuh saya itu efektif. Karena saya merasa diperhatikan, bukan dibatasi. Saya menghargai perhatiannya dengan membiarkan jaket itu terus menempel di badan saya, bahkan pernah dengan sangat halus dia menyarankan saya membawa pulang jaketnya. Tapi ternyata jaket itu pelet, karena saya kepikiran dia terus semalam suntuk hahahaha.

Dan dikomitmen yang masih baru ini, dia menawarkan diri untuk memperkenalkan dirinya ke keluarga saya. Saya, panik! Bukan…bukan karena saya tidak serius dengan komitmen ini, tapi lebih karena saya tidak punya referensi memperkenalkan laki-laki ke rumah. Saya tidak tahu,apakah saya harus memberi tahu orang rumah atau tidak. Awalnya saya menjawab dengan santai. Tapi ternyata dia benar-benar serius ingin bertandang ke rumah dan dia menangkap kepanikan saya. Well dia tidak bilang apa-apa ketika tahu saya panik, dia pura-pura tidak tahu. Dia menenangkan saya dengan memberikan kebebasan pada saya untuk mendefinisikan kesiapan.

Dan itu memang yang saya lakukan, ketika saya menghadapi kepanikan saya sendiri. Kemudian saya menghampiri dia dengan menjelaskan sambil bilang, “Minggu ini ya main ke rumah,” dengan senyuman lebar.

Ternyata perkenalan itu menyenangkan. Secara kebetulan dia bertemu seluruh anggota keluarga saya, termasuk Blacky, anjing paling ganteng di dunia :D Dan boleh dibilang, semuanya berjalan lancar. Saya dan dia bahkan sempat bercanda dengan mama saya. Walaupun bapa saya memasang muka serius, ya wajarlah semua bapa pasti merasa perlu melakukan itu ke laki-laki yang mendekati anak perempuannya. Oiya jangan lupa, saya anak perempuan satu-satunya jadi muka serius bapa saya diperkenalan pertama adalah settingan wajib.

Tapi setidaknya dia berani menghadapi semuanya. Tidak sekadar berani bilang sayang sama saya. Ini membuat saya merasa, yes we are in the same page. Dan sekarang, saya tidak sabar untuk mengapresiasikan keberanian saya dengan memperkenalkan diri ke keluarganya. Semoga akan jadi dua sisi cerita pertama yang menyenangkan :D

Kebertuhanan Kita Adalah Atas Nama Jalan

Kebertuhanan Kita Adalah Atas Nama Jalan

Di manakah kita bisa menemukan Tuhan?

“Mudah saja, cari nama jalan sesuai dengan agamamu!”

Tuhan ada di sana?

“Kita tak perlu Tuhan, cukup nama jalan yang sesuai dengan agamamu!”

Tapi aku maunya Tuhan?

“Kafir kau. Berapa kali harus aku jawab, cukup cari nama jalan yang sesuai dengan agamamu!”

Tapi….

“Kau ini tahu apa soal Tuhan. Tidak penting itu, yang penting adalah mencari nama jalan yang sesuai dengan agamamu!”

Tuhan ada di sana?

“Mulai hari ini, Tuhan hanya boleh ada di nama jalan yang sesuai dengan agama. Tidak boleh ada mesjid di Jalan Hayam Wuruk, seperti tak boleh ada gereja di Jalan Abdullah bin Nuh. “

Mengapa?

“Kami hanya takut, Tuhan tersesat. Salah memilih jalan. Jadi untuk membantunya selalu ada pada rumah yang tepat, Dia hanya boleh ada pada nama jalan sesuai agama.”

Siapa yang punya ide itu?

“Kami, tim suksesi Tuhan!”

“Sudah jangan banyak bertanya. Cari nama jalan sesuai agamamu, Tuhan ada di sana!”

****

Dengan segala keprihatinan, tulisan ini dibuat untuk meresponi pernyataan Walikota Bogor, Diani Budiarto, yang melarang gereja di bangun di atas jalan bernama Islam.

