Monthly Archives: February 2011

Surat Perpanjangan Waktu

Surat Perpanjangan Waktu

Malam ini, aku berharap detak jam berbunyi lebih lama.
Malam ini, aku berharap bulan tetap ada di tengah langit dan lupa untuk bergeser ke barat.
Malam ini juga, aku berharap taburan bintang bersinar lebih cerah dari biasanya.

Malam ini indah sayang.
Terlalu indah untuk sekadar dinikmati sampai pukul 00.00
Karena itu, aku berharap, waktu berjalan lebih lama.

Kepada siapakah harus ku sampaikan niat ini?

Niat untuk menatapmu lebih lama.
Niat untuk berbagi cerita denganmu lebih panjang.
Niat untuk menggodamu lebih hangat.
Niat untuk menciumu lebih dalam.

Haruskah aku kirimkan surat perpanjangan waktu kepada Si Pengatur Waktu?
Lalu kalau permintaanku dikabulkan, berapa lama perpanjangan waktu yang akan aku minta?
Satu jam…
Dua jam…
Tiga jam…

Ah kalau pun aku minta perpanjangan waktu selama 24 jam, rasanya itu tak akan cukup…
Tak akan cukup menampung rasa yang aku punya.

Jadi berapa perpanjangan waktu yang menurutmu aku butuhkan?

Jakarta, 27 Februari 2011
Setengah jam mendekati habisnya hari ini.

Makna Pada Sebaris Senyum

Makna Pada Sebaris Senyum

Ini orang pada motoin apa sih

Gara-gara proyek membuat tulisan tentang senyum, saya harus berkutat dengan berbagai artikel yang bercerita apa aja yang bisa kita lakukan biar punya senyum indah. Kam**t emang tulisan ‘melacur’ kaya gini, pegel nyari kata-katanya. Tapi kalau inget nominalnya….ah melacur emang selalu dilematis hahahaha. Oiya, selanjutnya proses penulisan artikel pesanan yang suka dag-dig-dug bayangin nominalnya ini, akan saya sebut sebagai melacur. So we will read the same page ya :D

Jadi saat saya coba menahan kantuk karena harus bangun pagi-pagi di Sabtu ini, padahal semalamnya tidur mendekati subuh, saya perlu waktu untuk mengumpulkan nyawa sambil mencari angle melacur yang enak. Saat mencari referensi dengan kata kunci beautiful smile atau sejenisnya, saya beberapa kali nyangkut pada Mona Lisa. Iya siapa sih yang ngga tau senyuman maut yang digambar Da Vinci itu. Alhasil saya membacanya satu per satu, sambil memutar waktu bagaimana pada 2008 lalu saya pernah melihatnya dari jarak nyata.

Oooo moto Mona Lisa yang kesepian

Sang Pemberi Kejutan Hidup, memberikan saya kesempatan untuk berdesak-desakan dengan puluhan orang dari berbagai warna dan bahasa demi melihat Mona Lisa yang senyumnya sebenarnya ngga indah. Well menurut saya, itu bukan senyum…karena nyaris tak ada garis-garis senyum yang terbentuk. Tapi semua orang rela melihat Mona Lisa dari jarak 1,5 meter. Bahkan manajemen Musée du Louvre, tempat Mona Lisa ‘diamankan’ harus memberi pembatas dari kayu biar ngga ada yang terlalu dekat dengan Mona Lisa. Masih belum cukup pake pembatas kayu, Mona Lisa juga dijaga beberapa security, setiap sudut harus dijaga pokoknya. Tiba-tiba saya ngerasa nih Mona Lisa kasian amat…udah senyumnya ngga full, disimpan dalam kotak trus tidak boleh dilihat dari dekat. Ah sepinya hidupmu Mona Lisa.

Selesai memundurkan waktu, saya kembali dibuat penasaran karena banyak artikel menggunakan istilah yang sama ketika mendefinisikan senyum Mona Lisa itu.  Eniqmatic, begitu mereka menulisnya.  Dan dari sebuah senyuman itu banyak banget teori yang dilahirkan demi menemukan alasan kenapa senyum Mona Lisa bisa menarik banyak pihak, bahkan disebut sebagai salah satu lukisan terindah di dunia.

