Monthly Archives: July 2011

Di Bawah Lengkingan Dolores O’Riordan

Di Bawah Lengkingan Dolores O’Riordan

Sabtu (24/7) kemarin, dengan hot pants jeans belel, kaos merah polos, dan sepasang masculine boots, saya mengantarkan diri ke Pantai Carnaval Ancol. Itu adalah kali pertama saya ikut memambah jumlah manusia pada ajang Java Rockin Land (JRL). Buat saya, magnet JRL sekarang adalah band alternatif rock asal Irlandia, the CRANBERRIES!

Ada alasan sentimentil untuk menyukai band yang lead vokalnya dipegang oleh Dolores O’Riordan ini, harus saya tonton dengan segala bayaran dan pengorbanan. Ini adalah band yang mengiringi ke-tomboy-an saya semasa SMP. Saya bersama 5 orang teman perempuan saya, saat SMP dulu, bahkan punya geng yang diberi embel-embel ZOMBIE. Embel-embel itu selain untuk memberikan kesan garang, juga untuk menegaskan selera musik kita, kami adalah pecinta the Cranberries. Hahahaha euforia eksistensi diri itu memang ibarat jamur ajaib, penuh halusinasi.

Jadi, atas nama memenuhi halusinasi masa SMP, saya pun menyisihkan uang untuk membeli tiket JRL hari Sabtu. Dan alam pun mendukung, perjodohan saya dengan the Cranberries dipermudah dengan mendapat tiket setengah harga. Seorang temannya teman (lihat rantai pertemuannya) mendapat tiket itu sebagai jatah gratis, tapi karena dia tidak ingin menonton, tiket pun di jual. Ada perasaan deg-degan ketika melihat tiket itu. Tiket biasa sebenarnya, kaya tiket mau naik pesawat budget flight, kertas print biasa aja. Tapi emosi lebay saya sedang bergejolak, jadi halal kalau saya terpesona setengah mati untuk memegang tiket itu.

Tiket itu membuat saya semakin terpacu untuk mendengarkan lagu-lagu the Cranberries hampir setiap hari melalui software winamp. Dan ketika saya menyaksikan Dolores berada di atas panggung, dengan jaket mantel, celana legging, dan sepatu BOOTS, saya siap diperdaya. Melalui layar lebar yang disembul kepala-kepala manusia, saya melihat Dolores yang sudah mulai menua. Tapi umur bukan batasan untuk menafsirkan musik, khususnya musik rock. Penyanyi yang juga penulis lagu itu, tetap memiliki vokal suara yang sama persis dengan apa yang saya dengar di winamp. Bahkan lebih kuat, karena suara lengkingannya yang khas mampu membuat saya meloncat-loncat tanpa peduli apa yang terjadi pada putaran dunia pada malam itu.

Dia bahkan melakukan tarian sederhana sambil memainkan jari-jari, mungkin itulah rapalan misterius dia untuk membuat ribuan orang dengan berbagai identitas ikut bernyanyi, melompat, dan mengangkat tangan ke atas sambil membentuk jari simbol musik rock. Saya semakin terkesima, ketika Dolores keluar panggung dengan memakai topi khas kepala suku Indian, DAMN dia tahu bagaimana menghidupkan suasana. Topi khas itu selaras dengan lengkingan ala orang Indian ketika melakukan tarian mereka. Dan yang semakin membuat semuanya sangat menyenangkan adalah, lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang memang menjadi hits mereka. Trik ini secara tidak langsung mengajak penonton yang telah rela-rela menembus kemacetan dan berdiri berjam-jam untuk bernyanyi sepuas yang mereka mau. Peduli setan dengan suara yang sedikit melenceng dari nada seharusnya atau bahkan dengan percaya diri merasa suaranya melengking seindah Dolores.  Bahkan di dua lagu terbaru mereka, banyak penonton yang tetap menggerakkan tubuh mengikuti irama, meski mulut tertutup rapat karena belum akrab dengan lagu tersebut.