Kebahagiaan Adalah Permainan Judi?

Kebahagiaan Adalah Permainan Judi?

Salah seorang sahabat saya memberi tahu bahwa dia akan menikah. Saya shock!

Shock bukan karena keputusan menikah adalah hal yang aneh. Tapi karena laki-laki yang akan dinikahinya adalah orang yang sama yang telah menyakiti dia berkali-kali. SELINGKUH!

Kekagetan saya semakin bertambah ketika dengan gaya ‘wawancara’ santai saya, dia bercerita bahwa rencana nikah itu sudah ada sejak Februari. “Trus kenapa lu baru kasih tau sekarang?” tanya saya penuh dengan rasa penasaran. “Karena gw ngga mau lu sedih. Gw nunggu sampe lu punya pacar, jadi berita ini tidak membuat lu sedih.”

Saya, bereaksi dengan kaget setengah mati. Kadar shock saya mencapai titik kulminasi. Saya minta bertemu dengan dia. Mau dia bercerita dengan detail secara langsung. Berharap bisa melihat binar matanya sebagai refleksi keyakinan bahwa dia sadar betul atas pilihannya.

Berbagai pertanyaan pun meluncur dari ketikan yahoo messenger saya untuk dia. “Apa yang bikin lu yakin? Bagaimana dia menyakinkan lu? Apa lu ngga takut merasakan sakit yang sama?” Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu lah yang terlontar dengan lancar. Maklum 3 kali diselingkuhi bukanlah track record yang patut diberi piala.

Dan saya masih ingat, masa di mana kami sama-sama berani menghadapi sakit hati dari praktek perselingkuhan. Karena perselingkuhan pacarnya yang ketiga kali, hanya berbeda beberapa hari dari apa yang saya alami.

Jika saya mendeskripsikan diri sebagai perempuan mandiri yang keras kepala, berani, cuek, dan frontal. Maka naikkan semua kadar itu dua kali lipat untuk mendefinisikan sahabat saya yang satu ini. Dan ketika cerita perselingkuhan itu terjadi lagi pada dirinya, saya melihat dia terpuruk. Bahkan bisa dibilang, saya pulih lebih dulu dibanding dia.

Situasi dan kebaikan Tuhan yang membuat saya bisa pulih lebih cepat. Dan di malam-malam kami terpukul, kami berdoa bersama. Menentukan waktu dan berdoa dari dua tempat yang berbeda. Mendoakan kekuatan diri, impian, percintaan, persahabatan, dan keluarga. Mendoakan hidup…ya, mendoakan hidup.

Itu adalah pengalaman religius buat kami berdua. Tapi itu juga jadi pengalaman menyedihkan buat saya. Melihat seorang sahabat yang kuat, bisa begitu rapuh dan tak berdaya. Ada malam-malam dia menelepon atau mengirimkan SMS hanya untuk bilang, “Kok dia nyakitin gw lagi ya pris? Gw ngga punya semangat Pris, kaga ngerti mau ngapain.” Meski saya pada akhirnya bisa menenangkan dia, sebenarnya saat itu saya meletakkan kedua tangan di dada sambil menahan rasa sedih yang begitu dalam.

Maka ketika dia menyebut laki-laki yang akan dinikahinya adalah orang yang sama yang menyakitinya, semua momen penuh perjuangan itu bangkit lagi. Dan semua pertanyaan-pertanyaan saya hanya dia jawab dengan, “Jawabnya pake hati Pris. Bukan pake insting.”

Jawaban yang sama juga dia berikan ketika saya tanya maksud dari tidak ingin membuat saya sedih dengan berita pernikahannya. Ngga cuman itu, dia bilang, “Kebahagiaan itu kaya permainan judi. Lu ngga pernah tahu bagaimana bentuknya, kapan datangnya, dan bagaimana menghindarinya.” Saya coba mengikuti alur berpikirnya,”Kalau kebahagiaan adalah permainan judi, taruhan apa yang lu kasih untuk mengikutinya?”