Malah American Association for the Advancement of Science’s (AAAS) punya teorinya sendiri. Mereka bilang, sebenarnya Da Vinci sedikit bikin trik waktu dia ngelukis Mona Lisa. Dia bermain pada persepsi otak. Jadi dari jauh, dia bisa membuat kita seolah melihat Mona Lisa tersenyum. Tapi begitu melihat dari jarak dekat, tuh Mbak Mona Lisa malah terlihat seperti tidak tersenyum. Dan proses menghilangnya senyum Mona Lisa karena dia memakai persepsi mata ketika memproses informasi visual.

Jadi mata kita menangkap informasi visual dengan dua cara, yaitu dengan memanfaatkan foveal dan peripheral. Nah si foveal itu fungsinya untuk menangkap visual langsung dengan sangat detail. Tapi kelemahan foveal ini, dia ngga bisa menangkap bayangan. Dan si Da Vinci, menggambarkan senyum monalisa dalam frekuensi visual yang sangat rendah sehingga peran peripheral terjadi ketika kita seolah melihat dia tengah tersenyum. Jadi, sebenarnya saat dari jauh kita melihat dia seolah sedang tersenyum, itu si peripheral yang distimulasi dan stimulasinya cuman dari pilihan-pilihan warna sambil dibikin sedikit blur. Sedangkan saat kita mendekat dan melihat lebih fokus, foveal-lah yang memainkan peranan. Karena foveal emang sangat ahli melihat visual dengan sangat detail.

Dan ternyata, efek misterius dari permainan visual itu ngga cuman bikin orang bisa punya kesan berbeda ketika melihat dari jauh dan ketika melihat dari dekat. Karena ada orang yang rela bunuh diri karena ngga ngerti gimana menjelaskan senyum Mona Lisa. Ini kerjadian pada 1852 di Paris dan korban lukisan Mona Lisa adalah seorang seniman juga, namanya Luc Maspero.  Lihat betapa dasyat sebuah senyuman bisa mengakhiri kehidupan.

Tapi kalau kita mau lihat papan-papan reklame, di masa yang lebih ekspresif sekarang ini, senyum indah divisualisasikan dengan tarikan otot-otot wajah yang melebar demi memperlihatkan barisan gigi yang putih cerah. Emang sih, senyum indah itu didominasi pada produk pasta gigi yang jualannya adalah gigi. Jadi ya mulut harus dibuka lebar-lebar demi memperlihatkan barisan geligi itu.

Dan setiap dunia punya definisi senyum indah masing-masing. Karena kalau di dunia fashion, contohnya pas lagi fashion show di atas catwalk, para supermodel justru diminta untuk tersenyum. They have to smile with their eyes…saya sih sulit membayangkan, secara saya terbiasa untuk tersenyum lebar. Model yang berhasil melakukan ini, bisa dikategorikan model yang berkarakter. Karena dia ngga perlu melakukan banyak hal tapi tubuhnya bisa bercerita banyak.

Teman saya yang fashion stylist pernah beberapa kali mengajarkan saya untuk smile with my eyes, tapi hasilnya jadi serius banget…Sampai akhirnya temen saya itu bilang, “Ok…just give me an elegant pose…enough with that smile with your eyes trick,” dengan gaya bicaranya yang emang kaya pengarah gaya di acaranya Tyra Bank, American Next Top Models. Saya kepikiran untuk latihan smile with your eyes ini karena beberapa hari sebelumnya, Odit dan Ika menyontohkan trik itu kepada saya, dan saya tak berhasil mencobanya…karena ya itu, kebiasaan senyum lebar. Terlalu ekspresif emang.

Sedangkan pada level interaksi sosial, senyuman punya makna yang lebih provokatif banget. Orang yang penuh senyum, katanya dipersepsikan sebagai orang yang pintar, menyenangkan, serta optimis. Ini hasil studi yang dilakukan American Academy of Cosmetic Dentistry. Karena senyuman adalah representasi dari rasa percaya diri yang kita punya yang kemudian ditangkap orang yang melihat senyum kita sebagai energi positif yang menyenangkan untuk didekati. Bahkan ada studi yang bilang, kalau kita punya senyum yang menawan, maka akan cepat mendapat pekerjaan. Ini terbukti pada 3 dari 4 responden yang diikutsertakan dalam studi. Ngga cuman itu, studi yang dilakukan oleh peneliti Inggris dan Amerika ini, malah punya fakta yang lebih menggiurkan. Yaitu, jika kita punya senyum yang luar biasa indah, itu akan menjadi magnet buat cowo impian untuk datang mendekat.