Di sesi kedua, Dolores keluar dengan gaun hitam sepaha dengan sedikit blink-blink pada bagian dada. Pelengkap bajunya tetap, sepatu boots dan gitar yang melintang di badannya. Luar biasa, dia tampil anggun dengan sentuhan maskulin yang pas. Terlihat sangat berani, independen, tapi tetap lembut. Saya merasa outfit pamungkas ini adalah cara berpamitan yang anggun dari seorang vokalis band alternative rock. Dan saya dipuaskan dengan luar biasa sempurna, halusinasi eksistensi saya di SMP dulu, terbayar dengan tarikan suara, gerakan badan, dan hentakan kaki serta kepalan tangan ke udara atas nama pecinta the Cranberries.

Persetan orang mau bilang, malam itu saya jadi sama dengan ribuan orang yang sekadar memenuhi dan meramaikan ajang musik rock tahunan yang kemudian terkesan jadi momen untuk sekadar eksis dan memenuhi timeline twitter atau news feed facebook. Kadang kala untuk memberikan kepuasan diri, kita harus menutup mata terhadap persepsi orang dan menjadi sama dengan ribuan manusia yang datang dengan sepatu heels tinggi, celana pendek, kaos buntung, kemeja kotak-kotak, celana legging, rambut gondrong, sepatu boots, jaket belel, jeans belel, gelang kulit, serta atribut pelengkap penonton konser lainnya. Karena eksistensi adalah euforia, seperti jamur ajaib yang penuh halusinasi. Sebuah kenikmatan yang akan dengan cepat sampai klimaks, mengendap sesaat, meninggalkan letih, untuk kemudian kembali pada tingkat kesadaran yang lama yaitu inilah aku.

PS: Terima kasih buat dia yang telah menjadi bagian euforia saya malam itu.

Laki-Laki Yang Dilupakan Alkitab

Laki-Laki Yang Dilupakan Alkitab

Secara tiba-tiba, saya butuh mencari tahu keberadaan dan melihat sisi lain dari dua laki-laki yang sebenarnya muncul secara rutin pada momen-momen tertentu. Laki-laki yang pertama, sering diceritakan saat perayaan Natal. Dan laki-laki yang kedua, ramai dibicarakan (kembali) saat mendekati masa Jumat Agung atau hari Kenaikan Yesus Kristus. Mereka selalu diceritakan dengan cara dan pola yang sama. Bosan saya.

Apa yang saya pertanyakan dari eksistensi mereka? Beginilah saya merangkum rasa penasaran itu:

Di manakah kau, Yosef?

Rasa penasaran saya terhadap keberadaan Yosef, ayah Yesus, berawal saat sedang bercanda dengan seorang teman yang mengandaikan dirinya sebagai Bunda Maria. Iya perbincangan penuh jokes itu justru membuat saya bertanya, “Yosef ke mana ya saat Yesus disalib? Kenapa dia tidak banyak muncul di masa Yesus dewasa?” Iya, di manakah Yosef? Mengapa Alkitab tak banyak bercerita tentang laki-laki ini? Posisi dia kan sama pentingnya dengan Maria. Bayangin kalau Yosef ngga mau ‘bertanggung jawab’, Yesus bisa jadi kehilangan nilai kesakralannya sebagai anak yang dilahirkan dari pasangan yang sah.

Saya bertanya, dan seseorang memberikan link wikipedia mengenai riwayat hidup Yosef. Iya, thanks to the technology, saya tak butuh mengubek-ubek Alkitab, karena saya bukanlah pembaca Alkitab yang setia :D Adalah Injil Matius dan Lukas yang paling banyak bercerita mengenai Yosef. Tapi keduanya punya dua cara penyampaian yang berbeda.

Matius, tidak memberikan gambaran yang detail akan garis keturunan Yosef. Tidak seperti Lukas yang jelas-jelas menyebut Yosef sebagai keturunan Raja Daud. Matius bahkan jarang menyebut nama Yosef ketika bercerita masa-masa Yesus remaja. Saat Yesus berumur 12 tahun dan pertama kali berhadapan dengan ahli Taurat, Matius hanya menyebutkan, Yesus pergi ke rumah ibadah itu bersama orang tuanya.