“Ngga ada, cuman dibiarin mengalir aja,” jawabnya dengan santai. “Itu cinta buta namanya. Masa lu ikutin permainan judi tapi lu ngga tau apa yang lu pertaruhkan?” saya menajamkan pertanyaan saya. “Yang gw tahu, ini kata hati gw. Kata hati gw bilang,udah waktunya masuk ke tahap berikutnya sama dia. Gw ngga bisa menjamin dia ngga akan selingkuh lagi atau gua ngga akan disakiti lagi sama dia. Itu yang gw maksud kebahagaain adalah judi, lu ngga pernah tahu apa bentuknya sampai lu ikut dalam permainannya dan siap kalah atau menang. Kalau nanti dia selingkuh lagi ya berarti jodoh kita pendek, dan gw siap dengan kondisi itu.”

Banyak hal yang muncul sebenarnya. Persis seperti jagung yang ditaruh di wajan panas yang siap meletup-letup jadi popcorn. Tapi entah kenapa saya berhasil menahan letupan itu. Karena yang saya ingat, saya akan bahagia kalau dia bahagia. Dan apabila definisi bahagianya adalah dengan “berjudi” bersama laki-laki itu, ya itulah bagaimana saya akan bisa melihat dia bahagia.

“Gw menghargai dan berterima kasih untuk jawaban hati lu yang bilang harus menunggu gw berpasangan untuk menyampaikan berita itu. Semua lu lakukan untuk melindungi gua, and I do appreciate that. Tapi bukan perlindungan seperti itu yang harus lu berikan ke sahabat lu.”

Saya kemudian memberikan pernyataan, bahwa kebahagiaan adalah bukanlah permainan judi. Dia adalah keberanian menghargai hidup. Dan sebagai orang-orang berani, harusnya dia menyadari bahwa kekagetan saya bukan karena sebagian besar teman-teman saya sudah menikah semua, melainkan karena pilihan laki-laki yang dia ambil. “Lu tahu apa yang membuat gw bisa lebih berani menikmati hidup, salah satunya adalah melihat orang-orang yang gua sayangin itu bahagia. Kalau lu bahagia, itu jadi energi untuk menguatkan gua menghadapi apapun di depan mata. Karena buat gw, kebahagiaan bukan judi. Dia energi!”

Energi untuk punya passion dalam hidup. Energi untuk berani bertanggung jawab atas setiap proses yang dipilih. Energi untuk menyerap keyakinan dan mimpi orang-orang tersayang. Dan kebahagiaan adalah energi untuk berbagi ketulusan serta kepedulian ke orang-orang terkasih.

Atas dasar energi itulah, saya merasakan kebahagiaan yang sempurna dari niat teman saya untuk menikah. Menikahi laki-laki yang dia pilih. Laki-laki yang diyakininya bisa menjadi partner hidup yang menyempurnakan proses menikmati setiap tanggung jawab hidup.

“Itulah definisi kebahagiaan gw buat elu, orang yang gua sayang.”  Dan sahabat saya hanya bilang,”Makasih Pris, I love you too.” Semoga ketulusan cinta yang mereka punya, akan menjadi energi yang bisa saya resapi sebagai keindahan merayakan hidup setia sampai ajal memisahkan.

Menarik Selaput Virginitas

Menarik Selaput Virginitas

Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata “virgin”; “keperawanan” ; atau “selaput dara” ? Apakah kalian langsung menyandingkannya dengan norma atau aturan agama? Atau justru mensejajarkannya dengan mitos? Saya tidak akan memberikan pendapat saya secara lugas, hanya akan coba memberikan gambaran real yang ada di sekitar saya.