Ayo jangan pada sedih-sedih. Itu mukanya jangan ditekuk mulu. Jangan depresi atau melow-melow juga, apalagi galau. Wes…mulai hari ini tersenyumlah karena manfaatnya banyak. Bisa menciptakan sisi misterius seperti Mona Lisa. Kali aja ada yang diam-diam moto kita lagi tersenyum dan menjadikannya masterpiece  yang entah pada abad ke berapa nanti, akan mengundang jutaan orang dari seluruh dunia untuk sekadar melihat, foto-foto, atau bahkan rela melakukan apapun demi sebaris senyum kita seperti si Luc Maspero. Eh tapi jangan kaya Maspero deh…konyol kayanya bunuh diri gara-gara senyuman. Ah bunuh diri kan emang selalu konyol.

Yah tersenyumlah, karena itulah cara sederhana untuk memanjakan wajah. Satu tarikan senyuman akan ada ribuan otot-otot wajah yang ikut merasakan rileks…Jadi, lakukan demi diri sendiri dan kalau ternyata itu bisa memaslahatkan umat, bonus itu namanya  :D And everybody will says cheese…….

Mencari Isteri Lot

Mencari Isteri Lot

Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.
Kejadian 19:26

Beberapa waktu lalu, saya tergoda untuk membeli Majalah Tempo yang membahas mengenai Ahmadiyah. Dan Majalah Tempo, tak akan menjadi Majalah Tempo, jika tanpa Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad (GM). Di edisi itu, GM menulis tentang Tuhan dan kekerasan dengan menyelipkan sedikit cerita tentang isteri Lot. Ada bagian yang menarik perhatian saya, yaitu seorang penyair yang bernama Anna Akhmatova yang justru menggambarkan isteri Lot bertolak belakang dengan persepsi yang coba dibangun dalam Alkitab dalam cerita Sodom dan Gomora.

Terus terang, saya tidak suka dengan cerita hukum menghukum dalam Alkitab. Saya tidak suka cerita Tuhan digambarkan sebagai pengatur kehidupan yang galak. Karena itu, ketika saya mendengar cerita Sodom dan Gomora di Gereja, saya gelisah. Saya mencari angle mana yang bisa membuat saya sedikit melihat Tuhan yang baik dari cerita itu. Dan yang saya dapat adalah, Tuhan itu bisa diajak bernegosiasi. Dia tidak kaku, asal kita tahu cara berdiplomasi dengan dia. Bagaimana saya sampai pada kesimpulan itu?

Adalah pada bagian saat Abraham, paman Lot, tawar menawar dengan Tuhan. Ceritanya Tuhan yang marah, tak mau pandang bulu, semua orang di Sodom harus dibumi hanguskan dengan bola-bola api dari langit. Abraham ceritanya merayu Tuhan. Dari yang semua orang Sodom mau dihukum sama rata, akhirnya Tuhan mau menyelamatkan orang yang benar biar tidak kena murka Dia. Semenjak itu, saya percaya, Tuhan itu bisa dirayu kok, asal kita ngerti aja cara ngomongnya. Mungkin bisa meminjam cara Abraham, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berbicara kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.”

Tapi karena tulisan GM itu, saya jadi bertanya, “Iya..ya, siapakah sebenarnya isterinya Lot? Apa benar, dia sebegitu gila hartanya sampai menengok ke belakang dan rela jadi tiang garam.” Kenapa gila harta? Karena ketika pendeta atau kakak sekolah minggu saya cerita soal isteri Lot, pasti yang ditekankan adalah, “Isteri Lot, terlalu mencintai harta duniawi. Dia tidak bisa melepaskan kedagingannya, maka jadilah dia tiang garam.”

Lalu mulailah saya mencari isteri Lot. Hasilnya, tak banyak lembaran yang menyantumkan cerita tentang isteri Lot. Bahkan sebuah sumber memperkirakan namanya adalah Idis yang dibaca EE-dis. Saya dapat infonya dari sini.