Dan nama Yosef semakin tidak disebut saat kali pertama Yesus melakukan keajaiban, yaitu mengubah air menjadi anggur pada pernikahan di Kana. Maka jangan heran kalau disaat Yesus disalibkan, tak ada Yosef di sana. Tidak ada cerita yang jelas, apakah Yosef meninggal dunia sebelum acara di Kana itu. Kalau dia meninggal, apa penyebabnya? Apakah penyakit atau ya karena sudah waktunya saja? Tak banyak juga diceritakan bagaimana interaksi Yesus dengan bapa-Nya versi dunia (ya karena bapa aslinya kan Bapa di Surga).

Pemikiran sederhana aja, anak laki-laki biasanya punya perbincangan khusus dengan ayahnya. Seperti anak perempuan punya ikatan emosional lebih pada ibunya. Saya penasaran aja, adakah nilai-nilai khusus yang diberikan Yosef kepada anaknya? Sejauh mana karakter Yosef memengaruhi dan membentuk Yesus? Atau dari sisi Yosef, sebesar apakah pergumulannya membesarkan Anak Allah itu? Ya Yesus kan bukan anak biasa.

Seorang pastur bernama William P. Saunders, menyebut Yosef sebagai Tokoh Tanpa Suara. Karena Injil tidak pernah memiliki catatan yang banyak dari ucapan-ucapan Yosef. Tapi Saunders menegaskan, apa yang dilakukan Yosef sudah menjadi suara yang akan selalu disampaikan dari generasi ke generasi.

Dan tahu apa yang kemudian mengangetkan saya adalah ketika menemukan beberapa referensi yang menyebutkan Yosef dipercaya sebagai simbol keberuntungan untuk menjual rumah. Trik ini banyak dipakai para makelar penjual properti di negara barat. Caranya dengan mengubur patung St.Yosef di dalam tanah, tepat di atas papan tulisan FOR SALE. Does it works? Well, many believe it does.  Bagaimana Yosef dapat memberikan daya magis bagi penjualan rumah? Karena Yosef adalah ayah yang bertanggung jawab bagi Yesus dan suami yang teladan bagi Maria. Dia berhasil memberikan rumah yang nyaman bagi keluarga kecilnya.

Ah tapi referensi-referensi itu tetap tidak membuat saya berhenti penasaran. Saya masih ingin tahu, sebenarnya bagaimana interaksi Yosef dengan Yesus? Jadi ada yang bisa bantu saya menemukan jawabannya?

The Outspoken Thomas

Selain Yudas, ada satu murid Yesus yang juga punya sebutan khusus. Iya, Thomas. Murid yang satu ini sering disimbolkan sebagai orang yang penuh keraguan. Dia ngga percaya Yesus yang sudah disalib itu bisa bangkit dari kematian, kalau belum benar-benar mencolokkan jarinya pada telapak tangan Yesus yang bolong.

Dan kebetulan sekali, kotbah minggu kemarin sedikit menyinggung soal Thomas. Pendeta yang bule di tempat saya gereja kemarin, berkata sebenarnya (bisa jadi) semua murid-murid Yesus tidak yakin Gurunya sudah bangkit. Ketidakyakinan atau keraguan ini muncul karena mereka ketakutan sebenarnya. Tapi hanya Thomas yang berani bersuara. Thomas yang berani mengkonfrontasi Yesus secara langsung.

Kalau bahasa saya, ya itu…the outspoken Thomas. Dia tipe orang yang ekspresif, ngga sabaran, dan ya penasaran. Tapi kalau Thomas ngga mengungkapkan rasa penasarannya, mungkin murid-murid lainnya hanya berani menyimpan pertanyaan yang sama dalam hati. Iya, saya ingat kok apa yang dituliskan Alkitab sesaat setelah Thomas mencolokkan jarinya ke telapak tangan Yesus yang berlubang. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat tapi percaya,” ucap Yesus.  Ya karena keimanan bukanlah sesuatu yang bersifat inderawi.

Tapi ya itu, Thomas lebih sering diceritakan sebagai orang yang ragu. Dan menurut saya, kanonisasi telah membuat kita tanpa sadar ‘melupakan’ wujud Thomas yang lain. The outspoken Thomas. Sepertinya akan seru kalau kitab suci bisa memberikan ruang kepada para mereka yang ekspresif untuk melakukan perannya, konfrontasi. Jangan langsung negatif. Konfrontasi yang dimaksud adalah untuk menyadarkan posisi yang dipilih dari penjabaran iman. Jadi ada dialog dan proses penyadaran. Bukan sekadar bilang, jangan kaya Thomas, ababil.