Secara tidak sengaja, saya menemukan satu artikel menarik di salah satu website urban lifestyle yang lagi happening di Jakarta. Mereka memberikan daftar artis-artis Hollywood yang berhasil menjaga keperawanannya sampai menikah. Siapa yang paling kalian hapal? Jessica Simpson yang memang memakai purity ring sejak berumur 12 tahun. Atau Jordin Sparks yang katanya membawa neneknya ke mana pun dia kencan sama pacarnya, sebagai ‘alarm’ untuk tetap perawan sampai menikah. Dan mereka menjadi menarik untuk dibahas, karena di Amerika, tetap perawan sampai menikah adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Ya karena hubungan seksual, dianggap wajar dilakukan sebelum menikah.

Konsekuensi logis dari tidak pentingnya keperawanan sambil menekan seks bebas, saya banyak sekali menemukan website-website remaja yang memiliki section khusus membahas mengenai hubungan seksual yang sehat. Bahkan ada yang khusus menampilkan cerita-cerita hubungan seksual pertama kali. Para remaja yang adalah visitor dari website tersebut bisa dengan bebas bercerita apa yang mereka rasakan ketika hubungan pertama itu dilakukan. Malah website itu membuat semacam survei sambil menyisipi info kesehatan. Misalnya, website itu bertanya apakah saat pertama kali berhubungan seksual mereka merasa kesakitan, berdarah, merasa bersalah, dan menganggap momen pertama itu sebagai hal yang menyenangkan atau menyakitkan?

Saya sangat terkesima dengan website itu karena mereka membahas dan mengajak para remaja itu untuk lebih dewasa lagi mengartikan hubungan seksual pertama. Ngga cuman soal bagaimana selaput hymen itu menjadi tidak utuh saja yang dibahas, tapi juga visitors diberi info mengenai masturbasi yang sehat. Hubungan seksual jelas bukan hal yang tabu, dan selaput hymen bukan sebuah kultus keperempuanan.

Saya ngga tahu bagaimana virginitas didefinisikan saat ini. Bisa jadi sudah bukan hal yang harus dikultuskan, tapi yang sering mengundang rasa penasaran saya adalah apakah melepas selaput hymen sebelum menikah dianggap sebagai sebuah aksi modernitas atau merasa keutuhan keperempuanannya tidak ditentukan pada selaput tipis itu.

Pernah satu kali saya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih fungsi selaput hymen itu? Kenapa alat genital perempuan harus diberi selaput? Secara umum tidak ada fungsi yang spesifik. Hanya saja, pada saat masih bayi, selaput ini diperlukan untuk melindungi organ intim karena sistem imun bayi masih sangat lemah. Jadi si selaput ini diperlukan untuk menghindari bayi perempuan dari infeksi organ genital.  Karena bertujuan sebagai pelindung, bentuk awal selaput tebal. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, selaput menjadi lebih tipis dan memiliki lubang dengan bentuk yang bervariasi. Lubang ini sebagai jalan keluar darah menstruasi.  Trus gimana selaput yang niat awalnya sebagai penghalau dari infeksi genital ini bisa disangkutpautkan dengan harga diri perempuan, wujud cinta, dan kesucian perempuan yang hanya diserahkan pada suami?

Kalau dilihat dari asal bahasa, virgin, bersumber dari bahasa Latin yaitu virgo. Dan ini dipakai untuk merujuk pada dewi-dewi, tapi seringnya mengarah ke Artemis. Dan virgin dilambangkan sebagai sebuah kekuatan serta independensi. Kok bisa? Sebab si Artemis ceritanya tidak tergoda dengan rayuan Dionysus yang adalah dewa penggoda.  Jadi virgo adalah dewi yang punya penderian teguh untuk menghalau segala godaan. Baru di abad pertengahan, terminologi kekuatan dan independensi bergeser menjadi sesuatu yang berhubungan dengan berhasil menahan hasrat penetrasi sebelum menikah. Dan ini tentu saja dipengaruhi oleh nilai-nilai agama, keperawanan adalah ‘hadiah spesial’ untuk suami. Plus, ‘hadiah spesial’ ini akan ditautkan dengan menjaga nama baik keluarga. Dari sebuah selaput, menuju kepada eksistensi kelompok. Selaput, pelindung komunitas. Menarik :D

Tapi ilmu anatomi dan kedokteran memberikan pengaruh pada proses pendefinisian virginitas. Karena ternyata selaput itu, layaknya sebuah selaput, mudah sekali koyak. Dan contoh yang paling sering digunakan untuk menggambarkan betapa selaput itu sangat tipis adalah naik sepeda atau menunggang kuda bisa menyebabkan selaput terkoyak. Maka virginitas menjadi, vagina yang belum pernah mengalami penetrasi penis. Perlahan tidak ada lagi keterangan, “yang dilakukan sebelum menikah.”