Saya tentu kecewa, karena Alkitab juga seolah mempersepsikan isteri Lot sebagai cewe matre yang ngga harus banyak diceritain. Bahkan efektif dijadikan cara untuk nakut-nakutin. Gimana nakut-nakutinya, di Lukas 17:32, digambarkan apabila ketika Mesias itu datang kita masih mikirin harta benda kita maka, “Ingatlah akan isteri Lot!” Ah ini kasar sekali menurut saya. Betapa jauh jarak kejadian antara Sodom dan Gomora dengan masa Lukas itu, tapi tetap aja yang diingat adalah bagaimana dari sebuah tolehan ke belakang, bisa membuku hitamkan karakter seseorang.

Dan si penyair Anna Akhmatova yang diceritakan GM, coba menjawab kegelisahan saya dengan menuliskan puisi tentang mengapa sebenarnya Idis menoleh ke belakangan. Saya ambil dari sini

Lot’s Wife   by Anna Akhmatova
translated by Max Hayward and Stanley Kunitz

And the just man trailed God’s shining agent,
over a black mountain, in his giant track,
while a restless voice kept harrying his woman:
“It’s not too late, you can still look back

at the red towers of your native Sodom,
the square where once you sang, the spinning-shed,
at the empty windows set in the tall house
where sons and daughters blessed your marriage-bed.”

A single glance: a sudden dart of pain
stitching her eyes before she made a sound . . .
Her body flaked into transparent salt,
and her swift legs rooted to the ground.

Who will grieve for this woman? Does she not seem
too insignificant for our concern?
Yet in my heart I never will deny her,
who suffered death because she chose to turn.

Bahwa pilihan Idis untuk menoleh ke belakang karena dia ingin mengenang sedikit saja kebahagiaan yang selalu mengisi hari-harinya. Dia lahir dan melahirkan 2 anak perempuan di tanah yang kemudian kata Tuhan, tanah bercela. Bukan cela yang dia ingat, tapi kebahagiaan yang pernah dia rasakan. Dan kesadaran untuk mengingat itu sebentar saja harus dibayar dengan menjadi tiang garam.

Saya tidak menangkap kesan hiroik dalam cerita ini, dan sepertinya bukan itu juga yang dikejar Idis. Dia bukan mati martir, itu kenapa Alkitab tak banyak bercerita tentang dia. Mungkin, Lot beserta dua anak perempuannya juga sedikit malu untuk bercerita tentang perempuan yang pernah mengenalkan salah satu fragmen kebahagiaan ketika mereka hidup di Sodom. Bisa jadi, secara psikologis, Lot dan kedua anak perempuannya merasa keselamatan adalah harga yang cukup mahal. Dan melihat isteri serta ibunya menjadi tiang garam, sepertinya cukup efektif untuk ‘menakut-nakuti’ mereka agar tetap setia pada Tuhan.

Ah saya tak suka Tuhan yang pemarah. Tuhan yang berideologi mata dibayar mata ala Hammurabi. Sama seperti tidak sukanya saya pada pola cerita kitab suci yang sering kali membuat perempuan sebagai sahabat Tuhan tapi tak pernah jadi teman baik agama. Agama dengan cerita sucinya memang terlalu berbau laki-laki, karena dulu yang berdiskusi tentang Tuhan dan agama adalah laki-laki. Jadi diskursusnya terlalu maskulin.

Dan kini saya kembali gelisah setiap mendengar cerita Sodom dan Gomora, karena ada Idis yang berdiri sebagai penegasan cerita. Bahwa janganlah seperti dia yang menoleh ke belakang demi harta benda. Ah bagaimana kalau dia menengok ke belakang bukan karena harta benda. Bukankah kita sering melakukan perenungan dengan memutar ulang di mana letak kesalahan kita untuk kemudian memperbaikinya. Artinya, tak semua penolehan ke belakang berarti kesia-siaan.

Bahkan Lot yang dalam nalar kepanikannya, sempat berpikir untuk menyerahkan anak perempuannya yang masih perawan itu kepada segerombolan laki-laki yang menghampiri rumahnya dengan amarah karena mengetahui ada orang asing datang bertandang ke rumahnya. “Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu. Perbuatlah kepada mereka seperti yang kau pandang baik,” Kejadian 19:8.

Orang asing itu belakangan diketahui adalah malaikat yang memberitahu keluarga Lot untuk segera pergi dari rumahnya. Dan orang-orang di sekitar rumah Lot merasa orang asing itu akan menghakimi kebiasaan mereka yang diceritakan penuh dengan percabulan, bahkan percintaan sesama jenis. Mereka pun berpikir, malaikat yang berjenis kelamin laki-laki itu harus dianiaya dengan disetubuhi.