Nah pertanyaan penutup untuk Thomas, adakah istilah untuk konfrontasi beriman? :D

 

*PS: Apakah menurut Anda, postingan ini rada ngaco dan tak berarah? Biarin, karena katarsis ngga perlu rambu…namanya juga katarsis…hihihihihii

Arsiran Kita

Arsiran Kita

Dia : If you have a boyfriend that is not fully yours. Sometimes you have to share him with his friends that also need him.Isn’t it hard?
Saya : Hidup adalah mengenai berbagi, sayang. Dan berbagi itu punya banyak bentuk serta lapisan. Kamu, punya kehidupan sebelum dan setelah ketemu aku. Aku, juga punya kehidupan sebelum dan setelah ketemu kamu.

Saat ini, kita ada di titik berbagi yang sama. Berbagi cinta,emosi,desire,dan mimpi. Tapi kita kan tetep punya arsiran yang lain, dengan bentuk dan lapisan arsiran atau berbagi yang berbeda.Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah, let me know your world and friends and I’ll be love to bring you to mine.

———
Ya, saat ini saya sedang membuat arsiran baru. Seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada saya, dan saya…ya klepek-klepeklah…hahaha.

Seperti saya, pacar saya punya teman yang banyak. Teman yang setiap saat bisa menghubunginya dengan bebas untuk sekadar curhat via telepon atau bertatap muka langsung.

Buat yang sudah lama menjomblo, seperti saya dan dia, teman adalah poros interaksi sebelum kami bertemu. Dan wajar kalau kemudian kita harus melakukan penyesuaian sana-sini untuk tetap menjaga kehangatan cinta antara saya dengan dia, serta menjaga kelenturan persahabatan antara saya dengan teman-teman. Jadi saya sangat mengerti kalau dia mengangkat topik sharing my boyfriend/girlfriend with his/her friends ini.

Contoh konkretnya adalah saat dia lagi kangen-kangennya, saya tidak bisa memenuhi keinginannya untuk bertemu. Alasannya? Teman saya secara tiba-tiba minta ditemani untuk mengurai benang masalah yang lagi membelitnya erat-erat.

Apa itu berarti saya lebih memprioritaskan teman saya? Atau pacar saya yang tidak mau mengerti?

Jawaban saya adalah berbagi. Iya, pada dasarnya hidup adalah berbagi. Seperti yang saya tulis di posting-an sebelumnya. Dan algoritma berbagi ini membuat saya bertemu pada elemen arsiran. Karena berbagi adalah interaksi hubungan yang menciptakan keterikatan. Dan keterikatan ini bukan untuk dibandingkan mana yang lebih erat satu diantara yang lainnya.

Sangat sadis menurut saya, kalau kita melontarkan pertanyaan, “Ayo kamu pilih mana? Teman-teman kamu atau aku?” Atau, “Kamu kenapa sih lebih merhatiin temen-temen kamu dibanding aku?”

Bukan begitu caranya mengukur seberapa kuat cinta yang kita punya untuk pasangan. Karena hubungan percintaan dan persahabatan punya elemen pembentuk sendiri, punya karakteristik sendiri, dan punya nafas sendiri. Dan kasian aja pacar kita kalau harus diminta ‘berjuang’ lebih keras demi membentuk kekuatan hubungan cinta agar berhasil mengalahkan hubungan persahabatan yang sudah terbentuk sebelum dia ada.

Saya percaya, pacar saya punya cinta yang besar buat saya seperti dia punya cinta yang besar buat teman-temannya. Karena tidak semua orang diberi kesadaran untuk menikmati interaksi berbagi dalam setiap arsiran hidup. Dan ketika dia mengangkat topik ini, saya percaya, kesadarannya untuk menjaga hubungannya dengan teman-temannya adalah seberani pilihannya untuk membuat arsiran baru bersama saya. Karena dia mau bertanggung jawab atas setiap arsiran yang dia buat, sambil terus menikmati interaksi berbagi yang dia lakukan.

Dan kamu lelakiku, mari nikmati interaksi berbagi yang sedang kita bentuk karena ini adalah arsiran kita berdua :D