Lalu saya teringat, beberapa waktu lalu pernah liputan mengenai remaja putri dan menstruasi. Ternyata banyak diantara mereka yang tidak mengenali tubuhnya dan terlalu membalut diri dengan segala rupa mitos. Salah satu contoh tidak mengenali tubuh adalah tidak tahu ada berapa banyak lubang di daerah genitalnya. Berpikir kalau cara jalan anak perempuan bisa mengartikan apakah dia masih virgin atau tidak.  Soal yang terakhir ini, saya mengalaminya sendiri. Waktu di SMA, tiba-tiba seorang teman berbisik ke saya, “Lu perhatiin gaya jalannya…udah kaga perawan dia.”

Tapi sebenarnya sampai sekarang saya juga masih sering menemukan pernyataan-pernyataan lucu seputar virginitas. “Sekarang mah yang penting bukan perawan apa kaga, tapi good in bed or not?.” Karena buat yang berpikir seperti ini, interaksi intim bisa memengaruhi kadar cinta. Ya sah-sah aja sih, semua persepsi kan punya latar belakang pembentuk premisnya sendiri.

Akhirnya, virginitas mengarah pada kesiapan perempuan dalam berhubungan seksual. Apakah dia menjadi pribadi yang setia menjaga demi segala nilai-nilai yang diyakini atau peneguhan integritas tubuhnya sendiri. Buat yang menjadi setia demi nilai-nilai yang diyakini, titik kulminasinya adalah ketika malam pertama bisa merasa lega karena penetrasi dilakukan oleh penis yang sah. Sedangkan bagi yang setia demi peneguhan integritas tubuhnya sendiri, malam pertama menjadi momen dia berkuasa penuh atas tubuhnya atas siapa yang pantas penetrasi pertama kali.

Mudah-mudahan virgnitas tidak mengarah pada suara terbanyak adalah tuhan atau sekadar trend. Ini menghasilkan pernyataan seperti, “Sekarang udah common lagi kalau lu ngga perawan.” Bahkan saya pernah kaget setengah mati, ketika seorang teman lama bertanya apakah saya masih perawan atau tidak. Kaget, karena saya merasa apapun jawaban yang saya berikan akan menjadi pisau dikotomi, lu masuk anak jaman sekarang atau angkatan Siti Nurbaya. Seolah rapat atau terkoyaknya selaput darah saya menjadi hal penting untuk dibicarakan setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Atau jangan-jangan teman saya itu emang lagi survei mengenai berapa banyak perempuan yang masih virgin atau tidak hahahahaha…Yah beberapa waktu lalu kan juga ada tuh wacana tes keperawanan untuk siswa baru tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi di Jambi. Tujuannya, menekan terjadinya seks bebas di kalangan pelajar. Lihat betapa penting keperawanan perempuan, itu selaput jadi penentu apakah perempuan berhak sekolah atau tidak.

Tidak ada kesimpulan dari postingan ini, emang sengaja dibikin menggantung karena saya tidak mau buat dikotomi apa-apa atas virginitas. Itu urusan pribadi, sepribadi letak dari selaput itu sendiri. Mmmm…kalau boleh saya kasih pesan, sebagai wartawan kesehatan, nikmatilah hubungan seksual dengan sehat. Play safe. Dan play safe juga berarti lakukan ketika siap, lakukan karena mau, lakukan untuk diri sendiri demi penghargaan pada tubuh, lakukan dengan setia, serta sedia pengaman dalam situasi emergency :D