Mengapa ada pengecualian untuk Lot yang berpikir singkat, tapi tak ada pengertian untuk Idis yang menoleh ke belakang.Sepertinya saya akan seperti Anna Akhmatova dalam mempersepsikan Idis. Dia bukan sekadar perempuan yang kebetulan diperisteri Lot yang namanya tak penting untuk dituliskan. Dia adalah Idis yang punya kesadaran penuh atas pilihannya dan bertanggung jawab untuk setiap konsekuensi yang akan dihadapinya. Ketimbang pura-pura taat demi memperpanjang nyawa.

 

Lot’s Wife
by Anna Akhmatova
translated by Max Hayward and Stanley Kunitz
And the just man trailed God's shining agent,
over a black mountain, in his giant track,
while a restless voice kept harrying his woman:
"It's not too late, you can still look back

at the red towers of your native Sodom,
the square where once you sang, the spinning-shed,
at the empty windows set in the tall house
where sons and daughters blessed your marriage-bed."

A single glance: a sudden dart of pain
stitching her eyes before she made a sound . . .
Her body flaked into transparent salt,
and her swift legs rooted to the ground.

Who will grieve for this woman? Does she not seem
too insignificant for our concern?
Yet in my heart I never will deny her,
who suffered death because she chose to turn.

Tuhan Itu Adalah Lagu Pop

Tuhan Itu Adalah Lagu Pop

Jadi ceritanya, saya baru saja menonton salah satu episode serial Glee di saluran televisi berbayar. Tema ceritanya lagi lucu, soal Tuhan dan Spiritualitas dalam lagu-lagu pop. Emang sih, serial Glee ini selalu punya tema khusus yang kemudian diekspresikan dengan kumpulan lagu-lagu yang merujuk pada tema. Biasanya saya ngga terlalu tertarik untuk menyimak dengan serius, hanya ikutan nyanyi kalau kebetulan emang lagunya saya tahu. Kalau ngga, ya ganti ke channel lain. Tapi di episode kali ini, saya setia menontonnya dari awal sampai habis tanpa merasakan tangan gatel untuk ganti-ganti channel.

Tema soal Tuhan dan Spiritualitas emang selalu menarik perhatian saya. Nah di episode Glee, tema itu disajikan secara menarik. Sangat menarik bahkan. Jadi peg story-nya diambil dari pengalaman spiritual Kurt Hummel dan Finn Hudson yang mengalami 2 pengalaman yang sangat berbeda jauh.

Si Kurt Hummel, yang adalah berkarakter lembut dan gay, harus merasa sedih luar biasa karena ayahnya kena serangan jantung hingga koma. Semua teman-temannya ikut bersimpati dan berniat menyanyikan lagu-lagu spiritual untuk ‘mendoakan’ ayah Kurt. Tapi si Kurt nolak, karena dia ngga percaya Tuhan itu eksis. Alasannya, ibunya meninggal terlalu cepat dan sejak itu yang dia percaya adalah ayahnya yang sempurna. Karena sejak itu, cuman ayahnya yang secara fisik dan emosi mendampingi dia.

Ada kutipan menarik yang dikeluarkan Kurt untuk menegaskan kenapa dia menjadi atheis. Dia bilang, Tuhan itu tidak bertanggung jawab. Karena udah bikin dia gay dan membuat orang mencibir dia ketika dia punya keberanian untuk mendeklarasikan kalau dia gay. Bahkan kalau dia ke gereja, orang-orang tidak menerima dia karena dia gay. Ya dia merasa dia digariskan jadi gay tapi harus menanggung beban untuk sesuatu yang tidak pernah dia minta.

Akhirnya, dia tak hanya melarang teman-temannya untuk bernyanyi mengenai spiritualitas tapi juga berdoa untuk ayahnya. Dia bilang, ayahnya ngga butuh Tuhan yang dibutuhin cuman terapi akupunktur biar aliran darahnya kembali normal. Tahu akupunkturisnya orang apa? Pemeluk agama Singh, yang saat datang melihat teman-teman Kurt lagi berdoa khusyuk, dikira muslim karena pake tutup kepala. Hihiihihihihihi betapa simbol agama sebenarnya sangat lentur untuk ditarik sana-sini ya.

Oke itu sisi cerita si Kurt, yang lebih lucu adalah cerita Finn yang dalam keadaan lapar berat dia memanggang roti. Dan rotinya dipanggang terlalu lama sehingga nyaris mendekati gosong. Apa hubungannya roti dengan Tuhan rasa pop? Ada, jadi panggangan roti yang hangus itu ternyata berbentuk wajah Yesus…hahahahahaha lucu. Dan dia namain roti itu grilled cheessus…sounds delicious ya :D

Ada adegan rada-rada dilematis pas Finn yang kelaparan harus memotong dua rotinya. Dia memotong roti dengan melintang, biar muka cheesus tidak ikut terpotong. Ekspresi mukanya kaya ngga tega untuk memotong cheessus dan memakannya.  Entah karena dia lapar atau haus spiritual, dia lantas rindu untuk berdoa. Alhasil dia berdoa di depan roti panggang itu. Tahu apa yang dia minta pertama kali? Dia berdoa agar temannya Artie Abrams yang dikursi roda dan ikut tim football bisa berkontribusi untuk memenangkan timnya. Dan jawaban doanya adalah, Artie dielu-elukan se-tim karena berhasil bikin touch down.

Namanya orang ‘lapar’ Finn pun merasa si grilled cheessus itu emang punya andil dalam keinginannya. Dia pun berdoa lagi, kali ini dia minta pacarnya yang Rachel Berry yang masih virgin untuk mau dipegang payudaranya. Dan layaknya doa semua cowo hahahahaha, grilled cheessus pun mengabulkan. Alhasil si Finn semakin punya keyakinan terhadap roti panggangnya yang gosong itu. Dia pun berdoa supaya kembali jadi quarterback di timnya dan kembali digila-gilai perempuan di sekolahnya. Ini pun terkabul, walaupun quaterback yang asli harus mengalami cedera dulu yang kemudian membuat Finn sedikit tersadar.

Tapi cerita Finn ini kaya mau bilang, bahwa kadang kita minta sesuatu ke Tuhan dengan klausal yang jelas. Tuhan, kalau Kamu kasih aku ini makan aku akan kasih Kamu itu deh :D Seolah surga itu cuman urusan berapa banyak yang Tuhan sudah terima dari kita dan berapa banyak yang sudah kita terima dari Tuhan….Untung Finn-nya sadar dan kemudian dia memakan roti panggang itu dengan penuh keyakinan :D

Saya suka dengan cara bagaimana mereka mengemas berbagai definisi soal Tuhan dan spiritualitas. Sangat lentur tapi real. Dan untuk menambah ketegangan cerita, seperti biasa pelatih cheerleader yang super kejam Sue Sylvester pun cari-cari masalah dengan latihan lagu-lagu bertema spiritual yang sempat dilakukan beberapa kali. Mau tahu apa alasannya.  “Ini sekolah negeri, bukan sekolah kesusteran yang memang dibuat untuk mengagung-agungkan Tuhan. Dan lagi, negara sudah memisahkan secara jelas urusan agama dan negara, jadi ngga bisa digabungin. Berhenti menyanyikan lagu spiritual, karena itu artinya memaksakan keyakinan terhadap orang lain dan itu melanggar hukum.” Hahahahahahaha…Entah mengapa, saya diam-diam berharap, satu hari nanti Indonesia bisa kaya gitu. Ngga perlu masukin pelajaran agama di dalam pelajaran sekolah. Belajar budi pekerti aja, urusan agama biar pemuka-pemuka agama yang pusing mikirinnya.

Tapi entah mengapa, saya menangkap kesan, episode ini kaya mau ngasih tahu kalau agama-agama lama itu rasanya kaya musik pop. Pasaran. Itu kenapa si Finn merasa butuh simbol baru yaitu melalui roti panggangnya, ya walaupun tetep dipengaruhi aliran Semit tapi pemilihan penampakan wajah Tuhan dalam roti panggang itu kan sangat era web 2.0 :D Udah ngga zaman kayanya Tuhan muncul di langit, karena langitnya udah berpolusi. Atau muncul di kulit pohon, karena pohonnya udah banyak ditebang jadi berbagai alat termasuk gagang golok buat bentrok dengan yang beda aliran agama. Cukup…cukup…jangan lari ke sana terlalu jauh, bisa-bisa saya malah jadi juru bicaranya Ahmadiyah atau kelompok minoritas lainnya.

Hal lain yang membuat saya suka dengan episode ini adalah lagu-lagu pop yang mereka nyanyikan dengan lirik memuja Tuhan atau menghujat Tuhan. Sangat religius. Trus saya kepikiran, lagu pop apa yang saya suka dan bernada religius. Dan inilah daftarnya:

Joan Osborne – One of us

Ini lagu jadi lagu penutup di serial Glee. Dan saya suka banget lagu ini. Seinget saya, ini lagu hadir dalam kehidupan saya ketika saya emang lagi gatel bertanya-tanya soal Tuhan. Ada satu bagian dari lagu ini yang membuat saya berpikir, what would you as if you had just one question? Untung pertanyaan kaya gini kaga pernah masuk di ujian mata pelajaran agama pas sekolah dulu :D

Oiya, di lagu ini, Tuhan juga digambarkan sangat kesepian. Mungkin itu kali kenapa Dia ampe mikir untuk menampakkan wajahnya pada roti panggangnya Finn. Jadi kepikiran, kalau Dia muncul pada makanan yang saya suka banget gimana ya saya keluar dari situasi dilematis itu, makan atau membiarkan alam sadar saya percaya itu emang Tuhan dengan tidak memakannya? :-”

R.E.M. – Losing My Religion

Every whisper/Of every waking hour/I’m Choosing my confessions/Trying to keep an eye on you/Like a hurt lost and blinded fool/
Oh no I’ve said too much/I set it up//

Bridge Over Troubled Water

Saya pernah dengar lagu ini dinyanyiin di gereja…sumpah merinding setengah mati…duh lagu ini ya bener-bener deh. Warning: Jangan dengerin kalau lagi sedih, galau, atau kesepian karena dijamin nangis sendirian hahahahaha.

Morrissey – I have forgiven jesus

Pernah berantem sama Tuhan? Saya pernah beberapa kali dan setelah itu kami berteman baik :D

 

Yah segitulah lagu yang saya ingat….dan ya…Tuhan itu emang sebarisan lagu pop…yuk kita karokean *loh*

 

Persetubuhan Ini untukMu

Persetubuhan Ini untukMu

Dia memainkan jemarinya di atas bibirku.
Sesekali mataNya tersenyum.
Wajahku merona dan dengan sadar menyimpulkan sebaris senyum.

Perlahan,jemariNya bermain-main di daun telingaku yang lembut.
Dia membisikan kata cinta,”Malam ini untukmu,” ucapnya begitu lembut.
Aku…aku…aku hanya bisa tertawa manja.

Lalu Dia menempelkan bibir lembutnya di bibir merah jambuku.
Dia kecup nyaris tanpa suara.
Aku…aku…aku hanya bisa memejamkan mata.

Tanpa sadar, aku menarik tubuhNya lebih dekat.
Merasakan detak jantungNya yang membentuk irama.

Dia kembali menempelkan bibirNya di bibirku. Tapi kali ini ciumannya begitu dalam.

Dan aku…aku…aku hanya bisa meletakkan tangan kananku di leherNya.

Nikmatnya setiap serat kulit lembut dari bibirnya.
Seketika darah dalam tubuhku mengalir dengan cepat. Melemaskan otot-otot dalam tubuhku.

Aku seakan terbang dan dengan pasrah menyerahkan seluruh tubuhku.
Mainkan jariMu di setiap inci tubuhku cinta.
Tempelkan bibir lembutMu pada lekukan-lekukan tubuhku.

Lepaskan setiap helai identitasku, karena ku tahu percintaan kita tak butuh itu.
Biarkan aku terbaring gemulai dalam kesadaranMu.

Ini malam persetubuhan kita.
Malam kita merayakan cinta.
Malam kita bersentuhan kulit dengan kulit.
Karena persetubuhan adalah perayaan menikmati hidup.
Lakukan dengan perlahan, biar ku nikmati hangatnya tubuhMu lebih lama lagi.
Hingga kita terbangun di pagi hari dan menemukan tanganMu masih memeluk erat tubuh polosku.
Aku milikMu.
Perbuatlah sebagaimana Kau menghendakinya.

Jakarta, 8 Februari 11
Dalam patas AC menuju kantor.
Hari ini sepertinya saya akan jatuh cinta :D